Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Di kantin, suasana makin ramai, tapi meja Melody, Rere, dan Rhea tetap jadi pusat perhatian karena suara tawa mereka yang nggak nyantai. Melody lagi fokus banget menghancurkan baksonya seolah-olah itu adalah kepala Thomas atau Kaisar.
"Sumpah ya, pedesnya mantap! Kayak omongan gue ke Zoya tadi, menusuk hingga ke lambung!" ucap Melody sambil mengelap keringat di dahi.
"Pelan-pelan, Mel. Itu kuah bakso apa genangan dendam? Merah bener!" sahut Rhea sambil menyeruput es jeruknya.
Rere yang tiba-tiba diam tidak seperti biasanya, menusuk-nusuk siomay di piringnya dengan tatapan kosong. "Eh, guys... gue mau ngomong sesuatu deh, tapi jangan nangis ya. Gue tau pesona gue sulit dilupakan."
Melody berhenti mengunyah. "Apaan? Lo mau ngaku kalau sebenernya lo itu agen rahasia juga kayak si Thomas?"
"Bukan, ih! Ini serius," Rere menghela napas. "Ada rencana bokap mau dipindah tugas ke luar negeri. Terus katanya gue mau diajak pindah juga."
"HAH?! Keluar negeri mana? Depok?" canda Melody, tapi matanya menunjukkan kekhawatiran.
"Ya kali Depok pake paspor, Mell!" seru Rere kocak. "Rencananya sih ke Belanda atau nggak ke London gitu. Tapi ini belum pasti banget sih, baru obrolan di meja makan semalam sambil rebutan paha ayam."
Rhea langsung meletakkan gelasnya. "Yah, Re... terus nanti siapa yang bakal nemenin gue ngetawain drama Melody sama si Kaisar? Siapa yang bakal bantuin gue bikin contekan Fisika?"
"Nah, itu dia! Makanya gue bilang belum pasti," lanjut Rere sambil nyengir lebar. "Lagian gue belum siap juga ninggalin gorengan kantin ini. Di London mana ada bakwan jagung yang kriuknya bisa kedengeran sampe blok sebelah?"
Melody menghela napas, mencoba mencairkan suasana biar nggak mendadak melow. "Halah, gaya lo mau ke London. Ntar di sana ketemu bule, lo malah nanya 'Bisa bahasa Sunda nggak, Mang?'. Yang ada lo dideportasi hari itu juga!"
Rere tertawa terbahak-bahak. "Sialan lo! Tapi serius, kalau gue beneran pindah, lo berdua harus janji tetep update drama sekolah ini ya. Gue nggak mau ketinggalan info kalau si Zoya akhirnya ketahuan punya kumis atau si Kaisar beneran jadi kulkas dua pintu yang ada dispenser airnya."
"Tenang aja, Re," ucap Melody sambil merangkul bahu Rere. "Selama ini belum pasti, lo masih harus nemenin gue menghadapi cobaan hidup bernama Kaisar Luca itu. Jangan kabur dulu lo!"
"Iya, Re. Lagian lo pindah juga pasti gara-gara mau cari bule yang mirip Harry Styles kan?" goda Rhea.
"Tau aja lo! Doain aja semoga bokap nggak jadi pindah, atau kalaupun jadi, gue dapet beasiswa jadi sultan di sana biar bisa jemput kalian pake jet pribadi!" balas Rere yang langsung disambut sorakan "Aamiin" paling kencang dari Melody dan Rhea.
Baru saja tawa mereka mereda, getaran langkah kaki yang terasa "mahal" mulai mendekat. Geng Amours datang menyerbu area kantin. Bukannya duduk tenang, Jigar langsung melakukan aksi panggung dengan melompat ke bangku kosong di sebelah Rhea.
"Eits! Meja paling panas se-antero sekolah, boleh dong kita gabung?" celetuk Jigar sambil tanpa berdosa mencuri satu butir bakso dari mangkuk Melody.
"Heh! Tangan lo ya, nggak pernah disekolahin!" protes Melody sambil memukul tangan Jigar pakai sendok. "Main comot aja, bayar seribu!"
David ikut duduk sambil merapikan rambutnya yang kena angin dikit langsung berantakan. "Pelit amat lo, Mel. Anggap aja itu pajak karena kita udah jagain lo dari fans-fans fanatik si Thomas yang gagal move on."
"Gaya lo jagain, Vid," sahut Azka yang duduk di samping Rere. "Palingan lo juga cuma mau numpang eksis biar masuk akun lambe sekolah kan? Eh, btw, Re... gue denger-denger tadi ada yang mau ke London? Titip salam ya buat Queen Elizabeth, eh lupa... maksud gue, titip bawain gue bule yang mirip Gigi Hadid satu!"
Rere melotot. "Gosip di sini cepet banget ya, ngalahin kecepatan cahaya! Lagian belum pasti, Ka. Masih rencana tingkat dewa."
"Yah, kalau lo pindah, berkurang dong populasi cewek berisik di sekolah ini," goda Jigar yang langsung dapet lemparan tisu dari Rere.
Di tengah kegaduhan itu, Kaisar akhirnya duduk. Ia tidak bicara, tidak tertawa, apalagi mencuri bakso. Ia hanya duduk tepat di depan Melody, menaruh botol air mineral dingin di depan gadis itu tanpa sepatah kata pun. Matanya hanya melirik mangkuk bakso Melody yang kuahnya merah menyala.
"Apa liat-liat? Mau bakso juga?" tanya Melody ketus, tapi hatinya agak dug-dug-ser karena ditatap intens begitu.
Kaisar hanya berdehem pelan. "Kuahnya terlalu pedas. Nanti perut lo sakit lagi, trus gue lagi yang repot," ucapnya dengan nada datar andalannya, tapi tangannya malah menarik mangkuk sambal menjauh dari jangkauan Melody.
"Dih! Posesifnya mulai lagi!" Melody mencoba menarik balik mangkuk sambalnya. "Gue yang makan, kenapa lo yang ribet sih, Kulkas?!"
"Wah, wah... mulai deh drama rumah tangganya," sahut David sambil menyikut Jigar. "Tuh liat, si bos kalau perhatian emang beda level. Nggak pake kata-kata manis, tapi mangkuk sambal disita."
"Iya nih, daripada lo ribet sama sambal, mending lo ribet sama Kaisar aja, Mel. Lebih menantang adrenalin!" tambah Jigar sambil cekikikan, mengabaikan tatapan maut Kaisar yang siap mengirimnya ke kutub utara detik itu juga.
Suasana di meja itu benar-benar kontras: Jigar dan Azka yang sibuk tebar pesona, David yang sibuk mengaca di layar HP, Melody yang sibuk berantem masalah sambal, dan Kaisar yang tetap diam membisu tapi auranya seolah-olah sedang menjaga wilayah kekuasaannya agar tidak disentuh siapapun.