Kekuatan besar merupakan berkah sekaligus tanggung jawab yang begitu besar, namun apakah dengan membantu mereka kau akan mendapatkan kembali kebaikan yang telah kau berikan? "Hahaha, naif sekali." Kalau kau masih berfikir demikian maka kematian yang akan menantimu di depan sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fisher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjahilinya
"Astaga dia Mizuru! bagaimana ini!?apa aku harus lari?" Pikirku dengan mata terbelalak.
Tapi melihat ia ternyata melakukan itu semua untukku apa aku harus marah? membencinya? dan terus lari menghindar darinya? tapi kurasa aku tak layak menilai dirinya.
Dia adalah teman masa kecilku yang selalu ada untukku, orang yang telah menguatkan ku untuk terus menjalani kehidupan yang selalu tak adil padaku.
Hanya dengan mengingat hal itu kurasa aku akan memperhatikan dirinya lebih didunia ini, dan membuatnya tak lagi berfikir untuk menyakiti seseorang yang ada di sekitarku.
Karena aku masih penasaran dengan kehidupan yang dijalaninya selama berada di dunia ini, aku kembali melihat ingatan miliknya dengan posisi sama seperti tadi.
"Humu, jadi begitu.., tunggu kenapa tanganku terasa sakit?" Membuka mata perlahan.
"Ternyata kau ini cabul juga ya, berani memegang wajah seseorang saat mereka sedang tidur, apakah sakit?" Ucap Martha sambil menggigit tanganku.
"Sepertinya kau salah paham disini, dan juga bisa kau lepaskan tanganku? meskipun aku masih menggunakan sarung tangan, tanganku terasa sakit." Ucapku.
"Baik aku lepaskan.." Ucapnya terputus.
"Em, terimakasih.." Ucapku memejamkan mata sambil meraba tanganku.
"Tapi sebelum itu.." Ucapnya
"Um, apa!?" Ucapku.
Dia mengambil ancang-ancang dan langsung menendang tepat mengenai leherku, dan membuatku terhempas ke lantai.
"Argh, apa yang kau lakukan! ini sakit tau!!" Ucapku tersungkur sambil memegang leher.
"Oh, ternyata kau masih hidup? kalau begitu.." Ucapnya sambil memegang selimut dan menggulungnya.
"Hei apa yang ingin kau lakukan? j-jangan mendekat, tidak!!!" Teriakku.
Dia melilitkan selimut itu dan melilitkannya pada leherku, juga ia mengunci pergerakan ku.
"Give up, give up, give up." Ucapku sambil mencoba melepaskan kuncinya.
"Tunggu sampai kau mati, baru akan aku lepaskan." Ucapnya dengan tatapan kejam.
"L-lepaskan, aku akan mengajakmu ke suatu tempat, bagaimana?" Meronta.
"Ho, mencoba bernegosiasi denganku ya, lalu kau akan membawaku kemana?" Ucapnya sedikit melonggarkan jeratannya.
"Aku akan mengajakmu kesalahan satu Restoran mewah disini bagaimana?" Ucapku.
"Sudah kubilang berapakali padamu,
aku tak suka dengan makan yang dibuat oleh manusia!" Serunya.
"Karena aku mengetahui makanan kesukaannya, mungkin aku akan sedikit menjahilinya." Batinku.
"Hum, kau yakin tak mau?" Ucapku.
"Aku bilang tak mau ya tak mau!" Ia mengencangkan kembali lilitannya.
"Uhuk uhuk, k-kau tau? disana terkenal dengan steak yang sangat enak, bahkan jika dibandingkan dengan yang kau makan kemarin itu tak ada apa-apanya, ditamabah dessert seperti pudding blueberry dan cheesecake yang digemari oleh para wanita." Dengan ekspresi wajah ketawa dari balik topeng.
"M-meskipun kau berkata seperti itu." Ucapnya menahan.
"Kau yakin?" Godaku lagi.
"Yakin!" Serunya.
"krucuk.." Sfx suara perut.
"Itu perutmu sudah bunyi." Ucapku.
"Berisik!" Mencekik lebih kuat.
"Gehek."
"Sebenarnya aku tak mau melakukan ini padamu, tapi karena kau telah berlebihan ya tanggung sendiri." Ucapku sambil mengaktifkan segel budak.
"Panas!!" Erangnya sambil memegang segel budak.
"Bagaimana, enak?" Ejek ku.
"Kau sialan, akan kuingat ini!" Ucapnya sambil marah.
Aku menonaktifkan kembali segel budak tersebut dan mengulurkan tanganku padanya.
"Jangan sok akrab denganku." Ucapnya sambil menolak tanganku dengan menamparnya.
"Ya sudah kalau gitu, aku pergi dulu ya, tapi kalau kau masih ingin disini kau harus membayar sendiri biaya penginapan disini." Ucapku dengan badan bersender di pintu.
"Ha?" Ucapnya singkat.
"Itu karena aku hanya membayar biaya untuk semalam saja, kalau gitu dah." Ucapku sambil berjalan.
"Tunggu aku dasar pria sialan." Ucapnya sambil mengikuti langkahku.
"Hehehe, menjahilinya seperti ini sepertinya asik juga." Ucapku dalam hati, sambil menahan tawa.
"Apa yang lucu." Ketusnya.
"Enggak kok." Ucapku.
Kami berdua meninggalkan penginapan dengan raut wajah Martha yang terlihat masih kesal disepanjang jalan, tapi bagiku ini sangat lucu melihat sifatnya yang seperti ini.
Setibanya di restoran yang kumaksud aku memesan beberapa makanan yang sebelumnya telah aku katakan pada Martha.
Selagi menunggu hidangannya siap aku menanyakan pada Martha mengenai dirinya sebelum akhirnya bisa menjadi seorang budak.
Meskipun ia hanya menceritakan sedikit mengenai dirinya dan karena aku telah mengetahui sebagian informasi dari Weth, tapi setidaknya itu cukup bagiku.
Aku hanya merasa kasihan padanya saat ia terpisah dengan ibunya saat masih berusia tiga tahun.
"Tunggu tiga tahun, berarti ia lebih tua dariku didunia ini!" Pikirku.
Oh aku sepertinya mengingat ingatan miliknya saat bersama dengan Yuki, setelah aku sendiri merasakan cekikan dari Mizuru aku merasa kasihan pada Yuki, dan merasakan apa yang ia alami saat itu, hah.
"Apa lihat-lihat!" Ucapnya.
"Ha! apa itu masalah, bagiku melihat budaknya yang cantik ini?" Jahilku.
"Meskipun kau berkata seperti itu, aku tak akan jatuh pada rayuanmu itu, karena aku telah memiliki seseorang yang aku cintai." Ucapnya.
"Heh, jadi kau telah punya pacar, bisa kau beritahu padaku siapa orang itu?" Rayuku.
"Tak akan kuberitau, dan ini juga bukan urusanmu!" Ucapnya.
"Hm, gitu, ya lagipula orang yang dia maksud juga ada didepannya saat ini." Gumamku.
"Hah? apa kau mengatakan sesuatu barusan?" Tanya Martha.
"Hah tidak kok." Jawabku.
"Mencurigakan." Ucapnya sambil mencari kebenaran dari mataku.
"Mencurigakan? tidak, ah lihat makannya sudah datang." Kilahku.
"Oh begitu, ya sudah sana makan aku tak punya selera makan untuk saat ini." Ucapnya.
"Ya sudah." Ucapku.
"Ano, permisi ini mau ditaruh dimana?" Tanya pelayan.
"Hm, kau bisa menaruhnya pada mejaku, dan untuknya bisa kau kosongkan saja karena ia tak sedang mau makan." Ucapku.
"Um, baiklah." Ucapnya melihat kearah Martha dan menaruh makan pada sisi mejaku.
"Terimakasih." Ucapku.
"Sama-sama, kalau begitu silahkan dinikmati." Balas pelayan tersebut sambil pergi melanjutkan pekerjaannya.
Aku melihat wajah Martha yang menahan nafsunya dan memilih mengalihkan pandangannya pada meja kosong.
"Mungkin aku akan menggodanya." Pikirku.
"Um daging ini serasa meleleh di mulutku, oh lihat cake ini, kejunya begitu terasa menggoyang lidahku, nyaris saja aku lupa, ah puding blueberry ini juga begitu nikmat, manisnya terasa pas di mulutku dan rasa blueberry ini begitu terasa, nyam~" Ucapku mencicipi setiap hidangan ini.
"He! dari tadi kau ngoceh meskipun kau sedang makan, apa kau bosan?" Ucapnya kesal.
"Yang sedang makan aku ya terserah aku, nyam~" Ucapku.
"Pria sialan!" Marahnya.
"Nyam~" Tanggapku.
"krucuk.." Sfx suara perut.
"Oh, ternyata kau tipikal orang yang tidak bisa jujur ya?" Ucapku.
"Bukan urusanmu! sini berikan padaku!!" Pintanya.
"Eits, sebelum kau ingin mengambilnya, bukankah kau harus memintanya dengan tulus?" Ucapku menahan tangannya.
"Baik kalau begitu, aku mohon berikan aku makan!" Ucapnya.
"Kurasa itu kurang tulus." Ucapku.
"Maumu seperti apa!" Ucapnya tampak kesal.
"Kalau begitu ikuti apa yang akan aku ucapkan." Pintaku dengan nada mengejek.
"Sialan, cepat katakan!!" Ketusnya.
"Hehe, kalau begitu, Master yang tampan tolong izinkan aku untuk makan, nyan~" Ucapku.
"Sialan kau ingin aku mengatakan hal yang bodoh itu!?" Ucapnya.
"Kalau tak mau ya sudah, aku makan sendiri, nyam~" Ucapku sambil menyedok puding.
"Sialan, akan aku balas untuk ini." Grutunya.
"Cepat, mau tidak?" Tambahku.
"M-master yang tampan tolong izinkan aku untuk makan, nyan~" Ucapnya sambil bergaya seperti kucing.
"Nih." Aku menyodorkan makanan yang tadi kupesan.
Melihat ia yang sedang makan dengan wajah marah seperti itu rasanya sangat lucu, hahaha.
"Pria kaleng sepertimu beraninya menyuruhku mengatakan bahwa kau tampan, dasar tak tau malu." Ucapnya sambil menyantap makanannya.
"Hm? aku memang tampan lo!" Ucapku.
"Mana ada pria yang menyebut dirinya sendiri tampan, kalau bukan orang jelek yang selalu memakai topengnya." Ucapnya.
"Tapi aku memang..." Ucapku terpotong.
"Kalau begitu kenapa tidak kau lepas saja topengmu itu?" Selanya.
"Aku tak bisa." Jawabku singkat.
"Benarkan kau jelek." Ejeknya.
"Aku akan mengalah untuk ini." Ucapku.
"Nah gitu dong." Ucapnya.
Ya lagipula itu akan gawat bila ia melihat wajah asliku yang sama dengan saat dibumi, dan yang membedakan hanya warna pupil mata serta rambut milikku.
*Bersambung*