NovelToon NovelToon
Cinta Tarik Ulur

Cinta Tarik Ulur

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Patahhati / Fantasi Urban-Percintaan Modern / Tamat
Popularitas:135.6k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

"Maaf, aku mundur."

"Maksudmu?"

"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."


Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.

Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta

~Tak ada yang mustahil bagi Allah. Dunia yang kamu rasa besar pun, justru teramat kecil bagi-NYA.~

🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️

🌧️🌧️🌧️🌧️

🌧️🌧️

Sejak kejadian itu hampir tiap hari Riko selalu bertemu tak sengaja dengan Karina. Jadwal Riko pun diperpanjang. Dari awalnya dua minggu menjadi dua puluh hari.

Ini hari terakhirnya di Bogor. Besok adalah hari bahagia Riki. Lelaki itu terus menerornya dengan berbagai chat. Jika sampai Riko tak pulang. Maka, Riki tidak ingin melihatnya lagi.

Setelah pulang kerja, Riko bergegas membereskan barang. Ia akan pulang sehabis salat Isya. Meregangkan lebih dahulu otot-ototo badannya yang kaku.

Barang telah masuk koper. Riko membanting tubuh ke kasur. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana, mengetuk-etuk layar benda canggih itu. Tak ada pesan ataupun panggilan lagi dari Lily sejak ia pingsan dahulu. Riko sudah berusaha menghubungi perempuan itu. Namun, tak diangkat. Beberapa kali mengirim pesan, tetapi tak ada balasan. Lantas, angin apa yang menggerakkan jari jemari Lily untuk menghubunginya hari itu? Mungkinkah.

Suara azan Isya berkumandang di surau yang tak jauh dari Villa. Riko segera berdiri, berlarian menuju surau agar tak tertinggal salat berjamaah. Ia masih mengenakan pakaian kerja, karena tidak sempat menggantinya. Tak apa, yang penting pakaiannya bersih dari najis.

Sesampainya di surau. Memang tidak banyak orang. Akan tetapi, ketenangan yang diberikan rumah Allah memang tak ada tandingannya. Salat dan dzikir mungkin tak sampai satu jam. Namun, hati yang damai, jelas akan kita dapatkan.

Ada empat orang jemaah. Tiga menjadi makmum dan satu berperan menjadi imam. Mereka memulai salat, dan melaksanakannya dengan khusu. Udara dingin Bogor mulai menusuk tulang. Akan tetapi, kemeriahan di berbagai sudut kota ini tak bisa terhalang begitu saja. Semua orang seolah tumpah ruah ke jalanan. Berkerumun per kelompok, adapula yang individual untuk memenuhi berbagai tempat seperti cafe, pedagang kaki lima, tempat hiburan, dan lainnya.

Salat selesai. Riko dzikir sebentar sebelum akhirnya pulang. Surau ini tak jauh dari villa, kira-kira hanya berjarak sepuluh meter. Riko berjalan di bawah langit malam yang tampaknya tengah bersedih. Awan hitam menggantung dengan jelas.

Suara motor terdengar mendekat diikuti suara seorang perempuan yang tak asing di telinganya.

"Baru pulang?" tegurnya dengan lantang sembari menghentikan kendaraan beroda tiga itu.

Riko berhenti. Kepalanya terangkat ke atas.

"Gue mau pamit pulang ke Ibu kota juga," ujarnya kembali dengan senyuman manis yang baru kali ini Riko dapatkan darinya.

"Kamu pulang juga?" Riko bertanya balik.

Perempuan yang tak lain adalah Karina itu mengangguk cepat. "Bokap gue ngajak kondangan."

Riko diam. Manik-maniknya menatap dalam pada Karina. "Hati-hati di jalan. Jangan kebut-kebutan, dan selalu jaga diri. Ingat! Kamu tetaplah perempuan. Sekuat apa pun, pasti ada kelemahan!"

"Iya, Pak Manager. Panas kuping gue dengernya." Karina mengkorek kupingnya dengan tangan kanan. "Oh, ya, makasih buat usaha lo yang berhasil memberantas si korupsi di cabang ini. Mungkin kita bakal enggak ketemu lagi, gue juga males ketemu lo. Tapi ... makasih, ya. Jaga kesehatan, jangan paksain diri lo buat kerja. Lo bukan robot! Udahlah, gue pamit, Brother."

Karina menyalakan kembali motornya yang bersuara bising. Ia pergi begitu saja seolah inilah perpisahan paling pahit dalam hidupnya. Tak ada tetesan air mata. Perempuan itu memang paling handal dalam urusan luka. Ia akan tetap tegar dalam keadaan apa pun, karena mentalnya sudah terbentuk demikian sejak kecil.

Sementara Riko kembali melanjutkan perjalanannya menuju villa. Ia tak sabar untuk pulang. Jiwanya menjerit ingin sekali melihat wajah ayu milik Lily. Cukup melihat saja, tanpa berani menyentuh.

☁️☁️☁️☁️☁️☁️☁️

Hari bahagia untuk Riki dan Amalia telah tiba. Dua sejoli itu telah sah menjadi sepasang suami istri. Ijab Qabul yang dilaksanakan di salah satu masjid dekat rumah Amalia, kemudian dilanjutkan dengan pesta pernikahan di gedung yang telah disewa jauh-jauh hari pada malam harinya.

Semua keluarga ikut berbahagia. Riko bahkan menghadiahi pengantin baru itu sebuah mobil berwarna merah, sedangkan Adnan mempersiapkan sebuah apartemen untuk pasangan gila ini.

"Nikah bawa berkah, ya, Cimutku," ujar Riki pada Amalia.

"Iya, Aa Rikiku ganteng," jawab Amalia.

Adnan, Alina, dan Riko saling menghela napas. Mereka sudah tak asing lagi dengan tingkah pola pasangan ini.

"Abis ini kita lansung tidur di apartemen dari Adnan, ya, Cimutku," ajak Riki pada istrinya.

Amalia mengangguk cepat dengan wajah merona. Ini semakin membuat jengah hati Riko.

"Hei, Maemunah! Lo ngomong enak bet!" tegur Riko kepanasan.

"Emang kenapa? Iri? bilang, Bambang!" Riki tak kalah tinggi suaranya.

"Bukan iri, tapi sebaiknya kita memang harus menjaga keuwuan dari para jomblo akut kayak kembaran lo, Ki." Adnan ikut menanggapi. Tentu dengan kata-kata pedasnya.

"Yaelah, Nan. Gue kira lo ada di tim gue. Ternyata ...." Riko tak meneruskan ucapannya.

"Ternyata aku salah. Salah sangka kepadamu." Riki bernyanyi tanpa rasa malu.

Riko menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia memang salah berada di antara pasangan yang selalu memojokkannya. Memang sebaiknya ia harus angkat kaki dari siatuasi yang tak menyenangkan ini.

Riko turun dari pelaminan. Riki yang melihat itu pun bertanya. "Lo mau ke mana?"

"Ngadem bentar. Di sini hawanya panas. Gue enggak kuat!" jawab Riko.

"Yeh, si Bambang! Dingin AC gini dibilang panas."

Riko tak menggubris, ia berjalan melewati tamu undangan. Beberapa langkah lagi menuju pintu keluar, ada yang membuat langkahnya terhenti. Sosok cantik yang mengenakan dress panjang warna putih selutut dengan lengan pendek. Rambut tergerai bebas. Tangan indahnya membawa sebuah dompet kecil. Sosok itu tengah tertawa lepas bersama kawannya. Riki terpana. Akhirnya yang dinantikan pun datang. Di mana jiwanya bergejolak dan terasa melayang ketika menatap sosok yang dirindukannya.

Ketika kakinya hendak berbelok arah untuk menghampiri sosok itu yang tak lain adalah Lily. Suara Karina dari arah pintu begitu jelas di telinganya, hingga membuat Riko membalikkan badan.

"Mata gue enggak salah. Lo manager itu." Karina bersuara sedikit tinggi. Sampai-sampai Lily dan beberapa temannya mendengar dan memperhatikan Riko dan Karina.

Lily terdiam di tempat. Ia menyaksikan bagaimana Karina berjalan mendekati Riko yang berdiri di tempatnya.

"Kamu!" Riko tak percaya dengan apa yang ia lihat. Dunia rupanya memang sempit. Kita bisa bertemu dengan orang-orang yang sama di tempat berbeda sekali pun sudah terpisah lama.

"Kamu ke sini juga?" tanya Riko ketika Karina telah berada di hadapannya.

Karina mengangguk. "Iya. Kan, gue pernah ngomong kalau Bokap ngajak kondangan. Lo diundang juga?"

Riko diam sejenak, lalu berujar kembali, "Ini pernikahan kembaranku."

Seketika dua bola mata milik Karina seolah keluar. Ia tidak menyangka, jika Riko adalah salah satu tuan tamu.

"Wah, gue bisa makan banyak dong di sini," goda Karina.

"Silakan," ujar Riko.

Sementara itu Lily masih saja diam dengan mata yang seolah tak mau teralihkan dari pandangan di depannya. Dadanya mulai sesak, ia menahan sekuat tenaga. Ia yang menjauh, tetapi justru ia sendiri yang tersiksa.

"Lily, kamu di sini rupanya." Tiba-tiba Irawan datang menghampiri dari belakang. Lily menang datang bersamanya, karena Irawan pun datang sebagai tamu undangan. "Ayo, kita naik ke pelaminan."

Lily menyadarkan diri. Ia mengukir senyum, lalu berbalik menghadap Irawan. "Iya." Langkahnya mengikuti jejak kaki Irawan.

Tepat di belakang, Riko tak sengaja melihat interkasi Irawan dan Lily. Ia mengamati dengan sorotan mata yang tajam, hingga membuat Karina yang berada di sampingnya berani menyimpulkan sesuatu.

"Kalau lo suka, deketin," ujarnya enteng. "Kalau modal diem aja, gimana mau dapat!"

🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

1
@Tie
lucu bgt se pake acr pingsan sgala 😄
@Tie
mksdnya apa tan?wali siapa?lily kn yatim piatu
@Tie
Luar biasa
@Tie
lily was a little girl n a very stupid
nikah kq dibuat mainan
@Tie
keren riko...manly bgt
Tini Laesabtini
maaf br ketemu 4 jempol untkmu
Ian Neng
aplikasi ungu tuh apa kaka
NOVIA
gimana dgn Riki😢😢😢
Lila Anggraini
kudunya lily jujur aja, toh dia jg sdh menerima pinangan riko, wanita yg sdh menerima pinangan seorang laki2 tidak boleh menerima pinangan dr orang lain..
begitu sih etikanya
Lila Anggraini
misteri penyebab lily kabur dr riko...
Piet Mayong
kok aku g suka karakter riko ya...
@ £I£I$ Mυɳҽҽყ☪️
nyimak si kembar
Astrie Cy
hadirrr thorrr
fanthaliyya
THE END .....TAMAT
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗
angel
thoor aku baca ini dlm keadaan aku masih di infus..karna aku sangat rindu ma Riko dan Lili. dan pada akhir nya aku kecewa kenapa harus tamat sekarang😭😭😭😭
angel: lanjutin lagi😥😥😥
total 4 replies
bening
aplikasi ungu tuh apa ya thor
Ciety Ameyzha: Kuda poni, Kak
total 1 replies
imoet
sukses selalu thor...
Ciety Ameyzha: Terima kasih, Kak.
total 1 replies
Hearty 💕
Terima kasih sudah berbagi selama ini. Semiga sukses terus jadi penulis
Ciety Ameyzha: Aamiin. terima kasih sudah bersamaku selama ini, Kak.,😳
total 1 replies
Nita Bunda Gifana
Loh kok dah tamat aja thor,masih pengen lanjut ne.
Lya
tiba tiba tamat aja kak,lagi seru seru nya padahal😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!