Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Terbongkar
Pagi itu suasana rumah keluarga Argas terlihat seperti biasanya. Matahari baru naik sempurna. Cahaya hangat masuk melalui jendela besar ruang makan. Burung-burung terdengar berkicau dari taman depan. Namun entah kenapa, udara pagi ini terasa berbeda. Seolah ada sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang akan mengubah keadaan.
Di dapur, seperti biasa, Aurel sudah bangun sejak subuh. Ia membantu Feni memasak sarapan, meskipun baru pulang dari rumah sakit sehari sebelumnya, Aurel tetap memaksa ikut bekerja. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun, tidak ingin dianggap malas dan yang paling penting, ingin menunjukkan bahwa dirinya masih pantas berada di rumah ini.
"Aurel, kamu yakin sudah sehat?" tanya Feni sambil mengaduk sup.
Aurel tersenyum. "Sudah kok, Bi."
"Tapi jangan capek-capek." Kata Feni.
"Iyaa." Meski menjawab santai, sebenarnya hati Aurel sedang gelisah.
Semalam ia merasa ada sesuatu yang aneh, dari tatapan Bagaskara saat dirumah terasa berbeda. Lebih dingin, lebih tajam dan itulah membuatnya tidak tenang. Namun ia berusaha mengabaikannya. Mungkin hanya perasaannya saja.
Tak lama kemudian sarapan selesai disiapkan. Aurel membantu menata meja makan, piring demi piring disusun rapi, gelas-gelas diletakkan di tempatnya. Semua tampak normal.
Satu per satu penghuni rumah turun. Indah datang lebih dulu. Disusul Bagaskara, kemudian Arvano.
Saat mata mereka bertemu, Arvano sempat memberikan senyum kecil kepada Aurel. Senyum yang selama ini hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Namun pagi ini, Aurel tidak membalas. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman. Arvano sedikit heran. Namun belum sempat bertanya. Semua sudah duduk di meja makan.
Sarapan berlangsung dalam suasana yang cukup tenang, tidak ada pertengkaran, tidak ada pembicaraan penting, hanya obrolan ringan seperti biasanya. Namun satu hal yang membuat semua orang merasa aneh, karena Bagaskara lebih banyak diam, hanya makan sambil sesekali memperhatikan Arvano, dan sesekali memperhatikan Aurel. Tatapan Bagaskara membuat Aurel semakin gugup.
Setelah sarapan selesai. Semua mulai berdiri. Aurel dan Feni hendak membereskan meja. Namun tiba-tiba suara Bagaskara menghentikan semuanya. "Tunggu."
Semua menoleh. Bagaskara berdiri perlahan, lalu berkata dengan suara tegas. "Semua kumpul di ruang tamu."
Indah mengernyit. "Ada apa?"
"Ada yang ingin di bicarakan." Nada suaranya membuat suasana langsung berubah. Tidak ada yang berani membantah.
Beberapa menit kemudian. Semua sudah berada di ruang tamu. Bagaskara duduk di kursi utama. Indah di sampingnya. Arvano duduk tidak jauh dari sana. Feni dan Satrio berdiri agak belakang. Sedangkan Aurel duduk paling ujung. Jantungnya Aurel berdebar tanpa alasan yang jelas dan perasaannya semakin tidak enak.
Bagaskara mengambil sebuah tablet, kemudian meletakkannya di atas meja. "Semalam aku melihat sesuatu."
Tidak ada yang menjawab.
"Sesuatu yang selama ini disembunyikan." Kata Bagaskara.
Aurel mulai pucat. Arvano ikut menegang.
Namun keduanya masih berusaha terlihat tenang. Bagaskara menatap mereka bergantian, kemudian menyalakan video.
Rekaman CCTV muncul. Ruangan langsung sunyi. Rekaman pertama menunjukkan Arvano menangkap Aurel yang hampir jatuh di gudang. Rekaman kedua menunjukkan Arvano mengobati luka Aurel. Rekaman ketiga memperlihatkan mereka duduk berdua di taman. Rekaman keempat memperlihatkan perhatian-perhatian kecil yang selama ini tidak diperhatikan orang lain, dan semakin lama video diputar, semakin jelas hubungan mereka.
Indah membelalakkan mata. Feni menutup mulutnya. Satrio terlihat sangat terkejut.
"Astaga..." Gumam Feni.
Indah memandang Arvano, setelah itu. memandang Aurel dengan tidak percaya.
Sementara itu, Aurel merasa tubuhnya dingin, tangannya gemetar. Ia tidak berani mengangkat kepala. Sedangkan Arvano mengepalkan tangannya erat, karena tahu. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan, semua sudah terbongkar.
Bagaskara mematikan video, kemudian berdiri. Tatapannya penuh kemarahan. "Jadi ini yang kalian sembunyikan selama ini?"
Tidak ada jawaban.
"Aku bertanya!" Suara Bagaskara menggema di seluruh ruangan.
Aurel langsung menunduk.
Arvano berdiri. "Pa..."
"Diam!" Bentakan itu membuat semua orang terkejut. "Papa kecewa. Sangat kecewa." Bagaskara menatap Arvano tajam.
Seumur hidupnya. Bagaskara selalu berharap Arvano menjadi penerus yang sempurna, menjadi pewaris keluarga Argas, menjadi seseorang yang mampu menjaga nama baik keluarga. Karena itu Bagaskara selalu mengatur jalan hidup putranya, termasuk soal pasangan.
Dan sekarang, semua harapannya terasa berantakan. Bukan karena Aurel orang jahat, bukan karena Aurel tidak baik, namun karena status mereka berbeda dan Bagaskara belum bisa menerimanya.
Bagaskara menoleh ke arah Aurel. "Kamu."
Aurel langsung berdiri gemetar. "Pak..."
"Mulai hari ini..."
Semua orang menahan napas.
Lanjut Bagaskara"....Kamu tidak bekerja di rumah ini lagi."
Dunia Aurel seakan berhenti. "Apa?" Air mata langsung memenuhi matanya. "Saya..."
"Kamu dipecat." Ucapan Bagaskara terasa seperti palu yang menghantam dadanya.
"Pak!....." Indah langsung berdiri. "....Jangan seperti ini."
"Indah, jangan ikut campur." Ucap Bagaskara.
"Tapi Aurel tidak salah." Ucap Indah.
"Saya bilang jangan ikut campur!" Tegas Bagaskara.
Ruangan kembali sunyi. Arvano maju satu langkah. "Kalau mau marah, marah ke aku. Aku yang menyukainya, mengejarnya, dan mengajak Aurel berpacaran."
Bagaskara menatap putranya. "Dan itu justru membuat Ayah semakin marah."
Feni ikut maju. "Pak, Aurel anak baik."
"Iya Pak," sambung Satrio.
Ucap Feni "Dia bekerja dengan jujur."
Namun Bagaskara tetap menggeleng. "Tidak." Keputusannya sudah bulat.
Aurel akhirnya tidak mampu menahan tangis. Ia jatuh berlutut. "Pak, jangan usir saya." Suaranya bergetar. "Saya butuh pekerjaan ini. Saya punya ibu yang sakitan dan punya ayah yang bekerja keras. Tolong..." Tangisnya pecah.
Namun Bagaskara tetap diam. Arvano tidak tahan melihatnya. "Papa, keterlaluan."
"Jaga bicaramu!" Ucap Bagaskara yang tegas.
"Kalau Papa mau mengusir Aurel..." Arvano mengepalkan tangan. "...aku juga pergi."
Semua langsung terkejut.
"Arvano!" Seru Indah.
Namun Arvano tidak mundur. Tatapannya tetap lurus kepada ayahnya.
Meski semua membela Aurel, dan meski semua memohon. Keputusan Bagaskara tidak berubah. Aurel tetap harus pergi, Hari ini juga dengan langkah lemas.
Aurel berjalan menuju kamarnya. Tangisnya tidak berhenti. Begitu pintu tertutup. Ia langsung terduduk di lantai. Menangis sejadi-jadinya. Semua yang ia takutkan akhirnya terjadi. Ia kehilangan pekerjaan, kehilangan tempat tinggal, dan mungkin kehilangan Arvano. Pikirannya langsung melayang kepada Freya dan Surya. Ibunya yang sering sakitan, Ayahnya yang bekerja di sawah. Bagaimana jika mereka tahu? Bagaimana jika mereka kecewa? Bagaimana jika mereka menganggap dirinya gagal?
Air matanya semakin deras. "Tidak..." Aurel menggeleng. "Ayah dan Ibu tidak boleh tahu." Dengan tangan gemetar. Ia mulai membuka lemari. Mengeluarkan pakaian, melipat satu per satu. Setiap lipatan terasa seperti perpisahan, setiap barang yang masuk ke tas membuat dadanya semakin sesak.
Karena ia sadar, mungkin setelah hari ini, ia tidak akan pernah tinggal di rumah ini lagi.
Di luar kamar. Arvano berdiri di depan pintu, tangannya mengepal. Mendengar suara tangisan Aurel dari dalam. Namun Arvano tidak bisa masuk, tidak bisa berbuat apa-apa.
Di lantai bawah, Bagaskara masih duduk dengan wajah keras, keputusannya belum berubah. Dan suasana rumah yang selama ini hangat, kini berubah menjadi medan perang keluarga.
Sementara di dalam kamar, Aurel memasukkan pakaian terakhir ke dalam tas, lalu memandang ruangan kamarnya untuk terakhir kalinya. Air matanya kembali jatuh, Karena ia tahu saat keluar dari kamar nanti, hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi.