-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-
Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Deru mobil patroli Polda Jawa Barat perlahan melenyap di balik kelokan bukit, meninggalkan keheningan subuh yang terasa ganjil dan mencekam. Kabut tebal kembali turun, bergulung-gulung menyelimuti kebun teh seolah ingin menyembunyikan drama yang baru saja terjadi di teras villa mewah keluarga Dirgantara. Sumpah serapah Mahendra dan jeritan histeris Stella kini digantikan oleh suara desis angin pegunungan yang mengetuk-ngetuk kaca jendela.
Arlan Dirgantara melangkah kembali ke dalam ruang kerjanya di lantai dua. Gerakannya terasa kaku, sarat dengan ketegangan yang belum mereda. Jubah tidurnya yang panjang berkibar pelan mengikuti langkah kakinya yang lebar. Di dalam ruangan bernuansa kayu jati itu, dia tidak langsung duduk. Pria itu berdiri di dekat jendela besar, menatap hamparan putih di luar dengan rahang yang mengeras sempurna.
Pikirannya penuh dengan tanda tanya besar yang berputar-putar tanpa henti, semuanya berpusat pada satu nama: Gita Ivara.
Arlan merogoh saku jubahnya, mengambil gawai pribadinya dengan gerakan cepat. Tanpa membuang waktu, dia menekan tombol panggilan cepat. Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara bariton Doni terdengar di seberang lini telepon, terdengar ringkas dan siap siaga meski hari masih teramat pagi.
"Doni," suara Arlan bergetar rendah, sarat akan otoritas dingin yang tidak menerima bantahan. "Katakan padaku beberapa minggu lalu bahwa kau sudah memeriksa latar belakang Gita Ivara secara detail. Kau yakin tidak ada yang terlewat?"
Di seberang sana, Doni terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada mantap, "Benar, Ar. Tim sudah memeriksa hingga rekam medis dan berkas kelulusannya dari Surabaya. Semuanya bersih, sesuai dengan draft yang sudah diserahkan kepadamu. Dia hanya seorang wanita yatim piatu yang sempat tersandung kasus hukum sebelum akhirnya melamar kerja di villa hulu."
Arlan memejamkan matanya, mengembuskan napas panjang yang terdengar berat di tengah kesunyian ruang kerja. "Periksa kembali, Doni. Lakukan dari nol. Gunakan semua jaringan yang kita miliki di Jawa Timur."
"Ada masalah di villa, Ar?" tanya Doni, nada suaranya berubah cemas.
"Wanita itu baru saja membalikkan keadaan di depan hidungku," desis Arlan, jemarinya mencengkeram tepi meja jati hingga buku-jarinya memutih.
"Dia menghadapi Mahendra dan Stella sendirian, tanpa ada setitik pun rasa takut di matanya. Sifat tenangnya... itu bukan ketenangan seorang pelayan desa, Doni. Dan yang paling membuatku tidak habis pikir, dia menghubungi komisaris polisi menggunakan jalur prioritas yang bahkan pengacaraku pun butuh waktu berjam-jam untuk menembusnya. Pejabat agraria yang dibawa Mahendra ketakutan setengah mati hanya karena satu amplop perak yang dilemparkan Gita ke atas meja."
Arlan berjalan mondar-mandir di balik meja besarnya. Sifat skeptisnya yang sempat mati rasa akibat pesona Gita kini bangkit kembali, bercampur aduk dengan insting protektifnya yang liar. Kegagalan pernikahan pertamanya dengan Stella telah menanamkan trauma mendalam tentang wanita yang penuh tipu daya. Dia tidak ingin menjadi korban eksperimen sosial dari seorang wanita misterius, tetapi di sisi lain, dadanya bergemuruh hebat oleh rasa tidak rela jika Gita ternyata menyembunyikan diri darinya demi pria lain.
"Lalu, satu hal lagi," Arlan menghentikan langkahnya tepat di depan tumpukan berkas hukum. "Cari tahu segalanya tentang Bianca Adytama."
Mendengar nama itu, Doni terdengar terkejut di seberang telepon. "Putri bungsu dari Adytama Properti?"
"Ya. Nama itu sungguh tidak bisa kuabaikan lagi," ujar Arlan, matanya menyipit tajam. "Sejak permasalahanku dengan Mahendra semakin melebar di Jakarta, nama Bianca Adytama ini tiba-tiba muncul tanpa permisi di dalam draf konsorsium hukumku. Dokumen yang dibawa Gita tadi pagi bersumber langsung dari perwalian wanita bernama Bianca itu. Seseorang di Surabaya sedang bermain bidak catur bersamaku, dan aku benci menjadi orang bodoh yang tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan."
"Baik, Ar. Aku akan mengerahkan tim intelijen korporasi ke Surabaya pagi ini juga. Aku akan memastikan semua data tentang Gita Ivara dan Bianca Adytama sinkron sebelum matahari terbenam," jawab Doni sebelum menutup panggilan.
Arlan meletakkan gawainya di atas meja. Rasa penasaran di dadanya kini telah bermutasi menjadi sebuah obsesi posesif yang ekstrem. Dia harus tahu siapa sebenarnya wanita yang setiap pagi menyeduhkan teh hangat untuknya, wanita yang memiliki pembawaan begitu berkelas di balik seragam pelayan yang bersahaja itu.
Sementara itu, di dapur bersih lantai bawah, suasana terasa begitu sunyi. Bianca berdiri di dekat konter marmer, jemarinya yang lentik bergerak teratur mengelap cangkir porselen yang baru saja digunakannya. Celemek pelayannya sudah terpasang kembali, membungkus tubuh rampingnya dengan rapi. Wajah dewasanya tampak sangat tenang, seolah ketegangan di depan para aparat beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
Bianca tahu, tindakannya pagi ini sangat berisiko. Menampilkan kecerdasan taktis lamanya sebagai pewaris Adytama di depan Arlan sama saja dengan memancing singa yang sedang tertidur. Sifat dingin dan skeptis Arlan pasti akan menuntun pria itu untuk melacaknya lebih jauh.
Langkah kaki yang berat dan penuh penekanan terdengar menuruni tangga kayu utama. Bianca tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang; aroma maskulin parfum kayu cendana yang familier sudah lebih dulu memenuhi udara dapur.
Arlan berdiri di ambang pintu dapur, melipat kedua tangannya di dada. Matanya yang tajam mengunci sosok Bianca dari belakang, mengawasi setiap gerak-gerik wanita itu dengan intensitas yang begitu pekat. Aura posesifnya terasa memenuhi ruangan, menciptakan sekat tak kasatmata yang mengepung ruang gerak Bianca.
"Kamu tampaknya sangat terbiasa menghadapi situasi darurat, Gita," suara bariton Arlan memecah keheningan, terdengar begitu dingin namun sarat akan emosional yang tertahan.
Bianca memutar tubuhnya perlahan, meletakkan cangkir porselen di rak dengan gerakan yang teratur dan halus. Dia menundukkan kepalanya sedikit, kembali mengenakan topeng pelayan yang patuh.
"Saya hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk melindungi ketenangan vila ini, Tuan Arlan."
Arlan melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Bianca bisa merasakan hembusan napas pria itu yang terasa kaku di atas kepalanya. Tangan kekar Arlan bergerak lambat, mencengkeram tepi konter marmer di kiri dan kanan tubuh Bianca, mengurung wanita itu secara mutlak di dalam otonomi kekuasaannya.
"Melindungi ketenangan villa, atau melindungi rahasiamu sendiri?" bisik Arlan, suaranya merendah, dipenuhi kilat kecurigaan yang menghanyutkan. Dia menundukkan kepalanya, memaksa Bianca untuk menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang elang.
"Aku sudah meminta Doni memeriksa kembali seluruh hidupmu di Surabaya. Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari area perkebunan hulu ini tanpa pengawalanku. Kamu berada di bawah pengawasan mutlak dariku, Gita."
Tarik-ulur emosi di antara mereka kian menegangkan. Bianca merasakan dadanya berdesir hebat mendapati sikap posesif Arlan yang semakin ekstrem. Pria ini sangat protektif, melindunginya dengan cara yang berlebihan karena trauma masa lalunya, tetapi di sisi lain, pengawasan ketat ini menjadi ancaman nyata bagi misinya untuk mencari kedamaian mandiri tanpa bantuan harta Adytama.
"Perlindungan Anda yang berlebihan ini terasa seperti sebuah sangkar, Tuan Arlan," tutur Bianca, suaranya stabil, memancarkan kedewasaan yang matang yang membuat Arlan kembali bimbang antara logika bisnis dan insting pelindungnya. "Saya menghargai kebaikan Anda, tetapi saya bukan milik Anda."
Arlan mengernyitkan dahi, matanya menatap lekat-lekat bibir Bianca yang mengatup rapat. "Kamu mungkin bukan milikku sekarang, Gita. Tapi aku akan memastikan bahwa tidak ada satu pun rahasia di dunia ini yang bisa menjauhkanmu dari jangkauanku."
Malam harinya, wilayah hulu Jawa Barat kembali dilingkupi oleh badai pegunungan yang hebat. Angin menderu kasar, menggoyang dahan-dahan pohon di sekitar perkebunan teh. Di dalam kamarnya di sayap barat, Bianca duduk di tepi ranjang, menatap gawai rahasianya dengan raut wajah yang penuh pertimbangan taktis.
Sebuah pesan dari Pak Haryo masuk beberapa menit lalu, berisi informasi bahwa pergerakan Doni di Surabaya sudah mulai mengendus beberapa draf rekening lama atas nama Gita Ivara yang terafiliasi dengan dana hukum Adytama Properti. Penyamarannya berada di ambang kehancuran jika dia tidak segera mengambil tindakan pencegahan.
***
apa dipenjara jg sama spt stell
mkn maen rahasia arlan makin posesif
untuk doni harus secepatnya menemukan kejanggalan tentang gita dan bianca adytama