NovelToon NovelToon
The Red Dragon'S Whisper

The Red Dragon'S Whisper

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:

Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.

Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.

Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.

Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.

Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?

"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Angin di Lembah Bintang

Matahari baru saja merekah di ufuk timur ketika rombongan kecil Benteng Timur melintasi batas Hutan Terlarang menuju kawasan utara. Deretan pepohonan pinus raksasa bertumpuk rapi, membiaskan sinar keemasan yang menembus kabut tipis perbukitan. Tidak ada lagi barisan prajurit bersenjata lengkap yang mengiringi langkah Kai dan Hana, melainkan hanya Komandan Boma bersama beberapa pengawal kepercayaan yang menunggang kuda di barisan belakang.

Perjalanan menuju Lembah Bintang membutuhkan waktu seharian penuh, melewati jalur terjal yang membelah tebing-tebing batu kapur. Sepanjang perjalanan, hawa dingin yang menusuk tulang perlahan menggantikan kehangatan udara benteng. Namun di balik dinginnya angin perbukitan, ketenangan di antara Kai dan Hana tetap terjaga rapat.

Kai menunggang kudanya sejajar dengan kuda Hana, tangannya sesekali mengulur untuk memastikan selimut tebal yang melingkari bahu gadis itu tidak terlepas dihantam angin.

"Apakah udara dingin ini membuat bekas lukamu terasa sakit lagi, Hana?" tanya Kai penuh keprihatinan, matanya tak pernah lepas dari gurat wajah gadis suci di sampingnya.

Hana mengalihkan tatapannya dari pemandangan lembah di bawah sana, menyajikan seulas senyum hangat yang langsung mengusir hawa dingin di sekitar mereka. "Aku baik-baik saja, Kai. Kehangatan dari pendaran Naga Merah di dalam dadamu masih terasa sampai ke sini. Lagipula, udara segar di perbukitan utara ini justru membuat pernapasanku terasa jauh lebih lega."

"Namun kita harus tetap waspada," selak Boma dari belakang, memajukan kudanya sedikit. "Kuil Lembah Bintang sudah bertahun-tahun ditinggalkan sejak para penatua klan utara runtuh. Sihir terlarang yang ditanamkan Rei sebelum kekalahannya bisa saja meninggalkan jebakan yang tak terlihat oleh mata telanjang."

Kai mengangguk setuju, memegang hulu pedang pusaka di pinggangnya. "Boma benar. Rei tidak pernah bertindak tanpa perhitungan yang licik. Kita tidak tahu sejauh mana sihir hitamnya telah menggerogoti inti batu bintang di kuil itu."

Menjelang sore hari, ketika langit mulai berubah warna menjadi keunguan, rombongan akhirnya tiba di mulut celah Lembah Bintang. Di balik celah batu raksasa yang menyerupai sepasang sayap terbentang, berdiri sebuah bangunan kuil tua bertingkat batu hitam yang tampak megah meski telah dimakan usia. Pilar-pilar batu berukir simbol naga dan bintang berdiri kokoh, sementara puncak kuil dikelilingi oleh pendaran cahaya kebiruan yang samar-samar meredup dan bergetar tidak stabil.

Kai melompat turun dari kudanya, memegang tali kekang kuda Hana dan membantunya turun dengan perlahan. Saat telapak kaki Hana menyentuh tanah kuil, ia mendesah pelan, merasakan getaran halus yang merayap naik dari dasar bumi.

"Getaran ini..." bisik Hana lirih, jemarinya meremas pelan jemari Kai. "Inti batu bintang sedang menolak sihir hitam yang mengendap di dalamnya, Kai. Energi pelindungnya kian menipis."

Kai menarik pedangnya sedikit dari sarung, membiarkan pendaran emas aura darah naganya menyala samar untuk melapisi area di sekitar mereka. Ia menatap lurus ke arah pintu gerbang kuil tua yang terbuka menganga, siap menerjang ancaman apa pun yang tersisa di dalam sana.

"Mari kita selesaikan apa yang telah dimulai oleh para leluhur, Hana," ucap Kai dengan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Hari ini, kita memurnikan tempat ini dan mengunci kedamaian perbatasan untuk selamanya."

Hana mengangguk mantap, melangkah berdampingan dengan Kai menaiki tangga batu tua Kuil Lembah Bintang, siap menyongsong fajar baru di ujung petualangan mereka.

✦ ── 🛡️ ── ✦ ── 🛡️ ── ✦

Langkah kaki mereka bergema pelan di atas anak tangga batu yang diselimuti lumut kering. Setiap kali telapak kaki menapak, pendaran cahaya kebiruan di puncak kuil tampak berdenyut makin cepat, seolah merespons kehadiran darah naga yang mengalir di dalam tubuh Kai. Udara di dalam pelataran Kuil Lembah Bintang terasa tebal dan lembap, membawa aroma kuno bercampur sengatan tipis sihir hitam yang membusuk di sudut-sudut pilar batu.

Komandan Boma bersama para pengawal segera membentuk barisan melingkar di belakang, mengawasi setiap celah kegelapan yang membayangi koridor kuil. "Tuan Muda, sisa-sisa sihir hitam ini terasa begitu pekat di sekitar altarmu," bisik Boma dengan tangan menggenggam erat gagang tombaknya.

Kai mengangkat tangan kiri, memberi isyarat agar barisan belakang tetap bertahan di batas lorong luar. "Tetap di posisi kalian, Boma. Sihir terlarang milik Rei bereaksi terhadap energi luar. Hanya aura murni yang bisa melintasinya tanpa memicu ledakan."

Hana melangkah maju, melepaskan genggaman tangannya dari Kai untuk mengulurkan kedua telapak tangannya ke udara. Pendaran cahaya putih lembut terpancar dari jemarinya, membentuk selubung pelindung yang perlahan menyapu kabut hitam yang menghalangi jalan masuk menuju aula utama kuil.

"Racun sihir ini diciptakan untuk mengikis energi fisik, Kai," tutur Hana dengan suara tenang yang sarat akan konsentrasi. "Tapi ia tak sanggup bertahan di hadapan doa murni pelindung kuil. Jalan menuju altar inti sudah terbuka."

Kai menatap Hana dengan rasa bangga dan kasih sayang yang membuncah di dadanya. Pemuda itu melangkah sejajar, menggandeng kembali tangan Hana saat mereka berdua menginjakkan kaki di lantai aula utama. Di tengah ruangan raksasa beratap terbuka itu, sebuah batu kristal kebiruan berukuran setinggi manusia melayang pelan di atas altar batu. Permukaan kristal itu tampak retak di beberapa bagian, dialiri garis-garis hitam keunguan yang terus menyuntikkan energi jahat ke dalamnya.

"Batu Bintang..." gumam Kai rendah. Ia menarik pedang pusakanya sepenuhnya dari sarung. Bilah besi itu membias warna keemasan yang makin menyala terang, memantulkan bayangan Naga Merah yang meliuk halus di dalam pendaran cahayanya. "Rei ingin memecahkan kristal ini agar energi bumi tak terkendali dan menghancurkan seluruh benteng perbatasan dari bawah tanah."

Hana berlutut di depan altar, meletakkan kedua telapak tangannya pada ukiran simbol naga di dasar altar. "Kita harus menyatukan kembali aura darah nagamu dengan doa penyucian ini, Kai. Hanya dengan begitu retakan pada Batu Bintang bisa pulih seperti semula."

Kai ikut berlutut di samping Hana. Tanpa ragu, ia menancapkan ujung pedangnya ke celah batu altar, membiarkan aura keemasan dari darah leluhurnya mengalir deras menyatu dengan cahaya putih murni milik Hana.

WUSSHHH!

Gelombang hawa hangat mendadak membumbung tinggi dari dasar altar, menyapu seluruh aula kuil dan membakar habis sisa-sisa garis hitam keunguan di permukaan Batu Bintang. Kristal raksasa itu bergetar hebat sebelum akhirnya mengeluarkan dengungan bening yang menenangkan. Retakan di permukaannya menyatu kembali dengan sempurna, memancarkan pendaran biru keemasan yang hangat dan menyinari seluruh langit di atas Lembah Bintang.

Hana menghela napas lega, menyandarkan tubuhnya yang sedikit lelah ke dada tegap Kai. Pemuda itu merengkuh tubuh Hana erat-erat, mengecup puncak kepalanya dengan kedalaman rasa syukur yang tak terhingga.

"Semuanya telah benar-benar pulih, Hana," bisik Kai lembut, menatap Batu Bintang yang kini menyinarinya dengan ketenangan abadi. "Segel ini telah utuh kembali, dan kedamaian tanah perbatasan tak akan pernah terancam lagi."

Hana mendongak, menyunggingkan senyum paling indah yang pernah ia ukir, menyambut pelukan Kai di bawah naungan cahaya bintang yang kini bersinar terang tanpa setitik pun kegelapan tersisa.

1
ginevra
kenapa semuara orang mau bikin gara2 sama kai sih
ginevra
anggun sekali penggambarannya
Aquarius97 🕊️
buat saja Hana menjadi istrimu Kai ... atau mengamuk saja dulu, mereka pasti tunduk
Aquarius97 🕊️: hihihi siapp akak 🙏🏻
total 2 replies
Xlyzy
pergi gitu aja mai tinggalkan jejak gitu Tah berupa ayam bakar mungkin 😁
Sarifah_Aini97: Haha bisa aja nih! Kalau jejaknya ayam bakar, yang ada malah langsung habis dicemilin sebelum ketemu jalan pulangnya 😂 Makasih ya udah mampir dan baca!
total 1 replies
Miu.Nuha
haish Hana punya rasa takut juga ya ternyata 🤭 tadi sok2 berwibawa saat bicara berdua, hehe...
Miu.Nuha
apakah naga di dalam tubuh kai pernah keluar dan mengamuk?? 😱
Sarifah_Aini97: belum sampai kesitu isi ceritanya
total 1 replies
Rain Aricia
Kok aku merasa si Hana ada rasa ga suka gitu ya sama Kai? Apa mereka saling benci
Sarifah_Aini97: Pertanyaan bagus! Apakah mereka saling benci atau ada alasan lain di balik sikap mereka? Penasaran kan? Yuk, terus ikuti kelanjutannya, pelan-pelan rahasianya bakal terbuka kok! 🤗
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ MULIANA💦
nah kan. hana sejenis mata-mata untuk melihat keadaan
Rain Aricia
Eh berarti si naga tau dong apa aja yang dipikirin sama Kai🤔
༺⬙⃟⛅ MULIANA💦
apa hana mata-mata yang dikirimkan?
Three Flowers
Mai atau Hana yang jahat?
Three Flowers: hehe iya gpp deh Thor... penasaran bikin tambah sedep nikmatin kisahnya
total 4 replies
Three Flowers
berarti Hana berada di pihak lawan?
Cimol krispy
Hei Mai, jangan asal bicara. bisa jadi Hana juga di paksa untuk datang
Cimol krispy
seolah² seisi benteng tengah mempersiapkan sesuatu yang besar dan berbahaya ya Kai
-Thiea-
jadi, semua orang pengen lihat si kai jatuh ya. karena kekuatannya sudah dianggap melemah, gak sekuat dulu. 🤔
Filan
vibenya sangat tegang tapi masih belum begitu paham masalah yang sedang mereka hadapi. Di sini hanya Hana yang bukan berasal dari klan mereka dari 4 wanita itu ya.
Mega Siregar
apakah itu peringatan😧?
Xlyzy
Apa yang mereka cari?, bisa bisa di tengah perjamuan bikin kacau
Three Flowers
apakah mereka mengincar Hana?
Three Flowers
sosok Mai ini kelihatan bar bar, kebalikan dari Hana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!