Kisah seorang gadis yang demi menyelamatkan orang lain harus rela kehilangan ingatannya termasuk identitas dirinya namun justru membuatnya mendapatkan identitas baru yang kemudian merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipik sukirno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 34
Putri yang terbangun dikamar Lin Fengyin merasa begitu asing dengan suasana didalam kamar itu. Tidak banyak perabotan disana, hanya ranjang, lemari buku, sofa panjang beserta mejanya, dan beberapa perabotan yang memang umum berada didalam sebuah kamar. Tidak banyak hiasan didinding, hanya ada satu lukisan gunung yang berukuran besar lalu satu lukisan potret yang bergambar pasangan suami istri yang tampak serasi. Mungkin itu adalah lukisan potret kedua orang tua Lin Fengyin. Meski terkesan kosong, namun kamar itu terlihat lebih elegan dari kamar yang ia tempati.
Putri pun keluar dari kamar itu untuk mencari Nyonya Wang dan menanyakan mengapa ia berada dikamar itu.
"Wah, Nona kita sudah bangun!" Seru Dani yang sedang asyik menonton drama ditelevisi.
"Diam kau!" Jawab Putri dingin.
"Cih!" Dengus Dani kesal.
Putri menghampiri Dani lalu duduk disebelahnya.
"Badanku sakit semua." Keluh Putri sambil memijit-mijit pundaknya.
"Benarkah? Sangat bisa dipercaya." Sahut Dani sarkastik.
"Hei! Apa maksud omonganmu itu?" Tanya Putri kesal sambik menjitak kepala Dani.
"Aissh.. Seharusnya kau ini bangun dalam keadaan yang sangat nyaman dan segar. Karena kau sudah tidur diatas ranjang "Boss Besar"." Jawab Dani yang menekankan pada kata Boss besar.
"Jadi maksudmu, itu kamar Tuan Rumah?" Tanya Putri tidak percaya.
"Untuk apa saya berbohong, hah?! Boss mengangkat sendiri tubuhmu itu lalu membawanya kedalam kamarnya. Mungkin badanmu sakit karena semalam kalian ..." Kata Dani sengaja memotong kata-katanya.
"Kami apa, hah?! Bicara yang benar!" Bentak Putri semakin kesal dan lagi-lagi melayangkan jitakan kekepala Dani.
"Lama-lama berada didekatmu saya bisa gegar otak karena terus-terusan kau pukul." Kata Dani yang pergi menjauh.
Putripun mengejarnya untuk mendapatkan penjelasan atas apa yang baru saja dikatakanya itu.
"Kemari kau! Selesaikan kata-katamu itu. Awas kau ya!" Teriak Putri berlari mengejar Dani yang masuk kedalam Dapur.
Didalam dapur Putri mendapati Dani tengah bersimpuh sambil memegangi kepalanya. Sementara dihadapannya berdiri Nyonya Wang yang berkacak pinggang sambil memegang spatula yang terbuat dari kayu.
"Apa kau tau salahmu sekarang?" Bentak Ny. Wang.
"Iya, saya tau." Jawab Dani lirih.
"Nona baru saja saja bangun dari demamnya. Bisa saja dia kembali demam jika dia kelelahan. Kau mau membuat Nona jatuh sakit lagi lalu membuat Tuan Muda marah, hah?!" Kata Ny. Wang lagi.
"Tidak, tidak. Sungguh saya tidak berniat begitu Nyonya." Jawab Dani menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Pfftt!!"
Putri tidak lagi bisa menahan tawanya melihat Dani bersimpuh tak berdaya dihadapan Nyonya Wang yang sangat lembut itu. Seketika Dani dan Nyonya Wang menoleh kearah Putri.
"Apa kau?!" Bentak Dani. "Senang ya melihat orang susah, hah?!" Kata Dani marah.
"Tok!"
Lagi-lagi Ny. Wang memukul sisi kepala Dani yang lainnya yang membuat Dani kembali bersimpuh sambil memegangi sisi kepalanya yang lain.
"Sudah berani melawan Nona Muda kau sekarang, hah?! Cepat minta maaf!" Bentak beliau memerintah.
"Tapi saya hanya bercanda, Nyonya.." Jawab Dani memelas.
"Oh, sudah berani mempermainkan Nona sekarang ya?!" Bentak Ny. Wang lagi.
"Pfffttt. Hahahahahaa haha haaahahahaa.."
Tawa Putri akhirnya lepas tak terkendali, bahkan dia sampai terduduk dan memegangi perutnya yang sakit. Tapi kemudian dia menggelosor dilantai saking tak mampu lagi menghentikan tawa.
"Aduh, punggungku sakit. Hahahaaa sial, sakit banget. Gokil, gokil.. Lucu banget mukanya. Hahahaaa aduh, punggungku." Kata Putri disela-sela tawanya.
Dani hanya melirik sinis kearah Putri yang masih berguling dilantai sambil memonyongkan bibirnya.
"Nona Muda, ayo bangun, lantainya kotor." Pinta Nyonya Wang sambil membantu Putri untuk berdiri.
Putri pun segera berdiri dan menuruti Nyonya Wang yangbmenuntunnua untu duduk dikursi. Putri masih terus tertawa, bahkan jika hanya melihat Dani sekilas setelah dia menghentikan tawanya, dia akan kembali tertawa terpingkal-pingkal. Namun disisi lain, justru Dani tersenyum senang melihat Putri yang tertawa lepas setelah seminggu ini hanya cemberut dan diam dalam kekesalannya.
"Hei.." Panggil Dani pelan.
"Ja.. Jangan mendekatiku. Sakit sekali perutku ini." Kata Putri sambil menggeser duduknya.
"Sudahlah, Nona. Belum kah kau merasa puas setelah menertawiku selama itu?" Kata Dani kesal.
"Iya, iya. Baiklah, ada apa? Cepat katakan." Jawab Putri sambil berusaha untuk tidak tertawa.
"Beberapa hari ini saya tidak bisa menemanimu. Saya harus pergi keseuatu tempat." Kata Dani mulai menjelaskan.
"Kemana?"
"Tempatnya jauh diluar kota. Saya sendiri belum pasti, karena alamat yang saya terima juga belum tepat."
"Lalu, tetap akan pergi?"
"Iya, harus. Ini adalah tugas lain dari Boss. Saya harus membantunya menemukan seseorang."
"Kenapa harus dicari?"
"Yah, karena Boss harus bertemu dengan orang itu. Ada sedikit kesalah fahaman dimasa lalu, jadi Boss ingin memastikan hal itu." Jelas Dani.
"Baiklah, berapa hari?"
"Hanya sekitar tiga hari."
"Ya pergilah, lebih cepat dan lebih jauh, maka itu akan lebih baik untukmu." Jawab Putri tanpa berekspresi.
"Sangat menyesal berbicara denganmu, Nona." Omel Dani.
"Maka diamlah." Jawab Putri telak.
Malam yang panjang dimulai lagi, namun kali ini Putri sudah menyerah dengan niatnya untuk bertemu dengan Tuan Pemilik Rumah.
"Sangat percuma menunggu orang yang bahkan tidak ingin menemuimu sama sekali." Gumamnya sambil memainkan daun-daunan dibangku taman. "Lebih baik aku masuk, dari pada aku sakit lagi." Katanya lagi.
Putripun masuk kedalam dan memilih menyalakan televisi diruang keluarga. Meski tidak tau bahasanya, namun gambar bergerak itu cukup memberikannya hiburan.
"Ngomong-ngomong, kalau memang dia tidak peduli sama aku, terus kenapa kemarin dia mau menggendongku dan membawaku kedalam kamarnya? Bahkan mengompres juga." Gumambua sambil memegangi Dahinya.
Putri semakin bosan karena tidak tau apa yang dibicarakan didalam kotak besar bersuara itu. Semua nomor dia tekan sampai akhirnya dia menemukan salah satu chanel yang menayangkan semacam acara dance, dan game tentunya sangat menghibur. Alasan sebenarnya adalah karena pengisi acaranya pria-pria cantik yang menawan.
"Uwaaah.. Mengapa mereka sangat cantik? Bahkan lebih cantik dari aku. Nyebelin banget. Itu hostnya siapa sih? Ganteng banget. Hmmmm a perfect boy." Kata Putri yang terus saja mengoceh-mengoceh sendiri mengagumi artis yang mengisi acara tersebut.
Lama kelamaan, matanya mulai lelah, iapun tertidur dalam keadaan masih duduk disofa. Seperti biasanya, Lin akan mengangkat tubuhnya dan membawanha kekamar Putri dilantai dua.
"Gadis bodoh. Selalu saja tertidur dimanapun kau duduk. Kembalilah kekamarmu saat kau sudah merasa lelah lelah dan mengantuk." Ucap Lin sambil mengusap lembut kepala Putri.
Setelah mengatakan itu, Lin berdiri dan bersiap pergi meninggalkan Putri.
Putri yang saat itu sebenarnya belum cukup lelap dalam tidurnya, sudah terbangun saat Lin hendak merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Namun ia sengaja tetap berpura-pura tertidur. Karena ingin melihat apa yang akan dilakukan Lin setelah mengantarkannya kekamar.
"Jika aku tidak tertidur disana, maka anda tidak akan menggendongku dan membelai rambutku seperti tadi." Kata Putri menjawab perkataan Lin sebelumnya.
Lin yang baru saja akan beranjak pergi terkejut tentu saja mengetahui bahwa Putri menyadari apa yang baru saja dilakukannya.
"Kau.. Sejak kapan kau bangun?"
"Saat anda hendak merebahkan tubuhku." Jawab Putri yang kini sudah duduk disisi ranjang.
Lin sama sekali tidak berani membalikan tubuhnya atau sekedar menolehkan wajahnya untuk melihat orang yang sedang mengajaknya bicara itu.
"Tuan Pemilik Rumah, boleh saya bertanya kepada anda?" Tanya Putri hati-hati.
"Sudah larut, sebaiknya Nona segera beristirahat. Dokter menyarankan agar anda beristirhat dengan cukup." Jawab Lin mengalihkan pembicaraan.
"Tuan, mengapa anda sangat berusaha menghindariku?" Tanya Putri lagi.
"Jika tidak ada yang lain lagk, saya akan kembali kekamar saya." Kata Lin yang kemudia keluar dan segera meninggalkan kamar Putri. Putri mencoba mengejarnya dan bahkan berusaha meraih tangan Lin, namun meski sempat menyentuhnya, namun tangan Putri belum cukup erat saat menggenggamnya, sehingga terlepas dan Lin berlalu dengan cepatnya.
"Dasar cowok resek!" Umpat Putri didalam selimut sambil menendang-nendang Selimut itu dengan kesalnya. "Eh, resek artinya apaan si?" Gumamnya kemudian. "Ah bodo'. Yang jelas dia nyebelin banget! Dasar orang kaya belagu!" Teriaknya sambil terus-teusan mengumpat atas nama 'sang pemilik rumah'.
Sementara itu didalam kamar mandi, Lin berdiri dibawah kucuran air dari shower yang menbasahi seluruh tubuhnya. Kecuali tangan kanannya yang dengan sengaja dia jauhkan dari air sehingga tidak tidak basah sama sekali. Meski sangat kesusahan, dia berusaha dengan sangat keras untuk menyelesaikan mandinya dengan hanya menggunakan satu tangannkirinya. Memakai sabun, sampo, dan saat menggosok gigipun dia lakukan menggunakan tangan kirinya.
Anehnya lagi, saat melakukan semua itu, Matanya tetap tertuju pada satu tempat, yaitu telapak tangan kanannya. Dan terlihat dengan jelas keanehannya saat dia tersenyum sendiri hanya dengan melihat telapak tangannya itu. Padahal, Lin Fengyin bukanlah tipe orang yang mudah tertawa meski sedang menonton acara komedi.
Masih penasaran? See you next episode🤗🤗 jangan lupa, 👍, 🗨️, dan tentunya ❤️ juga ya..