NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C034: "Liana, Maukah Kau Menjadi Aktris di Virlan?"

...Selamat Baca...

Sore hari, tanggal 15 September.

Matahari mulai melandai, menyebarkan cahaya keemasan yang perlahan memudar di langit barat.

Perjalanan pulang dari lokasi syuting menuju kediaman tua keluarga Varella terasa tenang. Hari ini hanya berlangsung hingga siang,

Namun perjalanan yang cukup panjang membuat mereka tiba kembali di kediaman tepat saat sore mulai berganti senja.

Begitu melangkah masuk ke ruang tamu yang hangat dan luas, Liana melihat Gerald baru saja pulang dari kantor pusat Varella Entertainment Group.

Ia baru melepaskan jas kerjanya dan duduk bersantai saat menyadari kedatangan putrinya.

“Kau sudah pulang,” sapa Gerald sambil tersenyum ramah.

Ia mengisyaratkan agar Liana duduk di hadapannya. “Bagaimana syuting hari ini? Apa semuanya berjalan lancar?”

Liana mengangguk dengan wajah cerah. “Sangat baik, Ayah. Lebih menyenangkan dan berkesan daripada yang aku bayangkan sebelumnya."

"Kru‑nya ramah, sutradaranya sabar, dan aku merasa banyak hal baru yang bisa kupelajari.”

Gerald menghela napas panjang seolah melepaskan beban pikiran, lalu mengangguk lega.

“Syukurlah kalau begitu. Ayah hanya khawatir, mengingat ini adalah keputusan besar yang kau ambil sendiri untuk melangkah ke dunia hiburan.”

Ia terdiam sejenak, tatapannya menjadi lebih lembut dan dalam saat menatap mata Liana. Suaranya terdengar lebih serius namun penuh kasih sayang saat ia melanjutkan pembicaraannya.

“Liana… Ayah punya satu pertanyaan penting. Maukah kau melanjutkan karier ini sebagai aktris di Virlan?”

Liana tertegun mendengar pertanyaan itu. Belum sempat ia menjawab, Gerald kembali melanjutkan penjelasannya.

“Ayah tahu kau telah memulai namamu sebagai penyanyi misterius bernama Putri Bangsawan Virlan di kota Auronia."

"Tapi jika memungkinkan, Ayah ingin kau membangun karier yang lebih kokoh di sini, di tanah kelahiran kita."

"Ayah tak ingin lagi terpisah jauh darimu seperti sebelumnya.”

Liana terdiam sejenak, pikirannya mulai melayang. Ia teringat pada gedung Virlan Arts di Auronia.

Tempat semua kru inti, peralatan rekaman, dan kebutuhan produksi video musiknya berada. Jika ia memindahkan seluruh kegiatannya ke Virlan, bukan tidak mungkin gedung besar itu akan kosong dan dibiarkan tidak terurus.

Namun sebelum pikirannya melangkah lebih jauh, suara Alexander terdengar menyela dengan tenang.

“Tidak perlu dikhawatirkan soal itu, Ayah Gerald,” ujar Alexander sambil duduk di sisi lain ruangan.

“Saya sendiri berencana memindahkan kantor utama perusahaan saya ke Virlan."

"Bukankah sudah waktunya saya mendirikan basis yang lebih dekat dengan keluarga dan tempat tinggal kita?”

Ia melirik sekilas ke arah Liana dengan senyum samar, lalu kembali melanjutkan penjelasannya.

“Untuk gedung Virlan Arts di Auronia, kita bisa menempatkan manajer tetap yang andal di sana. Sambil terus merekrut bakat‑bakat baru untuk menjadi penyanyi atau bintang baru."

"Dengan begitu, gedung itu tetap terjaga, tetap beroperasi, dan tidak akan dibiarkan kosong. Liana dan saya akan menetap dan membangun karier serta bisnis kita di sini.”

Ide itu langsung disambut dengan senyum lebar oleh Gerald. “Bagus sekali pemikiranmu, Alex! Jika begitu, tidak ada halangan lagi. Bahkan, keluarga Varella masih memiliki kediaman besar yang cukup luas dan nyaman."

"Tempat itu bisa dijadikan tempat tinggal sekaligus ruang persiapan jika suatu saat nanti dibutuhkan.”

Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dan mempertimbangkan segala kemungkinan, Liana pun mengangguk mantap.

“Baiklah, Ayah. Aku setuju. Aku akan membangun kariernya di Virlan, sesuai keinginan Ayah.”

Ia lalu menoleh ke arah Viviane, ibu angkat Alexander yang turut hadir mendengarkan pembicaraan itu. “Ibu Via… apakah aku boleh kembali tinggal bersama Alex di sini, di Virlan?”

Viviane tersenyum tulus, matanya memancarkan kehangatan. “Tentu saja boleh, sayang. Aku sudah lama merestui hubungan kalian."

"Kebahagiaan Alex adalah haknya sendiri, dan sebagai ibu angkat, aku takkan pernah melarang atau menuntut apa pun selama ia merasa bahagia dan aman.”

Diskusi sore itu berakhir dengan kesepakatan yang jelas. Mereka memutuskan bahwa pada tanggal 5 Oktober,

Liana dan Alexander akan kembali ke Auronia untuk membereskan seluruh barang‑barang pribadi serta perlengkapan kerja.

Viviane juga akan ikut pulang ke sana dan memilih untuk tinggal sendiri di kediaman lama milik Alexander — rumah yang dulunya adalah hadiah untuk ibu kandungnya.

Viviane mulai merasa dia ingin tinggal sendiri, dari pada bersama keluarga besar Sterling di kediaman utama.

Viviane akan lebih baik memiliki waktu sendiri lebih banyak, dibanting terus bersama suaminya Theodore yang selalu kaku dan masih tetap bekerja, meski usianya sudah sangat tua.

Alexander dan Liana akan kembali ke Virlan dan menetap di Virlan pada tanggal 15 Oktober nanti.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam pun berlalu, dan hari berganti.

Tanggal 16 September telah tiba. Ini adalah hari terakhir keikutsertaan Liana dalam proyek film Penyesalan.

Syuting hari ini hanya tersisa satu adegan penutup, dan dengan ini seluruh proses pengambilan gambar yang berlangsung selama lebih dari sebulan akan resmi berakhir,

Film yang sudah menjalani syutingnya sebelum Liana pulang ke Virlan, sebulan lalu. Karena selesai syuting dan menuju pascaproduksi,

Promosi besar-besaran itu dilakukan setelah Liana menggantikan Aktris Luna dari Varella Entertainment Group. Karena mereka dari awal syuting belum menulis penetapan aktor/aktris yang berperan dalam Film itu.

Suasana di lokasi syuting terasa lebih santai namun tetap antusias. Semua orang tahu bahwa hari ini menjadi penutup dari perjalanan panjang pembuatan film ini.

Adegan terakhir yang akan diambil adalah sesuai ide tambahan dari penulis naskah, Yuna. Di lokasi yang telah disusun menyerupai area pemakaman yang tenang dan sepi, adegan dimulai.

Setelah prosesi pemakaman Hanna selesai, Ares yang diperankan oleh Louis Hart masih terbaring lemah di atas tanah makam, tangannya mencengkeram batu nisan dengan erat.

Ia enggan beranjak, seolah tak percaya bahwa wanita yang ia abaikan selama bertahun‑tahun telah pergi untuk selamanya.

Rasa sesal yang menyiksa masih tergambar jelas di wajahnya yang pucat. Namun di latar belakang, muncul sesosok bayangan.

Seorang wanita berpakaian serba hitam, wajahnya tertutup kerudung, ditemani seorang pengawal yang memayunginya rapat‑rapat agar tak terkena rintik hujan tipis yang mulai turun.

Ia berdiri diam di kejauhan selama beberapa menit, hanya memandang ke arah makam itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Lalu, seolah hanya lewat sebagai angin, wanita itu berbalik perlahan dan berjalan pergi menjauh. Kamera hanya menangkap siluet punggung dan perawakannya,

Tanpa memperlihatkan sedikit pun rupa wajahnya — cukup untuk membangkitkan rasa penasaran bagi siapa pun yang menyaksikannya.

“CUT!”

Suara teriakan sutradara memecah keheningan, dan dalam sekejap ruang lokasi dipenuhi sorak‑sorai dan tepuk tangan riuh.

“Syuting selesai! Terima kasih semuanya!”

Perayaan kecil pun segera disiapkan. Semua kru dan pemeran berkumpul untuk makan siang bersama,

Merayakan keberhasilan menyelesaikan proses pengambilan gambar. Suasana akrab dan penuh kehangatan terasa menyelimuti semua orang.

Setelah perayaan usai, giliran sesi pemotretan untuk materi promosi dan poster resmi film.

Di atas kanvas latar yang gelap namun artistik, tampak nama besar Film Penyesalan tercetak tegas di bagian paling atas.

Di bawahnya tertulis nama‑nama penting: Sutradara: Marco Vellino, Produksi: Prans Live Studio, Didukung oleh Varella Entertainment Group.

Di tengah komposisi gambar, berdiri Louis Hart sebagai pemeran utama pria, Ares. Di samping kanannya terlihat senyum manis Ara Jess, aktris populer yang memerankan tokoh utama wanita, Lily.

Sedangkan di posisi belakang mereka, sedikit lebih redup namun tetap terlihat jelas, berdiri sosok Liana dengan ekspresi lembut namun sayu — tertulis di bawahnya: Liana Varella sebagai Hanna (peran tamu/cameo).

Posisi itu sangat pas menggambarkan porsi perannya, namun tetap memberi ruang bagi penonton untuk mengenali wajah baru yang baru saja muncul di dunia perfilman.

Sesi foto berjalan lancar dan selesai tepat pada waktunya. Saat matahari mulai condong ke barat dan sore menjelang malam, Liana sudah siap berpamitan.

Ia melambaikan tangan pada semua kru dan rekan seperan yang baru saja dikenalnya, lalu melangkah menuju mobil yang sudah menunggu bersama Elena dan Eric.

Hari ini menandai berakhirnya satu babak awal perjalanan Liana di dunia hiburan, sekaligus menjadi awal dari langkah‑langkah baru yang akan ia tempuh,

Bukan lagi sebagai orang asing, melainkan sebagai Liana Varella — yang kini siap membangun jejaknya sendiri di tanah kelahirannya, Virlan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!