NovelToon NovelToon
Lost Memories

Lost Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Light Novel
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: ZeroGame

Hampa— tak mengerti apapun. Sang Protagonis terbangun di tempat asing bersama seorang gadis Half-Elf yang menyelamatkan nyawanya. Ia dibawa ke sebuah desa yang memberinya kehangatan.
Ketika Sang Protagonis mencoba mengingat berbagai hal, justru sakit kepala hebat yang ia dapat. Dengan ingatannya yang sebagian besar hilang, ia bertekad mengumpulkan kembali serpihan ingatannya. Tapi, perjalanannya tidak akan mudah. Ia harus dipaksa menelan pil pahit takdir yang menuntunnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZeroGame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH. 6 [BAB I: Desa Harapan]

Bu Mary mengambil kembali batu tersebut. “Para pemurni memiliki 3 tipe yang berbeda, dan masing-masing tipe akan merubah batu ini sesuai dengan karakteristik mereka. Tipe penguat akan membuat batu ini begitu keras. Saking kerasnya sampai tidak bisa dihancurkan. Lalu ada tipe pengubah. Sesuai dengan namanya, para pemurni tipe pengubah akan membuat batu ini mengalami perubahan bentuk yang abstrak. Yang terakhir ada tipe manipulasi. Kemampuan mereka bisa memanipulasi wujud, senyawa, unsur bahkan karakteristik batu ini. Bahkan batu ini bisa menjadi cair atau menghilang menjadi gas.”

Penjelasan yang begitu panjang.

“Jadi… aku adalah seorang pemurni dengan tipe penguat?”

“Benar. Hanya saja, itu hanya karakteristik dasar dari tipe kekuatanmu. Kita masih tidak tahu kekuatan penguat seperti apa yang kau miliki.”

“Aku masih tidak paham.”

“Memang benar agak sedikit susah untuk mengajarkanmu sihir pemurni. Terlebih, semua informasi mengenai sihir pemurni bersifat tertutup. Dan kebanyakan penggunanya saat ini merupakan kesatria sihir kekaisaran…” Bu Mary diam sejenak. Tak lama, matanya langsung terbelalak dan menoleh ke arah suaminya. “Ah, mungkin ada seseorang yang bisa mengajarimu menguasai sihir pemurni.”

Pak Ary yang ditatap oleh istrinya itu sempat kebingungan.

“Eh? Aku? Aku tidak bisa mengajari sihir pemurni.”

Bu Mary memukul perut suaminya secara pelan karena tidak paham maksud ucapannya.

“Bukan kau sayang. Tapi Madam Vega.”

“Ah! Rupanya itu yang kau maksud.”

“Telat. Dasar otak otot. Ehem! Kembali lagi soal tadi. Azura, di desa ini ada seorang tipe pemurni dengan tipe penguat sepertimu, dan dia adalah Madam Vega.”

“Heh?!”

Bukan Azura yang terkejut mendengarnya, justru kedua orang di sebelahnya.

“Aku baru tahu Madam Vega seorang pemurni. Ayah hanya cerita kalau dulu Madam Vega adalah seorang mantan Saint.”

“Aku juga baru tahu.”

“Yah, wajar saja kalian berdua tidak tahu. Jujur saja, masih banyak hal yang kami tidak ketahui tentang Madam Vega. Meskipun begitu, dia adalah orang yang sangat bisa dipercaya.” Bu Mary lalu memandangi Azura sambil memegangi dagunya.

“Untuk sekarang tidak banyak yang bisa ku ajarkan. Selanjutnya biar suamiku yang melatihmu.”

“Yosh! Saatnya menjadi laki-laki perkasa nak! Tapi sebelum itu, akan ku ambilkan sesuatu.”

Pak Ary dengan cepat pergi untuk mengambil sesuatu, dan tak butuh waktu lama ia kembali sambil membawa dua buah pedang kayu.

“Ini.” Pak Ary memberikan salah satunya pada Azura.

“Benda ini untuk apa?”

“Sebuah pedang kayu. Akan berbahaya jika langsung kuberi pedang asli. Jadi kita akan latihan menggunakan itu."

“Hoo…”

“Coba kau ayunkan pedang itu sesukamu.”

Sesuai ucapan Pak Ary, Azura mulai mengayunkan pedang kayu itu secara pelan. Azura sendiri tidak terlalu paham, tapi saat ia mengayunkan pedang itu, ia seolah mendapatkan sensasi nostalgia.

“Bagaimana? Kau merasakan sesuatu yang familiar?”

“Aku sendiri tidak terlalu paham. Tapi tubuhku seolah tahu. Namun pikiranku tidak.”

“Apa maksudnya itu?” gadis mungil itu kembali bingung mendengar perkataan Azura.

Namun berbeda dengan Riri, Pak Ary mengetahuinya.

“Tubuh makhluk hidup memiliki 2 ingatan. Ingatan yang tersimpan di otak dan satunya pada tubuh. Tubuh kita punya kemampuan untuk mengingat segala kegiatan fisik yang kita lakukan seperti berjalan dan makan. Jika Azura merasa familiar dengan sensasi mengayunkan pedang, ada kemungkinan di masa lalunya ia cukup sering memakai atau berurusan dengan para pendekar pedang.”

Pak Ary lalu melemparkan pedang kayu satunya lagi pada anaknya, Adi.

“Kalau begitu, langsung kita mulai saja.”

Semua orang mulai menepi. Memberikan ruang kepada dua anak muda itu untuk menunjukkan kemampuan mereka.

“Apa tidak masalah membuat Azura langsung bertarung begini, sayang?”

“Tidak masalah. Lagipula, dengan pertarungan ini, kita juga bisa tahu kemampuan penguat seperti apa yang Azura miliki. Insting bertahan hidupnya yang akan mengeluarkan kemampuan tersebut."

Di tengah lapangan, Azura dan Adi sedikit berbincang-bincang sebelum memulai pertarungan.

“Yah, aku tidak menyangka Ayahku akan langsung membuat kita bertarung begini. Maaf ya.”

“Tidak masalah kok. Aku juga penasaran soal kemampuanku. Apakah tubuhku masih mengingatnya atau tidak seperti ucapan Pak Ary.”

“Kalau begitu… aku tidak akan menahan diri.” sebuah tatapan yang sangat tajam menusuk masuk ke tubuh Azura.

Pada saat itu juga, Azura sedikit merasakan ngeri. Insting bertahan hidupnya langsung dibuat bangun detik itu juga.

Dengan cepat Azura langsung mengambil sebuah kuda-kuda untuk bersiap.

“Nah begitu, mari kita meriahkan pertarungan ini.” sama halnya seperti Azura, Adi langsung mengambil posisi sambil menunggu aba-aba.

Dari tepi lapangan, Pak Ary memantau sekaligus menjadi wasit pada pertarungan ini.

“Dengar kalian berdua. Pertarungan dihentikan jika salah satu dari kalian menyerah atau tak mampu bertarung lagi. Jika merasa sudah kelewatan dan berat sebelah, aku akan langsung menghentikan pertarungan. Sihir boleh digunakan, terutama untukmu Azura. Meski kau belum tahu seperti apa bentuk sihirmu, pada dasarnya penggunaannya sama seperti sihir elemental. Fokus dan rasakan mana yang mengalir pada tubuhmu, paham?”

Azura mengangguk. Tanda ia paham.

“Kalau begitu, mulai!”

Begitu mulai, Adi langsung melesat ke arah Azura dengan cepat. Ia mengayunkan pedang kayunya dari sisi kanan bawah menuju bagian kanan tubuh Azura.

Dengan reflek yang cepat, Azura menghadangkan pedang kayunya pada jalur tebasan Adi.

Sebuah dentuman keras tercipta akibat benturan kedua pedang tersebut.

Meski berhasil dihadang, Azura menyadari sesuatu yang aneh. Tenaga yang dikeluarkan Adi semakin kuat, hingga membuat tubuhnya terhempas kebelakang akibat kuatnya tebasan Adi. Hempasan itu cukup untuk membuat fokus dan pijakan Azura goyah.

Seolah tak memberi jeda, Adi tiba-tiba sudah berada di belakang Azura sambil menebaskan pedangnya ke bagian pundak kirinya.

Kembali, dengan reflek yang cepat, Azura berhasil menahan serangan tersebut.

Namun, dengan kekuatan yang dilepaskan Adi, tubuh Azura tak bisa menahannya. Membuat lutut kirinya kini harus mencium tanah akibat tak kuat menahan tekanan kekuatan yang dilepaskan Adi.

Pada kondisi terdesak seperti ini, kebanyakan orang akan panik dan mengambil langkah salah. Namun, Azura tetap tenang. Ia mulai mencoba fokus sambil mengalirkan mana ke sekujur tubuhnya.

Perasaan hangat yang begitu nostalgia kini menyelimuti tubuhnya.

Akhirnya keluar juga.

Dari sisi lapangan, mata Bu Mary menangkap sesuatu yang spesial pada tubuh Azura.

Dalam pandangannya, tubuh Azura kini diselimuti oleh semacam aura tipis. Dan aura itu adalah tanda bahwa kekuatan pemurni milik Azura mulai bekerja.

Perlahan, Azura mulai bisa mengungguli kekuatan Adi. Lalu dengan cepat ia menebaskan pedangnya ke atas guna lepas dari posisinya saat ini.

Adi yang mendapati serangannya berhasil di hempaskan, justru tersenyum senang.

Dengan cepat ia melompat ke belakang guna mengambil jarak sambil menganalisis lawan di hadapannya.

“Boleh juga, Azura.”

“Maaf membuatmu menunggu. Hanya saja, yang ini baru permulaan."

“Ayo! Maju!”

Pertarungan keduanya kembali dimulai. Gerakan yang begitu cepat diperlihatkan oleh kedua orang itu.

Meski dengan kecepatan yang kini setara, nyatanya Azura masih kewalahan menghadapi Adi. Ia banyak menerima serangan di sekujur tubuhnya. Dan sebaliknya, ia tak punya kesempatan melayangkan serangan pada Adi. Jika punya, itupun serangan yang meleset.

Tubuhku terasa panas.

Meski mendapat banyak serangan, tubuhku tak merasakan sakit.

Seolah tubuhku bergerak sendiri.

Jadi ini… kekuatan yang aku miliki.

Setelah saling tukar serangan, keduanya kini saling memperlebar jarak sambil mengatur nafas.

“Kekuatan yang terus melonjak. Ketahanan tubuh yang meningkat. Sepertinya kekuatan penguatmu sudah mulai bekerja ya?”

“Aku sendiri tidak yakin karena tubuhku bergerak sendiri. Seolah, semua kenangan semasa hidupku terkumpul kembali.”

“Kalau begitu, akan ku tunjukkan beberapa trik kecil.”

Hanya dalam sebuah kedipan, Adi langsung berada di hadapan Azura sambil bersiap menebaskan pedangnya.

Azura yang terkejut mendapati gerakan Adi yang meningkat pesat, kini tak sempat merespon.

Sebuah tebasan kejut dihempaskan. Sebuah tebasan yang dibalut dengan sihir angin yang kuat. Membuat Azura terpelanting jauh serta melemparkan pedangnya ke udara.

Pedang yang perlahan jatuh itu, kini berada di tangan Adi. Sementara Azura kini masih berusaha bangun setelah tersungkur akibat tebasan barusan.

“Maaf ya, namun bukan hanya kau saja yang bisa memakai sihir yang digabungkan dengan seni bertarung. Jadi bagaimana? Kau sudah tidak ada senjata, mau berhenti sa—!”

Sebuah ledakan terjadi tepat di pijakan Adi berdiri.

Debu yang berasal dari ledakan itu mulai bertebangan di udara. Dari kepulan debu itu, Adi keluar sambil terus waspada.

Perlahan, seseorang mulai menampakkan wujudnya dari kepulan debu yang perlahan hilang itu.

Wujudnya mulai terlihat.

Ia adalah Azura dengan tangan kanannya yang ia pukulkan tepat ke atas tanah bekas pijakan Adi. Yang berarti, serangan super cepat dengan daya ledak besar itu merupakan ulah Azura.

Bahkan, bekas kerusakan yang ditimbulkan membuat tanah di sekelilingnya retak, cukup membuat orang lain merasa ngeri.

Azura kembali berdiri. Akan tetapi, baru saja ia melangkah, ia langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur tak bergerak.

Pak Ary dan Bu Mary langsung bergegas menghampiri Azura guna memastikan kondisinya. Bahkan gadis mungil itu juga turut menengok Azura.

Begitu dilihat, wajah Azura nampak begitu pucat dan lemas.

“Dia kekurangan energi mana. Adi, segera bawa ramuan mana yang ada di lemari kemari!”

“Baik!”

Begitu diperintah, Adi bergegas mengambil ramuan yang diperlukan.

“Apa serangan tadi mengkonsumsi seluruh energi mana miliknya ya?”

“Tidak. Mana miliknya sudah habis lebih dahulu sebelum itu.” Bu Mary mulai menyanggah suaminya.

"Semenjak ia mulai menggunakan kekuatan pemurni miliknya, aliran mana miliknya banyak yang bocor dari seluruh tubuh. Seolah dilepas begitu saja, namun tak ia gunakan.”

“Kehilangan kemampuan kontrol ya…”

“Entah dia yang belum bisa mengendalikan atau justru kelewat jenius."

“Apa maksudmu, sayang?”

“Kurasa, ingatan tubuhnya sengaja mengatur kekuatannya agar setara dengan Adi. Jika tidak, pertarungan ini akan langsung selesai begitu dimulai.”

“... yang jelas kita harus menolongnya terlebih dahulu.”

Pak Ary lalu mulai membopong tubuh Azura menepi—menuju sebuah pohon besar di dekat sana untuk berteduh.

Tak lama kemudian, Adi datang sambil membawa sebuah botol tanah liat kecil.

“Sudah ku ambilkan, Ayah.”

“Terimakasih nak.”

Pak Ary yang menerima ramuan itu segera meminumkannya pada Azura secara perlahan.

Begitu semua cairan pada botol itu terteguk masuk ke tubuh Azura, Pak Ary kembali membaringkannya untuk beristirahat.

“Untuk sekarang, biarkan dia beristirahat. Adi, Riri, bisa kalian temani Azura? Aku harus menemui Madam Vega sebentar.”

“Tentu, Ayah."

“Serahkan pada kami.”

“Terimakasih. Kalau begitu, aku pergi dulu.”

Pak Ary segera pergi untuk menemui Madam Vega.

“Kalau begitu, Ibu juga permisi dulu ya. Ibu masih harus mengurus anak-anak yang lain sambil menjelaskan keadaan.”

Kedua anak itu mengangguk.

Bu Mary pun kini meninggalkan mereka berdua untuk menjaga Azura.

Sementara kedua anak muda itu menjaga Azura yang tengah terbaring tak berdaya, dari kejauhan, matanya terus menatap tajam ke arah mereka—menatap ke arah Azura dengan penuh curiga.

Ia meremas kuat dada kirinya. Merasakan rasa sakit dan kecurigaan yang datang entah darimana. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk pergi dari sana.

1
Kang Nyimak
Kutai Kartanegara? Indonesia?
Ayano
Diriku mampir thor. Baru baca chapter satu dulu. Abis cas handphone dilanjut lagi. Semangat ya. Kalo sempet mampir juga ya
Helmi Sintya Junaedi
otor kepentok apa ini ya??? sekian paripurna baru lanjut..
btw mkasih mo lanjutin y thor
ZeroGame: aku sibuk sama pekerjaan di real life kak wkwkwk
maaf banget jarang update, gak bisa kupaksakan juga karena bakal menganggu kualitas cerita
total 1 replies
Inira
Bunga untukmu, biar lebih semangat update!
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Cheonma
Semangat updatenya thorrr...
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Wardi Kun
Azura menggambarkan gweh nih
Jeco Alana
Baru baca eps 1, tapi bahasanya gurih banget. Mantap.
ZeroGame: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!