Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa di Manfaatkan
Semuanya berawal dari satu amplop putih yang tidak seharusnya ada di sana.
Zahra menemukannya di atas meja makan pagi itu. Tergeletak begitu saja di antara cangkir kopi yang belum dicuci dan tatakan gelas yang Mbak Reni lupa angkat semalam. Tidak dialamatkan ke siapapun. Hanya amplop putih biasa dengan logo firma hukum di pojok kirinya yang tercetak rapi dan dingin seperti pemilik rumah ini.
Mbak Reni bilang kurir mengantarnya subuh. Rafandra sudah pergi.
Zahra tidak berniat membukanya ia hanya ingin menyingkirkannya ke pinggir meja supaya tidak menghalangi sarapan. Tapi waktu tangannya menyentuh amplop itu, isinya bergeser dan dokumen di dalamnya meluncur setengah keluar, membuka dirinya sendiri seperti sesuatu yang tidak mau terus disembunyikan.
Zahra membaca judulnya. Lalu membaca lagi.
Perjanjian Pranikah revisi Ketiga.
Tangannya tak gemetar waktu mengangkat dokumen itu. Tapi dadanya, dadanya lain cerita.
Namanya ada di sana. Zahra Aldiva Hendra. Dicetak rapi di antara paragraf-paragraf hukum yang kaku dan dingin. Di sebelahnya, nama yang sudah terlalu familiar: Rafandra Surya Wibowo.
Zahra membaca pelan. Sangat pelan. Memastikan tidak ada yang dia salah tangkap, tidak ada yang dia baca terburu-buru karena panik.
Aset yang dilindungi. Pembagian yang sudah ditetapkan. Hak-hak yang sudah diatur sebelum pernikahan ini bahkan dimulai dan di halaman ketiga satu klausul yang membuat matanya berhenti.
Jika pernikahan berakhir dalam jangka waktu kurang dari dua tahun...
Zahra membaca kalimat itu tiga kali. Lalu meletakkan dokumen itu di meja. Duduk. Menatap tangannya sendiri yang terlipat di atas meja dengan tenang yang aneh tenang yang bukan karena dia baik-baik saja, tapi karena sesuatu di dalamnya sedang mengumpulkan diri sebelum runtuh.
Revisi ketiga.
Artinya ada versi pertama. Ada versi kedua. Dokumen ini sudah direvisi dua kali sebelumnya sebelum pernikahan ini terjadi, mungkin jauh sebelumnya dan Zahra tak tahu apa-apa.
Tak tahu apa-apa.
Ia tidak menelepon Sinta. Tidak menelepon ibunya. Tidak bergerak dari kursi itu hampir satu jam hanya duduk dengan dokumen yang sudah dia balik terlungkup di depannya, menatap pola kayu meja makan yang sudah dia hafal dalam dua bulan terakhir, dan membiarkan pikirannya berjalan ke tempat yang tidak ingin ia kunjungi.
Semalam Rafandra cerita soal Dara.
Cerita dengan cara yang membuat Zahra percaya karena Rafandra tidak pernah cerita dengan cara seperti itu sebelumnya. Tidak dengan ekspresi yang terbuka, tidak dengan suara yang sedikit retak di pinggirannya, tidak dengan tatapan yang tidak menyembunyikan apapun.
"Aku mencoba," katanya dan Zahra percaya.
Tapi dokumen ini sudah ada sebelum malam itu. Sudah ada sebelum semua percakapan jujur itu. Sudah direvisi tiga kali, sudah diatur dengan rapi oleh tim pengacara yang jelas tidak bekerja dalam semalam.
"Pernikahan ini menyelesaikan masalah bisnis itu benar. Tapi kalau itu satu-satunya alasan, ada cara lain yang lebih efisien." Kalimat Rafandra dari dua hari lalu.
Zahra menutup matanya.
"Cara lain yang lebih efisien." Tapi dia memilih pernikahan ini. Dia bilang ada perasaan yang membuat opsi ini lebih masuk akal.
Tapi dokumen ini dengan klausul dua tahunnya, dengan revisi ketiganya terasa seperti bahasa yang berbeda dari bahasa yang Rafandra pakai malam itu dan Zahra tidak tahu bahasa mana yang lebih jujur.
.
.
.
Rafandra pulang jam enam. Tepat waktu seperti biasa karena Rafandra selalu tepat waktu, selalu teratur, selalu seperti mesin yang berjalan tanpa hambatan. Zahra yang mendengar suara pintu depan tidak bergerak dari ruang keluarga. Dia sudah di sana sejak sore, dengan dokumen itu di meja kopi di depannya, terbalik, menunggu.
Langkah kaki di foyer. Suara jas yang diletakkan. Lalu Rafandra muncul di ambang ruang keluarga dan berhenti.
Matanya memindai ruangan. Menemukan Zahra. Menemukan meja kopi. Menemukan tepian dokumen yang cukup terlihat untuk siapapun yang tahu harus mencari apa.
Sesuatu di wajahnya bergerak sangat cepat, sangat terkontrol. Tapi Zahra sudah belajar membaca pergeseran kecil di wajah itu.
Dia tahu.
"Zahra—"
"Duduk dulu, Om." Suaranya flat. Bukan mara lebih dingin dari marah. "Gue mau ngobrol."
Rafandra duduk di kursi single di seberangnya. Tidak membela diri, tidak menjelaskan duluan. Hanya duduk dengan cara yang selalu dia lakukan tegak, terkontrol, tangan di atas lutut dan menunggu.
Zahra membalik dokumen itu.
"Ini jatuh waktu gue mau minggirin amplop tadi pagi." Dia menatap Rafandra langsung. "Revisi ketiga. Artinya ada versi satu dan dua yang gue juga nggak tau."
Rafandra tak menyangkal.
"Kenapa gue nggak pernah dikasih tau ada dokumen ini?"
"Karena aku belum—"
"Om." Zahra memotong. Pelan. Tapi ada sesuatu di balik kepelannya yang lebih tajam dari teriakan. "Kita sudah dua bulan lebih nikah. Ini revisi ketiga. 'Belum sempat' bukan jawaban yang masuk akal."
Rafandra menutup mulutnya.
Zahra menunjuk halaman yang sudah dia tandai. "Ada klausul dua tahun di sini. Kalau pernikahan ini nggak berhasil dalam dua tahun, ada sesuatu yang terjadi. Ini perlindungan buat siapa?"
"Perlindungan aset standar—"
"Buat siapa, Om!." Bukan pertanyaan lagi. "Buat Om? Atau buat gue juga?"
Rafandra diam.
Dan dari diam itu dari cara ia tak langsung menjawab, dari cara matanya bergerak ke meja sebentar sebelum kembali ke Zahra semua yang perlu Zahra ketahui sudah terjawab.
Sesuatu di dadanya retak. Tipis. Tapi nyata.
"Om cerita semalam." Suara Zahra lebih pelan sekarang. Kehilangan semua ketajamannya menjadi sesuatu yang lebih menyakitkan dari tajam. "Soal Dara. Soal perasaan Om. Soal kenapa Om milih pernikahan ini." Dia menarik napas. "Dan gue percaya. Gue duduk di sana, gue dengarkan setiap kata, dan gue percaya."
"Zahra, dengarkan aku—"
"Tapi dokumen ini sudah ada sebelum malam itu." Zahra menatapnya dan di matanya ak ada air mata, tak ada kemarahan yang meledak. Hanya kelelahan yang sangat manusiawi. "Direvisi tiga kali. Disiapkan dengan rapi. Dan Mas pilih untuk nggak bilang."
"Situasinya tidak sesederhana—"
"Gue nggak pernah minta banyak dari Om." Zahra berdiri bukan karena marah, tapi karena duduk tiba-tiba terasa sesak. "Satu hal, Om. Dari awal gue cuma minta satu hal. Jujur."
Rafandra berdiri juga.
"Dokumen itu dibuat dua tahun lalu." Suaranya tetap terkontrol tapi ada sesuatu yang lebih tegang di baliknya, seperti tali yang ditarik terlalu kencang. "Sebelum aku memutuskan apapun soal pernikahan ini. Standar prosedur yang diminta tim pengacaraku. Bukan karena aku merencanakan kegagalan."
"Tapi Om nggak bilang sama sekali ke gue."
"Karena waktunya—"
"Nggak tepat." Zahra menyelesaikan kalimatnya. Sudah hafal. "Kamu belum siap. Nanti. Pada waktunya." Dia menggeleng pelan, lelah, seperti orang yang sudah terlalu sering mendengar lagu yang sama. "Om tau apa yang paling bikin gue sakit?"
Rafandra diam. Menatapnya.
"Bukan dokumennya." Zahra menatap balik dan di matanya ada sesuatu yang membuat Rafandra, untuk pertama kali, tidak bisa mempertahankan ekspresi terkontrolnya sepenuhnya. "Semalam Om buka sesuatu yang belum pernah Mas buka ke siapapun atau setidaknya itu yang gue rasain. Dan gue pikir itu nyata."
Hening.
"Tapi pagi ini gue nemu ini." Zahra meletakkan tangannya di atas dokumen itu pelan, seperti menutup sesuatu. "Dan sekarang gue nggak tau lagi. Mana yang beneran. Mana yang Om pilih untuk gue lihat supaya gue nggak kemana-mana."
Kalimat terakhir itu menggantung di antara mereka seperti asap tak bisa dipegang, tak bisa ditiup pergi.
Rafandra membuka mulutnya.
"Jangan." Zahra mengangkat tangan bukan dramatis, hanya lelah. "Jangan jelasin sekarang. Gue butuh waktu."
Ia mengambil HPnya. Berjalan ke tangga.
"Zahra."
Langkahnya berhenti. Tapi tidak berbalik.
Di belakangnya, suara Rafandra turun lebih rendah dari biasanya, lebih dari sekadar suara seseorang yang menjelaskan sesuatu.
"Dokumen itu tidak pernah mencerminkan niatku." Pelan. Seperti sesuatu yang dikeluarkan dari tempat yang dalam. "Tapi aku mengerti kalau kamu tidak bisa langsung percaya itu."
Ruangan itu sunyi. Zahra tidak menjawab.
Naik tangga. Masuk kamar. Menutup pintu tidak dikunci, karena mengunci pintu berarti dia takut, dan Zahra tidak takut.
Hanya perlu ruang untuk menyusun kembali apa yang berserakan di dadanya.
Ia rebahan di kasur, menatap langit-langit.
Di luar jendela, Jakarta mulai gelap lampu-lampu menyala satu per satu, kota yang tidak pernah benar-benar sunyi bahkan di malam hari. Suara samar dari bawah langkah kaki Rafandra yang teratur di lantai satu, lalu sunyi.
Semalam dia bilang ke Rafandra "Gue nggak nyesel ada di sini."
Malam ini ia tak tahu apakah kalimat itu masih berlaku.
Bukan karena dia menyesal tapi karena ada sesuatu yang lebih rumit dari sesal atau tidak sesal. Sesuatu yang tidak punya nama yang tepat tapi terasa seperti berdiri di atas jembatan yang kelihatannya kokoh, tapi baru saja kamu temukan satu retakan kecil di bawah kakimu.
Retakannya mungkin tidak berbahaya. Tapi kamu tidak bisa berhenti memikirkannya.
"Karena perasaanmu," kata suara di telepon itu. "Bukan karena bisnis."
Zahra menutup matanya.
Kalau itu benar kalau Rafandra benar-benar memilih ini karena lebih dari sekadar bisnis maka dokumen itu hanya prosedur. Hanya kertas. Hanya tim pengacara yang bekerja seperti yang seharusnya mereka kerjakan.
Tapi kalau tidak... HPnya bergetar. Bukan Rafandra. Sinta.
Sinta: eh lo kenapa nggak bales dari tadi? gue telepati lo lagi ada masalah
Zahra menatap layar itu lama. Lalu mengetik:
Zahra: gue nemu sesuatu hari ini, Sin. Dan gue nggak tau harus ngerasa apa.
Tiga titik langsung muncul.
Sinta: gue telepon sekarang.
Zahra meletakkan HP ke dada sebelum Sinta sempat menelepon. Matanya menatap langit-langit lagi.
Di bawah sana, di lantai satu yang sunyi, Rafandra masih ada. Zahra tahu karena tidak ada suara pintu depan, tidak ada suara mobil yang pergi. Dia ada di sana, di rumah yang sama, di udara yang sama.
Dan entah kenapa, di tengah semua kerancuan ini di tengah pertanyaan yang belum terjawab dan kepercayaan yang sedang mencari pijakannya kembali fakta bahwa Rafandra masih di sana membuat sesuatu di dada Zahra sedikit, sangat sedikit, lebih ringan.
"Gue nggak tau apakah Om jujur sepenuhnya. Tapi gue tau satu hal. Gue belum mau menyerah." Batinya
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼