"Zee, kalau Zee udah besar nanti. Zee nikahnya sama Kak Bian, ya?" ucap Albian pada bayi mungil yang ada di dalam pangkuan sang Ibu. Seolah mengerti maksud Bian. Zeeviana kecil pun tersenyum, sambil menggerakkan tangganya. Mencoba untuk menyentuh wajah tampan Albian yang menatap ke arahnya.
"Janji, ya?" Bian memberikan jari kelingkingnya, dan Zeeviana menggenggamnya, dengan genggaman yang begitu erat.
× × ×
"Aku tidak menyangka, kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya!"
- Zeeviana.
"Aku akan melakukan apapun yang membuatnya bahagia. Tidak akan memaksa jika dia tidak ingin menepati janjinya!"
- Albian Wijaya Saputra.
× × ×
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ular Kobra
...💙 Episode - 33 💙...
Setelah mengamati cincin di tangannya dan merasa yakin kalau cincin itu adalah cincin yang tepat untuk gadisnya. Bian pun dengan hati-hati meraih tangan Zeeviana.
Digenggamnya tangan mungil namun tidak lembut dan halus itu. Membuat sang pemilik tangan kaget dan menatap bingung ke arahnya.
"Apa yang Kak Bian lakukan?" tanya gadis itu. Matanya mengikuti setiap gerakan tangan Bian.
Dengan perlahan Bian memasukkan cincin indah itu ke jari manis Zeeviana. Ia tersenyum saat ukuran cincin itu pas pada jari manis gadis kecilnya.
'Cantik.' Batin Bian memuji tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kamu tidak keberatankan, Zee. Jika aku mencobanya di jari manismu?" ucap Bian menyandarkan Zeeviana yang melamun sambil ikut menatap jemarinya.
"Tentu saja, aku tidak keberatan, Kak!"
Gadis itu terlihat sedikit kecewa. Bagaimana bisa dia lupa! Kalau dia hanyalah teman Bian! Dan sudah jelas sekali, kalau Bian membelikan cincin ini untuk gadis yang dicintainya! Bukan untuk dia! Selama dia belum mengetahui siapa gadis yang Bian cintai sebenarnya!
'Jangan terlalu banyak menghayal, Zee!' Batin Zeeviana memperingati dirinya sendiri.
"Bagaimana, apakah cincin ini bagus menurutmu?" Bian kembali meraih tangan Zeeviana. Mengamati cincin yang masih tersemat di jari manis gadis itu.
"Ini bagus sekali, Kak," jawab Zeeviana.
"Apakah kamu menyukainya?"
Kini netra Bian beralih menatap wajah Zeeviana. Ia bisa melihat ada sebuah rona aneh yang mulai timbul dari wajah gadis itu apabila bertatapan dengan dirinya.
"Jadi, apakah kamu juga suka dengan cincin ini?" Bian mengulangi pertanyaan.
"Emm, aku suka. Tapi mungkin cincin ini yang tidak suka pada jariku, hehe." Gadis itu tertawa untuk menutupi rasa canggung, karena Bian tak kunjung melepas tangannya. Ditambah lagi dengan Morgan dan juga penjaga toko yang terus menatap ke arah mereka.
"Baiklah, karena kamu suka. Bagaimana kalau cincin ini untuk kamu saja?" Dengan entengnya Bian berkata.
"Jangan bercanda, Kak!" Zeeviana menarik pelan tangannya dari genggaman Bian. "Aku tau, Kak Bian pasti sedang bercanda, kan?"
Dilepasnya cincin itu sambil menatap wajah Bian. Tidak ada tampang bercanda di wajah tampan pria itu. Bahkan sorot matanya menampakkan keseriusan atas ucapannya. 'Dia sebenarnya bercanda atau bagaiamana, sih?!' Batin Zeeviana.
"Jika aku tidak bercanda, apakah kamu mau menerimanya?" Lirih Bian. Membuat Morgan langsung memegang bahunya pelan. Sebagai isyarat agar Bian bisa bersabar dan menunggu sampai waktu yang sudah ditentukan.
Terdengar Bian menghembuskan napas pelan saat menangkap isyarat yang diberikan Morgan.
"Khemm, baiklah. Aku tau, kamu pasti tidak akan menjawab pertanyaanku, Zee! Jadi aku rasa, kamu juga tidak akan menerima cincin ini sekalipun aku tidak sedang bercanda!" Bian memasukan cincin tersebut ke dalam kotak asalnya. Ia mendorong kotak itu pada sang penjaga.
"Antar ini ke rumah!" ucap Bian. Penjaga toko itu pun mengangguk sopan. Kemudian mengamankan cincin pilihan Bian.
"Mau jalan-jalan?" Tangan Bian kini sudah beralih merangkul bahu Zeeviana. Ia mengajak Zeeviana keluar dari toko perhiasan itu. Bian mencoba untuk mengubah suasana canggung yang sempat tercipta.
Saat keduanya baru melangkah keluar dari toko. Saat itu juga dua orang gadis keluar dari toko sebelah. Dan dengan tidak sengaja salah satu dari kedua gadis itu menabrak tubuh Zeeviana. Sehingga Zeeviana hampir saja jatuh jika Bian tidak menahan tubuhnya.
Bugh...
"Zee!" Bian mendekap tubuh Zeeviana. Menahan agar tubuh gadis kecilnya tidak sampai terjantuh. Mata Bian menatap tajam ke arah dua orang gadis yang nampak tidak bersalah itu.
Melihat hal itu. Morgan pun tidak tinggal diam. Ia segera menghampiri Bian dan juga Zeeviana. "Anda baik-baik saja, Tuan, Nona?"
"Aku...," Zeeviana memindahkan tangan Bian dari pinggangnya. "Aku baik-baik saja, Kak!"
Dengan perlahan Zeeviana memutar tubuhnya menghadap kedua orang gadis yang berdiri di belakangnya. Tubuh Zeeviana tiba-tiba saja terasa kaku saat melihat salah seorang dari kedua gadis itu, yang tersenyum dengan tatapan menghina dan bahagia karena berhasil mendapatkan bukti baru tentang Zeeviana.
'Sandra? Apa yang dia lakukan di sini?' Batin Zeeviana.
"Maafkan saya, Tuan, NONA! Saya benar-benar tidak sengaja!" ucap Sandra masih dengan tatapan mata yang hanya bisa dimengerti oleh Zeeviana.
"Hmmm. Lain kali berhati-hatilah," jawab Morgan. Sementara Zeeviana masih menatap tanpa makna yang jelas ke arah Sandra.
Menyadari hal itu. Bian pun menarik lengan Zeeviana dengan lembut, "Biarkan saja mereka, Zee!" Ucap Bian karena malas meladeni kedua gadis yang tidak jelas asal usulnya itu. Bahkan masih sempat saja memperhatikan Bian dengan sorot mata aneh seperti detektif!
'Kenapa aku merasa ada yang aneh ya? Apa mungkin cuma perasaanku saja?' Batin si pria peka, Morgan.
Sebelum melangkah jauh lagi. Morgan kembali memperhatikan kedua gadis yang mulai heboh bercerita. Entah mengapa, Morgan merasa benar-benar ada hal aneh di antara gadis berambut pirang itu dengan Zeeviana. Terlihat dari tatapan mata mereka tadi yang sempat diamati oleh Morgan.
'Apakah aku perlu menyelidiki siapa gadis itu?' Batin Morgan. Namun karena merasa hal itu kurang penting. Morgan pun memilih untuk tidak mengikuti ucapan batinnya. Lagipula, ia tidak punya banyak waktu lagi untuk mengurus gadis tidak jelas seperti gadis berambut pirang itu.
Morgan pun melangkah menjauhi kedua gadis itu. Dimana kedua gadis itu ternyata malah diam-diam mengikuti langkah kaki Morgan yang berjalan mengikuti Zeeviana dan juga Bian.
"Sudah kubilangkan! Dia itu memang sok baik, sok ramah, sok polos, sok sucilah di depan semua orang! Tapi, kamu lihat sendiri kan tadi? Bagaimana Tuan itu memeluk dan merangkul pinggangnya?" bisik Sandra pada gadis di sebelahnya.
"Emm, iya juga sih, San."
Sedikit demi sedikit gadis itu mulai termakan dengan omong kosong Sandra. Yang sudah jelas hanya sebuah kebusukan yang tidak ada buktinya. Selain kesalahpahaman.
"Tadinya aku kira Zeeviana adalah gadis yang baik. Yang paham mana pekerjaan baik dan mana pekerjaan rendahan. Tapi nyatanya, semua orang rela melakukan apapun demi uang, ya, San?" Kini ia mulai terlilit dan terbelit ke dalam sarang busuk ular kobra yang sesungguhnya. Setiap apa yang keluar dari mulutnya adalah racun bagi orang di sekitarnya.
"Hmmm. Dan aku yakin, kalau Tuan tadi itu adalah pria yang berbeda dari yang kulihat sebelumnya." Sandra memutar ulang memori ingatannya.
"Ya, aku yakin. Mereka orang yang berbeda. Yang aku lihat waktu itu lebih terkesan dewasa dengan kemeja dan juga gaya berdiri dan postur tubuhnya. Dan Tuan yang tadi itu terkesan lebih muda," ucap Sandra sambil menghentikan langkah kakinya lalu menarik lengan sang teman. Mereka bersembunyi di balik sebuah patung baju. Karena mengira Morgan akan menoleh ke arah mereka.
Nyatanya, Morgan hanya melirik sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya. Ia memasuki sebuah restaurant dimana Bian dan Zeeviana berada. Masih diikuti oleh kedua gadis kurang kerjaan di atas muka bumi itu.
jdi om Mateng inikah yg akan jdi pendamping omom.
tapi benar jangan tatap matanya takutnya kena hipnotis ...