NovelToon NovelToon
Pendekar Mata Dewa

Pendekar Mata Dewa

Status: tamat
Genre:Fantasi / Perjodohan / Spiritual / Pendekar / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:92.3k
Nilai: 5
Nama Author: Xa

Asyura atau dengan nama barunya Wang Yongchun. Berkat mata yang seharusnya tidak ada, peperangan saudara berakhir namun dalam kehampaan. Meski saat itu timur tengah mengalami perdamaian, tidak lama setelah itu kemiskinan pun melanda.

Ia pun pergi menuju timur laut untuk menyatukan negeri timur. Akan tetapi Kaisar Ming yang merupakan penguasa wilayah timur laut mengajukan sebuah syarat agar permohonannya diterima.

Melalui ikatan pernikahan dengan putrinya Yu Jie.

Apakah Wang Yongchun menerimanya? Dan apakah ketika ia menerimanya atau tidak, akan terjadi sesuatu yang tak terduga nanti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

034. Yongchun Menjadi Salah Satu Dari 7 Surgawi?

Setelah Relia dan Nia datang ke asal suara, Yongchun merebahkan diri di atas tumpukan salju. Ia tertidur lantas Relia segera membawanya ke suatu tempat yang aman.

Di kediaman Wang.

Bersama Wang Xian, Zhao dan Yongchun di ruangan yang sama. Mereka semua tampak kelelahan.

“Apa yang terjadi dengan Wang Xian?” tanya Zhao penasaran.

“Aku juga tidak tahu. Lagipula siapa pula dirimu?” Nia berbalik tanya. Ia baru pertama kalinya melihat ada pria yang hampir sebesar ruangan ini. Sudah gitu, terdapat luka di mana-mana namun masih tampak segar dari luar dan dalam.

“Aku Zhao Yun, Nona. Kudengar Yongchun punya dua istri. Apakah itu kalian?” pikir Zhao Yun. Dan itu benar sekali.

“Iya. Benar sekali.”

Sepupu Wang juga tertidur pulas di sana. Tak seorang pun yang akan mendengar percakapan ini selain mereka yang masih terbangun.

Perbincangan tentang Mata Dewa yang Terkutuk.

“Tetapi ini aneh sekali. Tak biasanya Wang Xian terluka. Tapi aku mengerti kalau ini karena Yongchun. Karena aura Yongchun kini menyatu dengan aura miliknya. Apa aku salah?”

“Berhenti mengorek sesuatu dari kami. Kami baru saja datang ke tempat itu dan mendapati mereka sudah begini lebih dulu. Lagipula apa maksudmu, Tuan Zhao Yun? Seolah-olah kau mengerti apa yang telah terjadi,” sahut Nia.

“Bagaimana aku akan bercerita, ya? Ini agak rumit. Tapi tak masalah. Karena mungkin kalian akan cepat memahaminya. Ini adalah seni iblis. Seni iblislah yang melukai mereka berdua. Yang paling parah Wang Xian. Lengannya terputus, di bagian dadanya terluka cukup parah.” Zhao Yun berbicara seraya ia memeriksa luka Wang Xian yang lain.

Tidak ada luka lain selain yang disebutkan. Namun beruntung, Wang Xian masih dapat diselamatkan berkat Relia, yang kini merawatnya. Termasuk Zhao Yun, ia mungkin terlihat baik-baik saja karena dapat berbincang-bincang seperti biasa tapi lukanya tetap sama parahnya seperti yang lain.

Awalnya Zhao Yun menolak keras karena memang dirinya tidak terlalu menyukai obat-obatan termasuk dupa yang tadi dibuat oleh kedua sepupu Wang, Zhao Yun pun membuangnya ke halaman luar.

***

Fajar telah menyingsing. Para penduduk yang sebagian keluar entah ke mana pun telah kembali. Begitu juga dengan penduduk yang masih ada di dalam rumahnya.

Melihat mayat tersebar di mana-mana. Bau anyir darah, seketika membuat mereka mual. Bekas peperangan dengan para pemberontak itu masih ada, belum ada seorang pun yang membereskan hal ini.

Para penduduk pun mengeluh. Satu persatu mulai mengeluarkan kata-kata kasar, mereka mencaci maki orang yang tidak bertanggung jawab mengenai hal ini.

“Ya, ampun. Apa yang mereka lakukan sebenarnya?”

“Benar-benar, deh ...”

Tanpa tahu apa yang para pendekar lakukan hingga mati-matian di tengah musim dingin.

Kaisar Ming memanggil para pemimpin kultus untuk membicarakan tentang pemberontakan yang terjadi semalam.

Banyak dari mereka enggan ke sana karena sudah sangat kelelahan. Namun apa boleh buat, ini adalah perintah dari penguasa wilayah timur laut.

“Di mana Pemimpin Wang?” tanya Li Bai.

“Dia masih belum sadarkan diri. Ngomong-ngomong kenapa sepertinya hanya Pemimpin Wang saja yang terluka? Apa kalian benar-benar membantunya? Aku jadi merasa kasihan pada ketua kita,” celetuk Zhao Yun dengan senyum lebar.

“Jangan berkata seperti itu,” ucap Li Bai menutup setengah wajahnya dengan kipas.

“Itu benar sekali. Pemimpin Wang berusaha untuk menyerang sendirian para pemberontak di dalam goa. Aku yakin kau agak kecewa karena tidak ikut ke sana, Pemimpin Zhao.” Xie Xie terkekeh.

“Kalian berdua memang tidak kenapa-kenapa. Tapi aku kena getahnya,” sahut Yang Jian.

“Omong kosong. Aku juga sedikit terluka karena kekuatanku mencekik diriku sendiri tahu. Tidak lihat di hari itu, hah? Kalau saja tidak ada Yongchun, mungkin aku akan mati konyol,” tukas Xie Xie.

“Bisa tidak kau memakai alas kaki? Aku yakin kedua kakimu pasti sakit saat menginjak batu kerikil di taman tadi,” sindir Yang Jian.

“Yang Mulia tidak pernah protes terhadapku. Kenapa juga kau protes?”

Semuanya sedang menuju ke ruang singgasana. Kecuali Luo yang sudah mati dan Wang Xian yang masih belum sadarkan diri.

Pemimpin Yin, apa kabar? Dia memang penyendiri, jadi biarkan saja.

Mereka semua tampak lesu, tapi berusaha untuk tetap tegar seperti yang biasa mereka lakukan. Apalagi Kaisar Ming yang memanggil mereka.

Tidak lama setelah itu, Yongchun datang. Para pemimpin kultus terkejut akan keberadaannya. Mengingat apa yang terjadi pada malam itu.

Wang Xian dan Yang Jian terluka karenanya. Tetapi ada yang berubah dari suasana yang dirasakan oleh Yongchun.

Kehangatan, tidak ada kebohongan sedikit pun muncul. Mereka seolah menyambut kedatangan Yongchun.

“Aku pikir kau akan mati, Yongchun.” Yang Jian berbicara lalu tersenyum tipis.

Yongchun membalas senyum dan berkata, “Ya, terima kasih. Karena telah memperingatkan diriku yang naif ini,” ujarnya lalu melewati mereka.

“Kau pun dipanggil oleh beliau?” tanya Li Bai pada Yongchun.

“Ya. Mungkin karena semalam aku menghabisi ketua pemberontak,” jawabnya bernada sombong.

“Jangan salah. Mereka ada ribuan pemberontak. Yang kemarin kau rasakan ternyata hanya seni iblis mereka saja yang besar, bukan karena mereka ada banyak, benar?” sahut Yang Jian mengikuti langkah Yongchun.

“Seperti aku akan mengantar kalian secara sukarela ke tempat di mana pemberontak itu berada. Aku tak mau mereka dibantai. Karena ribuan orang itu sudah lebih dari cukup untuk membantuku nanti.” Yongchun hanya membatin. Ia terkekeh-kekeh melihat wajah Yang Jian yang kusut itu.

“Ah ...aku jadi tambah tidak mengerti. Apa sih yang kalian lakukan semalam? Aku kemarin sampai tidak bisa tidur, dan lagi sepupu Wang jadi berisik. Entah sekarang mereka bisa bangun atau tidak,” gerutu Zhao Yun.

“Memangnya kau apakan sepupu Wang?” Li Bai bertanya.

“Ah, entah ya? Seingatku kemarin, aku ada di kediaman Wang dan mereka ada untuk merawat diriku yang terluka ini.”

“Hoi, bukan itu yang kutanyakan.”

Dalam ruang singgasana. Kaisar Ming menyambut kedatangan mereka semua yang kemudian bersujud.

Kaisar Ming masih tampak jelas dengan raut kesombongannya itu. Ia duduk lantas tersenyum lebar seraya melirik ke arah bawahannya.

“Kuucapkan selamat untuk kalian semua yang dengan berani melawan para pemberontak. Aku merasakan ketegangannya sampai di sini. Seni Iblis itu, kalian kalahkan bukan?” Kaisar Ming berbicara.

“Sungguh hebat, Yang Mulia! Semoga Anda sehat selalu dan kekaisaran semakin makmur. Seperti Yang Mulia katakan, Seni Iblis kembali muncul. Kami sudah melenyapkan orang semacam itu berkat bantuan dari Wang Yongchun, pendatang baru.” Li Bai tetap menunduk dan melaporkan semua yang ia tahu hari itu.

Kemudian Pemimpin Xie ikut melaporkan. “Yang Mulia, sebelum Seni Iblis itu kembali muncul. Para pemberontak sepertinya tidak ada niat melakukan hal buruk pada penduduk. Saya yakin, semalam mereka menuju ke Istana Wulan ini.”

Kaisar Ming mengangguk sebelum mengatakan, “Ya. Mereka datang kemari. Lalu bagaimana dengan Pemimpin Wang?”

“Dia terluka, Yang Mulia. Sampai saat ini belum sadarkan diri,” ucap Zhao Yun.

Senyum itu tak pernah lepas dari wajahnya yang sombong. Ia menatap Yongchun, aura yang ia keluarkan sungguh cerah, percikan api yang membara.

Ada hal yang ingin disampaikan.

“Kalian tahu betul, apa yang terjadi dengan Pemimpin Luo. Dia mati bunuh diri karena berusaha menggunakan Seni Iblis.”

Para Pemimpin kultus terkejut, begitu pula Yongchun. Ia baru mengetahui alasan Luo bunuh diri di hari itu.

“Lalu, mengingat jasa Wang Yongchun dengan membantu kalian dan dia kembali tanpa luka, aku berniat mengangkat Wang Yongchun sebagai pemimpin kultus 7 Surgawi! Adakah dari kalian yang keberatan dengan keputusanku?” ungkap Kaisar Ming.

Membuat ruangan itu terasa bergetar. Terlihat jelas dari emosi mereka yang tidak ditunjukkan secara terang-terangan, bahwa mereka tidaklah terkejut justru sangat senang dengan berita tersebut.

Tapi Yongchun tidak.

“Gila, ya? Aku ini penguasa timur tengah. Bisa-bisanya dia berpikir hal remeh ini ...”

Juga begitu, tak seorang pun yang angkat bicara mengenai identitas asli Yongchun! Mereka sepakat menyembunyikan ini dalam diam.

“Aku anggap ini berita bagus.”

1
Raditya Vicky
Luar biasa
kenta jaya
/Sneer/
kenta jaya
/Cry//Sleep/
kenta jaya
/Joyful//Sleep/
kenta jaya
wew/Casual//Sleep/
kenta jaya
iya lah iya/Sweat//Sleep/
kenta jaya
opo sih /Sweat//Grimace//Sleep/
kenta jaya
/Sweat//Sleep/
kenta jaya
wekl.. /Sweat//Sleep/
kenta jaya
Luar biasa
kenta jaya
/Shame/
kenta jaya
/Drowsy/
kenta jaya
/Gosh//Sleep/
kenta jaya
well/Sleep/
kenta jaya
hajarr/Sleep/
kenta jaya
wew/Hey//Sleep/
kenta jaya
menarik tp... apa ya ?? /Hey//Sleep/
kenta jaya
wew/Sleep/
kenta jaya
wew.. tiba2 dapet istri /Sweat//Hey//Sleep/
kenta jaya
yuk/Sleep/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!