Bismillah... Kisah ini aku ambil dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama. Aku menggabungkannya menjadi sebuah kisah yang mungkin banyak sekali terjadi di kehidupan ini.
Gerd Anxiety adalah Masalah pencernaan, seperti heartburn, mual, dan sakit perut adalah gejala umum yang bisa ditimbulkan baik oleh GERD maupun anxiety. Kalau di masyarakat lebih di kenal dengan sakit asam lambung akut.
Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang wanita yang ingin sembuh dari penyakit yang dia derita. Berbagai cobaan hidup, jatuh bangun dalam menghadapi kehidupan ini hingga dia akhirnya sembuh dan sukses.
Jangan lupa pilih menu Favorit ya sebelum dibaca 🥰🥰
*****
Deg.. deg.. deg..
Tiba - tiba saja aku merasa sesak dan kesulitan bernafas. Aku segera meraba dadaku, jantungku sangat kencang sekali berdetak. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Pakaianku mulai basah karenanya.
Lututku bergetar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Sepulang dari rumah mertua Arif kami kembali ke rumah Rahmat. Sebelum tidur kami sempat ngobrol bersama. Aku, Papa, Mama, Mas Fadil dan Rahmat. Istri Rahmat sedang menemani anak mereka. Sedangkan Shifa dan Rayyan juga sudah tidur di kamar.
"Papa dengar Fadil sudah berhenti kerja?" tanya Papa kepada Mas Fadil.
"Iya Pa" jawab Mas Fadil.
"Kenapa bisa berhenti? Apa karena dampak covid?" tanya Papa lagi.
"Sebenarnya sebelum covid Pa. Awal bulan Maret saya berhenti. Covid mulai muncul pertengahan bulan Maret. Memang di kota - kota besar lainnya awal Maret sudah mulai banyak. Saya terlibat perselisihan dengan teman saya SMU dulu yang juga atasan saya dikantor. Dia sepertinya mencari - cari kesalahan saya di kantor, tapi tidak dapat. Akhirnya saya di pindahkan ke dua bagian dalam waktu tidak sampai seminggu. Saya tidak terima dan tidak mau dipindah karena tidak sesuai dengan basic kerja saya. Akhirnya saya dipecat karena melawan atasan. Itu alasannya mereka" ungkap Mas Fadil.
"Kamu keluar begitu saja tidak terima apapun?" tanya Papa.
Kalau sudah pembicaraan seperti ini entah mengapa aku selalu resah. Rasanya sangat sulit memilih antara suami dan orang tua. Kedua pria ini sangat berarti dalam hidupku.
Pasti Papa kepikiran dengan keadaan rumah tanggaku dengan Mas Fadil. Apalagi pandemi seperti ini semuanya semakin sulit.
Aku hanya bisa diam duduk disamping Mas Fadil sambil tak henti berdoa semoga semua baik - baik saja. Papa tipe orang yang tidak terlalu banyak cerita. Kalau sudah bertanya seperti ini itu artinya situasinya memang sangat serius.
"Ada apa terima sedikit, rencana Fadil akan buka usaha jual minuman kekinian. Fadil udah sewa sebuah ruko untuk satu tahun. Tapi siapa sangka tiba - tiba covid Pa, pandemi. Semua dibatasi tidak boleh ramai - ramai. Banyak para penjual yang gulung tikar karena pembeli tidak ada. Gimana mau mulai buka usaha Pa" ungkap Mas Fadil.
"Benar Pa, cari kerja baru saat seperti ini juga sangat sulit. Gimana mau cari kerja, diluar sana malah banyak yang dipecat karena pandemi. Perusahaan tidak sanggup membayar gaji karyawan dengan keadaan seperti ini" Rahmat membantu menjelaskan kepada Papa.
"Motor Anggi mana? Papa lihat kalian datang memakai satu motor?" selidik Papa.
Seeer... jantungku berdetak kencang. Aku melirik Rahmat yang tepat duduk di depanku. Rahmat hanya memberi isyarat menyuruh aku tenang.
"Motor Anggi kami jual Pa, awalnya untuk modal buka usaha tapi masih disimpan karena belum bisa memulai usaha" jawab Mas Fadil berbohong.
"Benar begitu Gi?" tanya Papa padaku.
Ya Allah maafkan aku harus berbohong demi kebaikan semuanya, demi kesehatan Papa.
"Benar Pa" jawabku cepat.
"Kalian harus lebih hati - hati dan pintar - pintar bertindak ya.. Apalagi dalam keadaan sulit seperti ini. Papa tidak mau ikut campur dalam masalah rumah tangga kalian. Tapi kalau ada yang sulit kalian bisa menyampaikannya kepada Papa. Mungkin Papa bisa membantu" ucap Papa.
Hatiku rasanya sedih sekali mendengar ucapan Papa seperti itu. Ingin ku menangis tapi aku tahan. Aku takut Papa curiga dengan tangisanku.
"Untuk kamu Fadil, sejak awal Papa menerima lamaran kamu, Papa tidak meminta banyak kepada kamu. Tidak perlu kamu kaya dan punya banyak harta. Papa hanya ingin kamu menyayangi Anggi, menjaganya dan bertanggungjawab kepada keluarga kamu. Kamu sudah dewasa, segera pikirkan bagaimana cara mencari nafkah. Ingat kamu kepala keluarga, kamu punya anak - anak yang harus sekolah, butuh makan dan lainnya. Anggi anak Papa perempuan satu - satunya tolong kamu jaga perasaan Papa. Jangan kamu sakiti Anggi ya" pesan Papa dengan suara yang aku sangat tau kalau dia sedang terluka.
Sebelumnya Mama sudag cerita kepadaku kalau sudah mendapat kabar dari kedua adikku tentang rumah tanggaku. Mas Fadil sedang tidak bekerja.
Aku mengerti apa yang saat ini sedang Papa dan Mamaku rasakan. Mereka pasti sangat sedih melihat anak perempuannya sendiri banting tulang bekerja sendiri sedangkan suami hanya di rumah.
Tapi mau bagaimana lagi saat ini memang sangat sulit keadaannya. Suami mau bekerja ojek orderan sepi. Anak - anak libur, karyawan kerjanya WFO dan WFH. Jalan raya sepi, banyak para penjual tidak membuka usaha mereka.
"Apa cukup gaji Anggi untuk kehidupan kalian?" tanya Papa akhirnya.
Aku langsung lemas, karena Papa jarang sekali bertanya menyinggung uang.
"Alhamdulillah cukup Pa, Anggi sekarang sudah mulai usaha kecil - kecilan. Jualan bakso dan nuget. Alhamdulillah dalam keadaan pandemi seperti ini banyak yang pesan" jawabku.
"Kapan kamu membuatnya Gi?" tanya Mama.
"Saat Anggi WFH Ma, saat Anggi libur. Mas Fadil bantu antar ke teman - teman pakai ongkos kirim. Dari pada sama orang lain kan bisa sekalian Mas Fadil yang dapat" jawabku.
Aku lihat Papa menarik nafas panjang.
"Apapun usahanya asalkan kalian mau bekerja sama percayalah pasti ada jalannya. Allah pasti akan kasih kalian rezeki. Yakinlah perjuangan tidak akan mengkhianati hasil" ucap Papa memberi semangat.
"Iya Pa" jawab Aku dan Mas Fadil.
"Sudah lah sudah malam. Ayo kita tidur, besok kita sambung lagi" ajak Papa.
Papa dan Mama masuk ke kamar mereka. Kini hanya tinggal aku, Mas Fadil dan Rahmat.
"Mas jangan tersinggung ya dengan ucapan Papa. Maksud Papa itu baik, dia tidak ingin kalian menyerah dengan keadaan dan tidak mau berusaha" ucap Rahmat.
"Iya Mas mengerti. Mas tidak tersinggung kok" sambut Mas Fadil.
"Kalau begitu aku tidur duluan ya Mas, Kak" ucap Rahmat pamit.
"Iya tidurlah. Kami mau duduk disini lagi" jawabku.
Rahmat masuk ke dalam kamarnya. Kini tinggal aku berdua di ruang keluarga rumah Rahmat. Aku mulai menangis untuk mengurai keteganganku tadi.
"Bun.. Bunda kenapa nangis?" tanya suamiku.
"Bunda takut Yah. Takut banget Papa tau kalau motor Bunda hilang. Bunda sebenarnya gak bisa bohong sama Papa dan Mama. Apa mereka udah tau ya Yah kalau kita bohong makanya Papa dan Mama bertanya seperti itu? Tidak biasanya Papa bertanya sampai sedetail itu?" tanyaku.
"Ayah yakin Papa tidak tau Bun. Tapi namanya orang tua pasti punya firasat. Mereka mungkin hanya ingin memastikan. Wajar kan mereka bertanya begitu karena memang mereka melihat motor Bunda gak ada. Biasanya kan kalau kita datang kesini dua motor" jawab Mas Fadil.
"Iya juga" jawabku lega.
Tangisku mulai mereda karena perasaanku lebih tenang.
"Sudah Bun jangan nangis lagi. Nanti Mama atau Papa keluar lagi dan lihat kamu menangis seperti ini. Bisa - bisa mereka mikir yang macem - macem" ujar Mas Fadil.
Aku segera mengusap air mataku.
"Iya Mas. Sudah malam, yuk kita tidur. Besok kita sore aja ya Yah pulangnya. Bunda kok pengen cepat pulang" ajakku.
Kalau dalam situasi seperti ini aku rasanya tidak sanggup tinggal lama dengan Papa dan Mama. Aku seperti merasa bersalah karena telah berbohong pada mereka.
Tapi hal itu memang harus aku lakukan mengingat sakit jantung yang diderita Papa. Lebih baik aku menghindar dari mereka.
Aku dan Mas Fadil bangkit dari duduk dan berjalan menuju kamar kami yang biasa kami tempati saat tidur di rumah Rahmat.
.
.
BERSAMBUNG
nonelnya seperti kehidupan kita sehari'', benar'' hidup seperti nyata kita alami,
luar biasa sekali pengalaman yang bisa kita petik