Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
"Mama, Ney boleh ikut Mbak Ida belanja?"
Daphnee tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur, tepat saat Daniela baru saja selesai membentuk adonan kue terakhirnya.
"Kata Mbak Ida, kamu boleh ikut tidak?" Daniela balik bertanya dengan nada setengah menggoda.
Anak perempuan itu mengangguk antusias sambil menatap Ida yang berdiri di dekatnya sambil tersenyum.
"Ya, kan, Mbak Ida?"
"Boleh dong, sayang..." jawab Ida lembut.
Daphnee langsung tertawa riang sambil melompat-lompat kecil. Rambut pirang ikalnya bergoyang-goyang mengikuti gerakan tubuhnya yang penuh energi.
"Tapi kamu tidak boleh nakal, ya! Jangan jauh-jauh dari Mbak Ida!" tutur Daniela mengingatkan.
Kali ini Daphnee mengangguk patuh.
"Oke, Mama cantik," katanya merayu, sambil mengacungkan jempol mungilnya.
Daniela beralih menatap asistennya. "Mbak Ida, sudah dicatat semua, kan, apa saja yang mau dibeli?"
"Sudah, Non. Kami pergi dulu, ya?" pamit Ida.
Daniela mengangguk.
"Hati-hati! Ney, ingat pesan Mama! Sekarang cium Mama dulu!"
Daniela merentangkan kedua tangannya, bersiap mendekap tubuh mungil sang putri ke dalam pelukan hangatnya.
"Mmmuahhh!"
Bertubi-tubi anak itu mengecup pipi Daniela sambil cekikikan geli, sebelum akhirnya melangkah pergi dengan tangan yang dituntun erat oleh Ida.
Ida adalah satu dari sedikit tetangga yang tidak membenci Daniela dan Harsiwi. Sementara warga desa yang lain masih saja menatap sinis, menganggap kehadiran Daniela membawa sial hanya karena dia membesarkan seorang anak tanpa pendamping hidup.
Cibiran dan pandangan sebelah mata juga kerap mereka terima saat Daniela dan Harsiwi nekat merintis usaha katering kecil-kecilan. Beruntung ada Ida, yang tidak memedulikan gunjingan itu dan memilih menjadi pegawai setia mereka.
"Ida sudah pergi, Dan?"
Suara Harsiwi memecah keheningan dapur. Wanita sepuh itu melangkah masuk sambil membawa sekantong besar sayuran dan bahan lauk-pauk. Rupanya dia baru saja kembali dari warung.
"Sudah, Mak Tua. Ney juga ikut."
Langkah Harsiwi langsung terhenti. Raut wajahnya berubah cemas. "Ikut? Terus, bagaimana nanti kalau..."
"Tidak akan, Mak Tua! Saat itu saja dia pura-pura tidak kenal aku. Tapi itu malah lebih baik!" potong Daniela cepat, mencoba mengusir ketakutan yang mendadak menyergap dadanya.
Harsiwi terdiam sesaat. Menyadari luka di hati keponakannya, dia hanya mengangguk pelan lalu berlalu menuju wastafel untuk mencuci sayuran dan ikan yang akan dimasak.
Daniela menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Sudah empat tahun berlalu. Apakah mungkin laki-laki itu mendadak mencarinya? Rasanya tidak mungkin. Mustahil.
***
"Wow, Mbak Ida, tempat belanjanya besar banget! Ney jadi pengin lari-lari." Celoteh bocah itu sambil melepaskan tautan tangan Ida dengan penuh semangat. Sepasang mata bulatnya berbinar kagum menatap langit-langit pusat perbelanjaan yang megah dan luas itu.
Sebelum Ida sempat mencegahnya, anak perempuan itu sudah melesat riang. Rambut curly nya yang blonde bergoyang-goyang indah, memantulkan cahaya lampu mal saat dia berlari kecil menjauh.
"Ney, jangan lari-lari, Sayang! Nanti jatuh!"
Seruan cemas Ida terlambat.
Bruk!
Tubuh mungil Daphnee kehilangan keseimbangan setelah menabrak sesuatu yang kokoh di depannya. Beruntung, dia tidak sampai terjatuh ke lantai karena sebuah tangan kekar dengan sigap menahan kedua pundak mungilnya.
Daphnee mendongak. Di hadapannya kini berdiri seorang pria yang sangat tampan. Pria itu mengenakan setelan jas formal yang rapi dan elegan, memancarkan aura wibawa yang kuat namun mendadak melembut saat menatap ke bawah.
Anak perempuan yang ceria itu sama sekali tidak menangis. Dia justru langsung mengulas senyum lebar dan memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang rapi.
"Eh? Maaf ya, Om Ganteng! Ney nggak sengaja karena kekecilan jalannya... eh, maksudnya Ney yang kekencangan larinya!"
Kata Daphnee mengulum senyum sambil membungkukkan badannya dengan sopan, lalu kembali memamerkan cengiran polos.
Pria itu, ternyata Darren. Dia tengah mencari Daniela sekaligus kunjungan pada hotel keluarganya yang baru saja selesai dibangun di kota itu.
Darrean terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang aneh saat mendengar suara renyah anak itu dan menatap sepasang mata jernih yang tampak begitu familier di ingatannya.
Darren perlahan berlutut menyamakan tingginya, menatap lekat-lekat wajah ceria di hadapannya.
"Iya, tidak apa-apa. Lain kali hati-hati ya, jangan berlari di tempat ramai,"
Ujar Darren. Suaranya yang biasa dingin dan tegas, kini terdengar begitu lembut, bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
"Siapa namamu?"
"Ney. Eh maksudnya Daphnee"
Anak itu tertawa kecil sambil menutup mulut dengan jemari mungilnya.
"Di mana orangtuamu?"
"Mama Ney ada di rumah."
"Papamu?"
Daphnee menggeleng dan Darren melihat raut sedih di wajah cantik bocah perempuan itu.
Secara tidak sadar, Darren teringat pada putri yang tak pernah dikenalnya. Putri yang sangat dirindukannya, meski tak tahu rupanya seperti apa.
Andai saja hubungannya dengan Daniela saat itu baik, mungkin ia tak perlu melalui masa sesulit ini.
"Mungkin putriku juga sudah sebesar anak berambut pirang ini. Usianya kini sudah empat tahun." Darren membatin dalam hati. Ia menatap lekat wajah gadis kecil itu.
Garis wajah, binar mata, bahkan senyuman anak ini entah mengapa terasa begitu dekat dengan jiwanya. Ada kehangatan asing yang mendadak menjalar di dada Darren.
"Nama Ibu kamu..."
"Ney! Ya ampun, Sayang, kan Mbak Ida sudah bilang jangan lari-lari!"
Pertanyaan Darren terhenti karena kedatangan Ida yang tiba-tiba. Dengan napas terengah-engah, wanita itu langsung merengkuh tubuh kecil Daphnee ke dalam dekapannya karena panik.
"Maaf Mbak Ida, abisnya Ney suka banget di sini." Cicit bocah itu takut-takut tapi dengan wajah yang imut menggemaskan. Ida hanya tersenyum menatap Daphnee, sambil mengusap lembut kepalanya. Lalu beralih pada Darren.
"Maaf ya, Pak. Anak ini memang sangat aktif,"
Ucap Ida membungkuk sungkan, merasa tidak enak karena Daphnee sudah mengganggu seorang pria yang tampak seperti kalangan atas.
"Tidak apa-apa, dia anak yang pintar,"
Sahut Darren sambil berdiri kembali, merapikan jas formalnya yang sedikit kusut.
"Kami permisi, Pak. Sekali lagi kami minta maaf." Ucap Ida sambil menuntun Daphnee pergi. Tapi baru dua langkah anak itu kembali membalikkan badan. Ia menatap Darren sambil tersenyum.
"Dadah Om..." Katanya sambil melambaikan tangan. Darren membalas lambaian Daphnee dan ia pun tersenyum, sedikit lebar dari biasanya.
Darren terus menatap punggung kecil Daphnee yang menjauh dan kembali dituntun oleh Ida. Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk terus memandangi anak itu, seolah-olah ada ikatan tak kasat mata yang menahan pandangannya.
Pria itu menghela napas panjang, tersenyum getir pada dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak menyadari, bahwa gadis kecil yang baru saja menabraknya dan membuat hatinya bergetar adalah darah dagingnya sendiri. Putri kandung yang selama ini dia rindukan dalam diam.
mungkin di masa lalu Darren org yg arogan Daniela ,,
tp saat ni Darren sosok ayah yg merindukan keluarga kecil ny ,,
mungkin sulit tuk melupakan masa lalu yg menyakitkan ,, tp fikirkan juga daphnee ,, dy juga merindukan papa ny ,,
ayooo darreeen berusaha teruus ,, bukti kan klo km uuddh berubah