Warning 21+
Dosa tanggung sendiri jika melanggar😚😚
Jonathan, seorang penguasa pemilik Asian Grup, berusaha mencari cinta pertamanya yang bernama Keynara Anastasia, untuk membalas dendam atas pembullyan yang terjadi saat masa sekolah..
Setelah beberapa tahun mencari, keduanya di pertemukan di sebuah acara pernikahan. Jonathan tidak ingin kehilangan lagi, sehingga jeratan pernikahan langsung di lilitkan kuat pada leher Nara..
Setelah pernikahan terjadi, Jonathan baru menyadari jika Nara tidak seperti dulu. Dia bukan lagi Nara yang jahat dan penuh ambisi dan berubah menjadi Nara yang polos bahkan cenderung bodoh..
Namun di balik sikap polosnya, Nara menyembunyikan sisi gelap yang mungkin akan bisa bangkit kapan saja. Sisi yang tidak di ketahui oleh siapapun tidak terkecuali Ayahnya sendiri...
Cerita ini mengandung unsur dewasa💦 Kekerasan 💢dan bahasa yang sedikit fulgar...
Harap bijak dalam membaca...
Ini karya pertamaku...
Silahkan klik ♥️, like dan share sebanyak-banyaknya..
~Tere Liye
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TereLiye21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 33
Andra yang sudah lebih dulu sampai, langsung menyambut kedatangan Joy. Seperti biasa, dia mendampingi Joy berjalan menuju ruang eksekusi. Di ruangan itu, Prapto di biarkan duduk tanpa di ikat sebab tenaga tuanya tidak cukup kuat untuk melawan.
"Ampuni Bapak Nak Joy.." Prapto langsung bersimpuh seraya memegang kedua kaki Joy.
"Ampun katamu!!!" Joy menendang kasar tubuh Prapto hingga terpental.
"Tuan, akan lebih baik jika Tuan tidak menghajarnya." Sahut Erik berdiri tepat di samping Joy.
"Maksudmu apa?! Aku ingin kepalanya!!"
"Sabar Tuan. Jika Tuan langsung membunuhnya, itu akan berjalan sangat mudah. Saya sudah melakukan sesuatu yang nantinya bisa membuat semuanya menjadi lebih seru."
"Katakan apa?!!" Erik mendekatkan bibirnya dan membisikkan sesuatu pada Joy.
"Oh begitu.."
"Iya Tuan. Kematian keluarganya tidak akan membuatnya jerah sebab dia memang sudah lama tidak mengurusnya dan jika Tuan setuju, setelah ini dia akan menjadi buronan." Joy tersenyum seraya menatap ke arah Erik. Dia sangat menyukai ide itu bahkan rasanya mungkin akan lebih menyenangkan melihat Prapto mendekam di penjara seumur hidup.
"Bagus sekali. Ternyata dia lebih buruk dariku.."
"Bapak berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Sahut Prapto masih berusaha memohon.
"Telingaku mendadak tidak berfungsi jika kau berani menyentuh istriku apalagi berusaha membunuhnya! Lakukan sesuai rencana mu, aku ingin lihat beritanya besok."
"Baik Tuan." Joy berjalan pergi di ikuti oleh Andra.
"Katamu ada janji." Tanya Joy berjalan menuju mobilnya.
"Saya merasa tidak enak jika tidak hadir."
"Sudahlah pergilah. Dan cepat menikah agar istriku tidak berfikir jika aku menyukaimu!!" Joy menepuk pundak Andra sebentar lalu masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati Tuan..."
Tiiiiiinnnnn...
Senyum Andra mengembang, dia tidak percaya jika Joy benar-benar sedikit membebaskannya. Andra segera masuk mobil ketika melihat jam tangan mewah yang terpasang di tangan kirinya.
"Tunggu aku Ella." Mobilnya melaju meninggalkan markas. Sementara Ella sendiri sedang meminta izin keluar untuk makan siang sebentar namun Caca tidak memperbolehkannya.
"Kau lupa peraturan Cafe ini?" Tutur Caca kasar.
"Saya hanya sekali saja Nona. Saya bahkan tidak pernah mengambil libur jadi saya mohon untuk mengizinkan beristirahat sedikit lama." Selama ini Ella menghabiskan waktunya untuk berkerja daripada harus bersama Ibu tirinya yang cenderung selalu menyiksanya.
"Keperluanmu apa! Sebutkan? Jika penting aku izinkan tapi jika tidak, jangan harap kamu bisa keluar!!" Ella menarik nafas panjang seraya tertunduk.
"Saya ada janji dengan seseorang.." Ucap Ella pelan. Fikiran Caca langsung tertuju pada Andra, lelaki yang cukup menarik perhatiannya.
"Lelaki kemarin?" Tanya Caca lirih. Ella mengangguk sehingga Caca langsung mendengus kesal karena merasa iri.
"Tidak boleh!" Caca akan melangkah pergi namun Ella mengejarnya.
"Saya sudah terlanjur berjanji Nona. Saya mohon."
"Tidak ya tidak!!"
"Berapa yang harus saya bayar untuk membeli waktunya." Sahut Andra yang ternyata sudah sejak tadi mendengarkan obrolan mereka. Caca menoleh begitupun Ella.
Kak Andra...
*Foto sebagai pemanis
Sial!!! Kenapa lelaki setampan itu bisa menyukainya!!
"Tidak bisa Tuan. Sekarang istirahatnya hanya sebentar!!"
"Hm... Begitu." Kecerdasan Andra memang tidak bisa di ragukan lagi. Dia sudah memperkirakan semuanya hingga dia merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Pak Andra. Ada apa?
"Saya memiliki masalah di tempat anda.
Caca tidak mengerti rencana Andra dan masih memasang wajah masam.
"Katakan Pak. Apa itu.
Andra berjalan menjauh dan membicarakan keinginannya pada pemilik Cafe tersebut yang ternyata memiliki hubungan baik dengannya. Dan terbongkar sudah jika Caca bukanlah pemilik sesungguhnya, sebab dia hanya di tugaskan untuk mengelola Cafe tersebut.
Setelah menelfon, Andra duduk santai di salah satu tempat seraya menikmati wajah Ella yang beberapa hari ini mengusik fikirannya.
"Jika tidak memesan, tidak boleh berdiam di sini." Tutur Caca kasar. Ella hanya bisa diam melihat sebab dia memang hanya pegawai biasa.
"Bagaimana mungkin ada Owner Cafe yang berkata kasar pada pelanggannya." Jawab Andra santai.
"Aku tahu maksudmu Tuan. Jika kau hanya ingin menemuinya. Lakukan sepulang kerja!!"
"Itu terlalu malam dan aku takut sibuk nanti."
"Itu bukan urusanku!!"
"Memang bukan tapi sebentar lagi akan menjadi urusanmu."
Baru saja Andra mengucapkan itu. Seorang lelaki muda datang menghampirinya dengan jas rapinya. Caca melongok dan langsung tertunduk karena dia mengenal lelaki yang merupakan pemilik Cafe sesungguhnya.
Sial!! Kenapa Pak Tomi ada di sini!!
"Apa masalah anda Pak?" Tanya Tomi duduk setelah bersalaman.
"Saya ingin mengajak salah satu pegawai di sini untuk makan siang. Apa memang jam istirahatnya singkat?" Andra tersenyum ke arah Caca yang mulai ketakutan.
"Tidak Pak, jam istirahat memakai sistem rolling."
"Hm begitu. Bolehkan saya mengajak satu pegawai anda untuk menemani saya makan siang dan mungkin setelah itu, saya bisa mempertimbangkan soal proposal yang Bapak ajukan Minggu lalu."
"Tentu saja. Tunjuk siapapun yang anda inginkan." Tomi sangat senang mendengar itu sebab dia membutuhkan suntikan dana untuk usahanya yang berada di luar kota.
"Dia.." Andra menunjuk ke arah Ella.
"Kamu sini." Panggil Tomi melambai. Ella berjalan mendekat dan berdiri di samping Tomi.
"Bisa bantu saya menemani Pak Andra? Tidak perlu takut sebab beliau orang baik."
"Saya sudah janjian dengannya." Sahut Andra seraya tersenyum.
"Oh jadi bagaimana?"
"Saya hanya sedang meminta izin karena kamu pemilik tempat ini." Raut wajah Caca berubah merah karena merasa malu. Andra sengaja melantangkan suaranya agar semua pegawai mengetahui jika Caca bukanlah pemilik Cafe tersebut.
"Astaga Pak Andra. Tidak perlu izin, silahkan mengajaknya jika memang sudah saling mengenal." Jawab Tomi ramah.
"Hm terimakasih." Andra berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Tomi.
"Sama-sama Pak. Senang bisa membantu."
"Sebelum pergi, tolong perbaiki cara pelayanan di Cafe ini. Meskipun menolak, setidaknya berkata sopan dan tidak meninggikan suara pada pelanggan. Saya harap Pak Tomi bisa memilih seseorang yang tepat dan profesional untuk mengelola Cafe ini agar Cafe ini bisa berkembang pesat. Saya permisi.. Mari Ella." Dengan sopan Andra mempersilahkan Ella untuk berjalan duluan. Andra tersenyum manis ke arah Caca sebelum berjalan mengikuti Ella.
Sementara Tomi menatap tajam ke arah Caca." Kenapa bisa Pak Andra berkata itu!! Apa yang kamu katakan padanya??" Caca tertunduk bungkam dan para pegawai berbisik mulai membicarakannya. Mereka fikir jika Caca adalah pemilih Cafe ternyata kenyataannya, dia hanya orang suruhan saja.
"Maafkan saya Pak, saya tidak tahu jika beliau orang yang Bapak kenal."
"Meskipun tidak kenal, tidak seharusnya kamu berkata tidak sopan pada pelanggan! Saya kecewa padamu!! Sudah saya katakan untuk berkerja secara profesional! Saya akan menempatkan kamu ke gudang lagi!" Caca langsung mendongak karena merasa tidak terima.
"Saya berjanji tidak akan saya ulangi."
"Saya mencari orang yang benar-benar profesional! Bukan orang yang sok berkuasa!!" Caca mendengus kesal menatap ke arah Tomi yang mulai memasuki mobilnya.
Semua ini gara-gara Ella!! Awas kau Ella!!!
________________________________________________________
Saat Joy baru saja akan memegang gagang pintu, tiba-tiba saja Bik Yanti keluar dari kamar seraya tersenyum.
"Non Nara baru saja tidur Tuan." Tutur Bik Yanti pelan.
"Syukurlah, terimakasih Bik."
"Sama-sama Tuan." Bik Yanti mengangguk sebentar kemudian pergi.
Joy mendorong pintu pelan dan melihat Nara tengah berbaring di atas tempat tidur. Joy mendekatinya lalu membetulkan selimut pada tubuh Nara yang hanya memakai baju dalam.
Rasanya dia memang tidak memiliki rasa malu. Joy melepaskan bajunya dan ikut berbaring. Aku malah ingin menyentuhnya jika begini. Perlahan, Joy beranjak bangun dan berniat memeriksa laporan yang terkirim pada email miliknya. Sambil sesekali melihat ke arah Nara yang terdengar mendengkur. Joy tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
"Dingin..." Gumam Nara seraya memejamkan matanya. Dia menarik selimut hingga menutupi kaki dan kepalanya. Joy kembali menatap laptop namun Nara kembali bergerak.
Sementara yang terjadi pada Nara sekarang, dia merasa ada yang kurang sehingga membuat tidurnya terganggu. Dia gelisah sendiri seolah tubuhnya merasa tergelitik. Ada sesuatu yang aneh dan membuatnya sangat tidak nyaman. Dan akhirnya, dia terbangun dan duduk seraya mendengus kesal.
"Apa yang terjadi?" Tanya Joy seraya tersenyum.
"Rasanya sangat aneh sayang, kenapa hatiku tidak tenang ya.." Nara menarik selimut lalu berdiri dan berjalan ke arah Joy.
"Itu alasanmu saja."
"Ini benar. Aku tidak alasan." Tanpa izin, Nara duduk di pangkuan Joy dan bersandar dengan posisi meringkuk. Tidak lupa dia memakai selimutnya sehingga pandangan Joy pada laptopnya tertutupi.
"Lalu ini apa? Aku sedang memeriksa laporan sayang.." Meski terdengar keberatan namun Joy tersenyum seraya membelai rambut panjang Nara.
"Periksa saja, aku akan tidur sayang. Aku berjanji akan mengerti soal kesibukanmu jadi periksa laporannya dan biarkan aku tidur." Joy m*desah lembut. Bagaimana caranya dia memeriksa jika nyatanya Nara menganggunya seperti sekarang.
"Baiklah sayang. Apa nyaman jika seperti ini." Joy mendekap lembut tubuh kecil Nara seraya terus memainkan rambutnya.
"Hm iya. Tadi benar-benar tidak nyaman. Ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku." Nara mulai terbiasa dengan keberadaan Joy hingga rasa candu itu kini mulai kuat mengakar. Dia ingin Joy menyentuhnya seperti sekarang meski saat dia memejamkan mata.
"Bagaimana pijatan Bik Yanti?"
"Enak tapi diamlah sayang, aku mengantuk.."
"Baik tidurlah..." Joy menutup laptopnya dan memutuskan berbaring lalu menemani Nara tidur.
*Foto sebagai pemanis
"Kenapa sebentar sekali sayang?"
"Sudah di urus anak buahku." Joy beberapa kali mengecup puncak kepala Nara seraya menghirup aroma rambutnya.
"Kenapa kamu ikut tidur."
"Kenapa kamu masih bicara? Katanya mau tidur."
"Aku tidur." Nara sedikit mendongak dan memperlihatkan matanya yang tertutup.
"Baik, maka diamlah.." Nara tidak menjawab, sementara Joy mengusap lembut punggung Nara dan sesekali mencium puncak kepalanya. Beberapa kali Joy ikut menguap apalagi di luar terlihat mulai mendung. Hingga perlahan matanya mulai meredup kemudian ikut tertidur lelap.
_________________________________________________________
Ella merasa canggung memakan hidangan yang sudah di pesankan untuknya, sehingga membuat Andra menawarkannya beberapa kali.
"Ini terlalu banyak Kak."
"Tidak apa." Ella tersenyum dan mulai menyendok makanan ke mulutnya.
"Di mana rumahmu Ella?" Tanya Andra memulai obrolan untuk lebih banyak menggali info.
"Untuk apa?"
"Untuk main ke sana."
Ella meletakkan sendoknya pelan. Dia tidak pernah memikirkan hal seperti ini, sehingga permintaan Andra membuatnya terkejut.
"Ayahku tidak akan memperbolehkan." Jawab Ella melanjutkan makannya.
"Maaf mungkin terlalu singkat, karena aku terbiasa melakukan pekerjaan dengan cepat tapi, aku serius ingin mengenalmu lebih jauh." Ella menatap ke Andra yang juga menatapnya.
"Aku bukan wanita terhormat." Tolak Ella tegas. Dia merasa tahu diri dan merasa tidak pantas memiliki kesempatan itu.
"Aku juga hanya pesuruh." Jawab Andra tersenyum.
"Pesuruh?" Andra mengangguk.
"Hidupku sudah ku jual pada Tuanku. Aku masih terikat kontrak dan membuatku tidak bisa bergerak bebas."
"Ku fikir kamu Bos-nya."
"Tuanku begitu baik hingga membuat derajat ku diangkat seperti sekarang. Aku akan mengenalkanmu jika memang kamu memberikanku kesempatan." Ella memperhatikan penampilan Andra dari atas sampai bawah.
Pesuruhnya saja seperti ini, bagaimana dengan Tuannya..
"Meski begitu, rasanya aku bukan kelas orang seperti Kakak."
"Kenapa begitu? Aku sangat berharap kamu bisa mengizinkanku."
Aku merasa malu dengan hidupku sekarang.. Aku yakin dia akan menyesal jika tahu aku hanya gadis miskin yang tidak memiliki tujuan hidup.
"Sebaiknya Kakak mencari wanita lain saja."
"Aku tertarik padamu. Aku memikirkanmu setiap waktu. Mungkin memang aku sedikit kaku karena memang selama ini aku tidak pernah dekat dengan siapapun. Tapi, aku benar-benar serius ingin dekat denganmu." Pipi Ella berubah merah mendengar ucapan Andra. Selama ini memang sangat banyak lelaki ingin mendekatinya tapi Ella berusaha menghindar karena tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri.
"Aku tidak ada waktu untuk memikirkan itu Kak. Aku berkerja dari pagi hingga malam jadi tidak akan ada waktu luang dan lagi, aku juga tidak berniat mengenal atau dekat dengan siapapun." Andra kecewa mendengar itu tapi tidak menyurutkan keinginannya sedikitpun.
"Hm begitu... Baiklah, aku tidak bisa memaksa. Habiskan makanmu lalu ku antarkan kembali ke Cafe." Raut wajah Ella terlihat kecewa. Entah kenapa dia ingin Andra memaksanya agar dia bisa pergi dari rumah terkutuk itu. Namun kembali lagi, Ella tidak bisa berbuat apapun. Bagaimanapun buruknya sang Ayah, dia tetap saja Ayahnya yang harus di mintai restu ketika dia menikah.
Aku sempat berharap lebih kemarin. Tapi rasanya Kak Andra seperti lelaki yang lain. Mereka tidak akan mau berjuang dan mencari tahu soal hidupku. Dan aku memang tidak pantas mendapatkan itu..
Sesuai permintaan, Ella di turunkan di Cafe sementara Andra pulang dengan wajah tertunduk. Bik Yanti yang kebetulan akan membuang sampah menghampiri keponakannya tersebut.
"Kenapa atuh Ndra?" Sapa Bik Yanti membuat Andra tersenyum.
"Mau usaha tapi gagal Bik hehe." Andra menuang air putih lalu meneguknya habis.
"Usaha apa Ndra?"
"Usaha buat cari pasangan Bik, tapi rasanya sulit. Apa aku terlalu kaku ya?" Andra duduk lemah di kursi makan.
"Baru juga sekali Ndra."
"Kalau dia menolak, aku bisa apa Bik."
"Berjuang.." Sahut Joy yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Tuan." Andra langsung berdiri menghadap Joy.
"Buatkan saya kopi Bik..." Pinta Joy.
"Iya Tuan." Sambil menunggu kopi, Joy mendekati Andra dan duduk di kursi makan.
"Aku menunggu Nona Nara hampir sepuluh tahun dan kau menyerah hanya satu kali penolakan? Kau tidak pantas jadi kaki tanganku!" Joy ingin memberi motivasi pada Andra sebab dia tidak menyukai lelaki yang lemah.
"Dia tidak menginginkan saya Tuan."
"Kau fikir Nona Nara menginginkanku? Menurutmu, untuk apa aku ingin balas dendam jika bukan karena penolakan itu? Jika kau memang serius, berharaplah setinggi mungkin hingga dirimu tidak takut terjatuh. Jika kau memang hanya main-main, keputusan untuk menyerah itu keputusan terbaik." Joy berdiri dan mengambil kopi dari tangan Bik Yanti lalu pergi menaiki tangga sebab dia meninggalkan Nara yang tengah tidur.
Apa aku harus mencari tahu rumah Ella sendiri?
~Tere Liye
itu joy naranya dijaga benar benar jangan disia sia in kasian dia🥰🥰
korban selanjutnya....