Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Tawaran Pengabdian
Seorang bayi menangis memecahkan keheningan ruang IGD yang kala itu sunyi. Hari sudah menjelang pagi. Aira menunggu sendirian di ruang tunggu dokter dengan ponsel yang terus ia genggam berharap mendapat pesan dari Baskara. Aira segera menghampiri pasien dan membuka tirai ruang observasi.
Bayi itu menangis semakin menjadi saat tubuhnya dibaringkan. Wajah ibunya pucat. Aira dapat menebak dari mata sang ibu yang sembab jika sejak tadi ibu itu sudah terus menangis seraya mendampingi putranya.
Aira menyentuh tangan ibu yang masih gemetaran itu. Sentuhannya lembut, cukup membuat sang ibu mendongak menatap Aira sejenak. Aira tersenyum tipis.
"Tenang dulu, Bu," ucap Aira.
Sang ibu berusaha mengambil napas dalam seraya masih memegangi anaknya yang tidak mau dilepaskan.
"Tolong, anak saya, Dok. Sejak tadi nangis terus tidak berhenti," ucap ibu itu.
Aira mengamati. Ia memegang tubuh bayi itu, memeriksa dengan stetoskop dan mulai mengamati setiap gerakan bayi itu.
Anak itu menangis, sesekali miring kekiri dan ke kanan, tapi satu yang menjadi perhatian Aira. Kaki si bayi selalu di tarik mendekati perutnya.
Tak lama seorang ibu setengah baya muncul dengan sosok laki-laki. Mereka menghampiri dan Aira dapat menduga mereka adalah ayah dan nenek dari si bayi.
"Apa anak ibu mual atau diare?"
Ibu itu menggeleng. Namun, si nenek menjawab, "Muntah, Dokter," ucapnya.
Pandangan Aira tertuju pada si nenek yang berdiri di samping sang ayah.
"Berapa kali muntahnya, Bu?" tanya Aira tenang.
Nenek itu menggeleng karena tidak mengingat berapa pastinya. Aira kembali memfokuskan pandangan pada bayi yang masih menangis hingga suaranya nyaris habis. Aira mencoba menyentuh bagian perutnya. Tangis bayi justru semakin kencang. Aira mencoba melakukan beberapa kali lagi, menyentuh lembut bagian perut bayi, tapi si bayi kembali menangis melengking-lengking.
"Pagi tadi sudah rewel, setelah muntah saya minta dukun urut bayi untuk memijat. Mana tahu masuk angin. Tapi justru semakin rewel. Ibunya, sih, kemarin ngajak anak reunian sampai malam jadi sakit dia!" ucap si nenek.
Sang ibu hanya diam. Wajahnya masih pucat dan tubuhnya gemetaran. Jangan disalahkan, dari raut mukanya Aira sudah paham jika si ibu sudah terus menyalahkan dirinya sejak tadi.
Aira kembali memeriksa. Ia meminta perawat untuk menyiapkan peralatan USG. Aira meminta si ibu untuk memegangi tubuh sang anak agar Aira dapat memeriksa bagian perutnya. Aira mengoleskan gel pada perut si bayi dan menempelkan alat ke perutnya. Matanya menatap layar pada alat USG tersebut. Dahinya berkerut seketika.
"Ilma, hubungi Dokter Hasta dan ruang radiologi," ucap Aira tegas.
Mendengar itu, seluruh keluarga si bayi menatapnya dengan raut wajah tegang. Aira menatap keluarga itu satu persatu.
"Diagnosa, Dok?" tanya Ilma.
"Intususepsi," jawab Aira.
Ia pun kembali menatap keluarga itu. Ibunya sudah kembali menangis histeris. Suaminya mencoba menenangkan dan si nenek masih tetap mengintimidasi dengan raut mempersalahkan.
"Melihat dari gejala yang ada, sesuai dengan observasi yang saya lakukan, adik mengalami nyeri perut, karena kakinya selalu ditarik mendekati perut, adik menangis melengking saat perutnya saya raba, perut adek juga terlihat membuncit, hasil USG menyatakan jika kemungkinan besar adik mengalami intususepsi. Bahasa yang lebih dapat dipahami adalah usus bayi terlipat dan harus mendapat penanganan segera."
Ibu itu mendongak. Ia menatap nanar saat masih terisak-isak.
"Apa karena pijat bayi, Dok?"
Aira tersenyum tipis. "Pijat bayi tidak menyebabkan penyakit ini, Ibu. Pijat bayi boleh dilakukan hanya saja dengan sangat lembut. Dan harus sangat berhati-hati jika memijat area perut. Jika memang bayi rewel tidak berhenti, muntah-muntah, perut tampak membuncit, dan kaki selalu di tarik ke arah perut, ada kemungkinan nyeri perut. Pijat perut tanpa mengetahui kondisi, justru bisa memperburuk keadaan. Jika anak sudah tampak sangat kesakitan, jangan ragu untuk membawanya ke rumah sakit agar segera mendapat penanganan medis. Saya dan perawat Ilma akan menyiapkan anak Anda untuk penanganan selanjutnya."
Semua orang terdiam.
"Apa anak saya harus dioperasi, Dok?" tanya si ayah.
Aira tersenyum. "Belum tentu, Pak. Kami akan melakukan pengobatan tanpa operasi terlebih dahulu. Berdoa saja semoga langkah ini berhasil. Operasi adalah jalan terakhir."
Semua orang bernapas sedikit lega.
"Dokter Hasta dalam perjalanan, Dok. Katanya segera ke radiologi saja untuk proses reduksi enema udara," ucap Ilma.
Aira mengangguk paham. Ia mendorong brangkar menunu ruang radiologi. Ia mendaftarkan identitas si bayi dan meminta keluarganya untuk menunggu di luar ruangan selama proses berlangsung.
Aira mengembuskan napas lega saat tangis bayi itu berhenti. Ia menatap Dokter Hasta sejenak.
"Observasi 48 jam kedepan. Semoga tidak terlipat lagi," ucapnya singkat.
Aira mengangguk. Ia meminta perawat untuk mengurus rawat inap bayi itu beserta diagnosanya ke bagian rawat inap. Sementara itu, Aira keluar menemui keluarga pasien.
"Prosedurnya berjalan lancar. Sekarang tinggal mengurus rawat inapnya karena adik masih harus diobservasi selama 48 jam kedepan."
Semua orang bernapas lega.
Aira kembali berjalan keruang IGD. Ia duduk di ruang tunggu dokter menatap setiap sudut ruangan itu.
"Melamun?"
Aira terkesiap saat melihat Dokter Genta berdiri di sampingnya. Rambutnya klimis tertata rapi dan kacamata sudah bertengger manis di hidungnya.
"Ah! Nggak, Dok."
"Istirahatlah. Kamu sudah tiga hari ini,kan, jaga malam terus."
"Iya, Dok. Nggak apa-apa. Nggak ada tujuan pulang juga. Di rumah juga sendiri. Mending saya di sini, Dok."
Dokter Genta tertawa pelan.
"Sudah kesepian sekarang ya, nggak ada suami di rumah. Masih lama tugasnya?"
Aira mengangguk.
"Baru jalan satu minggu. Ini saja saya belum dapat kabar dia sama sekali. Tugasnya masih satu tahun, Dok. Lama," ucap Aira seraya tersenyum miris.
Genta kembali tertawa. Tak lama Aira melirik menatap Genta.
"Ngomong-ngomong, ini, kan, bukan jadwal Dokter Genta jaga, kok sudah ada di sini subuh-subuh?" tanya Aira heran.
"Nanti saya ada rapat dengan direktur jam 7 pagi. Terus, saya ingat kalau hari ini kamu jaga malam sendirian. Makanya, saya ke rumah sakit lebih pagi. Kamu bisa istirahat, Aira."
Aira mengerucutkan bibirnya. Ia pun berdiri dan beranjak dari ruang tunggu dokter.
"Nanti, kamu ikut saya rapat saja dengan direktur."
Aira membulatkan mata. "Eh, nggaklah, Dok. Saya nggak paham yang nanti akan dirapatkan."
Genta tersenyum. "Yang ini pasti paham. Kamu siap-siap saja. Satu jam lagi kita ke ruang rapat direktur."
Aira diam sesaat. Sepertinya kali ini ia harus terpaksa mengatakan siap. Aira beristirahat di ruang loker. Beberapa kali ia mengulir ponselnya, berharap ada satu titik terang, mendapatkan kabar dari Baskara.
Aira mengerutkan dahi saat nomor Sita justru menghubunginya.
"Eh, halo, Bunda?"
"Halo, Sayang. Kamu sudah bangun pagi-pagi begini?"
Aira terkekeh. "Lebih tepatnya, Aira belum tidur, Bunda. Ini Aira ada tugas jaga malam di rumah sakit."
"Lho, bukannya kemarin sudah jaga malam ya, Nak?"
"Eh, iya, Bunda. Ini kebagian jaga malam lagi."
"Jangan lupa makan dan istirahat. Jangan terlalu lelah. Ingat, kamu dokter, harus mengobati pasien. Bukan jadi pasien."
"Siap, Bunda!"
"Kamu sudah dapat kabar dari Baskara?"
Eh, tahu aja aku lagi nunggu kabar dari anaknya? Batin Aira.
"Belum, Bund."
"Sabar ya, Aira. Tempat Baskara memang susah sinyal. Nanti juga dia pasti hubungi kamu kalau ada kesempatan. Bagi kami para istri prajurit, kondisi begini justru bagus."
"Eh, kok bagus, Bunda?"
"Iya. Kita nggak dapat kabar sama sekali itu justru menunjukkan keadaan di sana baik-baik saja. Kamu yang sabar ya. Ya sudah, kamu istirahat dulu. Lanjut besok lagi teleponnya ya, Nak. Kamu kalau nggak tidur di rumah mama, menginaplah di rumah bunda. Bunda kangen."
Aira tersenyum. Beruntung sekali dirinya karena mendapat mertua yang perhatian dan baik seperti Sita dan Gunawan.
Aira merebahkan dirinya. Tapi tidak juga bisa memejamkan mata, hingga akhirnya Aira memutuskan untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
"Sudah siap?" tanya Genta saat melihat Aira keluar dari ruang loker dan sudah tampak lebih segar.
Aira mengangguk. Ia pun mendampingi Genta menuju ruang direktur untuk mengikuti rapat.
Aira duduk tepat di samping Genta. Ia menatap sekeliling, dokter yang ikut dalam rapat rata-rata adalah dokter kepala. Konsulen, profesor, dokter spesialis dan ada satu dokter muda, itupun adalah putra direktur.
"Dok, kayaknya salah saya ada di sini."
"Kenapa?"
"Lihat sekeliling. Petinggi semua."
Genta tertawa pelan. Tak lama ia pun fokus pada direktur yang berdiri di atas mimbar.
"Ehem ... selamat pagi, terima kasih pada dokter-dokter semua karena sudah bersedia menghadiri undangan rapat dari saya. Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat surat edaran dari Kementerian Kesehatan, ditelepon juga oleh Humas kementerian perihal masalah yang menjadi titik pokok konsentrasi kementerian saat ini.
"Program pemerataan kesehatan. Kementerian meminta setiap rumah sakit untuk berpartisipasi secara sukarela dalam program ini, salah satunya rumah sakit kita. Dalam surat edaran tersebut, Kementerian menyebutkan minimal mengirimkan tiga tenaga medis yang terdiri dari satu orang dokter dan dua orang perawat.
"Jujur, saya tidak bisa egois menunjuk salah seorang dokter untuk program kerja ini karena sifatnya sukarela. Saya membuka kesempatan bagi dokter-dokter yang ada di sini atau dokter-dokter muda di rumah sakit ini yang ingin ikut menjadi relawan untuk program ini.
"Wilayah yang terdaftar adalah Kabupaten Yeri, Kabupaten Kumbayah, Propinsi Sipoko, Kabupaten Wamera, Kabupaten Bauven, Kabupaten Parepar, dan Kabupaten Kaliaji. Jika ada diantara para dokter ingin mengikuti program ini dan menjadi relawan, silakan lapor dan ajukan pada sekretaris saya."
Aira terdiam. Ia termangu saat nama Kabupaten Wamera disebut. Napas Aira tertahan sejenak. Ia meremas ujung celananya.
Kabupaten Wamera itu ... tempat Mas Baskara bertugas,kan?
_______________________