Berawal dari bermusuhan kemudian menjadi teman dekat. Rahma Dewanti dan teman-temannya memutuskan melanjutkan kuliah ke ibu kota setelah lulus SMA. Untuk meraih mimpi mereka.
Setelah sampai di ibu kota, ternyata Rahma tidak sengaja bertemu dengan ayah kandungnya. Selain itu dia juga menjadi korban pemerkosaan oleh teman dekat sendiri.
Kisah ini dibumbui dengan kisah cinta anak muda yang menguras emosi dan air mata.
Sanggupkah Rahma menjalani hidupnya setelah terjadi pemerkosaan? Akankah dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi orang sukses? Yuk baca kisah selengkapnya di Menggapai Mimpi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Ayo turun dulu! Kita lanjutkan ngobrol di dalam saja," ajak Rahma pada teman-temannya.
"Gimana Yo?" tanya Frans pada Rio.
Saat Frans dan Rio sedang berdiskusi apakah turun atau tidak, Tiara sudah turun dari mobil mengikuti Rahma.
"Frans, Rio! Cepet turunin sepeda Rahma! Jangan bengong aja, 'ntar ayam tetangga Rahma mati!" teriak Tiara dari depan pintu rumah Rahma karena menyadari duo kulkas tidak mengikuti.
"Siap!"
"Beres!" sahut Rio dan Frans bersamaan dari dalam mobil.
Akhirnya mereka berdua menurunkan sepeda Rahma dan masuk ke rumah itu. Di dalam sudah ada empat gelas teh hangat tersaji di atas meja. Frans dan Rio langsung duduk begitu saja tanpa menunggu Tiara dan Rahma muncul.
Tiara dan Rahma sedang ke kamar mandi karena menahan kencing sejak dalam perjalanan pulang tadi. Tiara minta ditemani Rahma karena takut di belakang sendiri, kamar mandinya terletak di luar rumah.
Bu Sarifah sedang menyiapkan makan malam untuk mereka nanti. Walaupun dengan lauk seadanya, sudah kebiasaan bu Sarifah untuk mengajak tamunya makan bila sudah waktunya makan.
Bu Sarifah membentang tikar pandan di lantai, berdekatan dengan sofa usang di ruang tamu. Setelah itu beliau mulai mengangkat nasi dan lauk pauk yang baru saja selesai dimasaknya.
"Ma, piring sama mangkuk cuci tangan jangan lupa!" teriak bu Sarifah saat meletakkan sepiring tumis buah pepaya muda.
"Iya, Bu!" jawab Rahma sambil membawa piring . Setelah itu berbalik lagi mengambil beberapa mangkuk berisi air cuci tangan.
Menu makan malam mereka tumis buah pepaya muda, ikan asin dan tempe goreng. Bu Sarifah juga menggoreng telur ceplok untuk tamunya.
"Ayo, duduk sini! Kita makan bersama, walaupun lauk ala kadarnya yang penting rasa syukur kita masih bisa ada yang dimakan." ajak bu Sarifah.
Rahma dan Tiara duduk berdekatan, bu Sarifah di samping kiri Tiara. Sedangkan Rio memilih duduk dekat dengan Bu Sarifah. Akhirnya Rahma duduk berdekatan dengan Frans.
Rahma menyendokkan nasi ke piring Frans lalu telur ceplok diletakkan dia atas nasi tersebut.
"Sayur ini mau?" tanya Rahma pada Frans.
"Sayur apa itu? Bentuknya seperti mie" tanya Frans penasaran.
"Ini buah pepaya yang masih muda diserut terus diuli ma garam. Habis itu ditumis." jawab Rahma menjelaskan nama sayur dan cara memasaknya.
Frans yang penasaran dengan rasa sayur itupun akhirnya mengangguk.
"Cobain deh, dikit aja dulu!" ucap Frans akhirnya.
Sambil menunggu Rahma selesai mengambilkan makannya, Frans mencomot tempe goreng di depannya.
"Hmm, enak tempe gorengnya!" puji Frans sambil mengunyah tempe dalam mulutnya.
Sedangkan Rio dan Tiara, makannya diambilkan oleh bu Sarifah.
"Mana sendok?" tanya Frans heran di piringnya tidak ada sendok.
Rahma tersenyum mendengar pertanyaan Frans.
"Dasar orang kaya, mau makan cari sendok dulu!"
"Cara makannya begini, Nak Fans!" ucap bu Sarifah sambil memberi contoh.
Frans mencuci tangannya kemudian mengikuti gerakan tangan bu Sarifah. Setelah memperhatikan bu Sarifah, Frans menoleh ke arah Rahma lanjut pada Tiara dan Rio. Hanya dirinya yang tidak bisa mengepal nasi.
Tiara sudah sering makan di rumah Rahma jadi dia sudah pandai makan menggunakan tangan langsung. Sedangkan Rio, dia sudah sering makan menggunakan tangan langsung jika diajak Bundanya makan di warung lesehan pinggir jalan.
Saat semua sudah hampir habis nasi di piring, Frans masih bingung mengepal nasi untuk disuap ke mulutnya. Melihat itu, Rahma pun kasihan lalu berdiri mengambil sendok di dapur. Kemudian diserahkan pada Frans.
"Masakan Ibu enak! Tapi sayang, Frans gak bisa makan seperti Ibu dan Rahma," puji Frans setelah habis makannya.
"Semua makanan itu enak kalau disyukuri, Nak Fans!" jawab bu Sarifah merendah.
"Ini beneran enak lho, Bu!" sahut Rio.
"Iya, memang enak kok!" sahut Tiara menimpali.
"Masakan Ibu memang selalu numero uno!" puji Rahma membenarkan pernyataan teman-temannya.
Author mau promosi nih, karya baru author dengan judul "Cinta Sendiri".
Sinopsis:
Berawal dari pertemuan mereka di rumah sakit saat Rendy koma. Anggita Nur Anggraini, adik Rendy langsung jatuh cinta pada sahabat dekat kakaknya itu. Selisih umur mereka juga jauh sekitar 8 thn.
Brandon yang kagum pada Ary akhirnya malah jatuh cinta pada janda sahabatnya sendiri. Hal itu membuat Brandon sulit untuk berpaling dan melihat Gita.
Apapun telah Gita lakukan agar terlihat di mata Brandon. Tapi Brandon tetap tutup mata soal itu. Akankah Gita menyerah dan meninggalkan Brandon? Ataukah dia akan tetap bertahan hingga Brandon membuka hatinya yang sudah terkunci? Akankah Brandon akhirnya dapat membuka hatinya dan menerima cinta Gita? Yuk cap cus klik avaku, pilih judul "Cinta Sendiri". Baca dan tinggalkan jejak ya😁