Haloo... ini novel pertamaku..
yg di judul sebelumnya aku tamatin karna ada kesalahan. So, aku pindah ke judul ini aja..
Enjoy reading...
- - - -
Bagaimana rasanya kalau calon suami tercinta tertangkap basah sedang berkhianat??
belum sembuh luka hati, tiba-tiba...
"menikahlah dengan mas Bara, dek!"
Kata-kata itu yang sekarang membuat Nadia dilema. Menikah dengan kakak ipar sendiri??? Are you serious!??
Pengkhianatan, Kekecewaan, lalu pernikahan dadakan...
Sanggupkah Nadia melalui semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
BAB 35
Setelah puas bermain bersama, Nadia hendak menggendong Lea dan mengajaknya beristirahat di kamarnya.
“Mbak, sini biar aku aja yang nidurin Lea di kamarnya.” Ucap Nadia
“Lea biar sama mbak Lika. Ada yang mau aku bahas sama kamu” celetuk Bara mencegah Nadia yang hendak beranjak
“biar Lea sama saya saja, Nya. Kebetulan tadi juga ada barang saya yang ketinggalan di kamar nona Lea, jadi biar sekalian saya mau ambil” Mbak Lika paham dengan situasi Tuan dan Nyonya nya. Dia tahu bahwa Tuan dan Nyonya nya sedang tidak baik-baik saja. Entah apa penyebabnya, dia hanya berharap kalau mereka akan kembali baik-baik saja seperti sebelumnya.
Setelah itu Mbak Lika berlalu ke kamar Lea untuk menidurkan bayi tersebut di kamarnya. Lea diajarkan untuk tidur di kamarnya sendiri yang letaknya tidak jauh dari kamar Bara dan Nadia. Hanya berjarak beberapa langkah saja. Dan di kamar itu sudah terpasang alat semacam walkie talkie disana dan satu lagi ada di kamar Nadia dan Bara, kedua alat itu saling terhubung. Dan di kamar itu juga dipasang kamera CCTV agar bisa tetap memantau putri kecil itu. Terutama kalau tiba-tiba saja Lea terbangun di tengah malam dan merengek karna popoknya penuh, Bara ataupun Nadia bisa mendengarnya karena ada sambungan walkie talkie yang langsung terhubung ke kamar mereka.
Mereka memang membiasakan anak mereka untuk tidur sendiri agar mulai bisa belajar mandiri dan saat besar ia bisa berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus selalu menunggu dibantu orang lain.
Akhirnya Nadia pergi menuju kamarnya, dia segera masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk tidur. Sedangkan Bara masih belum terlihat memasuki kamar karena tadi tiba-tiba mendapat telpon dari asistennya.
Ceklek- suara pintu kamar terbuka. Nadia memilih pura-pura tidur dan tidak menghiraukan suaminya
“Kamu sudah tidur?” tanya Bara sambil berdiri menghadap ke arah sisi ranjang tempat istrinya tidur.
“….” Tidak ada jawaban dari Nadia, hanya terdengar suara hembusan nafas yang beraturan
“Nadia… kakak tau kamu belum tidur. Kakak juga tahu kamu sengaja menghindar dari kakak, tapi kakak tidak tahu apa yang membuat kamu menghindar dari kakak seperti ini. Kakak minta maaf kalau memang kakak ada salah sama kamu.” Ucap Bara yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri
“Nadia….” Panggil Bara sekali lagi karena masih tidak mendapat respon dari istrinya
“hhhh….” Nadia menghela nafas pelan dan kemudian bangun dari tidur pura-puranya.
“kakak tidak salah, aku yang bersalah disini (karena tanpa terasa aku terbawa suasana)-tambah Nadia dalam batin-”
“Maaf, mungkin karena aku sedang lelah jadi sedikit sensitif dengan semua ini.” Nadia mengatakan semua itu dengan menatap datar pada Bara.
“apa kamu sakit? Jangan terlalu lelah karena pekerjaanmu. Ambillah libur dan istirahat kalau memang kau merasa lelah.” Bara tiba-tiba mendekat dengan menampilkan ekspresi yang khawatir dan itu membuat Nadia menjadi sedikit goyah lagi karena perhatian Bara. perhatian kecil memang tapi entah kenapa efeknya sangat luar biasa bagi Nadia
“tidak tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya membutuhkan istirahat sekarang. Apa ada lagi yang ingin kakak bicarakan?” Nadia menepis pelan tangan Bara yang tadinya menyentuh keningnya untuk mengecek suhu tubuhnya.
“t-tidak. Tidak ada..” Bara mendadak menjadi linglung sesaat. Dia bingung mau berkata apa lagi
“baiklah, kalau begitu aku mau tidur duluan. Selamat malam kak” pamit Nadia kemudian kembali merebahkan tubuhnya membelakangi Bara dan menyelimuti tubuhnya sampai sebatas leher
Akhirnya Bara melangkah ke sisi Kasur tempat dia tidur dan merebahkan tubuhnya disana. Merasa ada pergerakan dari sisi ranjang depannya yang menandakan bahwa suaminya sudah naik, Nadia membalikkan tubuhnya dan lagi-lagi tidur dengan membelakangi Bara. Sebenarnya Bara masih belum puas dengan jawaban istrinya, ia yakin ada sesuatu yang membuat istrinya berubah dan seperti menghindarinya. Tapi dia tidak mungkin memaksa istrinya untuk bercerita.
---
Beberapa hari telah berlalu, dan hubungan Nadia serta Bara semakin merenggang dan terasa semakin jauh. Bagai dua orang asing yang berada dalam satu rumah, walaupun hidup bersama tapi sangat amat jarang untuk saling bertegur sapa. kehangatan dan canda tawa dari sepasang orang dewasa itu tidak lagi terdengar, bahkan tidak jarang Nadia memilih tidur di kamar putrinya Lea untuk menghindari bertemu dalam satu ruang hanya berdua dengan Bara.
Kesuraman itu terbawa sampai ke tempat kerja mereka masing-masing. Bara yang dibuat bingung oleh tingkah Nadia menjadi sensitif saat berada di kantor. Kesalahan kecil saja bisa menjadi sasaran amarahnya. Seperti saat ini di kantor, suasana mendadak hening ketika Bara mulai memasuki ruang rapat. Aura yang dipancarkan Bara begitu dingin dan mencekam, benar-benar menandakan kalau bos merek sedang dalam mode kurang baik dan tidak tepat untuk diganggu.
Brak - “apa-apaan ini…!!” ucap Bara
“kenapa bisa pengeluaran bulan ini lebih besar dari bulan kemarin dan pendapatan kita malah menjadi menurun? Kalian bisa bekerja tidak hah?” semua orang di ruang rapat hanya bisa menundukkan kepala.
“dan ini lagi, kenapa bisa sampai ada kesalahan pada pengiriman jenis produk yang kita pesan? Kalau seperti ini perusahaan bisa rugi karena keterlambatan produksi!!”
“saya tidak mau tau, semua ini harus bisa selesai dalam waktu 1 minggu. Jika tidak, maka kalian tidak perlu lagi untuk datang ke perusahaan ini.” Bara berlalu pergi meninggalkan ruang rapat dan seketika semua orang disana menarik napas panjang seperti baru saja bebas dari jeratan kematian.
*wayoloooo.... babang singa nya mode on lagi nih.... hahahahahaha*
---
Sedangkan Nadia, menjadi kurang fokus karena masih memikirkan bagaimana nanti hidup kedepannya. Sampai kapan dia akan hidup bersama orang yang masih dikelilingi bayangan masa lalunya, dan lebih parahnya lagi masa lalu itu adalah kakak kandungnya sendiri. Karena memikirkan hal itu Nadia menjadi tidak fokus dalam membuat rancangan desain terbarunya. Dan dia juga lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun.
Tok..tok..tok.. – suara pintu ruangan Nadia diketuk
“masuk” sahut Nadia
“Mbak, nanti siang kita ada meeting sekaligus makan siang dengan Nyonya Rahma yang tempo lalu memesan baju untuk acara anniversary pernikahannya” ucap Rani
“Oh iya oke, jam berapa pertemuannya?” tanya Nadia
“Jam setengah 1 siang di kafe Jelita”
“Iya oke, terima kasih ya Ran” ucap Nadia
“sama-sama Mbak” kemudian Rani berlalu keluar dari ruangan Nadia untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
---
Terimakasih