Buat para readers, sebelum memberi komentar jelek, sebaiknya baca hingga akhir Bab supaya tahu cerita yang sebenarnya.
Season 1
Arzio Roland, Seorang pria berusia 38 tahun terpaksa menikahi seorang gadis ingusan berusia 18 tahun, Mayra. Pernikahan itu terpaksa ia lakukan hanya untuk mengubah imej dirinya yang sering disebut perjaka tua menjadi pria beristri.
Beda halnya dengan Mayra, ia terpaksa menyetujui pernikahan ini demi adiknya, Rio yang masih berusia 3 tahun. Ia ingin adiknya mendapatkan pendidikan yang bagus sama seperti perjanjian yang dilontarkan oleh Tuan Arzio Roland kepadanya.
Season 2
Arash Ibrahim yang mendadak menjadi suaminya Zaira Roland, anak gadis Arzio Roland dan Nyonya Humayra, ditinggalkan oleh calon suaminya dihari pernikahan mereka.
Arash sudah lima kali menikah namun masih perjaka di usianya yang sudah 38 tahun. Akan kah Arash dan Zaira bisa bersatu untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Rachel
"Ah, Maafkan aku. Rachel." ucap Tuan Zio serba salah sambil melepaskan tangan wanita itu.
Wanita hanya tersenyum kecut sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Apa anak itu baik-baik saja? Kasihan dia jalan sendirian ditempat sepi seperti ini." ucap Tuan Zio sambil memasang kacamatanya kembali.
"Dia pasti baik-baik saja. Soalnya kami sudah terbiasa melewati jalan ini." sahut Rachel sambil memberikan senyumannya kepada Tuan Zio.
"Kamu tinggal dimana, Rachel?" tanya Tuan Zio lagi.
"Kami tinggal tidak jauh dari sini." sahutnya.
"Owh..." Tuan Zio mengangguk.
Tidak beberapa lama akhirnya Anak itu datang dengan membawa jerigen yang berisi bahan bakar untuk mobil Tuan Zio.
Anak itu menyerahkan jerigen itu beserta uang kembalian sisa membeli bahan bakar itu kepada Rachel.
"Nih, Bu..." ucap anak itu.
Tuan Zio membelalakan matanya ketika anak itu menyebut Rachel dengan sebutan ibu.
Rachel menyambutnya dan menyerahkannya kembali ke Tuan Zio. Tuan Zio hanya menyambut Jerigen itu sedangkan uang kembaliannya tidak ia ambil.
Saat ia selesai mengisi bahan bakar mobilnya dan ingin menghampiri wanita itu, ternyata dia sudah pergi dan uang kembalian miliknya diletakkan diatas bumper depan mobilnya yang ia apit dengan sebuah batu.
"Astaga, kemana wanita itu?" batin Zio
***
Setelah kejadian itu, Entah kenapa Tuan Zio selalu terbayang-bayang wajah cantik Rachel. Dia sangat penasaran dengan wanita itu.
Hingga suatu hari, ia kembali dipertemukan dengan sosok Rachel. Entah apa yang dilakukan oleh wanita itu di depan perusahaan miliknya.
Ketika Tuan Zio ingin pulang, ia melihat Rachel berjalan kaki disekitar perusahaannya. Tuan Zio segera menepikan mobilnya. Ia keluar dari mobil dan menghampiri Rachel.
"Rachel, sedang apa kau disini?" tanya Zio
"Tuan Arzio?! anda bekerja disini ya?" tanya Rachel balik
"Sebenarnya ini perusahaan milik ku." sahut Tuan Zio sambil menggaruk tengkuknya.
"Owh... begitu." Rachel tersenyum tipis,
"Kamu mau kemana? boleh ku antar?" tanya Tuan Zio lagi
Setelah lama berpikir akhirnya Rachel menyetujuinya.
Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Entah itu disengaja ataupun tidak. Tuan Zio bahkan merasa sangat nyaman saat bersama dengan Rachel. Begitupula Rachel, ia merasa Tuan Zio sangat peduli dan begitu melindunginya.
Hingga hubungan mereka menjadi hubungan yang sangat serius. Mereka memutuskan untuk menjalin hubungan kekasih. Tuan Zio sering mengajaknya ke rumahnya.
Bahkan tidak jarang seorang Rachel bermalam dirumah Tuan Zio hingga akhirnya Rachel hamil setelah satu tahun mereka berpacaran. Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi,
"Zio, aku hamil..." ucap Rachel dengan wajah memucat.
Tuan Zio bahagia mendengarnya, ia memang berniat serius dengan wanita itu.
"Aku senang mendengarnya, kita akan segera menikah. Aku akan menjadikan mu isteriku." ucap Tuan Zio sambil memeluk tubuh Rachel.
Namun mengejutkan, Rachel malah menangis dipelukan Tuan Zio.
"Ada apa, Rachel? Kamu tenang saja, aku pasti akan bertanggung jawab, aku akan menikahi mu, aku berjanji." kata Tuan Zio mencoba meyakinkan Rachel.
"Bukan itu masalahnya, Zio. Aku sudah punya suami." ucapnya sambil menangis lirih dan melepaskan pelukan Tuan Zio.
Bagaikan disambar petir disiang bolong, Tuan Zio tidak bergerak setelah mendengarkan pengakuan Rachel.
"Kenapa baru sekarang kau mengatakan hal itu?! Jawab Rachel..." Tuan Zio mengacak rambutnya dan ia tidak menyangka Rachel akan membohonginya.
"Maafkan aku, Zio. Aku jatuh cinta padamu, aku takut kehilangan dirimu. Itulah sebabnya aku tidak menceritakan semuanya kepadamu." sahut Rachel dengan deraian airmata.
"Aku tidak yakin itu bayiku, jangan-jangan itu bayi kalian!" ucap Tuan Zio
"Tidak, aku berani jamin ini adalah anak kita. Kau bisa melakukan tes DNA jika tidak percaya, lagipula aku dan suamiku sudah lama tidak berhubungan karena ada sesuatu hal yang tidak bisa aku katakan kepadamu." sahut Rachel.
Tuan Zio nampak berpikir keras namun pada akhirnya Tuan Zio luluh kemudian bertekad akan memperjuangkan cinta Rachel.
"Lalu bagaimana dengan suamimu?" tanya Zio
"Aku akan mengatakan yang sejujurnya dan semoga saja dia mau mengerti dan menceraikan aku." sahut Rachel.
Hingga akhirnya cerita itu sampai di telinga Nyonya Arnetha hingga terjadi kejadian naas itu.
Flash Back Off
Tuan Zio menghela nafas panjang,
"Aku ingat dengan anak itu, yang menyebut Rachel dengan sebutan Ibu. Aku tidak tahu usianya saat itu, tapi aku rasa saat ini dia sudah dewasa. Mengingat kejadian itu sudah lama sekali, Benarkan Tuan Richard?" Tuan Zio nampak berpikir keras dan mengingat-ingat lagi wajah anak perempuan itu namun ia tidak bisa mengingatnya. Itu merupakan pertama dan terakhir kalinya ia melihat anak perempuan itu.
Tuan Richard hanya bisa mengangguk.
Jam kantor pun selesai, Tuan Zio bersiap pulang. Ia sudah sangat merindukan istri kecilnya dan juga bayi mereka yang sudah sangat aktiv menendang-nendang perut ibu mungilnya itu.
Sesampainya dirumah, Tuan Zio bergegas menuju kamarnya. Benar saja istri kecilnya itu sedang duduk di tepi tempat tidur mereka sambil mengelus perutnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Sayang?" tanya Tuan Zio sambil menghampiri istri kecilnya itu.
"Anak mu ini Tuan, sejak tadi tidak bisa diam. Sampai aku kewalahan dibuatnya." ucap Mayra sambil mengelus lembut perutnya.
Senyuman Tuan Zio mengembang diwajah tampannya. Rasa lelah yang ia rasakan lenyap seketika, saat ia melihat wajah Mayra dan merasakan pergerakan calon bayi mereka.
"Aku mencintaimu, Mayra." ucap Tuan Zio seraya memeluk tubuh istrinya itu.
"Aku juga, Tuan." sahut Mayra.
"Tidak bisakah kau memanggil ku dengan sebutan lain, selain Tuan?" tanya Tuan Zio sambil menatap wajah Mayra.
"Maaf, Tuan. Aku sudah nyaman menyebut mu dengan panggilan itu." ucap Mayra sambil tersenyum manis.
Tuan Zio menghembuskan nafas panjang, "Terserah padamu lah..." sahut Zio.
"Oh ya Tuan, apakah kamu sudah mendapatkan informasi tentang Rachel?" tanya Mayra
Tuan Zio menggelengkan kepalanya kemudian kembali menghela nafas beratnya.
"Seandainya dia kembali, apa kau mau bertemu dengannya, Mayra?" tanya Tuan Zio.
"Tentu saja, selama dia tidak merebut kamu dariku." sahut Mayra sambil tertawa kecil.
Tuan Zio ikut terkekeh, "Sepertinya aku akan kembali kepadanya dan hidup bahagia bersama dia dan anak kami!" Tuan Zio menggoda Mayra sambil memperhatikan ekspresi istri kecilnya itu.
Wajah Mayra berubah sendu dan air matanya berlinang membasahi kedua pipinya.
"Kau jahat, Tuan Zio!" kata Mayra sambil memukul-mukul lelaki itu.
Tuan Zio menangkap kedua tangan Mayra kemudian memeluknya lagi sambil tertawa lepas,
"Aku hanya bercanda, Sayang. Aku hanya ingin menggoda mu. Maafkan Aku..." ucap Tuan zio sambil menciumi kening Mayra.
"Jangan lakukan itu lagi, Tuan. Aku sakit hati mendengarnya..." ucap Mayra lirih.
"Iya, aku tidak akan mengulanginya lagi, Sayang. Aku janji!" sahut Tuan Zio.
...----------------...