NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Saat Roy dan Sintia masih berada di dalam rumah, Rani mengantar Hendi hingga ke halaman depan. Mobil pria itu masih terparkir di depan pagar. Alih-alih segera berpamitan, keduanya justru berhenti sejenak, menikmati udara pagi yang masih sejuk.

Hendi melirik rumah megah di belakang mereka, lalu mengembuskan napas pelan.

"Bu Rani, hanya sampai di sini saja?"

Rani mengikuti arah pandangnya. Rumah yang selama sepuluh tahun menjadi tempat tinggalnya itu berdiri begitu megah, tetapi kini terasa asing.

"Aku tahu apa yang sedang Bapak pikirkan."

Hendi tersenyum kecil. "Kalau tujuan Ibu memang ingin mendapatkan hak atas harta bersama, tadi sebenarnya kita bisa menekan Pak Roy lebih jauh."

"Butuh keberanian untuk menekan seseorang seperti Roy," jawab Rani tenang. "Dan keberanian itu harus dipakai pada waktu yang tepat."

Hendi menatapnya penuh tanda tanya.

"Maksud Ibu?"

"Kalau aku memaksanya sekarang, dia akan langsung memasang pertahanan." Rani mengalihkan pandangan ke arah jendela rumah. "Orang seperti Roy terbiasa mengendalikan keadaan. Begitu merasa terpojok, dia akan berhenti menunjukkan apa pun."

"Lalu kenapa Ibu memilih berhenti?"

"Karena aku tidak sedang mengejar kemenangan hari ini." Bibir Rani membentuk senyum samar. "Aku hanya ingin dia sadar kalau aku sudah mulai bergerak. Setelah itu, biarkan pikirannya sendiri yang bekerja."

Hendi terdiam beberapa saat, mencerna kalimat itu.

"Bukankah cara seperti itu cukup berisiko?"

"Justru sebaliknya." Rani menyandarkan sebelah bahunya pada pagar. "Saat seseorang mulai merasa terancam, dia sering kali membuat kesalahan karena terburu-buru menutupinya. Aku tidak perlu memancing terlalu jauh. Cukup menunggu."

Hendi mengangguk pelan. Penjelasan itu masuk akal, tetapi ada sesuatu di wajah Rani yang membuatnya yakin pembicaraan mereka belum selesai.

"Sepertinya masih ada yang mengganjal di pikiran Ibu."

Rani tidak langsung menjawab. Pandangannya kembali jatuh ke arah rumah itu, seolah sedang mengulang setiap percakapan yang baru saja terjadi di dalam.

"Ada satu hal yang belum bisa kupahami."

"Apa itu?"

"Kalau Roy memang sudah tidak menginginkanku sejak dulu..." ucapnya perlahan, "...kenapa dia tidak pernah menceraikanku?"

Hendi ikut berpikir. "Mungkin karena anak-anak?"

Rani menggeleng pelan. "Kurasa bukan."

Ia mengingat kembali perubahan ekspresi Roy saat pembahasan beralih pada harta bersama. Pria itu memang berusaha tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah. Terlalu cepat sangat jelas.

"Reaksinya berbeda ketika membahas soal harta," lanjut Rani. "Seolah ada sesuatu yang sedang dia lindungi."

"Maksud Ibu...?"

"Aku belum bisa memastikan." Rani menarik napas pendek sebelum menatap Hendi lagi. "Tapi firasatku mengatakan alasan Roy mempertahankan pernikahan ini tidak ada hubungannya denganku."

"Melainkan?"

"Dengan harta."

Hendi mengangkat alis. "Ibu yakin?"

"Belum." Rani menggeleng pelan, kali ini disertai senyum kecil yang lebih menyerupai keyakinan daripada keraguan. "Baru dugaan. Tapi selama ini, firasatku jarang membawa ke arah yang salah."

Percakapan mereka terhenti ketika pintu utama kembali terbuka. Roy melangkah keluar lebih dulu tanpa menoleh ke kanan ataupun kiri. Sintia menyusul di belakangnya sambil membawa tas tangan. Saat melewati halaman, pandangan mereka sempat berpapasan dengan Rani dan Hendi, tetapi hanya sesaat. Tak ada sapaan, tak ada kalimat yang terlontar.

Roy membukakan pintu penumpang untuk Sintia, lalu berputar menuju kursi kemudi. Beberapa detik kemudian suara mesin menyala, memecah sunyi yang sejak tadi menggantung di halaman. Mobil itu bergerak perlahan meninggalkan rumah.

Rani tidak segera mengalihkan pandangannya. Ia terus mengikuti laju kendaraan itu hingga menghilang di balik gerbang. Tanpa sadar jemarinya menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.

Aneh.

Ia bahkan tidak mampu mengingat seperti apa rasanya mencintai Roy. Wajah pria itu terasa begitu asing dalam ingatannya, tetapi melihat Roy berjalan berdampingan dengan wanita lain tetap meninggalkan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah ada luka lama yang telah tertutup, namun masih menyisakan nyeri setiap kali tersentuh.

"Lucu juga," gumamnya nyaris tak terdengar. "Aku melupakan semua kenangannya... tapi tubuhku masih ingat bagaimana rasanya terluka."

"Bu Rani?" Suara Hendi menariknya kembali ke kenyataan.

Rani berkedip pelan sebelum melepaskan genggaman tangannya sendiri. "Maaf, aku melamun."

"Kalau begitu saya pamit."

"Terima kasih sudah datang." Rani tersenyum hangat. "Hati-hati di jalan, ya. Titip salam untuk Sekar."

"Pasti."

Hendi masuk ke dalam mobilnya. Setelah kendaraan itu menghilang dari halaman, suasana rumah kembali lengang, meskipun ada beberapa pembantu yang sibuk mengurus rumah.

Rani mengembuskan napas pelan sebelum berbalik masuk. Sisa pagi ia habiskan bersama Haikal.

Seperti biasa, bocah itu menyambutnya dengan senyum lebar begitu latihan dimulai. Rani membantu menggerakkan kedua lengannya perlahan, memijat otot-otot kakinya yang masih kaku, lalu mengajaknya berlatih duduk lebih lama daripada hari sebelumnya. Tidak semua gerakan berhasil dilakukan dengan mulus, tetapi setiap kemajuan kecil selalu disambut tawa puas Haikal yang membuat rasa lelah terasa tidak berarti.

Menjelang siang, mereka makan bersama. Rani menyuapi Haikal dengan sabar hingga suapan terakhir. Setelah terapi selesai, kelopak mata bocah itu mulai terasa berat. Tak butuh waktu lama sebelum ia tertidur pulas.

Rani membenarkan posisi bantal di bawah kepala Haikal, lalu menarik selimut hingga menutupi dadanya. Sesaat ia mengusap rambut bocah itu dengan lembut sebelum keluar dari kamar sambil menutup pintu perlahan.

Begitu tiba di ruang tamu, pandangannya jatuh pada jam dinding. Jarum panjang telah melewati angka dua belas. Waktunya hampir tiba. Aksan, Arlan, dan Arjun pasti segera pulang.

Rani menghampiri sofa yang menghadap pintu masuk. Sebuah map telah menunggunya di atas meja, berdampingan dengan tiga gelas berisi minuman dingin yang sengaja ia minta disiapkan sejak tadi.

Ia tidak berniat menyambut mereka dengan kemarahan. Hari ini, mereka akan belajar bahwa ketegasan tidak selalu datang bersama bentakan atau perkelahian.

Belum lama ia duduk, suara gerbang otomatis mulai terdengar.

Sebuah mobil masuk lebih dulu ke halaman, disusul dua sepeda motor yang berhenti di samping teras. Tak lama kemudian pintu depan terbuka.

Arlan muncul paling pertama. Sambil mengendurkan dasi sekolahnya, ia melempar tas ransel begitu saja ke atas sofa.

"Bi, makan siang apa?" serunya asal, tanpa sempat melihat ke dalam ruang tamu.

Namun langkahnya mendadak terhenti. Tatapannya jatuh pada sosok Rani yang duduk santai di sofa sambil memegang secangkir teh hangat.

Rani meletakkan cangkir itu perlahan, lalu menatapnya dengan tenang.

"Selamat siang."

Dahi Arlan langsung berkerut. Senyum santainya lenyap begitu saja. Ia tidak menyangka orang pertama yang menyambut kepulangannya hari itu adalah wanita yang justru ingin ia hindari.

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!