Gavril Mahesa harus rela memendam cinta kepada sahabatnya sejak usia enam belas tahun.Dan selama itu pula,Gavril berjuang untuk mendapatkan cinta sahabatnya itu,dari doa doa disetiap sujudnya.
Hingga akhirnya Tuhan mengabulkan apa yang ia inginkan,didetik detik terakhir keputus asaannya.
Berkat rencana kedua orang tuanya,dan juga sang sahabat,Gavril akhirnya bisa menikahi wanita sahabatnya itu.
Namun setelah pernikahan itu lagi lagi,Gavril harus kembali berjuang dengan kekuatan doa dan cintanya kembali agar sang istri mau menerima ia sebagai suami seutuhnya.
Konflik,sakit hati pertengkaran,kecemburuan mewarnai lernikahan mereka.Sampai akhirnya kebshagiaan itu pun datang.Tuhan kembali memberikan apa yang Gavril inginkan.
Sampai akhirnya kabar menyakitkan itu datang.
Kabar yang merenggut semua asa dan harapan kebahagiaan Gavril bersama istrinya.Dan Gavril kembali harus berjuang dengan kekuatan doa dan cintanya.
Kabar apakah itu.?
Dan apakah kali ini kekuatan doa dan cinta Gavril akan kembali membuat Tuhan memberikan apa yang ia inginkan..?
Inilah CINTA DAN PERSAHABATAN
Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ini ya..! VOTE LIKE RATE dan juga KIRIMKAN HADIAHMU sebanyak banyaknya.TERIMA KASIH readers...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji dan kesepakatan
Gugusan awan berarak dilangit Jakarta yang jingga, menambah semarak suasana ibukota senja ini, yang kondisi jalanannya nampak mulai dipadati bermacam jenis kendaran, bahkan trotoar pun nampak ramai dengan para pejalan kaki, area khusus bagi para pedagang yang memang dibuka hanya pada sore hari hingga larut malam, juga nampak sudah mulai beroperasi.
Dan disini, disalah satu pusat kuliner Lenggang Jakarta, Gigas masih betah berada didalam kabin kendaraannya, yang terparkir ditempat yang sudah tersedia. Manik hitam sepekat arang miliknya terus menatap lurus kearah jarum jam keangka satu, yang disana ada Zania tengah berbincang dengan dua orang pria dan satu wanita. Jika dilihat mereka memiliki usia yang sama, jadi bisa dipastikan itu adalah teman teman gadis itu.
Hampir empat puluh lima menit, Gigas menghabiskan waktu guna menguntit gadis yang ia cintai. Sampai dimana Zania dan ketiga temannya itu beranjak dari tempat mereka, dan mengarah kesebuah kendaraan roda empat berwarna merah. Dengan cepat Gigas keluar dari kabin kendaraan, dan berlari kearah Zania.
"Pulang sama gue..!" ucap Gigas seraya mencekal pergelangan tangan Zania, mencegahnya untuk memasuki kendaraan. Gadis itu pun terperanjat, dang menatap Gigas dengan penuh selidik. Begitu juga dengan teman teman Zania.
Tanpa memperdulikan tatapan Zania dan teman teman gadis itu, juga seruannya seraya mencoba melepaskan cekalan dipergelangan tangan, Gigas menarik perlahan Zania, hingga memaksa gadis itu untuk mengikuti langkahnya
"Apaan sih loe..?" tanya Zania setelah ia berada didalam kendaraan bersama sang pemiliknya.
"Kenapa loe menghindar dari gue..?" tanya Gigas seraya menatap netra Zania yang bermanik cokelat kehitaman "apa karena masalah waktu itu..?"
Setelah kejadian dua bulan lalu, yang dimana Gigas menyatakan perasaannya, Zania terus saja menghindari pria itu. Bahkan saat Gigas singgah dikediamannya bersama Gavril dan Gaufar, Zania tak mau menemui mereka atau hanya sekeder menyapa saja, menoleh pun Zania tidak lah mau.
Zania mendengus dengan mata yang beralih menatap kedepan "Enggak ada yang menghindar, biasa aja gue perasaan."
"Jangan merasa kalau loe itu masih tetap sama seperti sebelum gua menyatakan perasaan. Loe tau pasti akan sikap loe kegue gimana." balas Gigas
Zania menghela nafas "gue lagi skripsi, gua mau fokus kesana. Kemaren kemaren gua kecapean aja mungkin, kurang tidur juga. Jad----
"Zania...!" Gigas memotong ucapan gadis yang berada dibangku penumpang disebelahnya itu. Gigas tau Zania hanya mencari cari alasan saja. Ditatapnya wajah cantik yang sudah menghadap kearahnya kembali ekat lekat.
"Loe masih enggak percaya sama gue..?" tanya Gigas sendu "kalau loe enggak percaya atau enggak bisa terima perasaan gue, enggak apa apa. Tapi jangan berubah sama gue apa lagi menghindar dari gue."
"Loe enggak merasa bersalah sama kak Agalia..?" tanya Zania, tatapannya pun semakin intens menyelidik "loe udah permainkan perasaannya terus menyatakan cinta kegue, maksudnya apa..?"
"Gue enggak sebangsat apa yang loe pikirin, gue merasa bersalah sama Agalia, banget. Itu alasan kenapa gue baru bisa jujur sama loe soal perasaan gue setelah sekian lama hubungan gue sama Agalia berakhir, semua karena rasa bersalah gue." jawab Gigas dan menjeda ucapannya guna menghirup udara untuk mengisi kembali kekosongan dadanya.
"Gue bahkan sampai berjanji sama diri gue sendiri, sebelum gue mendapat maaf dari Agalia, gue enggak akan menyatakan cinta sama loe. Tapi gue udah enggak bisa nahan Zania, sakit memendam perasaan, apa lagi harus melihat orang yang disayangi dekat sama cowok lain."
"Terus udah dapet maaf'y...?" tanya Zania dengan netra yang masih terarah kewajah tampan Gigas yang terlihat tengah menghela nafas.
"Belum..!" seraya menggeleng perlahan "udah berulang kali gue minta maaf, dan berulang kali juga yang ada cuma makian yang gue dapet." jelas Gigas dengan mata yang semakin sendu.
Zania merubah posisi, kembali dia arahkan matanya menatap lurus kedepan "terus kenapa nembak gue..?" tanyanya kemudian.
"Gue enggak bisa menunggu lagi Zania, gue enggak bisa nahan perasaan ini. Gue enggak mau melihat loe dimiliki orang lain lagi, walau pun loe juga enggak terima cinta gue, tapi setidaknya gue lega udah jujur soal perasaan ini."
Dengan mata yang masih menerawang jauh kedepan "gue juga sebenernya cinta sama loe Sarkali, dari du-------
"Zania...!" seru Gigas dengan mata yang membeliak sempurna, kedua bibirnya pun tampak sedikit menganga.
Zania menatap kembali kearah Gigas dan merubah posisi tubuhnya, duduk berhadapan dengan kedua kaki yang ia lipat keatas bangku penumpang yang ia duduki "laki laki yang bikin aku patah hati itu kamu" Zania mulai berkata jujur "waktu aku tau kamu sama kak Agalia berhubungan. Aku dari dulu juga berharap kamu bilang cinta sama aku, tapi pada akhir aku sadar kalau kamu enggak cinta sama aku, setelah aku tau kamu berhubungan sama kak Agalia." Zania tanpa sadar merubah panggilannya.
Dan Gigas pun sama "aku kan sering bilang sama kamu kalau kita lagi bercanda, aku nyerempet nyerempet itu kata kata"
"Tapi emang kamu bilang aku cinta sama kamu...?" Gigas menggeleng perlahan "aku pikir lagi bercanda aja, karena semua kamu ucapkan disaat kita lagi bercanda." sewot Zania dengan mimik wajah yang berubah, dan malah terlihat menggemaskan dimata Gigas.
"Iya udah aku minta maaf..!" diraihnya kedua tangan Zania dan digenggamnya dengan erat, ditatapnya manik netra cokelat kehitaman gadis itu lekat lekat "aku cinta sama kamu, cinta banget. Kamu mau memulai sama aku..?"
"Kak Agalia gimana...? Aku enggak mau kebahagiaan aku ini diatas kesakitan cewek lain." tanya Zania yang memang dibuat gelisah oleh pikiran itu selama dua bulan ini.
"Kita jalani ya..? Aku akan terus berusaha minta maaf sama Agalia, kamu mau kan..?" tanya Gigas dengan tatapan memohon.
Kedua sudut bibir Zania terangkat, dengan kepala yang bergerak naik turun secara perlahan. Dan Gigas pun seketika saja menerbitkan senyuman lebar dibibirnya. Didekapnya tubuh gadis yang sangat ia cintai itu "aku cinta banget sama kamu, makasih ya...?" ucapnya tulus.
"Aku juga cinta sama kamu" balas Zania dengan membalas perlakukan Gigas akan tubuhnya.
Petang ini dengan disaksikan deretan lampu taman pusat jajanan lenggang Jakarta, Gigas dan Zania saling mengungkapkan perasaan, dengan berbagi janji dan juga kesepakatan yang mereka buat. Janji serta kesepakatan yang entah akan membuat hubungan mereka membawa kebahagiaan atau malah kesakitan dikemudian hari.