Elina Jovanka melihat bagaimana hancurnya kehidupan ibunya saat ayahnya memutuskan untuk memiliki 2 istri. Saat sang ibu meninggal, Elina berjanji tak akan pernah menikah jika suaminya berpoligami.
Saat ia dipertemukan dengan cinta pertama dalam hidupnya, Okan Atmaja langsung melamar Elina dan mereka menikah. Elina yakin kalau Okan akan mencintainya sebagai satu-,satumya wanita dalam hidupnya. Namun, Elina tak pernah membayangkan kalau untuk mendapatkan restu dari ibu mertuanya, ia harus merelakan Okan menikah dengan gadis lain.
Sanggupkah Elina bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di ujung Kembimbangan
Kue pengantin dengan bentuk tiga susun sudah selesai. Ada sebuah taman mini dengan lampu dan air mancur yang dibuat ditengah-tengah kue itu. Sebuah kue yang sangat indah dengan nuansa warna putih dan biru sesuai dengan tema pesta hati ini.
Sebuah pesta taman dengan nuansa putih dan biru. Salah satu anak pengusaha. Demikianlah Zeki mengatakannya.
Kepala wedding organizer, mendekati Alexa yang baru selesai menata kuenya.
"Ini sangat indah. Aku sangat puas dengan bentuk kuenya. Aku yakin rasanya pasti enak. Kue yang lain pun rasanya sangat luar biasa." Puji ibu Melinda.
"Terima kasih, nyonya."
"Panggil saja, Melinda."
"Baiklah, Melinda."
Keduanya tersenyum bersama. Para tamu sudah mulai berdatangan. Acara resepsinya memang dilaksanakan jam 4 sore.
"Aku mau pamit untuk pulang."
"Tunggulah sebentar nanti. Sang pengantin meminta saya untuk memperkenalkan semua yang terlibat dalam pesta ini. Sekaligus promosi katanya."
"Baiklah!" Elina pun mengambil tempat duduk bersama Anita.
"Lihatlah, pengantinnya. Sang wanita sangat cantik. Terlihat masih sangat muda. Tapi prianya terlihat agak tua." kata Anita.
"Cinta itu tak memandang usia. Kata Zeki sang pengantin wanita adalah anak dari salah satu pengusaha terkenal dan pengantin pria adalah sahabat dari si pengantin wanita. Usia mereka terpaut hampir 17 tahun."
"Cinta memang buta."
Keduanya pun mengawasi para tamu yang datang. Semuanya kelihatan tampil elegan dan mewah. Sampai akhirnya Elina menatap pasangan yang baru masuk itu.
"Mas Okan?" Elina terkejut. Okan masuk bersama Susi. Keduanya saling bergandengan tangan. Di belakang mereka ada Larasati.
Anita mengikuti arah pandang Elina. Ia juga terkejut melihat siapa yang baru saja masuk.
"Dasar perempuan munafik. Pelakor terselubung. Ia bersembunyi dibalik baju gamisnya itu." Anita nampak juga emosi. Elina menekan rasa sakit di hatinya. Masih jelas terbayang isi pesan WA dari Okan 30 menit yang lalu.
Sayang, aku pulang terlambat hari ini
ada rapat penting.
Kenapa harus berbohong jika memang akan menghadiri pesta pernikahan bersama Susi dan ibu? Apa salahnya jujur?
"Kita pulang saja, yuk!" ajak Anita kesal.
"Jangan. Aku sudah janji pada pemilik WO untuk tinggal di sini. Aku juga ingin melihat, bagaimana reaksi mas Okan saat ia ketahuan bohong padaku." Kata Elina pelan, menyimpan luka di hatinya.
Acara resepsi pun di mulai. Elina juga melihat kalau ada Zeki di sana. Pria itu duduk agak menjauh dari Okan dan sia terlihat asyik dengan para pria yang adalah juga pengusaha muda.
Di penghujung acara, sang pengantin wanita berdiri. Ia ingin menyampaikan sesuatu.
"Terima kasih atas kehadiran semuanya. Aku dan suami merasa sangat bahagia hari ini. Kalian boleh hadir di acara resepsi kami. Terima kasih juga untuk wedding organizer, nyonya Melinda Agusta yang sudah mewujudkan impian saya untuk dekorasi acaranya yang sangat luar biasa ini. Nyonya Melinda, ayo naik ke sini.!" Ajak sang pengantin wanita. Melinda yang berusia sekitar 40-an itu naik ke atas. "Juga untuk seseorang yang sudah merancang kue pengantin yang sangat indah ini dan yang menyediakan semua kue yang kalian nikmati. Nyonya Elina Yilmas."
Elina pun maju dengan senyum manisnya. Beberapa tamu yang melihatnya langsung memuji kecantikan perempuan itu.
"Wah, pembuat kue yang sangat cantik. Aku sudah terbiasa memesan kuenya. Tak menyangka kalau pemilik perusahaan kue ini masih begitu muda dan cantik." puji salah satu tamu pria yang duduk tepat di belakang Okan.
Elina merasa bangga saat semua tamu bertepuk tangan untuknya dan juga untuk Melinda. Tatapan Elina lurus pada Okan yang memang duduk di deretan meja paling depan. Memang sejak menikmati kue di hadapannya, Okan sudah merasa kalau kue itu seperti buatan Elina.
Sangat terlihat jelas wajah Okan yang sedikit pucat dan wajah Susi yang penuh kemenangan. Namun tidak dengan Larasati. Ia terlihat jengkel karena sangat memuji kue buatan Elina saat menikmatinya tadi.
Setelah diperkenalkan dan sekaligus promosi untuk Elina dan Melinda, kedua perempuan berbeda generasi tadi langsung turun dari panggung pelaminan.
"Aku mau pulang sekarang!" Kata Elina. Ia mengambil tas nya. Anita pun mengikuti Elina.
"Elina.....!" Panggil Zeki mencegat langkah Elina dan Anita.
"Maafkan aku. Sungguh aku tak tahu kalau Okan akan datang bersama Susi dan Larasati." Wajah Zeki terlihat sangat menyesal.
"Tidak apa-apa, Zek." Elina memberikan senyum terbaiknya untuk Zeki. Ia dapat melihat kalau dari arah belakang Zeki ada Okan yang sedang berjalan mendekati mereka. Namun seorang lelaki yang usianya terlihat seperti Okan tiba-tiba muncul sambil mendekati Zeki.
"Wah, ini istrimu ya? Selamat ya nyonya. Kue nya sangat luar biasa enak. Kue nya secantik orangnya." Puji pria itu. Tak lama kemudian muncul pria yang lain.
"Elina Yilmas? Ini istri kamu ya, Zek? Wah, cantik sekali."
Zeki terlihat ingin menjelaskan namun para pria yang mendekatinya tak memberikan dia kesempatan untuk itu.
Langkah Okan terhenti. Rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal. Sangat jelas terlihat kalau Okan cemburu.
Setelah para pria itu pergi,Elina langsung menarik tangan Anita dan melangkah.
"Maaf ya Elina. Mereka mengira..."
"Biar saja, Zek. Aku tak merasa terganggu dengan mereka." Kata Elina, menyela ucapan Zeki. Ia merasa sangat kecewa dengan Okan.
"Eli.....!" Okan akhirnya berhasil mengikuti Elina sampai di tempat parkir.
Zeki dan Anita menjauh sedikit karena tak ingin menganggu privasi mereka.
Elina menatap suaminya. "Ada apa, mas? Rapat pentingnya sudah selesai?" sindir Elina.
"Maafkan aku. Aku....."
"Aku capek, mas. Mau pulang." Elina membuka pintu mobilnya namun Okan menutupnya kembali.
"Sayang, aku nggak bermaksud membohongimu. Aku..."
"Mas....!" Elina kembali memotong ucapan Okan. "Nantilah kita membicarakannya di rumah. Itu pun jika ibumu mengijinkan mu untuk pulang. Permisi!" Elina segera masuk ke dalam mobil. Ia membunyikan klakson sebagai tanda meminta Anita untuk mengikutinya. Anita segera masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada Zeki. Ia hanya menatap sedih ke arah Okan lalu menutup pintu mobilnya.
Dengan cepat, Elina menjalankan mobilnya meninggalkan halaman parkir. Ia kesal, ada rasa benci dan amarah yang berubah menjadi satu. Hatinya sakit. Kejujuran dan kesetiaannya selama ini dibalas kebohongan oleh Okan.
Setelah mengantar Anita ke toko kue, Elina pun memilih untuk pergi ke tempat umi Sitti. Ia ingin sholat ashar di sana sambil bercerita dengan umi Sitti.
"Semakin sabar, ikhlas dan tawakal dalam menghadapi semuanya. Allah tak pernah memberikan cobaan yang melebihi kekuatan kita." Kata umi Sitti. "Umi tahu kalau suamimu sangat menyayangi ibunya. Itu adalah hal yang wajar. Yang membuat kalian tak bisa sejalan karena ibu mertuamu tak menginginkanmu menjadi menantunya. Jangan membenci ibu mertuamu, nak. Doakan beliau agar bisa melihat bahwa kau adalah menantu yang terbaik untuknya. Dendam dan kebencian tidak akan pernah menyelesaikan persoalan."
Elina mengangguk. Ia kembali mendapatkan kekuatan. Saat ia kembali ke rumahnya, Okan nampak sudah menunggunya di ruang tamu.
"Assalamualaikum, mas."
"Waalaikumsalam." ujar Okan. "Kenapa baru pulang?"
"Aku mampir ke tempat pengajiannya umi Sitti."
"Ponsel mu sengaja kau matikan ya?"
"Nggak, mas. Dayanya habis." Elina menatap suaminya. Ada rasa marah yang muncul namun ia kembali mengingat perkataan umi Sitti. Ia menarik napas panjang lalu berkata," Aku mau mandi dulu, mas."
Okan mengangguk. Ia dapat melihat wajah istrinya yang kelelahan. Mata Elina juga sedikit bengkak. Ia tahu kalau Elina pasti menangis.
Saat Elina mandi, Okan menyiapkan makan malam untuk istrinya itu. Lalu ia membawanya ke kamar. Si lihatnya kalau Elina baru saja selesai ganti pakaian. Rambut panjangnya diikat satu. Okan dapat melihat wajah istrinya yang agak tirus dengan tulang bahu yang agak menonjol.
"Eli, makanlah!" ujar Okan lalu meletakan baki makanan yang di bawanya di atas meja.
"Aku nggak lapar, mas."
"Makanlah!"
Elina menurut. Ia duduk di hadapan meja bulat itu dan mulai menikmati makanan yang sudah Okan siapkan. Selesai makan, Okan memanggil salah satu pelayan untuk membawa kembali baki makanan itu. Semenjak Minggu yang lalu, Okan memang sudah menambah satu pembantu dan satu tukang kebun untuk membantu bi Ina.
Keduanya kini duduk berhadapan di meja bulat.
"Tadi siang ibu menghubungiku untuk menemaninya ke pesta pernikahan anak sahabatnya. Ibu pengantin pria adalah teman ibu di yayasan Anak Yatim. Aku setuju. Saat pulang ke rumah, aku kaget melihat kalau Susi juga akan ikut. Akhirnya, aku mengirim pesan padamu seperti itu. Aku tak mau kau sampai sakit hati kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Itulah alasannya aku berbohong padamu."
"Kejujuran itu akan jauh lebih baik jika dikatakan. Dari pada harus membohongi dengan alasan apapun. Aku tak pernah bohong padamu, mas. Aku mengatakan yang sebenarnya. Sekalipun aku tahu kau akan cemburu, apalagi jika itu menyangkut dokter Arkan. Jujur, hatiku sakit saat melihatmu bersama Susi datang sambil bergandengan tangan. Hatiku sakit saat orang-orang menatap Susi sebagai pasanganmu sementara istri sah mu ada di sana. Aku sakit saat kau tak juga menalak Susi karena alasan kesehatan ibu. Aku hanya manusia biasa, mas. Aku juga punya batas kesabaran untuk menerima semua ini."
"Sayang....." Okan mengambil tangan Elina dan menciumnya dengan hati yang bergetar. Ia tahu telah menyakiti Elina sangat dalam.
"Maafkan aku. Aku sendiri berada di persimpangan jalan. Andai saja ibu tak sakit. Andai saja jantung ibu baik-baik saja, aku pasti akan menolak semua keinginan ibu yang menyakiti hatimu. Kau kan tahu Elina, bagaimana perjuangan ibu membesarkan ku seorang diri. Bagaimana pengorbanan ibu yang membuatnya harus mengalami pelecahan dari ayahmu agar aku terbebas. Aku hanya meminta kesabaranmu, sayang. Aku mencintaimu. Aku juga tak bisa tanpa dirimu. Soal Susi, aku pasti akan menalaknya. Aku kan sudah janji kalau aku tak akan pernah menyentuhnya. Ini hanya masalah waktu. Aku tak mau kalau sesuatu yang buruk menimpah ibu jika aku menalak Susi."
Elina menarik tangannya dari genggaman Okan. Ia menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti kalau kau sangat menyayangi ibu. Aku juga bangga memiliki suami yang mengabdi pada orang tuanya. Yang ku sesali adalah, mengapa kita menikah terlalu cepat. Kita tak meminta restu ibu untuk pernikahan ini. Dan sekarang kita berada di persimpangan yang sangat sulit ini." Elina menarik napas panjang beberapa kali. Ia menatap Okan yang memang sedang menatapnya dengan intens.
"Harus ada yang mengalah agar kita tak selamanya saling menyakiti, mas."
"Maksud kamu apa?" tanya Okan dengan perasaan yang sudah tak enak.
"Dari pada mas harus tersiksa antara mengasihi ibu dan juga mencintai aku, sebaiknya kita akhiri saja pernikahan ini, mas."
"Elina.....!" sentak Okan tak terima.
"Hanya satu pintaku, selidikalah Susi dan Iqbal. Maka mas akan tahu apakah dia pantas dipertahankan sebagai istrimu atau tidak." Elina berdiri ia hendak pergi meninggalkan kamar namun Okan tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Aku akan mati jika kau meninggalkan aku."
Elina memejamkan matanya. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan lagi. "Kau akan kuat demi ibu, mas."
**********
Sanggupkah Okan mengubah pikiran Elina?
Menurut kalian dokter Arkan atau Zeki yang pantas untuk menggantikan Okan dalam hidup Elina?
karyanya memang keren²...
mas okan juga hebat otthornya juga hebat
Tuhan berkahi dan terus berkati terus pimpin MB ellina dan keluarga serta othor ,sehat,belimpah sukacita amin🙏❤️❤️❤️❤️