Harya Aditya Mura, seorang pemuda yang hidup dalam kesederhanaan di desa ternyata bukan sekedar pemuda desa biasa.
Satu persatu orang datang padanya dan menyuruh nya untuk pulang ke rumah. tetapi bukannya rumah nya di Desa?
Rahasia apa yang selama ini disembunyikan darinya? tidak, rahasia apa yang tidak diketahuinya selama ini.
Kisah perjalanan seorang pemuda Desa yang ingin mencari tahu siapa dirinya setelah ditimpa kemalangan saat masih kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloud_white, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Keempat remaja itu berbalik menatap kearah pintu kelas, Kumpulan Mahasiswa Paling Populer sedang berada di depan pintu dengan tatapan tajam.
Hanfi, Kim, Alex, Xavier, keempat Mahasiswa idaman yang paling diminati serta dikejar-kejar para kaum hawa sedang berada di pintu menatap mereka dingin.
"Apa kalian pernah diajari etika oleh orang tua kalian" ucap Kim menatap jijik
"Aku rasa mereka pernah hanya saja tidak masuk di otak karna mereka terlalu bodoh" ucap Xavier menimpali perkataan Kim
"Aku sekarang ingat, kau adalah anak kurang ajar dari Desa kumuh itu kan!" ucap Alex menunjuk Harya yang tersenyum ramah
Hanfi menatap Alex dengan tatapan kosong, Alex yang merasakan itu hanya merinding saja hingga tak berani menatap mata Hanfi.
"Apa kau segitu bodoh nya sampai baru sekarang mengenali ku? aku sudah mengenali mu dari lama sekali" ucap Harya masih tetap dengan senyuman nya yang mengintimidasi
"Ugh, sialan"
Hanfi berjalan kearah tempat duduk nya dan duduk dengan damai, tak lama kemudian pak Edy masuk dengan Mahasiswa lainnya yang berdatangan.
"Hanfi, teman mu agak aneh ya" bisik Harya pada Hanfi yang disebelah nya
"Aku tidak kenal dengan mereka, jangan ajak aku bicara" jawab Hanfi yang juga berbisik
"Hari ini kita kedatangan Mahasiswa pindahan, silahkan memperkenalkan diri" ucap Pak Edy kepada seluruh isi ruangan dengan tegas
Jessi berjalan menuju kedepan dimana ia bisa dilihat seluruh ruangan, badannya yang gemulai indah berhasil mendapatkan mata para pria disana.
"Perkenalkan saya Jessi Evangeline, saya pindahan dari Universitas London. Mohon bantuannya ah dan juga" ucap Jessi kemudian menunjuk Rama yang penuh luka lebam
"Pria itu adalah calon suami ku jika ada yang berani mendekatinya maka, kemarilah kalian kutu kecil" lanjutnya dengan wajah yang menakutkan
"Bagaimana jika aku kerjain si Jessi ini, untung buat balasan yang kemarin" batin Harya
Harya pun mengangkat tangannya tinggi, ia tersenyum mengejek kearah Jessi.
"Mba Jessi, saya sudah memperkenalkan Rama sama teman saya di tempat kerja gimana dong, mereka minggu depan bakal kencan" ucap Harya, Rama yang mendengar itu langsung berlari ke tempat duduk Harya dan meninju nya
"KAU INI ANAK SIAPA?! JANGAN SEMBARANGAN BERBICARA" teriaknya sambil meninju pipi kiri Harya hingga ia terjatuh dari kursi nya
Satu ruangan panik karna mereka berdua memulai perkelahian, pak Edy yang berusaha melerai malah tersungkur kebelakang karna di dorong dengan keras.
Hanfi menatapi perkelahian itu dengan tatapan yang menakutkan dan saat Harya ingin menonjok wajah Rama, ia malah ditarik Hanfi keluar dari Kelas menghindari keributan.
"Jangan sampai luka di wajahmu terlalu parah, akan bahaya soalnya" ucap Hanfi memperingatkan saar berada di luar kelas
"Memang nya kenapa? bukankah perkelahian memang seperti itu hehe" jawab Harya dan dengan baju mengelap wajahnya yang kotor
"Nenek akan datang"
"......"
"Nenek...yang ada di Canada?"
"Iya, Nenek akan datang dengan Paman dan Bibi, mental mu masih OK kan?"
Harya menatap Hanfi dengan mata kosong tak percaya, ia selalu dikejutkan seperti ini setiap kali ia sedang memulai sesuatu.
"Kapan akan sampai Rumah?" tanya Harya yang sudah kembali normal
"Katanya Malam nanti kisaran jam 9 atau 10" jawab Hanfi dengan pose berfikirnya
"Baiklah, masih sempat...jika kau pulang nanti beritahu Ibu kalau aku pulang terlambat ya" ucap Harya dan berbalik hendak pergi
"Memangnya kau mau kemana...kak?" tanya Hanfi dalam sekejap membuat Harya tersenyum
"Kerjalah, dari mana dapat uang kalau tidak kerja" ucapnya dan melambaikan tangan sebagai perpisahan dan masuk kedalam kelas kembali
Hanfi masih disana terdiam dan akhirnya memutuskan untuk masuk kelas juga, sedangkan ada sepasang telinga yang mendengarkan komunikasi mereka dibalik sebuah pilar.
"Kak?! mengapa Fifi memanggil dirinya Kak?!"
.
.
Seperti biasa, pelajaran hari ini berjalan dengan lancar seperti hari-hari biasanya walau ada sedikit masalah yang dimulai oleh Harya, saat pulangan Harya menyempatkan diri untuk mendatangi sebuah Warung di pinggir jalan dan makan siang di sana.
"Total semuanya 15.000 ya nak, sekalian minum nya tadi" ucap pemilik Warung
Harya menyerahkan uang sebesar 20.000 dan segera pergi tanpa menunggu kembalian.
"Kira-kira di tempat Kerja ada berita seru apa ya" gumamnya seorang diri
Harya terus berjalan hingga ia melihat sebuah wajah yang nampak Familiar, ia mendekat dan menyapa orang tersebut.
"Halo kek Hannes" ucap Harya mengagetkan pria tua itu
"Yaampun bikin kaget saja, ngapain kamu jalan-jalan diluar begini" jawab Hannes dan melempar sekaleng Kopi pada Harya
"Mau pergi kerja, Kakek sendiri ngapain" ucap Harya dan membuka minuman tersebut
"Nunggu seseorang, kepo banget kamu jadi anak muda" goda Hannes membuat Harya cekikikan
"Yasudah, Harya pergi dulu ya kek...mari"
Harya mempercepat langkahnya hingga ia sampai di depan pintu Cafe, semua Karyawan tengah mengerubuni Mbak Cindy dan Bang Raul entah karna apa.
"Ada apa nih rame-rame, bagi-bagi beras kah?" ucapnya menarik perhatian
"Eh Harya! lama banget kamu masuk kerja...kirain sudah berhenti" ucap mas Udin dan langsung menyenggol bahu Harya
"Iya nih, tukang cuci piring kita kok baru datang sekarang, penuh tuh" ucap mbak Cindy menimpali
"Abang sampai kesusahan jadi kasir karna ramai terus loh Harya"
Harya hanya tertawa karna tak tahu harus menanggapi bagaimana, ia akhirnya angkat suara untuk bertanya.
"Kenapa ngumpul-ngumpul tadi mbak?" tanya Harya pada Cindy
"Tadinya mau nanya alamat rumah kamu sama pak Wahyu buat ngantar undangan, eh kamu nya malah datang sendiri" jawab mbak Cindy sambil menyerahkan sebuah undangan pernikahan dengan nama penerima Harya disana
"Undangan nikah? siapa yang nikah?" ucapnya kebingungan
Mas Udin cekikikan sambil menyuruh Harya membuka undangan tersebut, ia membuka plastiknya dan membaca isi undangan.
"Pernikahan Cindy Raselia dan Haraul Rahmat, eh mas Raul sama mbak Cindy?!" ucapnya tak percaya
Mbak Cindy dan mas Rauk hanya tertawa malu sambil bergandengan tangan, Harya menatap tak percaya kepada keduanya.
Biasanya mbak Cindy selalu mengomeli mas Raul entah karna tidak rapi atau membuat pelanggan tak nyaman tapi sekarang, dalam beberapa hari lagi mereka akan menjadi sepasang suami istri.
"Mbak sama Mas pacaran kah?" tanya Harya dan merapikan kembali undangan tersebut
"Sempat, 2 bulan habis tuh mas Raul langsung ngelamar Mbak, haduh malunya" jawab mbak Cindy dengan wajah merona
"Harya juga, habis Kuliah cepat-cepat nikah...jangan pas sudah tua baru nikah" ucap mas Raul menggoda Harya
"Mana bisa nikah kalau tidak ada calonnya, cari calon dulu lah!"
"Hahahaha!"
Saat pak Wahyu sudah tiba di Cafe, mereka semua langsung mulai bekerja hingga Shift mereka selesai tepat pada pukul 10 malam nanti.
Harya terlalu banyak mendapat undangan pernikahan yang harus ia hadiri, apa sekarang musim nikah? begitu pikirnya
...-----------------...
udah baca dari awal endingya kaya taaaai anjiiing..
Emang Noveltoon anjiiiing