Cerita ini tentang cowok 'penakut' yang selalu ditolak sama cewek.
Dia bernama Dafa, dimana dia selalu berteman dengan cewek dan dengan mudahnya dia jatuh cinta. Entah beneran cinta atau karena merasa iri sama yang lain yang bisa dengan mudahnya mendapatkan pacar. Dafa tipe orang yang mudah terbawa perasaan, sehingga jika ada seseorang yang baik kepadanya dia langsung suka. Tetapi sayangnya, yang dekat dengannya rata-rata hanya menganggap dia sebagai teman tidak lebih.
Ikuti ceritanya dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nureti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Pukul 17.00 WIB
Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasanya segar sekali ketika tubuhku tersiram air. Aku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk untuk menutupi tubuhku. Aku mengambil pakaian casualku di lemari pakaian dan memakainya.
"Nin, kita beli lauk di rumah nenek yuk." kata ibu ketika aku keluar dari kamar.
"Aku malam tidak makan bu, mau pergi sama Viana." kataku mengingat ada janji sama Viana.
"Iya sudah beli buat ayah saja." katanya.
Ibu setiap weekend memang malas untuk masak, karena aku juga selalu beli makanan di luar.
Ibu sudah menaiki motornya diikuti aku duduk di belakang. Ibu melajukan motornya pelan.
Di rumah nenek.
"Bu (nenek), masih ada apa saja?" tanya ibu menghampiri jualan nenek.
"Itu ayam serundeng sama urab saja." katanya.
"Sayur asem sudah habis bu?" tanya ibu.
"Sudah habis semua. Oh itu di dalam ada longsong (makanan khas orang syukuran hamil 7 bulanan) ambil saja." katanya.
"Siapa yang 7 bulanan bu?" tanya ibu.
"Itu anaknya Santi belakang rumah." katanya.
"Oh iya sudah aku ambil longsongnya iya bu, sama ini serundengnya satu." kata ibu.
Ibu masuk ke rumah nenek untuk mengambil longsongnya. Sedangkan aku yang dari tadi hanya duduk di meja makan jualan nenek.
"Ini bu uangnya." kata ibu membayar ayam serundengnya.
"Sudah tidak usah. Ambil saja lagian jualannya juga mau saya beresin." kata nenek hendak mengemas barang jualannya dibantu aku dan ibu.
"Iya sudah bu, kita pulang dulu. Assalamualaikum." ucap ibu ketika semua sudah beres.
"Iya." kata nenek.
Aku dan ibu meninggalkan rumah nenek.
Berhubung ini malam minggu, jadi ada pasar sore di tepian jalan. Ibu menghentikan motornya.
"Ibu mau beli tahu dulu." kata ibu turun dari motornya.
Aku mengikutinya di belakang.
"Kamu mau?" tanya ibu ketika sudah di depan orang jualannya.
"Tidak ahh bu, aku beli bakso bakar saja." kataku karena melihat di depan ada orang jualan bakso bakar.
Ibu membeli tahunya, setelah itu kita menuju orang jualan bakso bakar dan aku memesannya. Selesai lihat-lihat pasar sorenya. Aku dan ibu menghampiri motor yang tadi kita gunakan terparkir di tepi jalan.
Sampai rumah.
"Yah ini ada longsong dari anaknya Santi belakang rumah ibu (nenek)." kata ibu meletakan longsong dan serundengnya di atas meja.
Ibu masuk ke dalam untuk mengambil mangkuk. Ibu menuangkan longsongnya ke mangkuk.
"Kamu tidak makan bu?" tanya ayah.
"Aku dan Nina beli ini di mingguan." katanya menunjukan tentengan tahunya.
Kita bertiga makan di ruang televisi. Aku dan ayah duduk di sofa sedangkan ibu duduk di lantai.
Suara adzan magrib sudah berkumandang. Aku langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat magrib.
Aku merebahkan diri di kasur ketika sudah melaksanakan shalat magrib. Aku mengecheck handpone dan ternyata Viana mengirim pesan.
"Nin, gue ke rumah lu nya habis isya iya." isi pesannya.
"Oke." balasku.
Tidak ada balasan darinya.
Aku membuka sosial media dan ada pesan dari Bayu Dicka.
"Selamat malam minggu. Semoga kita segera ketemu." isi pesannya diakhiri emotion love.
Setelah aku tahu dia juga sekolah di SMK N 1 Soedirman. Aku jadi enggan untuk membalas chattnya lagi. Aku menyalakan musik supaya kamar tidak terasa sunyi. Sampai terdengar suara adzan isya. Aku segera mematikan musiknya dan bergegas shalat isya, takut Viana keburu kesini.
Aku menunggunya di ruang televisi bersama ayah dan ibu yang lagi nonton televisi sedari tadi. Terdengar suara seseorang mematikan mesin motornya di depan rumah. Aku keluar untuk melihatnya dan benar Viana sudah datang.
"Hai." ucapku.
Viana hanya tersenyum dan turun dari motornya menghampiriku.
"Ayo masuk." kataku.
Viana masuk ke dalam rumah dan melihat ada ayah dan ibu disana.
"Assalamualaikum yah, bu." ucap Viana mencium tangan kedua orangtuaku secara bergantian.
"Waalaikumsalam nak. Ayo masuk." kata ibu.
"Silahkan duduk nak." kata ayah pergi meninggalkan kita, masuk ke dalam kamar. Sedangkan ibu pergi keluar untuk duduk di teras depan.
"Bentar gue ambilin minuman dulu." kataku pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin yang ada di kulkas.
"Ini Na, silahkan di makan dan di minum." kataku meletakan minumannya di atas meja yang sudah ada makanan.
"Terimakasih Nin." katanya tersenyum dan mengambil minuman gelasnya.
"Mau kemana kita?" tanyaku.
"Hmmm ini gue kesini sebenarnya mau ngasih sesuatu ke lu." katanya memberikan bungkusan kado.
"Apa ini?" tanyaku.
"Lu buka saja, semoga lu suka." katanya.
Aku membuka bungkusan kado itu dan ternyata isinya jam tangan yang lagi aku inginkan.
"Iya ampun Viana, ini beneran buat gue Na?" tanyaku tidak percaya.
"Iyalah buat siapa lagi." katanya.
"Hmmm thank you." kataku memeluk Viana.
"Iya sama-sama. Untung gue masih inget lu lagi kepengen jam itu, makanya gue cepat-cepat beli." katanya.
"Unch makasih." kataku bahagianya.
Flashback On.
Aku dan Viana sepulang sekolah langsung pergi ke pasar untuk membeli buku tulis khusus matematika yang di dalamnya terdapat kotak-kotak kecil. Pas mau pulang, tidak sengaja aku melihat-lihat jam terlebih dahulu sambil nungguin bus lewat.
"Na, jam ini cantik iya?" tanyaku menujuk jam tersebut.
"Iya." katanya.
"Kita beli ini yuk biar samaan." kataku.
"Ahh males gue. Kemarin gue baru beli jam juga masa sekarang beli lagi." katanya.
Aku sedih karena Viana tidak mau membeli jam itu.
"Nin ayo, itu busnya sudah datang." katanya menarik tanganku.
"Hmm... iya ayo." kataku meninggalkan pedangan tersebut dan naik bus untuk pulang.
Flashback Off.
Tiba-tiba aku teringat dengan kak Dicka kakak kelasku yang sekarang lagi ngechattin aku terus.
"Na, sekarang gue lagi di dekatin cowok." kataku.
"Siapa?" tanyanya.
"Alumni sekolah kita dan sekarang dia kelas dua di SMK N 1 Soedirman." kataku.
"Wah berarti nanti dia kakak kelas lu dong." katanya.
"Iya." kataku.
"Kenal dimana?" tanyanya.
"Di sosial media. Dia tiba-tiba ngechatt gue. Gue yang penasaran iya sudah gue balas pesannya." kataku.
"Siapa namanya?" tanyanya.
"Bayu Dicka." kataku.
"Ahh gue tidak kenal. Berarti pas kita kelas satu dia kelas tiga dong." katanya.
"Ehh iya juga iya Na, tapi kok gue tidak pernah lihat mukanya." kataku.
"Ciee sudah ada yang dekatin saja." katanya.
"Apaan sih." kataku.
Viana terus menggodaku "Cie.. cie..."
"Sudah ahh, kita mau kemana sekarang?" tanyaku.
"Biasalah tamkot (taman kota)." katanya.
"Iya sudah ayo." kataku.
Sebelum kita benar-benar pergi, aku di kagetkan dengan dua orang cowok yang sudah berada di depan rumah dan hendak masuk ke rumah. Aku mematung di depan pintu dan menatapnya.
...****************...
jangan lupa mampir di karyaku juga ya
minding baca komik bobo
salam dari Barryneald :))
#Izin Thor
salam kenal 🤗
semangat berkarya 💖
jika ada waktu jgn lupa feedback ke karyaku "love in silence" dak tinggal kan jejak like dan comment mu sbg bentuk dukungan karayku 😘
Terima-kasih banyak.
jgn lupa mampir juga di novelku dg judul "My Annoying wife" 🍇🍇🍇
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowo polos ☘️☘️☘️
tinggalkan like and comment ya 🥭