Slow Up, kalo sabar boleh masukkan ke daftar favorit kalian 😁
Meski sudah di lecehkan dua kali oleh laki-laki lain, Bian Anggara masih tetap menikahi wanita mungil nya!
Kalian yang tidak suka cerita pelecehan, jangan mampir, karena kali ini pemeran utama nya mengalami dua kali pelecehan.
CEO Casanova yang cenderung egois bahkan lebih mengarah ke PSIKOPAT VS CEO perjaka yang sudah matang memiliki sifat bak MALAIKAT.
Action dikit dikit ada tapi tidak banyak, karena lebih banyak romantis nya. Tokohnya di bawah ini.
❤️Bian Anggara, CEO tampan yang hampir berusia 31 tahun tapi masih perjaka, laki-laki itu berniat menyudahi kesendiriannya, setelah melihat gadis cantik yang langsung menempati pikiran dan hatinya.
❤️Qirani Virginia, gadis 16tahun cantik berwajah sedikit bule tinggal di panti asuhan, kecantikan nya mampu menggaet dua CEO tampan sekaligus.
🧡Syahrizal Bramantyo, 23tahun, seorang Casanova ketampanan, rayuan, kekayaan, menjadi magnet bagi lawan jenisnya.
Seperti apa seeehh kisah mereka? Yuk Baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis amatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen II
Bian melonggarkan pelukannya menatap wajah cantik Qiran yang masih di hiasi air mata ketakutan, kemudian tangannya meraih gagang shower, tentunya setelah ia nyalakan terlebih dahulu, dengan perlahan Bian menyiramkannya pada tubuh Qiran yang masih memakai baju tipis transparan.
Bukanya tergoda, mata Bian justru berkaca-kaca menatap tubuh molek Qiran yang penuh dengan lukisan merah tanda cap dari laki-laki lain. Bukan karena cemburu, tapi karena rasa yang sudah pasti menyiksa Qiran yang membuat Bian juga ikut merasakan sesak di dalam dadanya.
Qiran masih terisak, sedang Bian sudah mengisi air dan sabun ke dalam bathtub, hingga kini tubuh molek Qiran sudah tenggelam di balik busa sabun.
Melihat Qiran yang masih diam tak melakukan apapun, Bian melepaskan jas miliknya dan menyingsing lengan bajunya, lalu melepas satu persatu set baju tipis yang masih melekat di tubuh wanita belia itu, wanita yang kini pasrah "Rusak, aku sudah rusak!" Umpat dalam batin Qiran.
Naf su? Tidak! Bian justru ingin cepat cepat selesai dengan kegiatan itu, lalu segera membawa Qiran pergi dari villa terkutuk ini.
Setelah dengan sabarnya Bian menemani Qiran membersihkan diri, dan membantu Qiran mengganti pakaian, kini Qiran sudah pria itu gandeng keluar dari kamar dan Arga masih setia berdiri tegak di muka pintu.
"Kita segera pergi dari sini!" Ucap Bian di sela sela langkahnya yang kini sudah menuruni anak tangga.
"Em em." Respon Arga sambil mengangguk mengikuti langkah sang Tuan dari belakang.
Kemudian keduanya membawa Qiran memasuki mobil milik Bian yang masih terparkir di depan pintu gerbang. Sekarang suasana villa itu sepi, sebab seluruh orang yang di lumpuhkan Arga sudah di larikan ke rumah sakit oleh Claudia dan Lila, setidaknya dengan begitu maka takkan ada drama lagi. Lila tidak mau kakaknya di tangkap polisi karena membombardir kediaman calon suaminya.
Sepanjang perjalanan menuju ibukota, Qiran terus melamun menatap ke arah jendela, bergeming, tak bergerak sedikitpun, sedang Bian masih terus menggenggam erat tangan wanita belia itu, Qirani Virginia takkan pernah ia lepaskan lagi apapun alasannya.
"Jadi kita harus kemana Bos?" Saat sudah memasuki perbatasan ibukota Arga bertanya.
"Kita ke apartemen saja." Jawab Bian dan Arga mengangguk, mengerti, kemudian mengarahkan mobilnya menuju jalan ke apartemen milik Bian.
Qiran masih diam, trauma sudah pasti, bahkan saat ini di otaknya terbesit pikiran untuk mengakhiri hidupnya saja, rusak sudah benar benar rusak, sudah menjadi barang bekas, apa lagi kata kata Rizal di villa benar benar memasuki pikirannya, Rizal benar, Bian seharusnya menyerah saja, karena Qiran sudah tidak suci lagi, apa yang di harapkan dari wanita yang sudah tak sesuci namanya?
...----------------...
Satu jam pun berselang, kini mobil putih itu sudah berada di halaman parkir apartemen milik Bian. Laki-laki itu segera turun dan berjalan memutar menuju pintu Qiran.
"Turun lah." Ajaknya seraya mengasongkan tangannya menawarkan gandengan.
Qiran menurut, setelah itu Arga, Bian, Qiran berjalan memasuki lobby, dan berlanjut menaiki lift, menuju unit apartemen lantai atas, sejauh ini Qiran masih hanya diam saja namun terus bergulat dengan pikirannya sendiri.
Tiba di dalam, Bian menarik Qiran menuju balkon, tujuannya agar bisa dengan bebas menghirup udara alam sekitar, mungkin dengan begitu wanita itu bisa lebih mudah menenangkan pikiran.
"Duduk lah di sini." Titahnya seraya mendudukkan tubuh Qiran dengan perlahan pada sofa balkon.
Qiran menatap dalam kedua mata pria itu, pria yang saat ini menekuk lutut untuk bisa sejajar dengan wajahnya, ada kata yang sulit sekali untuk di utarakan, bahkan sampai detik ini, Qiran masih belum mengucapkan sepatah katapun.
Bian mengelus lembut rambut di telinga Qiran dengan tatapan iba nya "Mulai sekarang, Baby tinggal di sini, hanya di sini saja, tempat yang tidak akan di jangkau oleh Rizal dan orang orang nya." Ucapnya.
"Di liang kubur!" Sahut Qiran yang tiba-tiba saja bersuara membuat Bian berkerut kening.
"Di liang kubur, tempat paling aman untuk ku saat ini Om." Tambahnya seraya berdiri dan melangkahkan kakinya ingin menaiki pagar pembatas balkon, pikirannya sudah kalut, ingin segera mengakhiri hidupnya.
"Qiran!" Secepat kilat Bian menarik tangan wanita itu hingga terpelanting ke dada bidangnya "Apa kau sudah gila hah?" Ketusnya saat sudah bisa menatap wajah wanita mungil itu.
"Biarkan aku mati, biarkan aku mati saja!" Qiran berusaha meraih pembatas balkon mencoba menaikinya lagi, meronta.
"Qiran! Jangan seperti ini, mengertilah, mati bukan solusi, di neraka kau justru akan bertemu dengan bajingan itu lagi! Karena jika sampai kau mati, aku akan membunuh bajingan itu, biar saja aku di penjara setelah itu."
Qiran memberhentikan rontaan nya saat mendengar kalimat terakhir Bian Anggara "Hiks hiks..." Isak nya dengan mata yang terpejam.
"Kenapa Om harus menghalangi ku? Kenapa Om tidak membiarkan ku mati? Kenapa Om harus ikut campur urusan ku? Kenapa Om tidak mencari saja wanita lain? Yang jelas jelas masih suci?" Sahut Qiran berteriak air mata kembali mengalir dengan derasnya.
Bian terus mencekal kedua lengan wanita itu lengkap dengan wajah sendunya "Aku hanya akan menikahi mu, malam ini juga kita menikah! Dan tidak akan ada lagi yang bisa merebut mu dariku! Kau tahu Baby, aku menginginkan mu lebih dari bajingan itu, hidup lah bersama ku, bahagia lah bersama ku." Ungkapnya mendominasi, begitulah Hilman menurunkan sifat dominasi nya pada putra sulungnya.
"Aku sudah tidak punya masa depan Om, aku sudah hancur, lebih baik aku mati saja, tolong biarkan aku mati! Aku masih enam belas tahun, tapi sudah pernah hamil, sekarang aku sudah lebih hancur dari sebelumnya." Nada Qiran berangsur lirih saat mengatakan itu.
Bian menarik Qiran menuju kamar yang beberapa bulan lalu Qiran tempati, sedang Arga hanya menjadi penonton saja, tak berani mengucapkan sepatah katapun, meskipun entah kenapa ada rasa sesak menyeruak di dalam dada asisten berdarah dingin itu saat melihat kehancuran Qirani Virginia.
Di dalam kamar Bian memaksa tubuh Qiran duduk di sisi ranjang "Sekarang istirahat di sini, tenang kan pikiran mu, jangan membuat Om marah, menurut lah." Pekiknya.
Qiran terdiam, meskipun di otaknya masih terus ingin mengakhiri hidupnya, tapi mungkin untuk saat ini, hanya menurut saja yang bisa wanita itu lakukan.
Perlahan Bian merebahkan tubuh kecil Qirani di atas ranjang itu "Istirahat di sini, jangan macam-macam karena Om punya CCTV di sekitar sini. Mengerti!" Ucapnya yang tak mendapat respon.
Setelah itu Bian lantas melangkah keluar dari kamar meninggalkan Qiran tanpa menutup pintu. Langkahnya menuju Arga yang saat ini duduk di sofa ruang tamu "Sekarang, suruh anak buah mu menjemput ibu atau bapak asuh Qiran di panti, bawa mereka ke sini menemui ku!" Perintahnya.
Arga sempat berkerut kening kebingungan tapi setelah itu langsung melakukan apa yang di perintahkan sang Tuan padanya.
...----------------...
Bersambung.... dengan segenap jiwa raga yang tak seberapa ini, aku memutuskan untuk melanjutkan novel ini.♥️
Kenapa kamu harus kabur.
Semoga Qirani menolak jadi permaisurinya sicasanova itu