Hayu Hasmita, seorang yatim piatu yang rela menguras isi rekening demi bertemu dengan seorang pria asal Qatar, yang dia kenal melalui aplikasi kencan online. Dia harus menerima kenyataan bahwa lelaki bernama Ferhat Al Malik itu hanya main-main terhadapnya.
Demi bisa kembali ke Indonesia, Hayu harus mengumpulkan uang dengan bekerja sebagai pelayan di rumah Ferhat. Sebuah rahasia pun terungkap, dan membuat Hayu semakin sakit hati dengan keluarga besar Al Malik.
"Bodoh, adalah salah satu kata yang tepat untukku. Aku terlalu berharap bisa menggapai langit, padahal kaki serta tanganku tak cukup panjang untuk menjangkaunya." - Hayu Hasmita.
Rahasia apa yang disembunyikan oleh Ferhat dan keluarganya? Mampukah Hayu merebut hati Ferhat sehingga usahanya pergi ke Qatar tidak sia-sia? Atau Hayu memilih menyerah dan kembali ke Indonesia setelah uangnya cukup untuk pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Pergi
"Ah, itu ... aku hanya bercanda. Kenapa kamu serius sekali?" Dayyan tertawa canggung ketika mendengar pertanyaan Fayez.
Fayez menatap serius sang asisten. Dia masih berusaha mengintimidasi lelaki itu. Fayez berusaha meminta penjelasan.
Menyadari Fayez terlihat sangat serius, akhirnya Dayyan berhenti tertawa. Dia menelan ludah kasar, kemudian melepas satu kancing kemejanya paling atas. Sebelum berbicara, lelaki itu berdeham beberapa kali.
"Ah, aku benar-benar asal ngomong kemarin. Jangan dipikirkan." Dayyan mengibaskan telapak tangan di depan wajah.
"Aku mendengar dari Bibi Safa kalau aku dan Ferhat adalah putranya. Apa kamu memiliki hubungan juga dengan Bibi Safa? Aku lihat kalian memang terlihat sangat dekat."
"Aduh, kamu salah sangka!"
"Nggak, kamu pasti bohong. Aku sudah dengar kalau ibu bukanlah ibu kandungku."
Dayyan tak bisa berkutik dan berdalih lagi. Dia terdiam sesaat, kemudian mengembuskan napas kasar. Lelaki itu mengacak rambut frustrasi, lalu memutar tubuh hingga kini berhadapan dengan Fayez.
"Benar, aku dan Bibi Safa memang dekat. Beliau adalah adik dari ibuku."
"Aku juga mendengar kalau seharusnya Bibi Safa membawaku pergi jauh dari sini. Apa maksudnya?"
"Kamu dan Ferhat adalah putra kandung Bibi Safa. Beliau adalah istri kedua ayahmu. Paman Malik menikahi bibi karena Bibi Zulaikha tidak bisa mengandung lagi." Dayyan kembali menghela napas berat.
"Dalam tradisi keluargamu, untuk dapat memegang hak perusahaan harus memiliki anak laki-laki. Sebenarnya Bibi Zulaikha pernah memiliki anak perempuan, tetapi dia tidak dianggap oleh keluarga ayahmu. Karena depresi Bibi Zulaikha enggan merawat putrinya, dan akhirnya dia meninggal dunia."
Seakan disambar petir di tengah hari yang cerah, Fayez harus menerima kenyataan buruk ini. Keluarga ayahnya benar-benar kejam. Sejak detik itu, Fayez memutuskan untuk keluar dari lingkaran keluarga sang ayah. Jiwanya kembali memberontak.
"Karena tidak sanggup membawa kalian pergi, akhirnya Bibi Safa memohon agar dapat merawat dan menjaga kalian berdua hingga dewasa. Untuk itu dia memilih untuk menjadi pelayan setia keluarga Al Malik setelah bercerai dengan ayahmu."
"Pantas saja, sejak kecil aku kadang melihat ibu melihatku dengan tatapan tidak suka. Dia juga memukulku setiap melakukan kesalahan kecil. Dari kecil,lnaku memiliki sifat pembangkang, sedangkan Ferhat merupakan anak yang penurut dan mudah diatur."
"Untuk itu kamu keluar rumah setelah lulus SMA, 'kan?" Dayyan tersenyum miring, kemudian mulai melajukan mobilnya lagi.
"Antar aku ke rumah ayah!"
"Hei, bagaimana dengan meeting kita?" tanya Dayyan.
"Aku tidak peduli lagi dengan pertemuan sialan itu! Aku tidak cocok dengan pekerjaan yang harus mengukir senyum palsu demi mendapatkan suntikan dana serta mengambil hati para investor!"
Akhirnya Dayyan mematuhi perintah Fayez. Dia putar arah dan melajukan mobil menuju kediaman Al Malik. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di rumah Malik.
Fayez bergegas turun dari mobil dan menerobos masuk ke dalam rumah untuk menemui sang ayah. Dia terus memanggil-manggil nama lelaki itu, tetapi tidak ada jawaban. Sampai akhirnya Fayez teringat akan sesuatu.
Ketika senggang Malik sering berada di taman belakang dan memberi makan ikan-ikan yang ada di kolam. Sebuah kebiasaan yang menurun kepadanya. Dia pun segera melangkah menuju kolam ikan yang ada di belakang rumah Malik.
"Ayah!" panggil Fayez.
"Hm? Tumben ke sini? Bukankah kamu seharusnya menemui para investor untuk pembangunan gedung barumu?" Malik menghentikan aktivitasnya kemudian memutar badan agar bisa menatap intens sang putra.
"Aku ke sini untuk meletakkan tanggung jawab itu, Yah. Aku tidak mau lagi berurusan dengan keluarga ini!"
"Apa maksudmu?" Malik beranjak dari bangku kemudian berjalan mendekati Fayez.
"Kamu menyembunyikan banyak kejahatan dariku, Yah. Aku ingin menjalani hidup yang kusukai! Aku tidak mau kamu jadikan pion dalam permainanmu!" Fayez balik kanan dan mulai melangkah meninggalkan Malik.
"Sekali lagi kamu keluar dari keluarga ini, maka kamu tidak akan pernah kembali bisa lagi! Kamu juga tidak akan pernah mendapat hak waris keluarga ini!" ancam Malik sehingga membuat Fayez menghentikan langkah.
Lelaki itu kembali balik badan, menatap sang ayah penuh kebencian. Rahangnya mengeras sempurna. Jemari Fayez pun mengepal kuat di balik kantong celana.
"Bukankah sejak dulu aku sudah mengatakan kalau tidak peduli dengan harta keluarga ini? Aku bahkan sudah pergi jauh, kuliah dengan usahaku sendiri! Tapi, kenapa Ayah malah memanggilku lagi ke dalam keluarga menjijikkan ini!" Fayez menyipitkan mata menatap sinis ke arah sang ayah.
"Ah, tunggu dulu. Aku rasa sebuah keluarga tidak seperti ini. Keluarga tidak akan menekan anggota yang lain demi mencapai atau memaksakan kehendaknya. Keluarga ini terlalu bagus jika disebut sebagai sebuah keluarga! Aku pergi dan jangan pernah memintaku untuk kembali lagi ke sini!" Fayez pun meninggalkan kediaman sang ayah.
Lelaki itu langsung masuk ke mobil, dan meminta Dayyan mengantarnya pulang ke rumah. Dayyan pun segera mengantar sang atasan tanpa protes sedikit pun. Sesampainya di rumah, Fayez langsung berkemas.
Fayez mengemasi beberapa pakaian serta dokumen penting. Lelaki itu berniat untuk mencari Hayu. Setelah mencecar Dayyan berulang kali, dia dapat mengetahui di mana Hayu tinggal.
"Tuan, mau ke mana?" tanya Safa sambil setengah berlari mendekati Fayez.
"Bibi ... ah, maksudku ... Ibu."
Safa terbelalak. Zulaikha yang baru saja keluar dari kamar Ferhat pun mematung. Dia memperhatikan percakapan keduanya dari lantai atas.
"Tu-tuan ...."
"Berhenti menyebutku Tuan, Bu. Aku ini putramu! Aku ingin pergi mencari Hayu. Ibu mau ikut?"
Mendengar ucapan Fayez sontak membuat Zulaikha seakan kehilangan pijakan. Keseimbangannya goyah. Beruntung, perempuan itu segera meraih kayu yang ada di sampingnya.
Menyadari Zulaikha yang sudah keluar dari kamar Ferhat, membuat Safa dan Fayez mendongak. Zulaikha terlihat mulai meneteskan air mata. Tubuh perempuan itu pun merosot dan kini bersandar pada rail tangga di sampingnya.
Fayez mengabaikan Zulaikha. Lelaki itu kembali menatap Safa dan kembali bertanya, apa dia mau ikut serta pergi ke Indonesia atau tidak. Setelah menimbang, Safa memutuskan untuk ikut dengan Ferhat.
"Nyonya, maaf. Saya mengundurkan diri. Saya ingin mengikuti Fayez dan mendukung apa yang sedang dia usahakan sekarang. Saya titip Ferhat." Safa bergegas masuk ke kamarnya, kemudian mengemasi barang-barang yang akan dia bawa ke Indonesia.
Di Indonesia, Hayu yang masih merajuk pun tengah melamun di balkon kamarnya. Rasa sepi dan kerinduan kepada Fayez tiba-tiba muncul dan menggerogoti hatinya. Dia memang membenci bagaimana Fayez telah membohonginya.
Akan tetapi, entah mengapa di lubuk hatinya yang terdalam, harapan untuk bersama Fayez masih ada. Hayu mengembuskan napas kasar. Perempuan itu menyandarkan punggung pada dinding, lalu memejamkan mata.
Dering ponsel membuat perempuan itu kembali membuka mata. Dia meraih benda pipih yang kini sedang berkedip di atas meja. Deretan huruf yang membentuk nama Haris tampak pada layar ponselnya.
"Ada apa?" tanya Hayu dengan nada bicara ketus.
Perempuan itu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Haris dengan perhatian lebih. Matanya terbelalak seketika dan bibir perempuan itu menganga lebar. Sebuah kabar buruk disampaikan oleh Haris kepada perempuan cantik tersebut.
trus gmn pernikahan hayu dan Fayez selanjutnya...
nasi Ferhat jg blm dibahas kelanjutannya Thor ☹️☹️😥
jgn2 liatin psang mnsia yg ge brciuman..
oo ap kbr ati y Harris ap ga terbakar it....