~Bahkan, goresan peluru sekalipun tak pernah sesakit ini...
Pandu tak pernah menyangka akan terjebak dalam permainan seorang wanita licik penuh rahasia bernama Celine.
Terikat dalam pernikahan bersama wanita itu tak pernah memberikan bahagia untuk Pandu. Hingga lama kelamaan, perlahan kebencian itu mulai menghilang dan menghadirkan rasa yang asing di hati Pandu.
Namun, ketika Pandu memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya, Celine malah berpamitan pergi. Tidak hanya dari rumah Pandu tetapi juga dari kehidupan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahan atau lepaskan?
Celine memasang wajah datar sambil terus membuang pandangannya ke luar kaca jendela mobil. Saat ini, dia, Pandu dan Christine tengah dalam perjalanan menuju gedung kantor Komnas Perempuan untuk menitipkan Christine disana. Tak ada pembahasan diantara ketiganya. Hanya duduk diam dengan pikiran masing-masing yang entah sedang berkelana kemana.
Berulangkali, Pandu mencoba mencari topik pembahasan. Namun, kalimat yang berusaha ia lontarkan selalu saja tertelan di tenggorokan bahkan ketika ia belum sempat mengucapkan huruf pertama. Ia bahkan terlalu takut untuk bernapas keras akibat aura dingin yang Celine pancarkan.
Ini pertama kalinya Pandu melihat sisi Celine yang seperti ini. Wanita itu seolah bukan wanita yang selama ini Pandu kenal. Ia berubah menjadi sosok yang lain dalam waktu semalam. Dan, Pandu cukup sadar bahwa hal yang melatarbelakangi perubahan Celine itu adalah dirinya. Dia yang berperan paling penting dalam melukai hati Celine.
Tiba di Komnas Perempuan, Celine masih berbaik hati mengantar Christine sampai ke dalam. Sementara, Pandu memutuskan untuk menunggu saja di mobil. Lelaki itu merasa tidak perlu melakukan apa-apa lagi untuk Christine. Tugasnya sudah selesai meski maaf dari Celine mungkin saja akan sulit ia tebus karena niat membantunya itu.
"Aku ikut ke rumah Pak Bima ya! Beliau minta ketemu di sana," kata Celine sambil berjalan memasuki kursi penumpang.
"Gimana Christine?" tanya Pandu yang turut masuk ke kursi pengemudi.
Celine menoleh sesaat sebelum menjawab, "Dia akan aman sampai proses perceraiannya selesai. Semua orang yang ada di dalam sana bisa di percaya buat ngejaga dia."
Pandu mengangguk. Lelaki itu menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas untuk meninggalkan tempat itu.
"Kamu masih marah?" tanya Pandu pada Celine.
Wanita itu masih menatap ke luar jendela mobil. Wajah dinginnya masih sama dengan yang tadi. "Marah sama siapa?" ujarnya balik bertanya.
"Aku nggak punya hak marah sama kamu ataupun Christine. Hubungan kamu dan dia, itu jadi urusan kamu. Aku nggak berhak ikut campur," imbuh Celine.
"Celine...," panggil Pandu lirih. Lelaki itu kehabisan kata-kata.
"Nggak usah bahas apa-apa lagi mengenai Christine di depan aku. Dan maaf untuk yang tadi. Bukannya aku nggak ngebolehin kamu dan Christine tinggal sama-sama, tapi aku cuma berusaha mencegah agar orang lain dan keluarga besar Pak Bima nggak berpikiran macam-macam."
Kepala Pandu rasanya ingin pecah. Marahnya perempuan memang paling menakutkan. Kini, dia mulai sedikit mengerti bagaimana perasaan seorang Bima Dirgantara jika Ellena marah. Pantas saja! Dirinya selalu jadi pelampiasan karena sebagai seorang lelaki sejati, mustahil mereka akan menyerang balik dan menyakiti hati wanita mereka.
"Christine itu cuma mantan, Celine! Dan seperti yang udah aku bilang. Baik dulu dan sekarang, dia sama sekali bukan apa-apa buat aku!"
"Aku nggak peduli!" balas Celine tak acuh.
"Nggak peduli? Terus, kenapa kamu marah? Kasih aku alasan, agar aku bisa mengerti dengan sikap kamu yang sekarang!"
Celine menoleh. Wajahnya nampak semakin kesal. "Percuma juga aku ngasih tahu kamu! Kamu tetap nggak akan bisa mengerti!"
Akh! Pandu benar-benar tak habis pikir dengan mau wanita di sebelahnya ini. Menghadapi Celine mode ngambek, sama dengan memasuki sebuah labirin besar yang jalan keluarnya akan sangat sulit untuk dicari.
Sampai di kediaman Dirgantara, Celine melangkah terburu-buru untuk masuk. Pandu yang melihatnya hanya menghela napas panjang. Kepalanya mendadak berdenyut karena terlalu pusing memikirkan.
"Bisa tunggu saya di ruang kerja saya, Celine?" tanya Bima begitu melihat Celine yang di susul Pandu memasuki ruang tengah istana besarnya.
"Baik, Pak!" angguk Celine patuh.
Gadis itu melangkah anggun menaiki tangga ke lantai dua. Memasuki sebuah ruangan di samping kamar pribadi Bima dan Ellena yang selama dua tahun belakangan menjadi tempat kerja Bima Dirgantara di rumah.
"Apa lagi ada perang dunia, Sam? Kenapa atmosfer di rumahku mendadak mencekam begini?" sindir Bima Dirgantara dengan nada mengejek. Wajah Pandu yang terlihat semrawut menjadi pemandangan yang begitu menyenangkan baginya.
"Ah... Sepertinya begitu, Tuan Muda. Saya juga merasakan hal yang sama," jawab Sam yang kompak menyindir Pandu.
Pandu mendelik ke arah Sam. Dia tak menyangka Sam akan mengikuti permainan Bima dan mengolok dirinya.
"Ada apa dengan matamu? Kau sedang menantang ku?" tanya Sam.
Pandu menggeleng cepat. Enak saja! Giliran Pandu yang mau ikut bermain, malah kini mereka yang serius. Tidak adil.
"Itu resiko yang harus kau tanggung jika berhubungan kembali dengan mantan," celetuk Bima.
"Tapi, saya hanya berniat membantu Christine. Tidak lebih!" ujar Pandu membela diri.
"Di antara Redi, Arga dan kau. Kenapa harus kau yang membantu Christine? Bukannya dua perjaka tua itu juga bisa?"
Boom!
Pertanyaan Bima sontak membuat kepala Pandu semakin pening. Betul juga! Kenapa harus dirinya? Bukankah Redi dan Arga jauh lebih bisa di andalkan? Dalam perkara latar belakang keluarga, dua sahabat baik Bima yang kini juga sudah menjadi sahabatnya itu tentu saja bukan orang yang akan mudah di lawan oleh Hasnan Pranuadji. Ayah Arga selama dua tahun terakhir sudah menjadi walikota di tempat kelahirannya. Sementara, Ayah Redi adalah seseorang yang bergerak di shadow economy atau bisnis gelap yang namanya cukup di perhitungkan juga oleh beberapa pejabat. Salah sedikit saja jika bersinggungan dengan ayah Redi, maka dampaknya kurang lebih seperti bersinggungan dengan keluarga Dirgantara.
"Sudah menyadari betapa bodohnya dirimu?" tanya Bima lagi.
Pandu mengusap wajahnya kasar. Ya, dia memang bodoh.
"Apa kau mencintai Celine?" imbuh Bima lagi.
Hening. Lelaki berlesung pipi di hadapannya masih tak mengeluarkan suara.
"Kau tuli atau apa, Pandu? Tuan Muda sedang bertanya!" bentak Sam kesal. Tindakan Pandu sudah termasuk kurang ajar bagi dirinya.
Bima menahan dada Sam yang hendak berdiri untuk memberi Pandu pelajaran. Lelaki itu tersenyum tipis. Mengisyaratkan bahwa Pandu sama sekali tidak mengusik atau membuatnya tersinggung.
"Maaf! Jujur, saya bingung!" jawab Pandu. "Saya masih belum tahu seperti apa itu jatuh cinta." Lelaki dengan lesung pipi itu tertawa kecil. "Selama ini saya sudah terbiasa berpacaran dengan beberapa perempuan hanya karena mereka yang meminta. Dan, jika putus pun itu juga karena keinginan mereka. Jadi, saya bingung. Jatuh cinta itu apa, Tuan Muda? Sementara, selama ini saya tidak pernah merasa kehilangan jika mereka memutuskan untuk pergi."
Bima mengangguk. Pandu lebih bodoh di banding dirinya dulu.
"Jadi, andai Celine pergi kau juga tidak keberatan?"
"Maksudnya? Memang, Celine mau pergi kemana?" tanya Pandu dengan tatapan tak mengerti.
"Kau bilang, jika perempuan mengajakmu berpacaran, kau akan terima. Dan, jika mereka meminta putus, kau juga tetap akan terima. Jadi, pada kasus Celine, bukannya juga sama?"
"Tentu tidak, Tuan Muda. Celine berbeda. Dia sekarang istriku. Bukan pacar seperti perempuan-perempuan sebelumnya."
Bima tersenyum. "Jadi, kau menolak melepaskannya andai suatu hari dia akan meminta itu?"