Pernikahan yang terjalin selama lima tahun tiba-tiba saja kandas akibat perselingkuhan yang dilakukan sang suami.
Awalnya Maya berusaha berdamai dengan sang suami yang berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun, rasa sakit yang tak kunjung hilang membuat Maya akhirnya memilih untuk berpisah.
Bukannya reda, rasa sakit itu malah semakin membengkak tatkala mantan suaminya kembali menjalin hubungan dengan wanita selingkuhannya dulu.
Sejak saat itu Maya bertekad membalas dendam dengan cara halus, membuat mantan suaminya terpikat kembali lalu membuangnya begitu saja.
Akankah Maya berhasil melakukan balas dendam? Atau justru Maya terjebak dalam misinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendebarkan Hati
Dibalasnya pelukan itu dengan usapan lembut di punggung Maya, membuat orang yang berada di dekapan nya langsung terdiam dengan tenang.
"Maaf aku tidak bermaksud begitu, maafkan aku. Lebih baik sekarang kita makan bagaimana? Katanya tadi kamu mau beli sarapan untuk kita" bujuk Adhi mengalihkan topik pembicaraan agar Maya berhenti mengingat perdebatan tadi.
Maya pun menjauhkan badannya dari Adhi dan duduk dengan posisi sebelumnya, tapi masih belum bereaksi apa-apa.
Adhi pun berinisiatif mengambil kantung plastik yang berada di meja dan membuka isinya.
"Ini ya? Kamu membeli apa?"
"Lihat saja sendiri!" Ujar Maya acuh.
"Oh pasta, keliatan enak. Kita makan sekarang yuk" Adhi membuka dua bungkus makanan yang masih mengepul itu dan mengaduk-aduk pasta agar bumbunya merata.
Tetapi Maya masih belum menyentuh makanannya sama sekali.
"Kok diam? Mumpung masih panas loh nanti kalau sudah dingin tidak enak"
"Gak nafsu makan!" Balas Maya cuek.
"Kenapa tiba-tiba? Apa masih kepikiran yang tadi?"
Diamnya Maya adalah jawaban iya untuk Adhi.
"Ya sudah aku suapi bagaimana? Kemarin kan kamu sudah menyuapi aku saat makan, sekarang giliran kamu yang aku suapi"
Adhi pun menyendokkan mie pasta dan meniupnya agar tidak terlalu panas, barulah ia menyodorkan ke arah bibir Maya.
"Buka mulutnya, Aaaaaaa...."
Tatapan Maya perlahan berubah teduh, usaha Adhi untuk membujuknya membuat hati Maya sedikit luluh. Meski kesal ia tak boleh berlama-lama terbelenggu dalam situasi tersebut, Maya harus melanjutkan lagi rencana yang telah ia susun.
Jangan sampai gagal hanya gara-gara egonya sendiri.
Akhirnya Maya membuka mulutnya dan menerima suapan Adhi.
Keduanya tersenyum dengan pipi Maya yang merona.
"Nah, gini dong. Kalau senyum kan cantik" celetuk Adhi menggombal.
"Jadi maunya di suapi nih?" Lanjut Adhi.
"Memang kenapa? Mas Adhi kerepotan menyuapi aku?"
Waduh, Adhi mengumpat dirinya dalam hati. Bisa-bisa Maya kembali salah paham dan auto ngambek lagi. Adhi harus buru-buru meluruskannya.
"Mana ada! Kan aku sendiri yang menawarkan mu. Hanya saja aku juga mau makan sekarang" jelas Adhi.
"Ya sudah makan saja satu sendok berdua" usul Maya yang membuat Adhi tercengang, otaknya bahkan tidak kepikiran sampai kesana.
"Jangan ragu-ragu, aku tidak masalah kok. Atau mungkin...." Maya memicingkan kedua matanya ke arah sang mantan suami, membuat Adhi sontak menelan ludah dengan susah payah.
"A-apa?" Adhi gugup.
"Atau mungkin mas jijik harus makan dari sendok bekas bibirku?" Tuntut Maya berburuk sangka.
Adhi jadi merasa terpojokkan saat ini, padahal ia sudah berusaha meluruskan maksud ucapannya tetapi Maya masih terus berpikir yang sebaliknya.
Hap!
Tanpa berkata lagi Adhi menyuapi dirinya sendiri dengan alat makan yang sama dengan Maya, bahkan ia melahap makanan beberapakali untuk membuat Maya percaya padanya.
Lagipula sikap Maya ini aneh sekali, perempuan itu malah memintanya makan berdua dengan sendok yang sama, bukahkan harusnya Adhi yang bertanya soal itu?
Mau meminta penjelasan takut Maya makin salah paham, Adhi pun memilih diam dan melanjutkan kegiatan.
"Lihat? Aku sama sekali tidak seperti yang kamu pikir" tukas Adhi dengan mulut penuh.
Maya malah cekikikan melihat tingkah Adhi yang berlebihan.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" Adhi mengangkat salah satu alisnya, bingung.
"Kamu yang lucu! Pipi mas jadi mengembung karena makanan ini" sambil mencolek-colek pipi Adhi gemas.
Diperlakukan begitu Adhi jadi salting brutal, mukanya memerah seperti akan mengeluarkan asap.
"Mas jadi mirip Shakeel kalau begini, hihi. Rasanya pengen aku gigit deh pipinya"
Akhhhhhhhhhhhh!!!
Adhi berteriak dalam hati, apa lagi ini?!! Jantungnya serasa copot karena tak bisa menahan debaran yang menggema di jiwanya.
Maya sungguh membuat Adhi diterbangkan hingga menembus langit ketujuh, tak sadarkah Maya jika kini Adhi tersiksa dengan perlakuannya???
"Kenapa muka mas merah? Mas sesak nafas?"
Bukan hanya sesak, rasanya paru-paruku terbelah menjadi beberapa bagian!
Dengan penuh perjuangan Adhi menelan makanan yang ada di mulutnya, membuat pipinya mengempis kembali.
"Minum dulu mas, makannya jangan banyak-banyak, pelan-pelan saja" Maya membuka botol minuman yang ia beli lalu menyodorkan pada Adhi.
Adhi meneguknya beberapa hingga habis setengahnya.
"A-aku harus mengerjakan pekerjaan ku lagi, k-kamu bisa lanjut makan sendiri kan?" Adhi tak bisa berlama-lama berkontak fisik dengan Maya, bisa-bisa bukan jantungnya saja yang terbawa tapi juga hatinya!
"Ya sudah mas lanjut saja mengecek laporannya, biar aku yang giliran menyuapi mas" Maya mengambil alih sendok di tangan Adhi, membuat pria itu justru kelabakan.
"B-bukan begitu maksudku, a-aku...." Panik Adhi, kalau begini sama saja tidak ada bedanya!
"Sudah jangan banyak bicara, buka mulut mas sekarang"
Ragu-ragu Adhi pun membuka mulutnya membiarkan Maya menyuapinya makanan tersebut sambil pura-pura fokus pada laptop di depannya.
Sepanjang kegiatan itu berlangsung wajah Adhi tak henti-hentinya mengeluarkan semburat merah, ia jadi salah tingkah karena Maya juga makan dengan sendok yang sama, bukahkan ini sama saja seperti ciuman tak langsung? Mereka berbagi saliva lewat perantara.
Apalagi ketika Maya mengusap sisa makanan di bibir Adhi, membuat Adhi tambah tersiksa dengan pergolakan rasa ini.
"Nah sudah habis, mas sudah kenyang?"
Adhi mengangguk cepat.
"Aku juga, sekarang tinggal buang sampahnya" Maya bangkit dari sofa menuju tempat sampah yang berada di dekat pintu.
Maya berjalan sambil meliuk-liuk badannya, membuat bok*ng sintal miliknya bergerak dengan sensu*al.
Glek!
Entah sadar atau tidak hal tersebut membuat birah*i seseorang dibelakangnya terangsang, Adhi yang sejak tadi menahan rasa aneh di dalam tubuhnya jadi tambah gusar kala melihat pemandangan yang menggairahkan itu.
Adhi mencoba kembali fokus pada laptop sambil melonggarkan ikatan dasi yang serasa mencekik lehernya.
Sebagai seorang lelaki yang pernah singgah bersama Maya jujur ia jadi teringat akan peristiwa panas yang pernah mereka lalui, terlintas jelas di otaknya bagaimana wanita yang sedang berdiri di dekat pintu itu tak tertutup sehelai benang pun. Bahkan adegan mereka saling berbagi peluh juga masih tersimpan rapi di memori Adhi.
Melihat tubuh Maya saja sudah membuat Adhi blingsatan, padahal tadi saat Maya memeluknya Adhi masih baik-baik saja. Entah setan apa yang sengaja membangkitkan jiwa kelelakiannya ini, mungkinkah karena ia terlalu terbawa suasana akan perhatian-perhatian kecil dari Maya?
Berhenti Adhi! Bisa-bisanya kau berpikir liar pada mantan istrimu sendiri. Ingat, kalian hanya mantan. Jangan bawa-bawa hasrat hanya karena melihat Boko*ngnya yang sintal itu, dia tidak sedang menggoda mu!
Adhi mencoba menarik nafas dalam lalu membuangnya, ia harus kembali menjernihkan pikiran kotornya ini, jangan sampai melebar dan tanpa bisa ditahan ia malah menerkam Maya di dalam kantor.
Kalau masih berstatus istri sudah ia lempar seluruh pakaian yang melekat di tubuh si wanita, tapi kan sekarang berbeda, mereka hanya mantan ingat.... MANTAN!
tp mw gimana lagi... setiap orang mempunyai pemikiran sendiri seperti maya,,, mungkin karena terlalu sakit hatinya,,