Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bonus
Aku sungguh geram kala wanitaku menolak panggilan yang kutujukan padanya. Terlebih lagi ia juga langsung mematikan daya pada ponselnya, aku semakin panik mengetahui hal ini. Adakah suatu kesalahan dariku hingga Della berbuat sedemikian ini? Bukankah pagi tadi ia masih tampak baik-baik saja, tapi mengapa kini Della mengacuhkan aku?
Aku menatap gusar ponsel di genggaman tangan ini, bila mengingat begitu pentingnya benda ini mungkin aku sudah membanting ponsel pintar ini dengan sengaja. Della cukup membuatku kesal senja ini, wanita yang selalu kupikirkan dari dulu itu tak pernah menoleh ke arahku.
Telah kucoba segala cara untuk meyakinkannya, namun Della masih enggan untuk berlari ke hati ini. Harusnya ia merasa kesal hari ini, karena rencanaku memisahkan ia Dengan orang yang ingin Della ajak mengarungi bahtera rumah tangga telah berhasil kulakukan. Benar, aku memang telah merencanakan hal ini. Aku semakin ingin memisahkan dokter gigi muda itu dari Della.
Karena aku tak ingin wanitaku memutuskan untuk hidup dengan pria lain. Apalagi telah kuketahui bahwa pria yang menjadi pilihannya sangat mendewakan kemewahan serta posisi strategis. Hanya dengan iming-iming bekerjasama dalam suatu proyek klinik bersama, dokter gigi itu mampu berpaling dari cintaku. Pintar sekali bukan aku ini?
Segala kerisauan yang mendera di hati ini, kucoba singkirkan dengan duduk santai sambil menikmati indahnya senja di teras rumahku. Rumah dari hasil jerih payah keringat ini rencananya akan segera kutinggali bersama dengannya. Telah ku susun indah masa depan kami nantinya, tentu saja atas restu serta desakan dari orangtuanya serta mamaku.
Sebagai seorang lelaki, aku harus mampu menyusun masa depan yang cerah untuknya. Karena aku adalah tulang punggung bagi Della, tulang rusukku. Tentu saja, aku begitu percaya diri bahwa ia merupakan takdir yang telah Tuhan kirimkan untukku.
Penantian selama lebih dari seratus purnama ini akan segera berakhir. Hati yang telah berlayar hingga ribuan mill ini pula akan segera berlabuh padanya. Ku nikmati secangkir teh buatan bibi di rumah ini guna mengusir keraguan hati, sedangkan tangan kananku sibuk memainkan ponselnya yang sejak tadi kugenggam, ingin ku hubungi calon ibu dan ayahku untuk menanyakan kabar permaisuri hati ini. Ada apa gerangan hingga Della tak Sudi menerima panggilan dariku.
"Della sejak sore tadi belum pulang Nak, mungkin ia bersama temannya!" jawab Tante Aini sebagai ibu angkat Della yang tak lain calon ibu mertuaku.
"Anak nakal itu sungguh mencari gara-gara denganku Tante." pungkasku mengakhiri panggilanku bersama ibu Della, wanitaku.
Kepadamu duhai pemilik tahta di hatiku, telah kutitip rindu pada langit senja yang seteduh matamu. Pandangilah merah, jingganya, hingga rindu yang hangat itu, merasuk hingga ke dalam cakrawala hatimu.
Layaknya gelap dan terang yang bertemu dikala senja, kisah kasih kita yang singkat namun indah dulu takkan pernah ku lupa. Segala kenangan telah tersimpan dalam relung jiwa
Biar kumiliki hingga senja tak lagi ada.
Satu hal yang perlu kau tahu perihal beratnya melupakanmu, aku tak mampu karena ingatan tentangmu serupa sang mentari. Walau ia terbenam hari ini, Ia akan datang lagi dikeesokan harinya.
Hatiku semakin tak menentu kala mendengar kabar dari calon mertuaku itu. Aku panik, dan mengkhawatirkan sang dewi yang tak pulang hingga kini. Kemana kiranya ia pergi dari pelarian ini? Mungkin dengan menunaikan ibadah 4 rakaat malam ini, Tuhan akan memberiku petunjuk.
**
Lagi, aku mengulik kabar dari ponsel yang kumiliki untuk mencari keberadaan Della. Mungin dengan melihat aktivitas pada media sosialnya bisa kudapatkan kabar dari penguasa hati ini.
Dengan aktif jari jemari ini mulai mengawasi setiap gerak-gerik media sosial miliknya. Mulai dari postingan terbaru hingga story miliknya ataupun milik teman dekatnya. Hal hal menggelikan seperti ini bisa kulakukan demi wanita itu, padahal aku bukan tipe stalker seperti yang biasa anak muda katakan untuk orang yang selalu menguntit setiap gerak-gerik pada dunia maya.
Betapa terkejutnya diri ini kala ku lihat Panca, pemuda yang menjadi tetangga Della sedang melakukannya live pada akun media sosialnya. Siaran langsung itu merekam sebuah aktivitas malam dari anak muda itu serta temannya di sebuah tempat hiburan malam di daerah Kuningan.
Dan sialnya wanita yang selalu kupikirkan itu ada dalam siaran yang sedang berlangsung di akun sosial media milik Panca. Kedua mataku membulat sempurna, deru napas ini naik turun terasa sesak bagai dihimpit beban ribuan ton.
Ingin sekali aku tarik paksa ia keluar dari tempat maksiat itu. Aku tak munafik, tempat seperti yang didatangi oleh Della bukan hal yang asing bagiku. Hanya karena ingin hidup lebih sehat lagi, kini aku tak ingin lagi menginjakkan kaki di tempat seperti itu lagi.
**
Exodus night club, menjadi tujuanku malam ini. Ingin sekali aku menghukum wanita itu dan menjadikannya tahanan agar ia tak bisa keluar semaunya saja.
Hiruk pikuk keramaian di tempat ini begitu nyaring hingga mengusik indra pendengaran yang kumiliki. Aku berjalan di antara kerumunan lalu lalang pemuda serta pemudi yang sibuk berjoget ria di lantai dansa. Salah satunya Della, wanita yang mengenakan t-shirt ketat berkerah v itu sedang menikmati sentuhan lagu yang mengalun seru.
Sialnya, ia terjebak dalam sebuah pertukaran dengan seorang lelaki bertubuh kurus serta dipenuhi berbagi tato di tubuhnya. Lelaki itu tampak menarik tangan wanitaku.
"Segera enyah darinya!" Aku menggertak pria itu agar menjauhi wanita pujaanku. Mengapa bodoh sekali Della hingga masuk ke tempat ini.
Cukup sekali seruan dariku mampu mengusir pria asing yang menggoda wanitaku. Aku cukup kesal melihat penampilan serta melakukannya malam ini. Oleh karena itu, Della segera kutarik keluar dengan paksa dari tempat terkutuk ini.
Aku tahu wanita itu menolak perlakuanku untuknya, tapi aku tak peduli. Semua ini kulakukan demi dirinya dan juga demi masa depan kita nantinya. Aku tak ingin Della salah jalan.
Namun, tiba-tiba saja wanitaku menepis genggaman tangan ini. Dan berbalik menuju pintu masuk kelab malam itu lagi. Sungguh aku tak menyangka dengan hati yang dimiliki olehnya. Della yang kukenal tak pernah menjawab setiap perintah dariku, tapi ini? Sungguh tak masuk akal.
Kesal, kuangkat tubuh Della hanya dengan satu sentakkan dari tenaga yang kumiliki. Entah setan apa yang telah merasuki hati ini? Dengan kasar kumasukkan Della ke dalam mobil yang telah kubawa. Kubanting tubuhnya pada kursi penumpang tepat di sebelah kursi pengemudi. Aku telah kehilangan akal sehat karena sikapnya. Dan amarahku tak bisa kutahan lagi. Betapa bodoh sekali wanita yang kucintai ini!
"Apa kamu kehilangan otakmu Dek?" seruku pada wanita yang sejak tadi bergeming menutup rapat mulutnya.
"Apa ada yang salah denganku Dell? Hingga kamu bersikap seperti ini padaku?" Aku cukup serius dengan ucapanku padanya. Cukup serius hingga mampu ia telah berani mempermaikanku hatiku.
"Sudah cukup, jangan lagi pedulikan aku! hubungan kita hanya sebatas pasien dan dokter saja." jawabnya dengan ketus dan tak mempedulikan perasaanku.
"Jadi kamu menganggap semua yang kulakukan untukku hanya sebatas dokter dan pasien saja? Kamu pikir aku sudi melakukan iki semua hanya karena hubungan konyol seperti itu Dell? Untuk apa aku membuang waktuku hanya untuk hal tak penting ini?" Aku semakin kesal, bara amarah di hati ini tak mampu ku padamkan meski hanya sedikit saja.
Lalu aku menghentikan mobil yang saat ini kukendarai dan menatapnya penuh kebencian saat ini. Ia bereaksi cukup cepat dan menoleh ke arahku. Mungkin Della merasa takut padaku, baguslah! karena sejatinya seorang wanita harus menurut pada lelakinya. Perasaan ini cukup membuatku sedikit panik. Karena aku tak pernah melihat dia berlaku seperti ini sebelumnya.
"Tahukah kamu sejak dulu hingga kini perasaanku masih sama padamu? Tak bisakah kau jangkau hati ini Dek? Sudikah kau bukakan harimu untukku?" kataku menyakinkan kerasnya hati yang ia miliki.
"Jangan bicara omong kosong! aku tahu meski kita bukan saudara kandung tapi kamu juga memiliki kehidupan lain serta cinta yang lain. Aku tahu itu!" Sekali lagi ia menepis hubungan ini, telah kulakukan semuanya demi dia. Tapi apa balasannya?
"Cinta lain seperti apa? Tak pernah ada cinta yang lain dari dulu hingga kini Dek! Demi Tuhan."
"Jangan keterlaluan Bang Syad! kau pikir aku buta? Kau tampak mesra dengan wanita lain di Ritz-Carlton sore tadi."
Aku tak ingin menjawab pertanyaan bodoh darinya, sebaliknya aku hanya tertawa. Menertawakan kebodohannya yang menghakimi diriku tanpa bertanya apa yang terjadi sebenarnya. Tapi aku merasa puas akan hal ini, puas karena di balik sikapnya ini ada semburat sinar penuh harapan dari hubungan ini. Ia telah cemburu padaku, berarti itu tandanya masih ada kesempatan untukku bukan?
Dinginnya angin malam seakan menusuk tubuhku hingga ke tulang serta persendianku, aku merasa cukup puas mampu menumpahkan setiap hal yang mengganjal dalam benakku padanya. Penantian panjangku akhirnya akan membuahkan hasil, yakni berlabuhnya cinta ini pada jiwa dan raga yang tepat.
"Kamu salah Dek, sore tadi aku ada konferensi pada hotel tersebut. Dan wanita yang kamu lihat itu adalah salah satu kontingen dari daerah lain!" tuturku menjelaskan perihal sebenarnya apa yang sedang terjadi pada saat itu.
Kupikir dia cukup bodoh hingga menuduhku telah merayu wanita lain. Kamu salah Dek, tak sekalipun aku melewatkan perhatian ini untukmu. Ia tak percaya padaku, hingga dia menuduhku sedemikian karena aku pernah meninggalkannya dulu. Itu memang kesalahan terbesar dalam hidup ini, dan aku ingin menebusnya dengan membagikan dirinya sepanjang hidupku.
hanya ada sosokmu yang bersandar di tiang hati ini. Dirimu lah ang menguasai seluruh semesta fikirku. Selalu setia nyanyikan syair lagu tanpa kuduga. Hingga detik ini sosokmu belum terganti dalam jiwaku.
Selalu namamu yang ku sebut dalam doaku.
Berharap kau kan mendengarkan suara hati ini, dalam pesan yang ku sampaikan lewat sebuah mimpi.
"Yah hingga detik ini, aku tak mampu melupakanmu. Saat bayang-bayang senyummu terus menghantui raga ini siang malam.
Hingga membuatku tak sanggup berpaling ke lain hati." Itulah isi hatiku padanya.
"Aku sudah melakukan setiap hal untuk terus bersamamu Dell, apa kamu masih menganggapku doktermu?"
"Aku tak bisa melakukan apa-apa, bahkan orang yang kupercaya untuk menjagaku di masa depan lebih memilih karirnya." Mungkin ia masih teringat Andrian dokter yang telah kubuang jauh darinya.
"Aku akan memberikan apapun untukmu yang tak bisa Andrian berikan padamu termasuk pernikahan." Dorongan perasaan ini membuatku tak mampu menahan gejolak rasa yang terus meronta.
"Kalau begitu maukah kamu menikah denganku?" Tiba-tiba saja ia memintaku untuk menikahi dirinya, entah karena terpengaruh minuman beralkohol atau tidak. Yang jelas wanita itu telah menggugah serta mengaduk perasaan ini.
"Kamu tak perlu jawaban apapun dariku!" jawabku padanya. Bukan hanya jawaban berupa kata-kata saja, aku juga menjawabnya dengan sebuah tindakan lain karena Della malam ini begitu nakal menurut diriku, ia telah menyusahkan prianya dan saat inilah waktu yang tepat untuk menghukumnya agar tak nakal lagi. Yakni dengan mengecup lembut bibirnya dan menjadikannya ratuku.
Dan, malam ini ... bersamamu yang berada di sini, tepat di hadapanmu lah mata ini hanya bisa melihatmu. Dan di malam ini, inginku bertanya? Maukah kiranya engkau menikah denganku? Jalani bahtera rumah tangga dalam ikatan suci yang abadi.
...****...
Yang baper mana suaranya?
akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻