Eko Davka terjebak tuduhan memalukan, di tuduh mandul oleh Selvia, istri sahnya sendiri, yang membuat harga dirinya tercoreng. Untuk membuktikan semua omongan itu salah, dia punya satu jalan, memiliki keturunan.
Pilihannya jatuh pada Nayyara, gadis muda yang dia beli seharga 300 juta rupiah dari pemilik klub malam, tempat gadis itu bekerja. Davka mengajukan perjanjian, menikah secara kontrak, Nayyara akan memberinya keturunan, lalu semuanya selesai.
Namun Nayyara menolak diperlakukan sebagai mesin pembuat anak. dia ingin bebas—asal bisa mengembalikan uang yang telah dikeluarkan Davka. Tapi bagaimana? Uang sebanyak itu mustahil dia miliki. Terjepit ketakutan dan keterbatasan, Nayyara akhirnya menyerah dan menerima takdirnya, menjadi istri kedua pria dingin berkuasa itu.
Akankah pernikahan yang dimulai dari paksaan dan perjanjian hanya berakhir saat kontrak selesai? Atau benih-benih cinta justru tumbuh di antara ikatan Davka dan Nayyara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. di jodohkan sama Nayyara
Sesampainya di rumah orang tuanya, suasana hatinya masih buruk. Ditolak mantan istri, lalu melihatnya bersama pria lain yang bisa bersikap angkuh dan terus meremehkan.
“Dav, kamu Sudah pulang kok tidak menyapa dulu?” tegur Bu Melinda saat melihat anaknya melintas di ruang tamu.
“Iya, maaf. Assalamualaikum, mom" jawabnya sambil mencium tangan ibunya.
“Waalaikumsalam. Mandi dan salat dulu, ya. Nanti setelah Maghrib kita makan malam bersama. Mommy sudah siapkan masakan kesukaanmu, ayam saus kecap dan nasi uduk.”
"Iya mom Aku ke kamar dulu.” Davka tersenyum tipis, mencium pipi ibunya lalu naik ke lantai atas.
“Ya Allah, kasihan anakku. Semoga dia segera menemukan pendamping yang baik. Nayyara pasti cocok sekali dengannya. Semoga aku bisa segera mengenalkan mereka,” gumam Bu Melinda dengan wajah iba. Dia memang sudah berniat menjodohkan Davka dengan Nayyara, apalagi baru saja mendapatkan nomor telepon gadis itu.
“Davka…”
Davka yang baru saja selesai makan malam bersama ibunya menoleh.
"Mommy mau bicara sama kamu"
“Ada apa, mom?"
“Maaf kalau mommy berbicara begini… apa kamu nggak ingin mencari istri lagi?” Davka menunduk mendengar pertanyaan itu. Mencari istri lagi? Rasanya dia sudah kapok dan trauma. Dia takut suatu hari nanti istri barunya akan kembali menghinanya mandul, saat orang tuanya mulai menuntut cucu.
Belum lagi masalah pernikahan kontraknya dengan Nayyara yang sudah membuatnya bingung harus diakhiri bagaimana.
“Buat apa nikah lagi, mom? Aku lebih nyaman begini saja. Lagipula aku tak ingin rumah tangga ku hancur lagi nantinya.”
“Dav, dengerin mommy nak, tidak semua wanita seperti Selvia. Masih banyak yang baik, setia, dan mau tulus mencintaimu.”
“Tapi aku merasa tak berguna. Selvia bilang aku mandul. Kalau menikah lagi, mommy dan Daddy pasti akan menuntut aku punya anak, dan aku pasti akan bertengkar hebat lagi sama istriku.”
“Dav, maafkan mommy ya. Sekarang mommy sadar bahwa punya anak itu rezeki dari Tuhan. Kalau belum waktunya, tidak bisa dipaksa. Mommy janji tidak akan memaksakan hal itu lagi pada istrimu nanti.”
Bu Melinda mulai terlihat menangis, hingga Davka segera menggenggam tangan ibunya.
“Mommy janji tidak akan menuntut soal cucu lagi. Sungguh, kalau kamu mau menikah lagi, mommy dan Daddy kamu akan sangat bahagia. Kami hanya ingin ada yang menjaga dan menyayangimu, itu sudah cukup.”
Davka tersenyum lega sambil mengusap lembut tangan ibunya.
“Mommy pasti ingin menjodohkan aku, kan? Sudah kelihatan sekali itu…” Bu Melinda tertawa senang karena anaknya seolah bisa membaca pikirannya.
“Kok kamu bisa tahu? Tapi kali ini mommy yakin, gadis yang akan mommy kenalkan itu jauh lebih baik dari Selvia.”
“Haha… kalau sudah begitu, Ibu pasti jadi semangat sekali.”
“Percayalah, kamu pasti suka. Dia masih muda, cantik, sopan, baik hati, dan masih kuliah. Meski lebih muda, tapi Ibu yakin kalian cocok. Pokoknya mommy ingin dia jadi menantuku”
Davka tersenyum melihat semangat ibunya.
“Baiklah, boleh deh mom nanti kenalkan saja padaku,"
“Serius kamu Davka?”
“Iya, siapa tahu aku bisa cocok dengannya. Lagipula kalau mommy sudah bilang gini, pasti dia istimewa banget ya"
“Tentu saja dong, mommy gak bakalan sembarangan pilih calon mantu, Dia itu cantik sopan, cerdas, dan masih muda, apalagi juga hobi melukis seperti Tante‑mu. Nanti mommy atur pertemuan kalian deh, pasti kamu suka juga sama pilihan Mommy.”
Davka mengangguk pelan. Kali ini dia akan menuruti keinginan ibunya. Mungkin dengan begitu dia bisa membahagiakan orang tua dan bisa saja wanita itu jodohnya, Davka makin mantap secepat mungkin dia akan segera mengakhiri hubungan dengan Nayyara, lalu membuka lembaran baru dengan menikahi gadis pilihan dari Bu Melinda.
****
Dua bulan sudah sejak mereka makan malam berdua dan Davka bilang ingin cerai, Nayyara tak pernah bertemu lagi dengan suaminya, apalagi Davka tak pernah mau menemuinya lagi, meski dia sudah menitipkan pesan pada Dino. Lelaki itu juga seperti sengaja menutup akses Nayyara padanya. Mungkin dia serius dengan keinginannya untuk bercerai, akhirnya Nayyara bersikap masa bodoh; dia makin rajin berkuliah bertekad cepat lulus lalu bisa bekerja dan hidup bebas.
Dia tak mau terus stres dengan masalah ini, dia juga berusaha menyiapkan dirinya jika nanti Davka datang untuk mengenyahkan dia dari hidupnya.
Status Nayyara akhir‑akhir ini sudah seperti digantung, punya suami, tapi tak pernah bisa mendapatkan haknya sebagai istri, apalagi menjalankan kewajibannya.
Ini sudah masuk bulan September, umur Nayyara juga telah genap dua puluh satu tahun Agustus lalu, tapi hubungannya dengan lelaki itu mengambang begitu saja.
Gadis itu resah menatap jendela apartemen yang masih basah karena tadi baru saja turun hujan. Dalam keadaan seperti ini entah kenapa dia menunggu seseorang yang malah tak nampak batang hidungnya lagi sejak pertemuan terakhir mereka, yang diiringi pertengkaran.
Eko Davka digdaya Tedja, entahlah kenapa Nayyara lebih sering memikirkan lelaki itu akhir‑akhir ini, padahal dulu jika Davka tak mendatanginya agak lama, Nayyara senang dan merasa bebas. Lalu sekarang dia seperti merindukannya, apa bisa disebut cinta karena fokus pikirannya selalu saja melirik ingatan pertemuan terakhir, saat lelaki itu justru mengajaknya bercerai.
Sebenarnya sejak mereka bicara dari hati ke hati, lalu dengan jujur Davka mengatakan alasan kenapa memakai jasa Nayyara, perlahan rasa benci berubah jadi simpati dan kasihan pada lelaki itu. Entahlah apakah sudah berubah menjadi suka dan cinta, terbukti rasa rindu muncul saat Davka tak pernah lagi menghubunginya, tak lagi ke apartemen ini, dan tak lagi mengajak hubungan suami‑istri.
Nayyara memijit dahinya yang berdenyut, berjalan pelan ke sofa lalu dengan tubuh lemas menyesap teh lemon hangat yang tadi dihidangkan Bik Sumi. Sejak dua minggu lalu dia menggemari minuman ini, karena tubuhnya yang mudah lelah dan lemas akan sedikit segar dengan rasa asam itu.
“Kenapa kepalaku makin pusing sih? Apa gara‑gara kemarin aku bergadang buat tugas kuliah,” gumam Nayyara berusaha berdiri sambil berpegangan pada bahu sofa.
Dia pikir mungkin kelelahan akibat tugas kuliah, namun saat melangkah perlahan ke kamar tubuhnya tiba-tiba Nayyara oleng dan merosot jatuh ke lantai, punggungnya menabrak meja penyangga hingga ikut jatuh dan memecahkan beberapa pajangan kristal di atasnya. Suara keras itu membuat Bik Sumi yang ada di dapur berlari tergopoh‑gopoh mendatangi tempat Nayyara pingsan.
“Ya Allah, Non Nayyara kenapa!!”
Bik Sumi yang menemukan istri muda majikannya jatuh pingsan, dia terlihat kaget dan berteriak cemas, lalu memanggil Denny yang sedang di halaman belakang menyiram tanaman untuk ikut menolong.
“Pak Denny, cepat tolong Non Nayyara!!”
Denny yang kaget dan cemas langsung datang, dia menggoyangkan tubuh gadis yang terkulai di lantai. “Non bangun!!” Bik Sumi pun terus menggoyang lengan Nayyara juga.
“Kita panggil dokter saja! Kalau ada apa‑apa sama Non Nayyara nanti Tuan muda bisa marahin kita berdua,” Usul Bik Sumi. Denny setuju lalu membantu mengangkat tubuh Nayyara ke kamar dan membaringkan di atas ranjang empuk.
“Cepat telepon Dokter Dinda, kabari juga Tuan muda pak!… Aduh, Non Nayyara sebenarnya sakit apa sampai pingsan begini? Apa karena kecapean kuliah?” Denny sibuk menghubungi keduanya, dan sekitar setengah jam kemudian Dokter Dinda, yang dulu pernah merawat Nayyara datang dan langsung dipersilakan ke kamar gadis itu.