Menikah karena terjebak keadaan,
Seorang Presdir muda yang lama-lama jatuh cinta dengan asisten pribadinya yang semula menurutnya jelek dan kampungan.
Kini ia berubah menjadi seorang wanita cantik dan baik yang ada di matanya,
Dengan kebaikan hatinya membuatnya terpana,
Terlebih dengan senyuman manis lesung pipinya mebuatnya tergiur saat memandangnya.., membuatnya semakin manis dan menawan saat ia semakin di pandang.
Kepedulian wanita tersebut juga membuatnya semakin jatuh cinta,ia tega melukai dirinya sendiri hanya demi melindungi majikannya.
Tapi karena kekayaan yang begitu banyak yang di miliki oleh suaminya mebuatnya minder dan menahan rasa cintanya,
Anggara berusaha keras untuk membongkar isi hati istrinya,apa dia benar-benar mencintaiku atau tidak,
Namun dengan sisi lain Anggara mengatakan apa aku harus miskin supaya dia mencintaiku?,
Tapi apakah cintanya tetap bersatu walaupun suaminya memang sudah di takdirkan untuk kaya raya, tapi perasaan sungguh susah untuk di tahan...!
Apa kalian penasaran dengan cerita pertamaku?
Yuk tengok!, Jangan lupa dukungannya yah!..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagita chn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggara dan Anisa
Suasana di pesta sangatlah kacau, Semua orang merasa tidak bersemangat lagi, terlebih keluarga Anggara yang sangat merasa kesal dan cemas akan kepergian putranya.
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Tania.
"Dasar memalukan" mamah Tania
"Apa orang tuamu pernah mengajarkan hal seperti ini padamu" papah Tania
Tania hanya bisa menangis, sedangkan keluarganya pergi meninggalkannya
"Maafkan kami"Mamah Tania berbicara pada keluarga Anggara.
Namun tak ada sahutan dari keluarga Anggara,Mamah dan papah Tania pun langsung pergi meninggalkan ruangan.
(aku benar-benar tidak percaya ini, tega-teganya kak Tania menghiyanati kak Angga) Tania pun merasa sangat kesal.
Irfan dan Haris pun mendekat.
"Fan suruh pengawal membawanya pergi dari sini!"Mahendra
"baik tuan"Irfan langsung memanggil pengawal yang ada di luar ruangan untuk membawa pergi Tania
Biyan masih menahan rasa yang sangat kecewa di hatinya.
"Seharusnya kau bersyukur,dia tidak baik untukmu, relakan saja dia"Haris menepuk pundak Biyan.
"bukan itu masalahku bagaimana dengan pa Anggara"Biyan
"tenanglah tak usah memikirkan dia,dia akan baik-baik saja"Haris
"pah Anggara ke mana pah"Almira yang sangat khawatir.
"tenanglah mah,dia akan baik-baik saja"Mahendra
"bagaimana jika dia.."bicara Almira terpotong
"Sudahlah mah, percaya sama papah dia akan baik-baik saja bersama Anisa"Mahendra
Dua pengawal masuk ke ruangan pesta untuk membawa Tania.
"Ayo nona kau harus keluar dari sini"Salah satu pengawal.
Kedua pengawal tersebut langsung memegang kedua tangan Tania.
"lepaskan aku"Tania melawan.
"Tante aku mohon maafkan aku, aku akan menjelaskan semuanya"Teriak Tania
"Tolong bawa dia pergi dari sini aku tidak ingin melihat wajahnya"Almira yang sudah sangat marah.
"Tapi Tante aku mohon dengerin penjelasanku dulu" Tania.
"sudahlah tak perlu di jelaskan lagi bawa dia pergi dari sini"Irfan.
"Irfan beraninya kau"Tania
"apa lagi nona,apa anda masih mempunyai tampang di sini"Sengit Irfan
(awas aja kau Fan) Tania
"Tega ya nona Tania apa kurangnya pa Anggara coba,dia kan sangat tampan dan sangat kaya, bahkan para wanita tergila-gila padanya, tapi justru nona Tania malah menduakan nya" Kariawan kantor yang ikut menghadiri pesta
"iya apa dia tidak memiliki akal sehat" Sahut kariawan yang lain.
Anggara masih mengemudi mobil dengan cepat, Anisa tidak tau entah kemana ia akan pergi.
"Tuan muda kita mau kemana?"Anisa
"kenapa kau banyak bicara siapa suruh kau mengikutiku"Anggara.
"saya kan asisten anda tuan muda,jadi saya harus mengikuti anda kemanapun anda pergi"Anisa
"apa hanya karena itu, jika kau bukan Asistenku kau tidak akan mengikutiku"Anggara
(apa yang aku katakan) Anggara
"Maksudnya tuan muda"Anisa
"sudahlah lupakan"Anggara
(jika aku bukan asistennya mana mungkin aku mengikutinya, jelas-jelas aku gak kenal kali) batin Anisa
Anisa merasa kedinginan karena AC mobil,ia hanya mengusap-usap tangannya sambil memandangi jalanan dari kaca pintu mobil.
Anggara yang memperhatikannya langsung mematikan AC tersebut, intinya semakin lama perasaannya tidak bisa di tahan lagi,di tambah lagi penampilan Anisa yang sangat cantik malam ini, sampai-sampai ia tidak bisa berhenti memperhatikannya.
Mobil pun berhenti di area taman kota, Anggara langsung turun dari mobil dan Anisa mengikutinya, keduanya langsung duduk di bangku yang sudah di sediakan di taman.
Keduanya terdiam, Anggara yang masih terlihat sangat kesal membuat Anisa tidak bisa membuka suaranya ia hanya berani memperhatikannya saja.
(ini kan hari ulang tahun tuan muda dan perusahaan, seharusnya kebahagiaan bertebaran di mana-mana kan,tapi kasian tuan muda tega-teganya nona Tania menduakannya) Anisa.
"tuan muda apa anda tidak papa?"Anisa
yang bingung harus mengatakan apa.
"kenapa kau meninggalkan Kekasihmu di pesta dan kenapa kau malah mengikuti ku"Anggara dengan muka kesalnya
"kekasihku... kekasihku yang mana tuan muda?"Anisa bingung
"lelaki yang duduk bersamamu bukankah itu kekasihmu, kenapa kau malah pergi meninggalkannya"Anggara dengan suara kesalnya.
"Tapi dia bukan kekasihku tuan muda"Anisa
" kau bilang bukan Kekasihmu jelas-jelas dia mengatakan kalau kau yang paling bersinar dan paling terang malam ini"Anggara.
(Hah ini orang kenapa si apa dia sudah stress karena di khianati ) Anisa yang bingung dengan perkataannya.
"Tapi aku dengannya bahkan baru kenal tuan muda,lalu kenapa tuan muda marah-marah kepadaku soal aku dengannya,bukankah yang menghiyanati anda nona Tania"Anisa
Anggara bingung harus mengatakan apa.
(Kenapa aku tidak sadar mengatakan semua ini padanya, bahkan aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri sekarang) Anggara.
"aku hanya tidak suka kau mengikutiku"Anggara mengelak
"Tapi anda yang menggendongku dan memasukan ku ke dalam mobil tuan muda"Anisa dengan pintarnya menjawab
(ohh iya iya aku lupa bahkan aku yang membawanya ke mobil tadi)
"Apa kau menyalahkan ku?"Anggara dengan nada kesalnya karena bingung harus menjawab apa
"Tidak tuan muda, saya minta maaf karena telah mengikuti anda"Anisa
(lihat bahkan aku yang terlihat bodoh sekarang,aku terjebak dengan kelakuanku sendiri) batin Anggara.
Anisa langsung berdiri dan pergi meninggalkannya.
(lihat dia malah pergi meninggalkanku) gerutunya kesal
"hey kau mau kemana?"Anggara yang semakin kesal
"saya mau pulang tuan muda"Anisa
"memang kau tau jalan pulang?"Anggara
"tidak tuan muda,tapi anda yang tidak suka saya disini sebaiknya saya pulang saja"Anisa yang sudah kecewa karena mengikutinya.
(lihat bahkan aku harus mengatakan apa padanya,aku yang mengatakan kalau aku tidak suka dia disini dan sekarang aku yang harus menahannya supaya dia tidak pergi dari sini, lihat semakin hari diriku ini semakin bodoh) Anggara yang mengutuki dirinya.
Anisa yang terus melangkahkan kakinya dengan kesal tanpa menggunakan alas kaki,dia tidak perduli entah kemana ia akan pergi.
Anggara akhirnya mengikutinya dari belakang.
"hey kau mau kemana apa kau mau berjalan sampai rumah tanpa menggunakan alas kaki"Anggara
Anisa yang sudah merasa kesal tidak meladeninya sama sekali.
(beraninya dia tidak merespon perkataanku, dia pikir dia siapa)
Anggara langsung menarik tangan Anisa dan menyuruhnya mengikutinya.
"kenapa lagi tuan muda,anda mau bawa saya kemana, kenapa anda melampiaskan semua kemarahan anda kepada saya"Anisa yang sangat bingung denganya.
( ada apa dengan orang ini,kenapa dia menggandeng tanganku sekarang) Anisa
Anggara tidak perduli dengan perkataannya dan terus menggandeng tangan Anisa membawanya ke sebuah toko.
"pa berikan saya sepasang sendal untuk wanita"Anggara berbicara dengan pelayanan toko
"ohh.. untuk kekasih anda yang cantik ini kan pa,bentar ya saya ambilkan"Pelayan toko langsung pergi untuk mengambil sendal.
Anggara tersenyum tipis mendengarnya.
(lihat karena dia menggandeng tanganku orang-orang mengira kalau aku kekasihnya dan Musang yang galak ini kenapa dia tidak berkomentar ke pelayan toko itu yang memanggilku kekasihnya) Anisa yang sudah sangat kesal sampai memanggilnya Musang.
Pelayan toko langsung menghampirinya dengan membawakan sepasang sandal untuk Anisa.
"cepat pakailah"Anggara
Anisa dengan diam langsung memakainya.
Anggara langsung mengeluarkan uang di sakunya dan membayar sandal tersebut.
"maaf pak ini uangnya terlalu banyak"Pelayan toko
"ambil saja "Anggara langsung pergi meninggalkan toko dan menggandeng tangan Anisa kembali.
"ohh makasih pa, semoga hubungannya langgeng selamanya"Teriak pelayan toko
Anggara kembali tersenyum tipis mendengarnya.
(apa dia bilang langgeng hubungannya, berhubungan aja tidak, semua orang pasti sudah stress dan kenapa musang ini diam saja dari tadi, bahkan dia tidak menyangkalnya) batin Anisa sambil memandang Anggara dari belakang dengan kesal.
"kita mau kemana lagi tuan muda"Anisa
"apa kau tau apa yang sedang aku rasakan sekarang kenapa kau crewed sekali"Anggara
"iya aku tau tuan muda,anda sedang sangat sedih dan kecewa, bahkan anda sangat kesal denganku"jawab Anisa dengan pelan.
(tentu saja aku sangat kesal kepadamu kenapa kau tersenyum manis pada Adnan) Batinnya.
(lihat hatiku sendiri bahkan selalu menjawab apa saja yang ia katakan) batin Anggara lagi
Anggara merasa Aneh dengan dirinya,bahkan dia pun sampai lupa akan kekasih yang menghiyanati nya saat bersama Anisa.
"Aku sedang lapar jadi diam lah"Anggara
"iya tuan muda"Anisa
(orang aneh aku kira dia sedang membahas masalah hari ini, ternyata dia cuma lapar,tapi aku juga lapar sih belum makan dari tadi) Anisa.
Anggara masih mencari-cari restoran dekat taman.
"Tuan muda sebaiknya kita makan di situ saja"Anisa menunjukkan tempat orang yang berjualan keliling dengan gerobak.
"disitu apa kau sudah tidak waras?"Anggara yang tidak pernah makan di pinggiran jalan
"tapi tuan muda saya lapar sepertinya restoran lumayan jauh dari sini"Anisa
"tidak aku tidak mau"Anggara
"iya sudah kalau gitu tuan muda saja yang cari restorannya sendiri,aku akan makan di situ saja"jelas Anisa
(cih beraninya dia menyuruhku mencari restoran sendiri)
"bagaimana jika kita keracunan"Anggara
"maaf tuan muda, semuanya juga mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari, bukan berjualan untuk meracuni pembeli" Anisa yang sudah kesal dari tadi.
(pintar sekali dia menjawab) Anggara
Anisa yang berjalan terlebih dahulu menghampiri penjualan keliling tersebut, sekarang justru ia yang menggandengnya karena berubah posisi.
" Ayolah tuan muda, percayalah makanannya pasti sangat enak dan bersih tenang saja"Anisa sambil menariknya.
Anggara senang karena Anisa menarik tangannya.
"Memang kau pernah makan di pinggir jalan"Anggara
"belum pernah sih tuan muda,tapi aku yakin pasti menyenangkan"Anisa
"bahkan kau belum pernah tapi kau berani-beraninya mengajakku"Anggara yang hanya ingin makan di restoran.
Mereka berdua langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan,malam semakin larut pesta pun telah usai, semua orang pulang ke rumah masing-masing.
"Pah di mana Anggara Pah kenapa dia belum balik juga"Almira yang sangat menantikan kepulangan putranya
"tenang saja dia baik-baik saja mah, dia kan bersama Anisa"Mahendra dengan santainya
"ini bukan masalah dia bersama siapa Pah, tapi kalau Anggara berbuat yang tidak-tidak gimana"Almira.
" mah Anggara itu sudah dewasa, iya pasti sudah bisa mengontrol emosinya"Mahendra.
Irena tiba-tiba masuk ke kamar kedua orang tuanya.
"Kak Anggara belum balik mah?"Irena
"belum sayang dia belum balik"Almira
(sebenarnya kak Anggara ke mana sih, kenapa belum juga baik) Irena yang ikut khawatir.
Dua mangkok mie ayam tersedia di meja makan, Anisa yang sangat lapar tidak sabar untuk menyantapnya,ia langsung mengambil sumpit yang tersedia di meja.
Anggara bahkan hanya memandang makanan tersebut dan tidak berani menyentuhnya.
Annisa berdoa dan kemudian langsung memakannya.
"Pa makanan anda sangatlah enak"Anisa memuji penjual tersebut
"terimakasih nona selamat menikmati"Penjual
"oke baiklah"Anisa kembali menyantap makanannya.
Anggara hanya memperhatikan Anisa makan ,dia tidak tertarik dengan makanan di depannya.
(apa rasanya sangat enak,kenapa cara dia memakan makanan ini sepertinya sangat enak) Anggara.
"tuan muda,apa anda tidak akan makan?"Anisa
"tidak kau saja"Anggara
"nanti lapar loh tuan muda,apa anda mau mencobanya", Anisa langsung mengambil mangkuk punya Anggara dan akan menyuapinya.
"tidak aku tidak mau" Anggara
(tapi sayang juga jika aku menolaknya,dia menyuapiku bukan) pikir Anggara.
"Tapi tuan muda anda harus makan,Jika anda pingsan aku tidak bisa berbuat apa-apa,aku mohon" Anisa
(cih aku yang menyuapinya aku juga yang memohon, padahal kan yang lapar dia,ya sudah lah dari pada dia pingsan aku juga yang repot,mana aku ga bisa nyetir lagi) pikiran Anisa kemana-mana.
Anggara langsung membuka mulutnya dan masuklah suapan pertama,baru kali ini ia bisa menurut dengan bawahannya.
"Bagaimana tuan muda enak kan?" Anisa
Anggara menguyah pelan-pelan
(ternyata bener apa kata dia ini enak sekali)
"iya lumayan"Anggara
"iya sudah sebaiknya tuan muda makanlah sekarang"Anisa menaruh kembali mangkuk dan sumpitnya di meja dia kembali, kemudian ia menyantap makanannya sendiri.
( cih dia menyuruh makan sediri berani-beraninya dia menyuapiku hanya sekali) Anggara kesal.
"Tidak aku tidak ingin memakannya jika aku harus memegang sumpit sendiri"Anggara
"maksudnya tuan muda"Anisa yang heran dengan perkataannya
"aku tidak ingin mengotori tanganku"Anggara
(orang kaya yang aneh dia pikir dia sangat bersih,mana ada alasan seperti itu) Anisa heran.
"lalu begini saja tuan muda,saya yang akan menyuapi anda"Anisa
Anisa pun langsung menyuapi Anggara dan tentunya Anggara sangat senang dan menikmatinya.
jadi males bacanya
mana ada orang berumah tangga bego banget begitu
gantung banget ceritanya