NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34 : Queen mulai kesal

Revan berdiri dari kursinya setelah menghabiskan roti terakhirnya. Ia merapikan lengan kemejanya, mengambil tas kerja yang ada diatas kursi, lalu melirik jam tangan.

"Saya berangkat dulu."

Queen yang sejak tadi hanya duduk diam langsung mengangkat kepala. Biasanya sebelum berangkat, Revan akan bertanya banyak hal.

"Kamu udah makan? Nanti siang mau makan apa? Kalau pusing minum obat ya."

Atau minimal mengusap kepalanya sebentar. Tapi hari ini tidak ada.

Revan mengambil kunci mobilnya. "Saya pulang larut malam."

Deg.

Queen langsung menatapnya.

Revan memasukkan dompet ke saku celana. "Saya permisi."

Lalu berjalan menuju pintu depan. Pintu terbuka.

Klik

Pintu tertutup kembali.

Rumah yang biasanya terasa hangat mendadak terasa kosong. Queen masih duduk beberapa detik dengan ekspresi datar.

Beberapa detik Lalu...

"Aaaaarrrggghhh!"

Queen langsung mengacak rambutnya sendiri sampai berantakan. "Sial!"

Bruk!

Kepalanya jatuh ke meja makan. "Nyebelin banget!" Queen mendongak lagi sambil mengacak rambutnya. "Mas Revan jahat!"

Semakin dipikirkan, semakin kesal. Biasanya pria itu perhatian setengah mati. Hari ini? Dingin, cuek. Seolah-olah dirinya cuma penghuni rumah yang numpang lewat.

"Kesel!" teriak Queen.

Queen berdiri lalu mondar-mandir di ruang makan. "Kenapa sih Mama sama Papa harus jodohin gue sama cowok kayak dia?!" Langkahnya makin cepat. "Nyebelin! Galak! Cuek! Songong!"

Padahal yang sebenarnya membuatnya kesal bukan karena Revan galak. Justru karena pria itu tidak galak. Kalau Revan marah, mungkin Queen masih bisa membalas. Kalau Revan teriak, Queen bisa menangis. Tapi ini? Pria itu hanya diam. Dan anehnya itu jauh lebih menyiksa.

Queen kembali mengacak rambutnya. "Awas aja ya." Matanya menyipit. "Gue laporin Mama."

Lalu menunjuk ke arah pintu depan seolah Revan masih ada di sana. "Sama Papa juga! Gue akan bilang Mas Revan udah nyuekin gue!"

Queen mulai menirukan suara mengadu seperti anak kecil. "Ma, Pa, Mas Revan jahat. Dia nggak bikinin aku sarapan. Dia makan sendiri. Dia cuekin aku. Dia nggak nanya aku sakit apa nggak." Semakin bicara, suaranya justru semakin pelan.

Karena tiba-tiba Queen menyadari sesuatu. Perlahan bibirnya berhenti bergerak. Sarapan, meemang tidak ada sarapan untuknya.

Tapi... bukankah semalam Revan juga yang menunggunya sampai lewat jam sepuluh malam? Pria itu juga yang berdiri di depan gerbang selama berjam-jam? Dan dia yang khawatir setengah mati?

Langkah Queen perlahan berhenti. Wajah kesalnya mulai menghilang sedikit demi sedikit. Dan digantikan rasa bersalah yang kembali muncul.

"Astaga..." Queen menjatuhkan dirinya ke sofa. Ia memeluk bantal erat-erat. "Kok malah gue yang jadi sedih sih..."

Matanya kembali memanas. Karena ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ternyata ketika Revan berhenti memanjakannya. Rasanya sesakit ini dan yang lebih menyebalkan lagi. Queen mulai merindukan perhatian pria itu bahkan belum satu jam setelah Revan berangkat kerja.

Queen memeluk bantal semakin erat. "Ahhh... gue nggak kuat." Ia menjatuhkan diri telentang di sofa sambil menatap langit-langit rumah.

Beberapa menit kemudian...

Tetap saja pikirannya dipenuhi Revan. Pada akhirnya Queen meraih ponselnya dan mencari nama seseorang. Tak lama kemudian panggilan tersambung.

"Halo?"

"Anggi..."

Sahabatnya langsung curiga. "Lah? Suara lo kenapa?"

Queen langsung merengek. "Gue lagi sedih."

"Syukurin."

"Anggi!"

Anggi malah tertawa. "Kan udah gue bilang kemarin, jangan bohong sama suami lo."

Queen langsung berguling di sofa. "Tapi kenapa lo bilang ke dia, kalau gue jalan sama Nathan."

"Ya gimana ya Queen, Pak Revan maksa gue jujur. Kalau gue bohong dia mau nurinin nilai ujian gue."

Mendengar ucapan Anggi, Queen langsung terkejut. "Hah... serius, dia ngancem lo begitu?"

"Iya, makanya gue jujur. Lo juga nggak jujur kalau lo mau selesain masalah sama Nathan."

"Iya tau, gue juga salah. Ya udah sekarang lo ke rumah gue ya."

"Hah?"

"Sekarang Anggi."

Anggi melirik jam di kampus. "Queen. Gue lagi kuliah."

"Oh iya." Queen mendesah panjang.

"Yaudah nanti pulang kampus gue ke sana."

"Bener ya?"

"Iya."

"Jangan PHP."

"Lo bukan mantan gue."

"Anggi!"

"Udah sana mandi. Bau."

Tut.

Telepon langsung ditutup. Queen mendelik ke layar ponselnya. "Sahabat macam apa itu."

Namun setidaknya sekarang ia punya sesuatu untuk ditunggu. Karena bosan, Queen akhirnya memutuskan bermalas-malasan. Ia pindah dari sofa ke karpet, dari karpet ke sofa lagi.

Lalu menonton drama. Lima menit kemudian bosan, main media sosial. Bosan lagi, tidur sebentar. Bangun lagi dan tetap memikirkan Revan.

"Ikh... Mas Revan nyebelin," gumamannya muncul setiap lima menit sekali.

Beberapa jam kemudian...

Tok. Tok. Tok.

Queen yang sedang rebahan langsung bangkit.

"Anggi!"

Ia berlari ke pintu depan, namun begitu pintu terbuka. Senyumnya langsung menghilang.

"Ka Kevin?"

Kevin berdiri di depan pintu sambil membawa kantong plastik.

"Ikh... ko lo sih yang dateng."

"Lah emangnya kenapa?"

"Gue kira Anggi."

Kevin masuk begitu saja. "Kakak yang paling keren dateng malah kecewa."

"Narsis lo." Queen menutup pintu. "Ngapain lo ke sini?"

Kevin mengangkat kantong plastik yang dibawanya. "Gue denger dari Revan lo sakit makanya nggak kuliah."

Queen langsung menoleh. "Dari Mas Revan?"

"Iya."

Kevin menyerahkan kantong plastik itu. "Nih."

Queen melihat isinya. "Bubur ayam?"

"Iya."

"Tadi gue beli di pinggir jalan."

Queen menerima kantong itu perlahan. Entah kenapa dadanya terasa aneh. Bahkan saat marah pun... Revan masih memperhatikan dirinya.

Kevin duduk santai di sofa. "Oh iya."

"Hm?"

"Nanti habis arisan Mama sama Papa ke sini."

Queen hampir tersedak. "Hah?!"

Kevin tertawa. "Kenapa kaget begitu?"

"Mereka mau ngapain ke sini?"

"Ya khawatir lah." Kevin mengambil minum dari kulkas. "Kan Revan bilang lo sakit."

Queen langsung membeku. "Emangnya dia bilang apa?"

Kevin mengangkat bahu. "Nggak tau. Tadi dia telepon Mama. katanya dia nitipin lo."

Deg.

"Nitipin gue?"

"Iya."

Kevin duduk kembali. "Katanya kemungkinan malam ini dia nggak pulang."

Queen langsung menunduk, dadanya terasa semakin tidak nyaman.

Kevin melanjutkan. "Katanya sih ada rapat sampai malam. Kalau sempat pulang ya dia pulang."

Untuk beberapa detik Queen hanya diam. Kemudian ia berkata pelan. "Apa itu alasan dia ya..."

Kevin mengernyit. "Hah?"

Queen menggigit bibir bawahnya. "Kayaknya dia marah banget sama gue."

Ruangan langsung hening.

Kevin yang tadinya santai perlahan menurunkan botol minumnya. Tatapannya berubah serius. "Maksud lo apa?"

Queen tidak menjawab.

Kevin semakin menyipitkan mata. "Jangan bilang lo habis berantem sama Revan?"

Queen langsung menunduk dan itu sudah menjadi jawaban yang cukup.

Kevin membelalak. "Astaga."

Queen meringis.

Kevin menunjuk wajahnya. "Jadi lo benaran berantem sama Revan?" Kevin mendadak tertawa tidak percaya. "Hahahaha!"

"Ka!"

Pria itu sampai memegang perutnya. "Gue cuma nggak nyangka aja, lo berantem sama Revan sampai sakit begini."

Queen langsung melempar bantal ke arahnya. "Lo bisa diem nggak sih!"

Bruk!

Kevin menangkap bantal itu sambil masih tertawa. "Lah gimana nggak ketawa. Seorang Queen sakit karena abis ribut sama cowok yang katanya dia nggak suka."

"Ka Kevin!"

1
Amoera
gilaa, gong banget thoor si mokondo mau tunangan smaa Sherena anak pejabat🤣
It's me Sky: 🤣🤣 iya ya ka
total 1 replies
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!