Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Baru saja mereka keluar dari ruang pemeriksaan, suara seorang perawat berlari mendekat dari arah lobi.
"Dokter! Dokter Rahmat! Ada seorang pasien dari kelompok yang baru saja pergi datang kembali! Dia bilang mau diobati dan siap diisolasi!" kata suster itu dengan cepat.
Abram dan Dokter Rahmat segera berbalik badan.
Mereka melihat Pak Aris datang dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca. Langkahnya goyah, dan bagian lengannya yang terkena penyakit sudah mulai membengkak lebih parah.
Saat sampai di depan mereka, Pak Aris langsung terlutut di lantai keras koridor rumah sakit.
"Abram... Abram... Aku benar-benar minta maaf ya... Tak seharusnya aku ikut-ikutan dengan Pak Adi dan mereka membakar rumahmu. Setelah kamu pergi dan penyakit ini menyerang kita, aku mulai merenungkan semua yang terjadi." Tangannya yang penuh luka mengangkat sedikit, seolah ingin menyentuh kaki Abram namun tak berani.
"Kamu pernah membantu aku ketika istriku melahirkan dengan sulit, bahkan memberikan uang untuk biaya rumah sakit. Tapi aku malah mengkhianati kamu karena takut dikucilkan Pak Adi. Ini memang azab yang harus aku terima karena mengusirmu dari kampung... Aku benar-benar minta maaf..." katanya sesenggukan
Abram terdiam sejenak. Matanya yang tajam terfokus pada Pak Aris, pria berusia lima puluhan yang sedang menunduk menangis itu.
Pak Aris tidak berhenti menangis, air matanya menetes melewati wajah yang kusam dan penuh bekas luka yang semakin parah.
Tangannya yang gemetar terus menggaruk bagian lengan dan lehernya yang telah berdarah.
Ia menggaruknya membuat kulitnya mengelupas, dan nanah dan Darah keluar.
"Semalam aku bermimpi jika penyakit ku bertambah parah, dan tadi aku melihat kau menyembuhkan di UGD membuat aku yakin jika kau pasti bisa menyembuhkan sakit ku," kata Pak Aris.
Abram mendekat dan dengan hati-hati memegang bahu Pak Aris. Tubuh pria itu terkejut dan sedikit bergetar saat disentuh, seolah tidak terbiasa dengan sentuhan yang penuh perhatian.
Abram memejamkan mata, kedua tangannya tetap berada di bahu Pak Aris, untuk merasakan energi dan niat batin pak Aris.
Selama beberapa detik, hanya terdengar bunyi napas Pak Aris yang terengah-engah
Abram merasakan aliran energi yang bercampur aduk dari dalam tubuh Pak Aris, ada rasa bersalah yang mendalam, keinginan untuk membenarkan kesalahan, tapi juga sedikit rasa takut.
Ia perlu memastikan apakah niat pria ini sungguh tulus, atau hanya mencari jalan keluar dari penderitaan yang sedang dialaminya.
"Apa yang membuatmu berpikir untuk berubah, Pak Aris?" tanya Abram dengan suara yang tenang namun tegas, tidak langsung menjawab permintaan yang tersirat.
"Kau telah menyakiti aku. Apakah rasa sakit yang kau rasakan sekarang yang membuatmu ingin minta maaf, ataukah kau benar-benar menyadari kesalahan mu?" tanya Abram.
Pak Aris mengangkat wajahnya, mata nya merah karena menangis dan kulitnya yang gatal membuatnya tampak sangat menderita.
"Abram... aku tahu aku telah menjadi orang yang sangat jahat padamu," ucapnya dengan suara bergetar.
"Awalnya aku berpikir dengan ikut bersama pa Adi, keluargaku akan hidup lebih baik. Tapi sebaliknya, aku hanya membawa malapetaka bagi diriku sendiri. Awalnya baik-baik saja, tapi setelah kau pergi, aku mulai menderita," kata Pak Aris merasa menyesal.
Pak Adi menggaruk bahu nya dengan kesusahan, mencoba menghilangkan rasa gatal yang semakin lama semakin kuat.
"Aku mulai merenungkan semua kesalahan ku. Selama ini Aku melihat bagaimana kamu tetap membantu orang lain meskipun hidupmu sulit. Kemarin malam, aku bermimpi melihat ayahmu, dia tidak marah, tapi hanya menatapku dengan wajah penuh kesedihan. Itu membuatku menyadari bahwa apa yang kulakukan salah besar. Aku ingin berubah menjadi orang baik, Abram. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi, dan aku akan membangun ulang rumahmu dengan biaya sendiri. Meskipun tidak akan sebagus yang aslinya, setidaknya kamu akan memiliki tempat tinggal yang layak untuk tinggal," kata Pak Aris lagi.
Setelah merasakan aliran energi yang kini mulai menjadi lebih tenang dan jelas, Abram yakin bahwa Pak Aris benar-benar sungguh-sungguh.
Ia menarik tangannya kembali dan mengangguk perlahan. "Baiklah, aku akan mengobati mu. Tapi ada aturan yang harus kau patuhi. Pertama, penyakit yang kau derita bukan hanya masalah fisik, ia muncul karena energi negatif dari kesalahan mu yang terperangkap di dalam tubuh mu. Jika kau kembali melakukan kejahatan, penyakit ini akan kembali dengan lebih parah."
Pak Aris mengangguk dengan cepat, wajahnya penuh harapan.
"Aku akan menaati semua aturan mu, Abram," kata Pak Aris menatap Abram dengan mata berbinar.