"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saldo Istri, Nafkah Suami
Langkah kaki Pras terasa begitu kosong saat ia melangkah keluar dari lobi gedung perkantoran yang selama lima tahun ini menjadi tempatnya menyombongkan diri. Di tangan kanannya, sebuah kardus cokelat berisi beberapa barang pribadi pajangan meja, beberapa dokumen tak terpakai, dan ID card yang sudah digunting menjadi dua terasa seberat bongkahan batu. Ia kini resmi menjadi seorang pengangguran. Bukan sekadar pengangguran biasa, melainkan seseorang yang ditendang keluar dengan cap kriminal: dipecat secara tidak hormat karena kasus penggelapan dana.
Pras berjalan lunglai menuju area parkir motor luar, tempat yang sangat asing baginya. Di kantong celananya, hanya ada sisa uang tunai yang tak seberapa dan sebuah karcis ojek online. Mobil sedan hitam yang biasanya mengkilap dan selalu ia banggakan di depan teman-teman kantor maupun tetangganya, kini sudah berpindah tangan, disita oleh divisi logistik perusahaan lengkap dengan kunci dan STNK-nya.
Pras duduk di sebuah bangku semen panjang di bawah pohon peneduh yang agak jauh dari keramaian lobi. Ia meletakkan kardus cokelatnya di lantai, lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangan. Bahunya bergetar pelan. Rasa penyesalan yang teramat dalam mendadak datang menghantam dadanya seperti ombak besar yang menghancurkan karang.
"Bagaimana aku harus hidup setelah ini...?" bisik Pras pada dirinya sendiri, suaranya tercekat dan bergetar hebat karena menahan tangis.
Pikiran Pras melayang pada nasib karirnya ke depan. Dengan surat pemecatan tidak hormat dan catatan penggelapan dana seratus lima puluh juta rupiah, Pras tahu persis bagaimana sistem dunia korporat bekerja. Namanya dipastikan sudah masuk ke dalam daftar hitam blacklist di seluruh asosiasi perusahaan besar dan instansi terpandang di kota ini. Tidak akan ada satu pun HRD perusahaan yang mau melirik curriculum vitae milik seorang mantan karyawan yang cacat integritas. Untuk melamar sebagai staf biasa pun, rekam jejaknya yang kotor akan selalu membayangi.
Di tengah keputusasaan yang mencekik itu, ingatan Pras mendadak ditarik kembali pada sosok wanita yang selama sepuluh tahun ini selalu ada untuknya. Arumi. Wanita yang dulu selalu menyambutnya pulang dengan senyuman tulus, meskipun Pras hanya memberikan uang belanja mingguan yang sangat kikir.
Wanita yang rela menahan lapar demi memastikan Pras bisa makan dengan lauk yang layak setelah seharian bekerja. Wanita yang dulu selalu mendengarkan keluh kesahnya dan memberikan pijatan lembut di punggungnya saat ia merasa stres dengan tekanan kantor.
"Arumi..." lirih Pras. Rasa rindu, sesal, dan butuh yang teramat sangat seketika membuncah di dalam hatinya.
Dengan tangan yang gemetar, Pras meraba saku celananya dan mengeluarkan ponsel miliknya. Ia membuka aplikasi pesan singkat, mencari nama kontak yang dulu sering ia abaikan dan ia bentak melalui ruang obrolan Arumi (Istri).
Pras menatap foto profil kontak tersebut yang kini sudah berubah. Tidak ada lagi foto Arumi yang kuyu dengan daster pudar di sana terpajang foto Arumi yang anggun dengan senyuman cerah di dekat sebuah taman. Pras mencoba mengetikkan pesan dengan jemari yang bergetar.
"Rum, tolong maafkan aku. Aku minta maaf atas semua kesalahanku selama ini. Aku sedang kesulitan, Rum. Bolehkah kita bicara sebentar demi anak-anak?"
Pras menekan tombol kirim. Namun, dadanya seketika mencos saat melihat tanda di samping pesan tersebut. Hanya ada centang satu berwarna abu-abu. Pras mencoba menunggu selama beberapa menit, namun statusnya tidak berubah. Penasaran, ia mencoba menekan tombol panggilan suara.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..." Suara operator wanita yang datar menyambut pendengaran Pras.
Pras menjauhkan ponsel dari telinganya dengan tatapan kosong. Ia tersenyum getir, sebuah tawa meratapi kebodohannya sendiri. Arumi ternyata sudah memblokir nomor teleponnya secara permanen. Wanita itu telah menutup rapat-rapat gerbang kehidupannya yang baru dari segala hal yang berhubungan dengan Pras. Akses komunikasi yang dulu selalu terbuka lebar kini telah diputus tanpa sisa, meninggalkan Pras sendirian di luar dalam kedinginan nasibnya.
Belum sempat Pras meratapi pemblokiran nomor tersebut, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar hebat secara beruntun. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Mama' yang memanggil dengan nada mendesak. Pras menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo, Mah..."
"Pras! Kamu di mana sekarang?! Pulang sekarang juga, Pras! Cepat!" Jeritan histeris Mama Pras langsung memotong kalimat anaknya bahkan sebelum Pras sempat menyelesaikan sapaannya. Suara ibunya terdengar sangat panik, melengking tinggi dengan latar belakang suara riuh yang tidak jelas di rumah mereka.
"Ada apa lagi, Ma? Pras baru saja..."
"Rumah kita, Pras! Orang-orang dari bank datang ke rumah didampingi aparat lingkungan! Mereka bawa papan penyitaan untuk dipasang di depan ruko grosir Mama! Mereka bilang kalau dalam dua jam ini kita tidak bisa bayar tunggakan tiga bulan, ruko kita akan disegel total! Kamu cepat pulang, Pras! Bawa uangnya! Jangan jadi anak tidak berguna!"
Klik.
Telepon diputus secara sepihak oleh ibunya, menyisakan bunyi dengung panjang yang seolah-olah mempercepat detak jantung Pras. Kepanikan yang luar biasa seketika menjalar ke seluruh tubuh pria itu. Rumah dan ruko milik ibunya adalah benteng terakhir pertahanan finansial keluarga mereka. Jika ruko itu disita, bisnis grosir ibunya mati, dan mereka tidak akan memiliki tempat untuk menyambung hidup.
Tanpa memedulikan kardus cokelat berisi barang-barang kantornya yang kini ia tinggalkan begitu saja di bawah pohon semen, Pras langsung bangkit berdiri. Ia berlari kencang menuju ke depan jalan raya, mengabaikan rasa lelah dan kantuknya yang menumpuk karena tidak tidur semalaman. Di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat, Pras melangkah dengan kecepatan penuh, setengah berlari membelah trotoar kota menuju arah pulang. Karena tidak memiliki mobil lagi, ia terpaksa berjalan kaki dengan tergesa-gesa menyusuri jalanan yang ramai.
Langkah kaki Pras yang terburu-buru membawanya melewati sebuah area jalan protokol yang cukup padat. Di sebelah kiri jalan tersebut, berdiri sebuah gedung sekolah dasar swasta islam terpadu yang cukup megah dan terpandang di kota. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, jam pulang bagi anak-anak kelas satu dan dua sekolah dasar. Puluhan mobil dan motor milik orang tua murid tampak berjejer rapi di bahu jalan, menunggu gerbang sekolah terbuka.
Pras yang sedang berjalan dengan napas terengah-engah otomatis memperlambat langkah kakinya saat pandangannya menangkap sebuah mobil SUV hitam mewah yang sangat ia kenali terparkir tepat di depan gerbang utama sekolah. Itu adalah mobil milik Dimas, pria asing yang sore kemarin telah meruntuhkan seluruh harga dirinya di Gang Rejeki.
Entah mengapa, langkah kaki Pras mendadak terhenti total di atas trotoar, tepat beberapa meter dari posisi mobil mewah tersebut. Matanya terpaku pada pintu gerbang sekolah yang perlahan mulai dibuka oleh petugas keamanan.
Dari dalam gedung sekolah, dua anak laki-laki dengan seragam sekolah baru yang bersih, rapi, lengkap dengan tas punggung bermerek mahal tampak berlari kecil keluar dengan wajah yang dipenuhi tawa ceria. Mereka adalah Bintang dan Langit, anak kandung Pras yang selama ini selalu ia telantarkan dan ia keluhkan biaya hidupnya.
Melihat kedua anaknya, dada Pras mendadak terasa sesak oleh kerinduan yang teramat sangat. Ia ingin berteriak memanggil nama mereka, namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan saat melihat siapa yang menyambut kedatangan kedua anak tersebut di depan gerbang.
Arumi berdiri di sana, tampil sangat anggun dengan pakaian kasualnya yang berkelas, didampingi oleh Dimas yang berdiri tegap di sampingnya dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Begitu melihat Bintang dan Langit keluar, wajah Arumi langsung tersenyum sangat lebar sebuah senyuman penuh kebahagiaan murni yang belum pernah Pras lihat selama sepuluh tahun membina rumah tangga bersamanya.
"Ibu! Om Dimas!" teriak Bintang dengan riang, langsung berlari menghampiri mereka.
Yang membuat hati Pras laksana diiris oleh pisau berkarat adalah melihat bagaimana perlakuan kedua anaknya kepada Dimas. Langit, anak bungsunya yang dulu sering ia bentak jika menangis di malam hari, tanpa ragu langsung merentangkan kedua tangan kecilnya minta digendong oleh Dimas. Dengan gerakan yang sangat alami dan penuh kasih sayang, Dimas membungkuk, mengangkat tubuh kecil Langit ke dalam dekapan dadanya yang kokoh, lalu mengacak rambut anak itu dengan sapaan hangat yang penuh tawa lepas.
Sementara itu, Bintang tampak dengan bangga menunjukkan sebuah buku tugas dengan nilai seratus kepada Dimas. Dimas menyejajarkan tinggi badannya dengan Bintang, mendengarkan cerita anak sulung Arumi itu dengan perhatian penuh, lalu menepuk pundaknya dengan bangga sebelum mengusap kepala Bintang dengan lembut.
Arumi yang berdiri di samping mereka menatap interaksi tersebut dengan binar mata yang dipenuhi rasa haru dan cinta yang begitu pekat. Dimas kemudian membukakan pintu tengah mobil SUV-nya dengan sangat sopan untuk Arumi dan anak-anak, memastikan kepala Langit tidak terbentur saat masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk.
Mereka berempat terlihat begitu serasi, begitu sempurna laksana sebuah keluarga kecil yang utuh, bahagia, dan dipenuhi oleh kemewahan serta ketulusan sejati sebuah potret kehidupan ideal yang seharusnya menjadi milik Pras, namun telah ia hancurkan sendiri karena sifat kikir, egois, dan kesombongan keluarganya yang parasit.
Pras berdiri mematung di atas trotoar di seberang jalan, bersembunyi di balik tiang listrik dengan air mata yang akhirnya menetes deras membasahi pipinya yang kuyu. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mantan istrinya yang dulu ia injak-injak kini telah hidup mulia, dihormati, dan disayangi oleh pria yang jauh lebih baik dari segala aspek kehidupan.
Mobil SUV hitam mewah itu perlahan bergerak maju, membelah jalanan kota dan menjauh dari pandangan Pras, membawa pergi seluruh kebahagiaan dan masa depan anak-anaknya yang kini telah resmi menemukan sosok ayah pengganti yang sejati. Pras hanya bisa merosot berlutut di atas trotoar yang panas, meratapi nasibnya yang kini berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi abu, sementara ia harus melanjutkan langkah kakinya menuju rumah ibunya untuk menghadapi kehancuran finansial yang sesungguhnya telah menanti di depan mata.
nama mantan Suami Arumi adalah PRAS.. bukan nya REVAN 😁🙏
brondong nya juga keren 👍😁