Alluna tak tahu jika kepergiannya kali ini akan menjadi malapetaka bagi dirinya sendiri. Emanuel Sagi Pratu, lelaki yang telah di pacarinya selama 3 tahun terakhir memilih menikah dengan Syailea - kakak dari Luna.
Tanpa tahu apa yang terjadi, Luna mengerahkan segala cara agar Sagi dapat kembali menjadi miliknya. Tetapi lelaki bernama Andrew Kilburn mendadak hadir di tengah usahanya itu. Lelaki yang ternyata adalah Om dari Sagi itu mengaku jika Alluna adalah miliknya.
•••
I Love You, Omm! Season 2
Keterpurukan Sagi akan cinta pertama mengantarkan gadis bernama Saras dalam hidupnya. Gadis pemilik iris caramel yang kembali memperangkap ingatan Sagi tentang Alluna. Sagi yang merasa penasaran serta keberadaan Saras yang selalu disisinya itu pun membuat perasaan nyaman memenuhi diri Sagi. Dan untuk pertama kalinya jantung Sagi kembali berdebar oleh senyum seorang Wanita selain Luna. Namun sayangnya perbedaan diantara mereka terlalu besar.
“Cinta yang tidak dikatakan pun masih tetap disebut cinta kan, Oom?” — Saras.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan Selviani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN NYATA
Setelah kepergian Sagi, Andrew berdiri di luar rumah, menatap satu persatu tubuh pengawalnya yang masih tergeletak di dekat pagar.
Mata Andrew menyala dengan kemarahan. Ia tahu Sagi adalah pria licik, tetapi tidak menyangka keponakannya itu akan nekat menyamar dan meracuni pengawalnya hanya untuk mendekati Alluna.
Andrew berjongkok, memeriksa denyut nadi pengawalnya. Syukurlah, ia hanya pingsan akibat obat tidur. Namun, itu tidak membuat Andrew merasa lebih lega. Sambil menghela napas panjang, ia meraih ponsel di sakunya dan menelepon kepala keamanan.
“Semua orang harus lebih waspada mulai sekarang. Tambahkan personel, dan pastikan makanan apa pun yang masuk ke rumah diperiksa terlebih dahulu,” katanya dingin sebelum menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
Ia berdiri, menatap gerbang rumah mereka yang kini terasa seperti tidak lagi aman. Tangannya mengepal kuat, lalu melayangkan tinjunya ke udara seolah ingin melampiaskan amarah yang menumpuk di dadanya.
“Alluna...” gumamnya pelan, memikirkan istrinya yang sekarang mungkin ketakutan di dalam rumah.
Ia harus lebih tegas. Keamanan Alluna adalah prioritasnya.
Andrew masih tenggelam dalam pikirannya ketika tiba-tiba sepasang lengan melingkar di pinggangnya dari belakang. Ia menoleh sedikit, melihat wajah Alluna yang menyandarkan kepalanya di punggungnya.
“Mas,” suara Alluna terdengar lemah, bergetar karena takut. “Aku takut...”
Andrew memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Tangannya terangkat, menyentuh lembut lengan Alluna yang memeluknya.
“Aku di sini, sayang. Kamu nggak perlu takut,” katanya, meski nada suaranya tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan amarahnya.
Alluna mengeratkan pelukannya, seolah mencari perlindungan dari ketegasan suaminya. “Apa kita harus memberitahukan ini ke Papa dan Kak Lea?” tanyanya dengan suara pelan.
Ia tahu Andrew ingin menyelesaikan semuanya sendiri, tetapi ancaman dari Sagi terlalu nyata untuk diabaikan.
Andrew terdiam sejenak, mempertimbangkan kemungkinan itu. Memberitahu Burhan, ayah Alluna, berarti melibatkan pria yang sangat berpengaruh dan memiliki jaringan luas. Lea, kakak Alluna, juga tidak akan tinggal diam jika tahu adiknya berada dalam bahaya sekali lagi.
Namun, itu berarti membuka masalah ini ke lebih banyak orang, yang mungkin akan memperburuk situasi.
“Mas?” panggil Alluna lagi, kali ini lebih pelan.
Andrew akhirnya membalikkan tubuhnya, menghadapkan diri ke istrinya. Ia memegang kedua bahu Alluna, menatapnya dalam-dalam.
“Aku tahu kamu takut, dan aku tahu ini bukan situasi yang mudah. Tapi kita nggak bisa gegabah. Sagi itu licik, dia pasti punya rencana lain. Kalau kita melibatkan orang lain, aku nggak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.”
“Tapi...” Alluna menunduk, menggigit bibirnya. “Kalau terus begini, aku takut dia benar-benar menyakitimu, Mas. Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Andrew menghela napas panjang, menarik Alluna ke dalam pelukannya. “Aku berjanji, aku nggak akan apa-apa. Aku cuma mau kamu tetap aman. Kalau keadaan semakin berbahaya, aku akan mempertimbangkan memberitahu Papa dan Lea. Tapi untuk sekarang, biarkan aku yang menangani ini.”
Alluna memejamkan mata di dada suaminya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan. “Baik, Mas. Tapi kalau aku merasa kita benar-benar dalam bahaya, aku nggak akan diam saja.”
Andrew tersenyum tipis, mengusap kepala Alluna dengan lembut. “Itu istriku yang tangguh. Aku suka keberanianmu, tapi aku lebih suka kalau kamu tetap aman di sisiku.”
Mereka berdiri seperti itu beberapa saat, menikmati kehangatan satu sama lain di tengah ancaman yang melingkupi.
Namun, Andrew tahu ia harus bertindak cepat. Sagi adalah ancaman nyata, dan pria itu pasti akan mencoba lagi.