Kisah cinta seorang gadis cantik yang rela mengorbankan masa depan demi kakak kesayangannya. Anin rela menikah dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
Anindira, harus menjadi pengantin pengganti kakaknya yang kabur. Tak disangka sebelumnya, jika hari ini dia akan menjadi seorang pengantin dan menikah dengan calon suami kakaknya sendiri.
Akankah rumah tangga Anin dan Rico bertahan lama dan membuahkan benih cinta atau sebaliknya?
ikuti terus kisahnya....
ig :sitijenab451
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Jenab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
“Mau kemana hm?”
Baru saja Anin ingin segera kabur ke kamar mandi, tangannya sudah di cekal oleh Rico. Pria itu semakin dekat dengan telinganya,membuat Anin bergidik ngeri.
“Ak- aku ingin membersihkan tubuhku.”
“Kau bilang merindukan gayaku.”
Aaaaa apasi, apasi. Aku hanya salah ucap saja tadi.
“Gaya yang mana hm?”
Aaaa bambang! Udah dong
jangan di bahas lagi. Pipi Anin memerah seperti tomat. Rico dapat melihat
jelas, pria itu semakin tidak tahan menikmati istrinya yang menggemaskan.
Apalagi ucapan Anin tadi membuat jiwa laki-laki nya tertantang. Jadi jangan salahkan jika dia bahas itu sekarang, kan?
“Minioritas apa wheelbarrow hmm?”
Aaaa gila,
gila. Dia benar-benar membahasnya.
“Tu...”
Kan salah lagi, Anin
semakin bergidik ketika Rico menggigit kecil lehernya.
“Hm suamiku, bukankah kau
ingin berbincang dengan Sekertaris Ju ... ish.” Lagi-lagi Rico menggigit kecil
lehernya. Pasti karena menyebut nama sekertaris itu dah.
Oh ya ampun,
kenapa ribet banget mau kabur dari badak ini.
“Kubilang jangan ada pria
lain!”
“Iyy- hmm.” Memejamkan
mata.
Tangan! Tangan
anda tolong kondisikan tuan.
Tok, tok, tok.
Tangan Rico berhenti,
telinganya bergerak fokus.
“Maaf tuan muda,
sekertaris Juna sudah menunggu Anda.”
Huft! Akhirnya.
Anin tersenyum hangat pada
Rico, berharap badak tua ini segera menyingkirkan tangannya dari dalam bajuku. Jauh dalam
hatinya kegirangan bukan main. Ah Pak Mud, aku padamu loch. Cukup lelah menghadapi badak tak ber pri ketidakmesuman ini akhirnya selesai
juga.
“Pergilah, kita lanjut
nanti ya.”
Ah mulut!
Ngomong apalagi si.
Sumpah, jika bisa aku
kutuk kau jadi lambung! Ucapanmu selalu saja keluar tanpa seijinku.
Bibir Rico tertarik
sedikit, menyambar bibir Anin dan merapatkan tubuh mereka. Menikmati benda
kenyal itu hingga akhirnya pergi meninggalkan Anin yang sudahbernafas naik turun.
“Aaaa gila!” Teriak Anin
sambil loncat masuk kedalam kamar mandi. Mengguyur seluruh tubuh juga otaknya
yang panas. Sentuhan tiap sentuhan Rico selalu membuat otaknya traveling tak
berprikemanusiaan.
---
“Sudah kau putuskan?” Suara dingin menghiasi ruang kerja yang cukup luas.
Ada tiga manusia di dalamnya, Rico duduk di kursi kebesarannya dengan tangan
bersilang di dada tak lupa Pak Mud di sampingnya yang masih setia mendengarkan
perintah apa selanjutnya. Sedang Sekertaris Juna berdiri sambil tertunduk di
depannya. Tak sedikitpun ia tegakkan kepalanya sejak kaki Rico menapak dalam
ruangan tersebut.
“Sudah tuan.”
Hening. Entah apa yang difikirkan kedua pria menyeramkan itu. Tapi
sepertinya, hal besar akan terjadi jika Sang Sekertaris sampai bersimpuh sampai
segitunya. Atau jangan-jangan, karena menolong Anin. Tidak mungkin kan?
“Katakan!”
“Saya serahkankedua tangan ini.” Mempersembahkan kedua lengannya.
Mata Pak Mud membulat.
Ada apa lagi mereka? Tdak mungkin sekertaris Juna korupsi, kan?
Rico tergelak membuat Pak Mud bergidik ngeri. Pria itu memang kejam tanpa
ampun, tapi tidakkah ada sedikit ampun untuk Sekertaris Juna setelah dia
mengabdikan hidupnya untuk Rico?
Rico beranjak, meraih pisau kecil yang sejak tadi bertender di depan
matanya.
Tidak, tidak! Sekertaris Juna kaburlah. Pak Mud menatap cemas pada
Sekertaris Juna yang tetap tenang. Pria itu malah bersimpuh dan menaikkan kedua
lengannya.
Perlahan Rico berjalan, mengelilingi Sekertaris Juna hingga akhirnya berdiri tepat di
hadapannya. Menatap tangan itu dengan tajam.
Bayang-bayang penolongan istrinya terus berputar di kepalanya, bukan
terlihat seperti malaikat. Melainkan seperti penghianat yang memeluk istrinya
karena posisi mereka yang berhadapan dengan tangan melingar di pinggang
istrinya.
Ancang-ancang, Sekertaris Junamenutup mata, begitu juga dengan Pak Mud. Namun takut-takut, pria itu
kembali membuka mata.
Dan
Srett!
Andara bergetar kaget ketika pisau yang ia harapkan mendarat di lengan
Sekertaris sialan itu malah mendarat tepat di samping wajahnya. Bahkan gelas
yang bawa hingga bergerak, untung saja tidak tumpah.
“Nona, ada yang anda butuhkan?” Pak Mud segera berlari menghampiri Andara.
Suara Pak Mud membuat Sekertaris Juna tersadar dan berbalik menatap Andara
yang sudah berdiri tepat dibalik pintu yang sedikit terbuka.
Andara gelapan. “Ah tidak! Ak- aku hanya ingin memberikan minum ini untuk
Rico.” Ucapnya gugup. Pak Mud berbalik menatap tuannya yang sejak tadi hanya
diam menatap Andara tajam.
“Kemarilah.”
Takut-takut Andara melangkah, pria yang satu tahun lalu ia temui ternyata
tidak berubah. Malah lebih menyeramkan.
“Bawa pisaunya.”
Hah? Andara ketakutan namun tetap berbalik dan mengambil pisau tajam yang masih
menempel di pintu itu. Dia takut kena hukum karena tertangkap basah menguping
pembicaraan Rico diam-diam. Sial! Kukira pria itu tidak menyadarinya tadi.Gumam Andara.
“Ini Rico.”
Meletakan di meja tanpa mau menyerahkan ke tangan Rico langsung, takut jika
Rico tiba-tiba menyerangnya.Setidaknya dia ada
jeda waktu kabur jika Rico mengambil pisau itu, kan?
“Itu untukku?” Masih dingin. Menatap gelas berisi jus
yang masih setia di genggaman Andara.
“I-iyya.”
“Pas sekali aku sedang haus.” Menyambar gelas dan ingin langsung
meneguknya.
“Tapi Rico ....”
“Hmm?”
Aaaa bagaimana ini! Kalau ketahuan bagaimana. Melihat hukuman yang akan
dilayangkan pada Sekertaris Juna membuat Andara ketakutan jika rencananya
terbongkar.
“Aku lupa memberinya gula, ak- aku ragu rasanya akan enak.”
“Tidak apa, aku suka yang sedikit asam.” Mengedipkan mata kemudian meneguk
gelas itu hingga tandas. Andara menelan salivanya susah menatap Rico berharap
apa yang ia takutkan tidak terjadi.
Bugh.
“Rico!” Andara bergegas membantu Rico yang kelimpungan. Tak ketinggalan
Sekertaris Juna dan Pak Mud ikut berlari cemas membantu tuannya.
“Ada apa dengan anda tuan?”Tanya Sekertaris panik,
matanya menghunus tajam pada Andara yang memberika minum.
“Panas! Tubuhku panas. Kepalaku juga tiba-tiba pusing.” Rancaunya.
“Saya antarkan anda ke kamar tuan.”
“Tidak!” Jawab Andara segera membuat Pak Mud dan Sekertaris Juna saling
tatap.
“Hm, maksudku. Sebaiknya Rico dibawa ke kamarku, aku akan membantunya
menghilangkan pusing dan panasnya.”
Ngaco ya, punya istri ko di bawa ke kamar wanita lain.
Ucapan Andara tentu tidak di dengar oleh sekerataris Juna. Pak Mud
membopong Tuan Rico kekamarnya, sedang Sekertaris Juna menghadang Andara yang
kekeh membawa Rico ke kamarnya.
“Minggir!”
“Tidak!”
“Minggir kubilang Sekertaris sialan!”
Sekertaris Juna tak mengindahkan, pria itu malah menarik Andara untuk
kembali ke kamarnya.
Di depan kamar.
“Kau sudah menukar gelasnya?”
“Sudah tuan.”
“Baik pergilah! Aku khawatir Aninku kepanasan dan tidak kuat menahannya.”
Flasback on
Dengan terburu-buru Andara memasukan sesuatu pada gelas, sesekali matanya
menoleh kebelakang memastikan kepala pelayan itu belum kembali.
“Ini handuknya nona.”
“Oh astaga! Kau mengejutkanku.” Membuang kemasan itu asal.
“Maaf nona.” Mata Pak Mud menyipit.
“Untuk siapa jus ini, nona?” Menatap kedua gelas yang berisi jus mangga.
“Ini untuk Rico.”
“Satu lagi?”
“Kau boleh meminumnya, karena aku sedang bahagia aku membuang percuma
untukmu. Kapan lagi kau bisa meminum jus buatan ku kan?” Baru saja ingin meraih
gelas yang dimaksud untuk Rico, suara Fattar kecil memenuhi pendengarannya.
“Mommyy!!” “Fattar! Jangan lari sayang. Nanti kamu jatuh.”
Tanpa berfikir panjang, Pak Mud menukar kedua gelas itu dengan cepat.
“Oh tampannya mommy,belum tidur?”
“Fattal gk bisa tidul mommy.”
“Oh anakku, ayo mommy temanin.”
“Saya permisi nona, dan terimakasih jusnya.”
“Hmm.” Jawab Andara tanpa menoleh Pak Mud sedikitpun.
---
“Maaf tuan muda, Sekertaris Juna sudah menunggu anda.”
Senyap, tidak ada sahutan. Pak Mud masih setia di tempatnya, telinganya
menajam sedikit mendengar suara lenguhan dari dalam. Menelan saliva susah.
Sabar, ini ujian!
Cukup lama menunggu, hingga akhirnya sang tuan tuan muncul dari balik
pintu. Terlihat bibirnya sedikit basah, Pak Mud menunduk manatap kaki Rico yang
bersih.
“Untuk siapa jus itu?” Tanya Rico dingin ketika Pak Mud datang membawa jus.
“Ini tuan,bla bla bla.”
Mata Rico menyipit, terdiam memikirkan keuntungan dari yang di buat oleh
Andara.
“Berikan itu pada Anindira dan pastikan dia meminumnya.” Berlalu
meninggalkan Pak Mud menuju ruang kerja.