NovelToon NovelToon
Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: misshel

WARNING!!!!

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN!!!


Mengisahkan dua orang pria dan wanita yang terlibat sebuah pernikahan tanpa cinta. Tetapi sama-sama saling membutuhkan pernikahan tersebut demi kepentingan masing-masing.


Menghadapi pria yang dingin dan kaku, Naja sering menahan sesak karena tindakan dan ucapan pria yang telah menjadi suaminya itu.


Sedangkan Excel, yang tidak pernah berhubungan dengan wanita selain Mikha, harus menyesuaikan diri dengan istrinya yang ceroboh dan pemarah.


Mampukah mereka mempertahankan pernikahan mereka?


Hanya cerita biasa ajah, hiburan semata!

Alur selow Yess ✌, no visual di dalamnya...visual di taro di igeh...

21+ AREA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Waktu Yang Salah?

Kereta yang ditumpangi Naja terasa melambat. Subuh bahkan belum menggelar panggilan. Namun, stasiun utama kota ini sudah ramai dengan hiruk pikuk kegiatan manusia. Naja turun dari kereta dengan tangan sibuk mendial nomor Tara. Seharusnya Tara menghubunginya terlebih dahulu, seperti yang telah di janjikan sore tadi.

Celingukan, sambil terus mencoba menghubungi Tara.

“Tunggu Na, aku segera sampai ...,” sahut Tara setelah panggilan itu terhubung.

“Oke ... aku tunggu di depan stasiun aja ya!” Naja sudah menurunkan ponselnya, tetapi urung ketika Tara berteriak diujung sana.

“Jangan ... aku sudah sampai di depan stasiun. Kamu tunggu aku aja.” Titah Tara dengan suara yang masih meninggi.

“Oke-oke, aku tunggu aja di dalam." Naja segera mematikan sambungan telepon.

Naja mendaratkan tubuhnya di bangku yang tersedia di sana, setelah meregangkan tubuhnya sejenak. Memang, dia nyaris tak memejamkan mata sepanjang perjalanan, selain karena pemandangan malam yang begitu menakjubkan juga pikirannya berputar akan kertas yang masih tertinggal di saku seragam kerjanya. Sayang juga, Naja sudah mengoper bajunya tersebut ke laundry sesuai saran Lisa.

“Apa aku menghubungi Lisa saja ya?” gumam Naja. Tangannya sudah setengah jalan menggulir daftar kontak dimana nama Lisa tertera. Tetapi, Naja segera mengerem ibu jarinya, menggantung di atas layar yang menyala dengan nama Lisa terpampang jelas.

“Kasihan Mbak Mikha nantinya jika sampai berita ini tersebar.” Naja segera keluar dari aplikasi per pesanan tersebut. Memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku hoodie yang berada di bagian depan tubuhnya. “Kalaupun hilang itu bukan masalah kan? Toh kertas itu harusnya menjadi makanan tong sampah.” Bahu Naja terangkat. Bukan urusannya juga kan?

“Beberapa hari ngga kumpul, bolotmu makin menjadi-jadi ya, Ja?” sindir Tara yang berdiri di belakang Naja. Pria itu juga mengenakan hoodie, hanya warnanya yang membedakan.

“Ish ...,” Naja terlonjak. Menoleh secepat kilat sambil merapatkan giginya. Adiknya itu selalu membuatnya kesal. “Bisa ngga kalau muncul jangan di belakang? Bikin kaget, tahu!”

“Kau saja yang suka melamun ...,” balas Tara tak acuh dan santai. Mata pria ini sedikit sembab, terlihat imut sebab muka bantalnya tampak menggemaskan.

“Nih bawa ...!” Naja masih dongkol mendesakkan tas gendongnya yang tak seberapa berat ke dalam dekapan Naja.

“Kasar banget sih ...,” gerutu Tara, tetapi pria itu tetap mengait tas Naja di atas bahunya, lalu merangkut bahu Naja agar mereka berjalan bersama.

“Bapak nginep di mana Ra?”

Tara membisu sejenak, tampak menyusun jawaban. “Tak jauh dari rumah sakit. Ayo ...,” Tara menarik tangan Naja agar segera melangkah lagi setelah Naja menghentikan langkahnya.

***

Kebingungan sebab Tara membawa Naja ke sebuah rumah singgah yang dikhususkan bagi pasien penderita kanker. Kening Naja seolah penuh dengan jutaan sangkaan, tetapi dia masih menahan pikiran paling buruk hingga penglihatannya menemui sang Bapak.

Orang pertama yang menyambutnya adalah Puspita. Adik dari bapak Naja itu tampak berkaca-kaca saat melihat Naja. “Sebaiknya istirahatlah dulu Ja, biar Bulik buatkan teh.”

“Nanti saja Bulik, aku mau melihat Bapak.” Seruan Naja membuat Pita yang sudah berbalik, mengurung langkahnya.

Naja bergantian menatap dua orang yang biasanya tampak ceria menyambutnya, seolah tindakan mereka menegaskan seberapa buruk keadaan di sini saat ini.

Tanpa berucap, Naja berjalan lebih cepat menuju ruangan lain yang sepertinya ditempati Edi.

Mata Naja memanas saat melihat Edi tengah terbaring menatap pintu di mana Naja diperkirakan muncul. Pria itu seolah menunggu kehadiran putrinya. Senyum lemah terukir di bibir Edi, membuat Naja tak mampu berkata-kata.

Naja segera berlari memberi ciuman di punggung tangan kurus Edi, yang seketika menjadi basah oleh air mata Naja. Rasa bersalah lah yang pertama berhamburan keluar dari dalam hatinya. Entah mengapa, Naja tiba-tiba merasa semua ini adalah salahnya. Terlebih, saat Edi mengusap kepala Naja. Rasa itu semakin kuat menusuknya.

“Sudah sampai, Nak,” suara yang dirindukan keceriaannya kini terdengar sendu. Ibu yang biasanya penuh semangat kini terdengar lesu.

Naja mengangkat wajahnya, “Iya Bu, baru saja.” Naja bangkit dan segera menubruk tubuh ibunya. Mengadu tangis yang seolah mewakili perasaan mereka. Tak ada suara selain tangis membelah subuh yang mulai memutih.

***

Naja mengembuskan napas, mengosongkan rongga dadanya yang terasa sesak. Mendengar penuturan Wasti, Pita dan Tara, Naja hanya bisa memaklumi.

“Maafkan Bulik yang membohongimu, Ja. Bulik tidak bermaksud apa-apa,” Pita yang sejak awal duduk lesehan di atas tikar lipat ini, terus melunakkan Naja dengan memberi belaian lembut di punggung Naja.

“Aku ngerti kok Bulik. Tetapi seharusnya aku yang peka, Bulik, Aku terlalu asyik dengan duniaku hingga aku mengabaikan Bapak.” Lirih Naja sambil mengusap air mata yang juga tak mau berhenti menuruni pipi.

"Jangan salahkan dirimu, Ja ... ini adalah cobaan untuk keluarga kita. Kita harus saling menguatkan, lagi pula ...,"

Pita berhenti sejenak, "Lagi pula, Bapakmu sudah mendapat pengobatan yang bagus." Terdengar embusan napas Wasti yang begitu keras.

“Istirahatlah Nduk, kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh ...,” Wasti mengusap puncak kepala hingga punggung Naja penuh kasih. “Biar Bulik dan Tara yang menyiapkan sarapan.”

Naja mengangguk, bila dirasakan benar, tubuhnya terasa lelah bahkan kepalanya berdenyut nyeri. Membenarkan posisi bantal di atas tikar yang sejak tadi menjadi alas duduk mereka, Naja merebahkan tubuhnya.

“Naja ...,” panggil Edi saat Wasti, Pita dan Tara sudah meninggalkan ruangan ini.

“Ya Pak?” sahut Naja bangkit kembali dari rebahan yang sebenarnya nyaman dan duduk di tepi ranjang. “Bapak haus?”

Edi menggeleng lemah, “tidak Nak ... Bapak hanya ingin melihatmu saja.”

Ucapan Edi membuat Naja melumpuh seketika, rasa takut kehilangan menyeruak tanpa bisa dicegah. “Bapak bisa terus melihatku, aku akan tetap di sini sama Bapak."

Naja menggenggam tangan kurus bapaknya. Tangan yang selama ini menuntunnya.

Edi tertawa lirih, tetapi kemudian terbatuk-batuk. "Memangnya kau tidak mau menikah?" ucap Edi setelah Naja memberinya minum untuk meredakan tenggorokannya.

Naja bangkit untuk meletakkan lagi gelas dan sedotan ke atas meja. "Naja akan menikah setelah Bapak sembuh ...," sekali lagi Naja merasakan sesak hingga memenuhi tenggorokan. Mencoba menahan tangis dengan mengigit bibirnya kuat-kuat.

"Menikahlah Ja ... selama umur masih menaungi bapak," Naja masih setia berlama-lama di depan meja, membelakangi Edi. Naja menengadah demi mencegah bulir bening yang mengucur bagai hujan membasahi wajah Naja.

"Tetapi jangan menikah dengan Syailendra ...!" tegas Edi.

"Jangan tanya kenapa, Nduk ... Bapak hanya ingin hidupmu bahagia!"

"Tapi Pak ...," Naja membalik tubuhnya tanpa berusaha menyeka genangan air mata di pipinya. "Aku hanya bisa hidup bahagia dengan Syailendra, Pak." imbuh Naja lirih agar tidak terdengar seperti bantahan.

"Jika kamu sayang Bapak, lebih baik jangan melanjutkan hubunganmu dengan Syailendra. Lagi pula, Bapak dan Ibumu sudah menerima lamaran pria lain, Nduk. Itulah sebabnya, kamu Bapak suruh pulang hari ini."

Naja menelan ludahnya susah payah. Dalam hati Naja sudah demo, tidak terima akan keputusan orang tuanya. Berorasi tak karuan, mendesak Naja menyuarakan kemauannya.

Tetapi, akan menjadi berbeda jika keadaan tidak semengenaskan sekarang. Saat hari buruk dan bahagia bersua di satu waktu. Mengenaskan bagi kisah hidup Naja. Saatnyakah, mengubur mimpinya untuk bersama Ai? Tiba-tiba saja air matanya menolak turun demi mengiba di hadapan bapaknya. Kelemahan yang membuat Naja selalu mendapatkan apa yang dia mau.

"Aku keluar dulu Pak,"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

1
Jessica
Luar biasa
Darmi Hana
Kecewa
Surati
Bagus
Raghiel Phoetra
Luar biasa
Diana Afra
mantap jayaa
jumirah slavina
sial'y bakal bikin km k'canduan
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rini Astria
Kecewa
Rini Astria
Buruk
futurewife
👍
watini fitrah
kmu lebih bodoh ganteng kaya culun😀
citra ucit
jgn2 mikha lagi kekasihnya tristan
El aisya
akhirnya🤣🤣
Widhi Labonee
syukaaaaaakkk
Asha Zhafira
🥰🥰🥰
Dewi Chusnual
😆😆😆biasanya sepanjang... tp ini sependek ,bisa aja Thor😁
Nurwana
berikan kebahagiaan untuk Ai Thor.....
JandaQueen
𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚒 𝚖𝚒𝚔𝚑𝚊 𝚐𝚊 𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚍𝚒 𝚙𝚎𝚗𝚓𝚊𝚛𝚊 𝚔𝚛 𝚗𝚒𝚔𝚊𝚖 𝚋𝚊𝚙𝚊𝚔 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊...
JandaQueen
𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚐𝚊𝚐𝚊𝚕 𝚏𝚊𝚑𝚊𝚖, 𝚔𝚎𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚊𝚗 𝚗𝚊𝚓𝚊 𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚙𝚊 𝚢𝚊, 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚎 𝚍𝚒𝚜𝚞𝚛𝚞𝚑 𝚋𝚊𝚕𝚒𝚔 𝚋𝚊𝚍𝚊𝚗. 𝚋𝚒𝚜𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚒 𝚝𝚎𝚕𝚒𝚗𝚐𝚊 𝚢𝚐 𝚋𝚒𝚔𝚒𝚗 𝚎𝚡𝚌𝚎𝚕 𝚖𝚛𝚒𝚗𝚍𝚒𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚜𝚌𝚘 𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚢𝚊... 🤔
Suka Baca
Sungguh Thor karyamu bagus.. kata2 nya warrbiasa. 👍🏻 tetangga aku pinjem, jempolku cuma 2, kurang buat njempoli karyamu
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
JandaQueen
𝚍𝚞𝚑 𝚎𝚡𝚌𝚎𝚕, 𝚔𝚊𝚕𝚘 𝚗𝚐𝚘𝚖𝚘𝚗𝚐 𝚜𝚊𝚗𝚐𝚎𝚞𝚗𝚊𝚑𝚗𝚊 𝚠𝚊𝚎. 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕 𝚐𝚞𝚎 𝚖𝚊 𝚔𝚎𝚕𝚊𝚔𝚞𝚊𝚗 𝚕𝚘. 𝚐𝚞𝚎 𝚔𝚞𝚝𝚞𝚔 𝚕𝚘 𝚋𝚞𝚌𝚒𝚗 𝚜𝚎 𝚋𝚞𝚌𝚒𝚗2 𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚎 𝚗𝚊𝚓𝚊...😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!