Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Senyap
“Aku dikirim Tuan Theon Valerius untuk menemui Alyron Kyros,” jawab Kenzo cepat.
“Itu aku. Ada apa kamu mau menemuiku?” pria bernama Alyron ini memandangi Kenzo, menelitinya dengan seksama. Dia belum pernah melihatnya sebelumnya. Pria itu memang pegawai baru di Vexion Pharma Global. Baru bekerja seminggu lamanya.
“Aku diminta bertemu denganmu untuk memastikan kalau tidak ada masalah dengan server utama.”
“Bisa kita lakukan nanti? Apa kamu tidak dengar alarm kebakaran berbunyi,” kesal Alyron. Dia sudah ketakutan tidak bisa keluar dari lantai enam ini.
“Itu hanya alarm palsu sepertinya. Rekanku mengatakan tidak melihat asap di mana pun.”
“Benarkah?”
“Silakan kamu cek sendiri.”
Alyron membatalkan niatnya keluar. Dia segera menuju komputernya untuk mengecek ucapan Kenzo barusan.
Memanfaatkan hal itu, Kenzo segera mengikuti masuk. Sambil mendengarkan arahan Armin melalui earpiece yang terpasang di telinganya, pria itu mencari komputer induk untuk menanamkan malware.
“Coba belok ke kanan, aku rasa di sana komputer induknya berada,” suara Armin terdengar di telinga Kenzo.
“Bukan komputer yang digunakan Alyron?” tanya Kenzo pelan.
“Bukan. komputer utama hanya dioperasikan oleh Theone.”
Tanpa banyak bertanya lagi, Kenzo segera berbelok ke kanan. Dia melihat sebuah komputer dengan beberapa layar di depannya. Dengan cepat Kenzo mencolokkan USB yang dibawanya.
“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?”
“Lima menit.”
Kenzo langsung menekan timer di jamnya. Pria itu mendekati Alyron yang sedang berusaha mematikan alarm. Sepertinya terjadi kerusakan sistem hingga menyebabkan alarm palsu berbunyi. Jarinya terus bergerak di atas keyboard.
“Selesai!”
Begitu mendengar suara Armin, Kenzo bergegas kembali ke komputer induk lalu mencabut USB yang dicolokkannya tadi. Pria itu kemudian kembali pada Alyron. “Sudah selesai?”
“Ya, akhirnya,” Alyron mengembuskan napas lega.
“Kamu pegawai baru di sini?” tanya Kenzo.
“Iya. Aku baru bekerja seminggu. Bahkan aku belum bertemu Pak Theon Valerius.”
“Dia sedang cuti.”
“Ya, aku tahu.”
“Baiklah kalau memang tidak ada yang kamu butuhkan, aku akan pergi. Pastikan tidak ada masalah dengan server utama. Tuan Theon Valerius tidak suka kesalahan.”
“Baiklah,” jawab Alyron pelan. Ketika Kenzo berbalik hendak pergi, pria itu dengan cepat menahannya. “Ehm … soal alarm palsu tadi, bisakah kamu tidak mengatakannya pada Pak Theon?”
“Ya, tentu saja.”
Wajah Alyron menunjukkan kelegaan. Dia tidak mau Theon Valerius menilai buruk dirinya. Cukup sulit baginya diterima bekerja di perusahaan ini.
Dengan santai Kenzo keluar dari ruang server tersebut, lalu kembali ke lantai lima.
Sementara di tempatnya berada, Armin langsung bergerak cepat meretas sistem keamanan Vexion Pharma Global.
Sesampainya Kenzo di lantai lima, tampak para pegawai mulai kembali ke ruangannya masing-masing setelah Alyron mematikan alarm palsu tersebut.
Di antara para pegawai, ada Antonio yang hendak kembali ke ruangannya. Di keningnya terdapat perban.
“Pak Antonio,” panggil Kenzo seraya mendekat. “Anda tidak apa-apa?”
“Ya, kepalaku terbentur tadi saat terjatuh.”
“Mungkin Bapak tidak hati-hati ketika menuruni tangga tadi.”
“Ya, mungkin saja.”
“Soal pembicaraan kita, lebih baik dibicarakan lain waktu saja. Menunggu kondisi Bapak pulih dulu.”
“Saya minta maaf, Pak Kenzo.”
“Tidak apa. Oh ya, apa di sini ada kantin?”
“Ya, ada di lantai bawah. Letaknya di jalan penghubung menuju gedung sebelah.”
“Baiklah. Terima kasih.”
Kenzo segera berpamitan. Rencananya cukup berjalan mulus. Untung saja dia sudah mempelajari perusahaan ini. Termasuk para pegawai yang bekerja di bagian IT.
Melihat Alyron yang memergokinya, Kenzo cukup merasa lega. Dia adalah pegawai baru yang belum bertemu dengan Theon Valerius.
Dan dia juga tidak perlu membicarakan hal yang tidak dipahaminya dengan Antonio. Insiden jatuh di tangga cukup membuatnya memiliki alasan untuk menunda pembicaraan. Pria itu bergegas menuju kantin. Sambil berjalan, dia menghubungi Kael.
Di tempat lain, ketika alarm berbunyi, Kael memanfaatkan kesempatan itu untuk menyusup masuk ke dalam laboratorium.
Sesuai instruksi, pria itu berdiam sebentar di tempat yang tidak terjangkau CCTV, menunggu Armin memasuki sistem. Sambil menunggu panggilan dari Kenzo, Kael melihat-lihat keadaan sekitar.
Cukup banyak CCTV ditaruh di tempat terbuka. Setiap masuk ke ruangan dibutuhkan akses dan juga pindai mata. Pria itu langsung menekan earphone di telinganya ketika ponsel di saku celananya bergetar.
“Armin sudah masuk ke dalam sistem. Kamu aman sekarang.”
Setelah mendapat kabar dari Kenzo, Kael mulai memasuki bagian dalam laboratorium. Di tangannya terdapat laptop yang akan ditukar dengan milik profesor. Pria itu langsung menuju lift yang akan membawanya ke lantai dua. Ruangan di mana laptop berada.
Sesampainya di lantai dua, Kael langsung menuju ruangan yang dindingnya dilapisi kaca. Orang-orang yang berada di lantai ini belum kembali ke tempatnya dan membuatnya leluasa untuk bergerak.
Kael menuju meja besar yang ada di ruangan. Dia berjongkok, berusaha membuka lemari kecil yang ada di bawah meja.
Namun ternyata pintu terkunci dengan kunci digital. Kael mengeluarkan sebuah kotak kecil kemudian mendekatkannya ke kunci digital tersebut.
Angka-angka di panel mulai bergerak mencari kombinasi yang cocok. Tiga menit kemudian, lemari tersebut terbuka. Kael mengambil laptop di dalamnya, kemudian menggantinya dengan yang dibawanya.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkannya, Kael bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Begitu dia tiba di lantai dasar, para pegawai di laboratorium kembali memasuki lobi. Alarm palsu sudah dimatikan dan mereka harus kembali bertugas.
Dengan santai Kael berjalan keluar. Langkahnya terhenti ketika seorang petugas keamanan yang berjaga di dekat pintu masuk menahannya. “Tunggu! Siapa kamu?” tanyanya sambil memperhatikan Kael dari atas sampai bawah.
“Aku pegawai di sini,” Kael memperlihatkan kartu identitasnya.
“Ke mana kamu saat para pegawai yang lain menuju titik kumpul saat alarm terdengar.”
“Apa harus kukatakan?” tanya Kael sambil berbisik.
“Katakan!”
“Tadi aku sedang di kamar mandi. Aku ….”
Kael tidak melanjutkan ucapannya. Dia menunduk, melihat ke bagian bawahnya, refleks mata petugas itu ikut melihat.
“Sudah beberapa hari aku tidak pulang. Jadi aku main sendiri. Kalau tidak, kepalaku bisa pening.”
Tidak ada tanggapan dari petugas keamanan itu. Pegawai di laboratorium memang sering tidak pulang berhari-hari. Bahkan dia pernah memergoki dua pegawai sedang bermain di kamar mandi untuk melampiaskan hasrat.
“Sekarang kamu mau kemana?”
“Ke kantin. Perutku lapar. Apa tidak boleh?”
“Pergilah!”
Sambil menyunggingkan senyum tipis, Kael segera berlalu. Ide Armin untuk mengatakan hal itu ternyata manjur juga. Pria itu terus berjalan menuju kantin. Sesampainya di sana, dia mengambil meja yang tidak jauh dari Kenzo.
Baru lima menit Kael duduk, dia sudah mendapat telepon dari Sergio. “Jalur pelarian aman. Kita keluar sekarang.”
Kael segera bangkit. Dia memberikan isyarat mata pada Kenzo saat meninggalkan kantin. Setelah Kael keluar, Kenzo pun bangkit dari duduknya. Dia juga bermaksud meninggalkan kantor ini.
Kael segera menuju pintu belakang. Di sana Sergio sudah menunggu. Keduanya segera keluar menggunakan pintu kecil di bagian belakang.
Sementara itu, Kenzo yang sudah berada di mobilnya mulai meninggalkan pelataran parkir. Setelah melewati pos keamanan, kendaraannya meninggalkan kantor Vexion Pharma Global.
Baru sekitar lima ratus meter mobil Kenzo meninggalkan kantor, dia berpapasan dengan kendaraan lain. Penumpang di bagian belakang tanpa sengaja melihat ke arah mobil Kenzo. Matanya tampak menyipit.
“Bajingan itu,” gumam pria di kursi belakang sambil menatap tajam mobil yang melintas. Caelen langsung membungkukkan tubuhnya ke depan. “Kejar dia!”
Sang sopir langsung memutar kemudi hingga ban mobilnya berdecit, kemudian mengejar mobil Kenzo. Sementara itu, Caelen sudah mengambil ponselnya. “Target ditemukan. Kerahkan tim. Jangan sampai dia lolos!”
***
Caelen is back. Villain favorit pembaca🤣
In Syaa Allah nanti malam aku up lagi. Terus pantengin ya🤗
iddiiiihhhh Arman ngaamuk....
coba Kamu kerjakan sendiri becus gk nangkep mereka 😏