Davino Agata, pria dengan sejuta pesona yang mampu memikat banyak gadis. Ketampanan yang ia miliki tak membuatnya merasa sombong. Meski banyak gadis yang mengejarnya, hal itu tak lantas membuatnya berbangga diri.
Banyak yang mengira bahwa dirinya Playboy sejati, karena saking banyaknya wanita yang ia pacari dan kencani. Hal itu tak luput dari adik dan juga mama angkatnya. Karena kemauan mereka lah Davino mau berkencan dan bahkan mempacari mereka. Tapi sayangnya, tak ada satu pun di antara mereka yang mampu memikat hati Davino.
Dina Anindita Ahnal Ihsan, gadis yang mempunyai sejuta pesona. Kecantikannya sudah tak di ragukan lagi. Adik dari Fatur itu mampu memikat siapapun yang memandangnya, termasuk Davino.
Mampukah Davino Agata mendapatkan hati Dina Anindita Ahnal Ihsan? Sedang gadis itu punya prinsip. Hanya sang suami lah nantinya yang akan mendapatkan cintanya.
Bagaimana perjuangan Davino meluluhkan hati Dina? dan apakah ia akan berhasil mempersunting sang tuan putri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rossanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada aku disini
Setelah bertemu Ananta, Dina terlihat sangat murung. Hal itu di sadari oleh Davino. Davino memeluk istrinya itu dari belakang. Dina sempat kaget karena ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Sebelum akhirnya ia sadar kalau Davino lah yang memeluknya dari belakang. Davino mendengar Isak tangis istrinya yang begitu menyayat hati.
Dia membalikkan Dina menghadapnya,menghapus air mata yang membasahi pipi sang istri. Memeluk Dina dengan sangat erat, ia tau kini Dina sedang terluka. meski ia tak tau kenapa, tapi ia mencoba menenangkan Dina.
" Kenapa sayang? Apa yang terjadi padamu Din?" Bukan menjawab, Dina malah tambah menangis dan lebih erat memeluk Davino.
Dina butuh ketenangan sekarang dan berada dalam pelukan Davino bisa membuatnya tenang dan juga nyaman. Ia semakin erat memeluk suaminya itu, mencari kekuatan untuk menghadapi masalahnya selama ini. Iya, selama ini Dina hanya memendamnya sendiri. Rasa sakit yang ia rasakan hanya terpendam dalam hatinya. Tapi sekarang ia sedang sedikit lega, karena tadi ia sudah menceritakan semua masalahnya pada Ananta dan sekarang ia menumpahkan semua tangisnya di pelukan suaminya.
" Kenapa sayang, apa yang terjadi Dina? Jangan membuatku panik dan khawatir Dina." Davino terus bertanya pada istrinya itu, tapi yang di tanya tetap diam. Tak ingin membuat Dina tambah tertekan ia pun hanya mampu mengeratkan pelukannya.
Setelah puas menangis, Dina melepaskan pelukannya itu dan menatap wajah sang suami. Wajah yang penuh kekhawatiran jelas terlihat olehnya. Ya, Dina sangat tau kalau Davino begitu khawatir terhadapnya.
" Kau kenapa sayang? Tanya Davino sekali lagi. Dan Dina kembali memeluknya.
" Biarkan seperti ini mas, aku capek mengahadapi semua kenyataan yang pahit ini. Aku capek selalu dalam pemikiran ini mas. Biarkan aku memelukmu, mencari kenyamanan dan kekuatan agar aku bisa mengahadapi segala kenyataan pahit ini." Dina menumpahkan semua kesedihannya pada Davino, dia kembali menangis dalam pelukan sang suami.
Davino merasa bersalah pada sang istri, ia merasa gagal menjadi suami Dina. Sekeras apapun dia berusaha untuk membahagiakan Dina selama sebulan ini, tetap saja Dina tak bahagia. Dan kenyataan pahit apa yang Dina katakan? Apa menikah dengannya merupakan kenyataan pahit bagi sang istri. Entahlah semakin terdengar pilu isakan tangis Dina semakin ia merasa sangat bersalah.
" Menangis lah, jika itu bisa membuatmu nyaman setelahnya. Tapi jangan menangis lagi setelah itu sayang, karena aku tak sanggup melihatmu menangis Din. Maaf karena mungkin selama ini kau tertekan olehku, maaf karena selama sebulan ini aku belum mampu membahagiakan mu sayang." Mendengar kata maaf dari Davino, Dina melepas pelukannya. Menghapus air matanya, ia merasa bersalah pada sang suami. Karena ia menangis, Davino jadi merasa sangat bersalah padanya.
" Jangan berkata seperti itu mas, aku bahagia menikah denganmu. Bukan maksudku mengatakan kalau menikah denganmu adalah suatu kesalahan. Tapi ini hal lain yang selama ini aku hadapi mas." Dina memeluk Davino.
" Jangan berkata seperti itu lagi mas, aku gak akan sanggup mendengarkan nya lagi. Kau begitu baik dalam menjagaku selama ini dan menjadi sosok suami yang sempurna di mataku. Maafkan aku, mungkin aku banyak salah padamu."
" Lalu apa yang membuatmu menangis seperti itu sayang. Katakan padaku, siapa yang menyakiti sampai tangismu menyayat hati." Davino membawa dia untuk duduk di sofa kamar mereka.
Dina pun menceritakan pertemuannya dengan Ananta sore tadi di kaffe dekat kampusnya. Menceritakan semua hal yang mereka perbincangkan tanpa terkecuali. Dan bagaimana selama ini ia tertekan dengan keadaan yang ia hadapi di keluarganya. Pemikirannya tentang keluarga Arman yang tak pernah muncul di hadapannya dan sang abhi Yang selama ini menolak keras kemauannya untuk bertemu keluarga om Arman.
" Jangan di pikirkan ya, aku ada disini bersamamu. Jangan merasa sendirian lagi sayang aku tak ingin kau bersedih Dina." Davino membawa Dina dalam pelukannya lagi. Mengelus punggung sang istri agar kembali tenang.
" Terima kasih ya mas, karena mas mau mendengarkan semuanya. Maaf kalau Dina selama ini merepotkan mas vino, tak mampu menjadi istri sepenuhnya buat mas." Dina membalas pelukan sang suami.
Davino mencium puncak kepala sang istri, mencoba menyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Ada dirinya sekarang yang akan selalu berada disisi Dina. Yang tak akan meninggalkan Dina dan akan selalu menemani Dina setiap waktu.
" Ada aku di sampingmu sayang, jangan sedih dan merasa sendirian sekarang. Kapanpun kau bersedih dan terluka datanglah padaku. Pundak ku akan selalu siap untuk memberikan kenyamanan bagimu sayang." Dina tersenyum mendengar kata-kata romantis dari sang suami.
" Terima kasih karena mas sudah bersedia menjadi suami Dina yang jauh dari kata sempurna. Terima kasih karena mas mau menerima Dina dengan segala kekurangan Dina selama ini. Dan juga terima kasih karena mas mau menunggu kesiapan Dina mas. Dina sayang sama mas, Dina gak mau jauh ataupun sampai kehilangan mas vino. Jangan pernah tinggalkan Dina ya mas..."
Davino begitu bahagia, karena pada akhirnya Dina mau membuka hatinya untuk dirinya. Saking bahagianya ia mendengar kalau sang istri sudah menyayangi nya ia mempererat pelukannya. Mengisyaratkan kalau dirinya tak ingin Dina jauh darinya.
...****************...
" Ada kalanya terbuka dengan pasangan akan membuat hati kita tenang dan juga merasa beban kita sedikit berkurang." Ucap pak vino mengakhiri ceritanya.
" Setiap orang punya masalah dan tak sedikit dari mereka yang beranggapan kalau mereka mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Tanpa mereka sadari kalau hal itu melukai dan bahkan membebani pikirannya. Ada kalanya kita juga harus berbagi masalah dan beban hidup kita pada orang lain. Bukan untuk menunjukkan kelemahan kita, tapi untuk mencari kekuatan dan juga menghilangkan sedikit beban kita." Kata-kata bijak itu meluncur dengan lancarnya dari bibir pak vino.
" Memang benar apa yang kamu katakan Vin, kadang kita juga butuh seseorang yang mau mendengarkan keluh kesah kita agar beban dalam diri kita sedikit berkurang. Dina terlalu dini saat itu, sehingga ia begitu terguncang batinnya. Kamu dan Ananta merupakan tempatnya berbagi keluh kesah, Tomy tempatnya berbagi rahasia dan aku tak apa-apa soal adikku. Justru akulah yang membebaninya selama ini. Karena keegoisan ku selama ini Dina terluka secara batin." Pak Fatur begitu sedih. Aku tau ia sekarang sangat terluka, mendengar cerita dari kak Ananta tadi dan sekarang dari pak vino. Dalam cerita itu jelas terlihat kalau Bu Dina tertekan karena ia yang tak mau meneruskan perusahaan keluarganya.
" Sudahlah kak, penyesalan pun sudah tiada guna lagi, Semua sudah terjadi. Dan apa yang di katakan Ananta tadi benar, Dina sudah bahagia sekarang. Jadi untuk apa kita saling menyalahkan." Pak vino menengahi.
Sejak tadi mas Tomy hanya diam tak bersuara. Apakah sesakit itu ia mengingat penderitaan Bu Dina selama ini? Mungkinkah ia juga merasakan kesedihan seperti yang bi Dina rasakan. Karena selama ini jelas terlihat, kalau Bu Dina lebih dekat dengan mas Tomy di bandingkan dengan pak Fatur. Dan tadi pak Fatur juga mengatakan kalau Bu Dina selalu membagi rahasianya dengan mas Tomy, jadi mungkinkah mas Tomy lebih dulu tau di bandingkan pak vino dan kak Ananta? Entahlah, memikirkannya hanya akan membuatku pusing saja. Lebih baik aku tak ikut campur urusan hati si Mr. Tembok itu. Biarlah dia termenung sendirian.
Cerita kami pun berakhir karena hari yang sudah mulai sore. Lagi-lagi pak vino menyuruh mas Tomy mengantarkan ku pulang. Sudah kayak sopir saja dia sekarang, selalu mengantar jemput ku.