NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14 pengakuan bianca

Minggu pagi yang biasanya terasa menenangkan justru membuat Bianca gelisah.

Sejak bangun tidur, rasa mual yang sempat muncul semalam masih sesekali datang. Ia mencoba mengabaikannya dengan menyibukkan diri di rumah, namun pikirannya terus kembali pada Adrian.

Pada pesan terakhir yang mereka tukarkan.

Pada tatapan pria itu saat pesta pernikahan.

Dan pada kenyataan bahwa setiap kali Adrian pulang, ia akan kembali menjadi milik Nadia.

Pikiran itu selalu berhasil meninggalkan rasa kosong yang sulit dijelaskan.

Saat membuka pintu rumah karena mendengar bel, Bianca terkejut melihat seikat mawar putih dan merah tersusun rapi di depan pagar.

Bibirnya langsung membentuk senyum kecil.

Mawar.

Bunga favoritnya sejak lama.

Jantungnya bahkan sempat berdebar karena mengira ia tahu siapa pengirimnya.

Tanpa sadar ia menoleh ke kanan dan kiri jalan perumahan.

Mencari sosok yang sudah beberapa hari memenuhi pikirannya.

Namun yang berdiri tidak jauh dari sana bukan Adrian, melainkan Nadia.

Senyum Bianca langsung membeku.

Untuk sesaat ia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Nadia berdiri dengan pakaian kasual sederhana, jauh berbeda dari penampilannya yang selalu formal di kantor. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa. Terlalu tenang. Dan entah mengapa hal itu membuat Bianca merasa gugup.

"Nadia?"

Wanita itu tersenyum tipis.

"Pagi."

Beberapa menit kemudian mereka duduk di teras rumah.

Secangkir teh hangat berada di meja kecil di antara mereka.

Suasana terlihat biasa saja bagi siapa pun yang melihat.

Dua wanita yang saling mengenal sejak masa SMA sedang mengobrol di hari libur.

Namun di balik ketenangan itu, masing-masing menyimpan pikiran yang berbeda.

Nadia memperhatikan bunga mawar yang tadi diambil Bianca dan diletakkan di dalam vas.

Sementara Bianca berusaha bersikap senormal mungkin.

"Aku tidak menyangka kamu datang."

kata Bianca sambil tersenyum.

"Aku juga."

jawab Nadia pelan.

"Aku hanya sedang ingin bertemu teman lama."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun entah mengapa membuat Bianca sedikit tidak nyaman.

Percakapan mereka mengalir ke berbagai topik.

Tentang masa sekolah.

Tentang pekerjaan.

Tentang kehidupan yang ternyata berubah begitu jauh dibandingkan masa remaja dulu.

Sampai akhirnya Nadia bertanya dengan santai.

"Kamu betah bekerja di firma sekarang?"

Bianca mengangguk.

"Sangat."

"Semua orang baik."

"Nggak semua."

Nadia tersenyum kecil, bianca ikut tertawa.

Suasana perlahan menjadi lebih ringan, mungkin karena hari itu terasa tenang.

Mungkin karena selama ini ia tidak memiliki banyak orang untuk diajak berbicara.

Atau mungkin karena Nadia memang selalu pandai membuat lawan bicaranya merasa nyaman.

Tanpa sadar Bianca mulai lebih terbuka.

"Jujur saja, beberapa bulan lalu aku sempat kesulitan beradaptasi."

ucapnya.

"Nggak mudah masuk ke lingkungan baru."

Nadia hanya mendengarkan, memberinya ruang untuk berbicara.

"Tapi ada seseorang yang banyak membantuku."

lanjut Bianca.

Tatapannya perlahan melembut.

Seolah sedang memikirkan orang tersebut.

"Dia selalu ada waktu aku kesulitan."

"Selalu mendengarkan."

"Dan nggak pernah menghakimi."

Nadia merasakan dadanya mengencang.

Namun ekspresinya tidak berubah.

"Orang kantor?"

tanyanya pelan.

Senyum yang tidak bisa disembunyikan ketika seseorang membicarakan orang yang berarti baginya.

"Kadang aku merasa aman saat bersama dia."

kata Bianca jujur.

"Seperti ada yang melindungi."

Ia menunduk sebentar sebelum melanjutkan.

"Aneh ya."

"Padahal aku biasanya nggak pernah bergantung sama siapa pun."

Nadia menatap wanita yang duduk di hadapannya.

Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang selama ini mungkin luput dari perhatiannya.

Perasaan itu nyata. Bukan permainan. Bukan sekadar godaan sesaat.

Bianca benar-benar memiliki perasaan terhadap pria yang sedang dibicarakannya.

Dan mungkin yang lebih menyakitkan...

Perasaan itu tampaknya sudah tumbuh cukup lama.

Angin pagi berembus pelan melewati teras rumah.

Bunga mawar di dalam vas bergoyang ringan.

Sementara Nadia duduk diam dengan senyum yang tetap terpasang di wajahnya.

Namun jauh di dalam hatinya, setiap kata yang baru saja diucapkan Bianca terasa seperti pisau yang perlahan menoreh luka lebih dalam.

Karena kini ia mulai memahami satu hal.

Apa yang terjadi antara Bianca dan Adrian bukan lagi sekadar kesalahan sesaat.

Melainkan hubungan yang sudah berkembang cukup jauh hingga membuat keduanya merasa saling dibutuhkan.

Perkataan Nadia pada hari Minggu itu terus teringat di benak Bianca bahkan hingga keesokan harinya.

Saat mereka duduk di teras rumah, Nadia akhirnya mengatakan semuanya dengan tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada makian, tidak ada penghinaan yang sering muncul ketika sebuah perselingkuhan terbongkar.

Justru ketenangan itulah yang paling melukai.

Sebagai sesama perempuan, Nadia memintanya untuk menghentikan hubungan tersebut.

Memintanya untuk melepaskan Adrian.

Memintanya untuk tidak menghancurkan sesuatu yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan suara pelan namun begitu jelas hingga Bianca masih mengingat setiap katanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak hubungan itu dimulai, Bianca benar-benar merasakan rasa bersalah yang selama ini berusaha ia abaikan.

Namun rasa bersalah tidak serta-merta menghilangkan perasaannya.

Itulah yang membuat semuanya terasa semakin menyakitkan.

Karena jauh di dalam hatinya, Bianca tahu Nadia benar.

Tetapi di saat yang sama, ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa Adrian telah menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.

Seseorang yang membuatnya merasa diperhatikan, Membuatnya merasa aman.

Membuatnya merasa tidak sendirian.

Dan melepaskan semua itu ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Hari Senin pagi langit Jakarta dipenuhi awan gelap.

Menjelang siang hujan turun begitu deras hingga jalanan di depan gedung firma hukum berubah menjadi lautan payung dan kendaraan yang berjalan lambat.

Dari balik jendela coffee shop yang berada tepat di seberang kantor, Bianca memandangi hujan yang tak kunjung reda.

Ia baru saja menyelesaikan pertemuan singkat dengan klien dan sedang menunggu cuaca sedikit membaik.

Namun hujan justru semakin deras.

Tak jauh dari sana, Adrian baru saja keluar dari gedung kantor setelah menyelesaikan rapat dengan salah satu partner senior.

Saat melihat Bianca berdiri sendirian di depan coffee shop sambil memperhatikan hujan, langkahnya terhenti.

Untuk sesaat ia hanya memandang wanita itu dari kejauhan.

Lalu tanpa berpikir panjang, ia membuka payung yang dibawanya dan berjalan menyeberang.

Bianca terkejut ketika melihat Adrian tiba-tiba berdiri di hadapannya.

"Kamu masih di sini?"

tanya Adrian.

"Hujannya terlalu deras."

jawab Bianca sambil tersenyum kecil.

Tanpa banyak bicara, Adrian menggeser payungnya.

"Ayo masuk kantor."

Bianca ragu sesaat.

Namun akhirnya melangkah mendekat.

Jarak di antara mereka begitu dekat hingga bahu keduanya hampir bersentuhan.

Pada saat yang sama, sebuah taksi berhenti tidak jauh dari sana.

Nadia turun sambil membawa tas kerjanya.

Ia terlambat datang karena harus menghadiri pertemuan di luar kantor sejak pagi.

Sayangnya ia tidak membawa payung.

Begitu keluar dari kendaraan, air hujan langsung membasahi sebagian pakaian dan rambutnya.

Awalnya Nadia hanya fokus menuju gedung kantor.

Namun langkahnya perlahan berhenti.

Di tengah guyuran hujan yang deras, matanya menangkap pemandangan yang begitu familiar.

Adrian Dan Bianca.

Berjalan berdampingan di bawah payung yang sama.

Tubuh Nadia seketika membeku. Bukan karena hujan yang dingin. Melainkan karena kenyataan yang sedang ia lihat.

Beberapa hari lalu Adrian memintanya menyimpan rahasia perselingkuhan mereka.

Beberapa hari lalu pria itu mengatakan ingin memperbaiki keadaan.

Namun sekarang...

Di tengah jam kerja. Di depan kantor. Tanpa rasa takut. Tanpa rasa malu. Ia masih memilih memberikan perhatian kepada Bianca.

Bianca yang sedang berjalan di samping Adrian tiba-tiba melihat ke arah jalan. Dan wajahnya langsung pucat.

Karena ia melihat Nadia berdiri di sana, sendirian, kehujanan.

Memandangi mereka tanpa ekspresi. Adrian mengikuti arah pandang Bianca. Lalu tubuhnya langsung menegang.

Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Di kejauhan, istrinya berdiri dengan pakaian yang mulai basah oleh hujan.

Rambut panjangnya menempel di sebagian wajahnya.

Namun yang paling membuat Adrian merasa tidak nyaman bukanlah kondisi Nadia.

Melainkan tatapan wanita itu, tatapan yang kini tidak lagi berisi kemarahan. Tidak lagi berisi pertanyaan. Dan tidak lagi berisi harapan.

Seolah sedikit demi sedikit, Nadia mulai berhenti peduli.

Dan kesadaran itu membuat rasa takut yang selama ini berusaha diabaikan Adrian perlahan mulai tumbuh di dalam dirinya.

1
Mundri Astuti
fix ni mah kerjaan Bianca, keliatannya lemah ni org, tapi liciknya luar biasa
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!