NovelToon NovelToon
GODDESS AGAINST FATE

GODDESS AGAINST FATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: XING YI

​Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.

​Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7:Peluang Datang Tanpa Sengaja

Tiga hari berselang sejak menara tua itu menjadi saksi bisu atas gugurnya kedua pembunuh bayaran dari klan feng.

Kota Qīngchú kini dibanjiri desas-desus tentang 'hantu es' yang menghantui malam, namun sosok yang dicari Chen Lin ia sedang duduk tenang di sudut sebuah kedai kecil, menyesap teh melati yang sudah mendingin.

​Di hadapannya, sebuah jubah panjang berwarna abu-abu kusam dan sebuah topeng perunggu polos tergeletak di atas meja kayu.

Penyamarannya sebagai Chen Lin sang pemuda desa sudah terlalu berisiko, ia butuh lapisan identitas baru untuk memasuki Gedung Paviliun Giok milik Klan Bei.

"Klan Bei tidak memedulikan siapa kau, selama kantongmu penuh dengan koin atau artefak berharga," suara penjaga di depan pintu, Sebelum akhirnya membiarkan Chen lin masuk.

"Namun, jangan tertipu oleh kemewahan mereka. Di setiap sudut ruangan pelelangan itu, terdapat formasi pendeteksi nyawa. Gunakan Tirai Kabut Rembulan untuk membungkus jiwamu, bukan hanya wajahmu." suara Lin XingYu bergema.

pelelangan pun dimulai. Gedung Paviliun Giok berdiri angkuh di distrik Utara, bermandikan cahaya lampion spiritual yang berwarna hijau zamrud.

Kereta-kereta kuda mewah milik para bangsawan dan tetua sekte berjejer rapi, namun Chen Lin memilih untuk berjalan kaki melalui pintu samping bagi para praktisi pengelana.

​Ia kini mengenakan jubah abu-abu lebar yang menyembunyikan lekuk tubuhnya, dan topeng perunggu yang dingin menutupi wajahnya.

Di bawah jubah itu, Energi Spiritual-nya bergerak dalam ritme yang sangat lambat, ditekan hingga ke titik terendah agar ia tampak seperti praktisi tingkat 3 yang tidak signifikan.

​"Nomor urut 416. Silakan masuk, Tuan," ucap penjaga pintu dengan nada datar, memberikan sebuah plakat kayu kecil.

​Chen Lin melangkah masuk. Interior paviliun itu adalah perpaduan antara kemegahan dan fungsionalitas.

Langit-langitnya dihiasi dengan ukiran naga yang mata-matanya terbuat dari batu permata yang mampu merekam setiap gerak-gerik pengunjung. Chen Lin memilih kursi di barisan belakang yang remang-remang, tempat orang biasanya berkumpul.

​Pelelangan dimulai dengan pembawa acara seorang wanita cantik dari Klan Bei yang suaranya semerdu denting lonceng.

Beberapa artefak tingkat rendah dan ramuan pemulihan terjual dengan harga tinggi, namun mata Chen Lin tetap tertutup, tidak tertarik.

​Hingga akhirnya, sebuah kotak yang terbuat dari kayu gaharu hitam dibawa ke atas panggung.

Saat tutupnya dibuka, hawa dingin yang murni namun liar menyebar ke seluruh ruangan, membuat beberapa praktisi di barisan depan menggigil.

"Barang selanjutnya," ucap sang pembawa acara dengan senyum misterius, "Inti Jantung Beruang Salju Purba".

Monster ini hidup di puncak abadi pegunungan utara dan telah menyerap esensi es selama ratusan tahun. Sangat cocok bagi mereka yang ingin memperkuat kepadatan darah atau... melakukan terobosan besar.

​Mata Chen Lin terbuka seketika. Pupil peraknya berkilat di balik lubang topeng perunggu.

​"Itu dia," bisik Lin XingYu, nadanya mengandung gairah yang jarang terlihat.

"Esensi di dalam jantung itu cukup murni untuk menjadi martil yang akan menghancurkan dinding pembatasmu menuju Tingkat 8. Jangan biarkan siapapun mengambilnya."

​"Harga pembukaan: Lima puluh keping perak!"

​"Enam puluh!" teriak seorang pria gemuk di barisan depan.

​"Tujuh puluh!" sambung seorang wanita bercadar dari klan Wei.

​Persaingan berlangsung sengit. Dalam hitungan menit, harganya melonjak hingga seratus dua puluh keping perak jumlah yang sangat besar bagi praktisi biasa.

Chen Lin tetap diam, menunggu saat yang tepat. Ia tahu bahwa berteriak terlalu awal hanya akan menarik perhatian para kolektor besar.

​"Seratus lima puluh keping perak!" seorang pemuda dari Klan Qin berteriak, suaranya penuh kemenangan.

Ruangan mendadak sunyi. Seratus lima puluh perak adalah harga yang tidak masuk akal untuk inti monster tingkat tersebut.

​Tepat saat juru lelang hendak mengetuk palu untuk ketiga kalinya, sebuah suara rendah dan serak muncul dari barisan belakang.

​"Dua ratus keping perak."

Seluruh ruangan menoleh. Mata-mata penonton tertuju pada sosok berjubah abu-abu dengan topeng perunggu yang duduk tegak.

Chen Lin telah menguras hampir seluruh koin perak yang ia kumpulkan dari perburuan dan hasil jarahan bandit, namun ia tidak peduli. Harta bisa dicari, namun momentum terobosan tidak bisa menunggu.

​Pemuda Klan Qin itu menatap Chen Lin dengan geram, namun setelah merasakan aura dingin yang samar namun menekan dari arah nomor 416, ia mendengus dan kembali duduk.

Ia tidak bodoh, seseorang yang berani mengeluarkan dua ratus perak di tempat ini biasanya memiliki latar belakang yang tak terlihat atau kekuatan yang mengerikan.

​"Dua ratus perak... terjual kepada Tuan di kursi 407!"

Setelah menyelesaikan administrasi secara cepat di ruang rahasia menggunakan sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari Chen Lin segera meninggalkan paviliun melalui jalur keluar darurat.

Ia bisa merasakan beberapa indra spiritual mencoba mengikutinya, namun dengan Teknik Tirai Kabut Rembulan, ia bermanuver di antara gang-gang gelap Kota Qīngchú seolah-olah ia adalah bagian dari kegelapan itu sendiri.

​Ia kembali ke Penginapan Teratai Sunyi dengan napas yang stabil namun jantung yang berdebar penuh antisipasi.

Di tangannya, kotak gaharu hitam itu terasa sangat dingin, seolah-olah ia sedang memegang potongan es kutub utara.

"Persiapan sudah selesai," suara Lin XingYu terdengar serius.

"Malam ini, kau akan meminum esensi jantung ini. Darahmu akan membeku, dan jantungmu mungkin akan berhenti berdetak selama beberapa saat. Jika kau bertahan, kau akan melangkah ke Tingkat 8. Jika tidak... kau akan menjadi patung es abadi di kamar ini."

​Chen Lin menatap jendela, melihat rembulan Qīngchú yang mulai tertutup awan hitam. Ia melepaskan topeng perunggunya, menampakkan wajah aslinya yang kini terlihat sangat tenang.

​"Aku sudah mati sekali di Bumi," bisik Chen Lin, jemarinya membuka kotak kayu itu.

"Dinginnya kematian tidak akan bisa menghentikanku untuk kedua kalinya."

​Ia duduk bersila, menelan Inti Jantung Beruang Salju tersebut dalam satu gerakan.

Seketika, seluruh ruangan tertutup oleh lapisan es tebal, dan aura Blood Purification Tingkat 8 mulai bergejolak, siap untuk meledak dan mengubah takdir pemuda itu sekali lagi.

Keheningan di dalam kamar Penginapan Teratai Sunyi pecah bukan oleh suara, melainkan oleh tekanan udara yang tiba-tiba membeku.

Selama satu hari penuh, Chen Lin telah tenggelam dalam lautan rasa sakit yang murni. Esensi dari Inti Jantung Beruang Salju Purba merasuk ke dalam setiap kapiler darahnya, mengubah aliran merah itu menjadi cairan perak yang kental dan sangat dingin.

​Di titik nadir meditasinya, jantung Chen Lin sempat berhenti berdetak selama satu tarikan napas panjang sebuah fenomena yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang memiliki raga dewa.

Namun, tepat saat Lin XingYu hendak menyalurkan energi jiwanya untuk membantu, ledakan energi meletus dari tubuh Chen Lin.

BUM!

​Dinding kamar yang sudah dilapisi es kini retak-retak. Seluruh cairan di dalam ruangan, termasuk air di dalam teko, meledak menjadi butiran kristal es yang tajam.

Chen Lin membuka matanya, dan untuk sesaat, pupilnya memancarkan cahaya biru langit yang dingin sebelum kembali ke warna perak yang tenang.

​Blood Purification Tingkat 8.

​Ia berdiri, merasakan setiap serat ototnya kini memiliki kepadatan yang tidak logis. Darahnya tidak lagi sekadar mengalir, ia berputar dengan kekuatan badai salju di dalam sistem vaskularnya.

​"Tingkat 8," Lin XingYu bergumam, suaranya mengandung apresiasi yang dalam.

"Kau tidak hanya bertahan, kau menjinakkan keliaran monster itu. Namun, Qīngchú kini bukan lagi tempat yang aman. Klan Feng telah mulai menggerakkan mata-mata mereka untuk melacak 'hantu Es' yang telah membunuh kedua pembunuh bayaran mereka. Kita harus pergi ke Pegunungan Binatang sekarang."

Chen Lin meninggalkan penginapan tepat saat fajar masih berupa garis abu-abu di ufuk timur. Ia tidak melewati gerbang utama yang kini dijaga ketat oleh patroli Klan Fang.

Dengan bantuan Teknik Tirai Kabut Rembulan, ia melompat dari atap ke atap, bergerak seperti bayangan yang menyelinap di antara celah-celah pengawasan.

​Ia meninggalkan kemegahan giok Kota Qīngchú dan memacu langkahnya menuju Pegunungan Binatang, sebuah labirin raksasa yang terdiri dari puncak-puncak gunung yang menembus awan dan hutan purba yang tak tertembus cahaya matahari.

Tempat ini adalah surga bagi monster, namun neraka bagi praktisi tingkat rendah tempat yang sempurna untuk menghilang sekaligus menumpuk kekayaan.

​Selama lima belas hari, Chen Lin menghilang dari Aktivitas manusia. Hidupnya berubah menjadi rutinitas berdarah di bawah bayang-bayang pepohonan raksasa.

Pegunungan Binatang tidak memberi ampun; di sini, ia tidak hanya berhadapan dengan monster, tapi juga dengan medan yang mematikan.

​Hari-hari pertamanya dihabiskan untuk berburu Macan Tutul Angin dan Kera Lengan Baja. Dengan Teknik Bayangan Tujuh Pedang yang kini jauh lebih stabil berkat kenaikan tingkatnya, Chen Lin mampu membelah diri menjadi tiga bayangan spiritual secara singkat.

Tarian bayangan ini membuat para monster kebingungan sebelum akhirnya dibekukan secara total oleh sentuhan maut Chen Lin.

​Pada minggu kedua, ia masuk lebih dalam ke Lembah Tulang Putih. Di sana, ia berburu Elang Sayang Besi yang sarangnya berada di tebing-tebing curam.

Chen Lin harus bergantung pada ketajaman indranya dan bimbingan Lin XingYu untuk menghindari serangan mendadak dari langit.

​Lian Yue, sang merak es, juga tumbuh pesat.

Di pegunungan ini, ia tidak lagi menyembunyikan wujudnya. Ia terbang di samping Chen Lin, sayapnya sesekali melepaskan badai es kecil untuk membantu tuannya menjebak mangsa yang lebih cepat.

​Di hari kelima belas, Chen Lin duduk di tepi aliran sungai pegunungan yang jernih, membersihkan darah monster dari jubah abu-abunya yang kini sudah compang-camping di beberapa bagian.

Di sampingnya, terdapat dua tas kulit besar yang penuh dengan barang-barang berharga.

​Sepuluh Inti Energi monster tingkat menengah.

​Puluhan taring, kuku, dan kulit binatang langka yang nilainya bisa mencapai ratusan keping perak.

​Beberapa tanaman obat liar yang ia temukan di celah-celah tebing.

​Wajahnya kini tidak lagi tampak seperti pemuda desa yang lugu. Ada ketajaman yang liar di matanya, dan kulitnya memancarkan aura yang begitu stabil hingga binatang buas di sekitarnya pun tidak berani mendekat dalam radius sepuluh meter.

​"Waktunya kembali," ucap Lin XingYu. "Klan Fang mungkin mengira kau sudah mati atau melarikan diri jauh, tapi kita akan kembali dengan kekuatan yang berbeda. Tingkat 8 ini adalah jembatan menuju Marrow Purification. Kau butuh pasar yang lebih besar dari sekadar Qīngchú untuk menukarkan semua barang ini dengan pil tingkat tinggi."

​Chen Lin berdiri, menatap puncak gunung yang tertutup salju untuk terakhir kalinya. Ia mengikat tasnya dengan kuat dan mengenakan kembali caping bambunya.

Tubuhnya terasa lebih ringan, jiwanya lebih tenang, namun di balik ketenangan itu, ada badai yang siap meledak.

​"Lima klan Qīngchú... aku ingin melihat siapa di antara mereka yang berani menghadang langkahku kali ini," bisik Chen Lin.

​Dengan satu gerakan kaki, ia melesat meninggalkan pegunungan, bergerak menuju perbatasan kota selanjutnya.

Ia bukan lagi seorang pelarian, ia adalah seorang pemburu yang kini memiliki modal untuk mengguncang tatanan kekuasaan di daratan utama.

Perjalanan setengah bulan di pegunungan telah menempa Chen Lin menjadi lebih kuat.

Langkah kaki Chen Lin terasa lebih berat namun stabil saat ia menapaki jalanan berbatu di pinggiran kota.

Jubah abu-abunya yang kusam kini membawa aroma tanah pegunungan dan amis darah monster yang telah mengering, sebuah tanda bisu dari perjuangan hidup dan mati selama setengah bulan di rahim Pegunungan Binatang.

Langit sore yang berwarna jingga keunguan menyinari atap-atap gedung di Kota Qīngchú, memberikan kesan damai yang kontras dengan gejolak kekuatan di dalam tubuh Chen Lin yang kini telah mencapai Blood Purification Tingkat 8.

​Ia berjalan dengan caping yang ditarik rendah, melewati gerbang kota dengan kerumunan pedagang yang lelah. Penyamarannya sebagai praktisi pengelana biasa masih terjaga sempurna berkat Tirai Kabut Rembulan.

Namun, saat ia melintasi jalan utama menuju distrik Timur wilayah yang dikuasai oleh Klan Wei suasana di sekitarnya mendadak berubah menjadi sunyi.

​Dari arah berlawanan, sebuah tandu megah yang terbuat dari kayu cendana putih dan dihiasi dengan tirai sutra transparan meluncur perlahan.

Tandu itu dibawa oleh empat pengawal yang masing-masing memancarkan aura Blood Purification tingkat puncak.

Di sekelilingnya, kelopak bunga plum putih berjatuhan seolah-olah alam sendiri sedang memberi hormat.

​Di dalam tandu itu, duduk seorang wanita yang kecantikannya sanggup membekukan waktu. Ia adalah Wei Lan, Nona Pertama dari Klan Wei.

Wajahnya sepucat pualam, dengan mata yang menyimpan kedalaman samudera namun terselubung oleh kabut kesedihan yang samar.

Meskipun ia adalah jenius kebanggaan Klan Wei yang ahli dalam alkimia, ada sesuatu yang 'salah' dari aura yang dipancarkannya sebuah getaran energi yang tidak stabil, seolah-olah ada api yang sedang memakan es dari dalam tubuhnya.

Saat tandu itu perlahan bersalipan dengan Chen Lin, kalung giok di dadanya tiba-tiba memanas. Proyeksi jiwa Lin XingYu di dalam kesadarannya membuka mata dengan kilatan yang sangat tajam, seolah-olah ia baru saja melihat sebuah anomali yang menarik.

​"Tunggu, Chen Lin," suara Lin XingYu bergema, kali ini dengan nada yang serius dan penuh otoritas.

"Lihatlah wanita di dalam tandu itu. Dia memiliki tubuh Yin Purba Yang Terkontaminasi. Di dunia ini, mereka menyebutnya penyakit langka, tapi bagiku, itu adalah kutukan 'Rantai Langit'."​Chen Lin sedikit mengernyit di balik capingnya.

"Kutukan? Bukankah dia terlihat sangat kuat untuk usianya?"

​"Kuat di permukaan, namun rapuh di inti," balas Lin XingYu dingin.

"Bakatnya luar biasa, namun aliran energinya terhambat oleh sumbatan murni di meridian jantungnya. Tanpa penawar yang tepat, energinya akan berbalik memakan jiwanya sendiri. Sebelum kau bertanya lebih lanjut, aku punya tugas untukmu. Ini adalah kunci untuk masuk ke dalam lingkaran terdalam Klan Wei tanpa harus memohon."

​Sebelum Chen Lin sempat mencerna rencana Lin XingYu, sang Dewi Primordial memberikan perintah yang mengejutkan.

"Katakan ini dengan cukup keras saat kau tepat berada di samping tandunya. Jangan ragu, biarkan keberanian dalam suaramu sedikit keluar."

Jarak antara Chen Lin dan tandu Wei Lan kini hanya tersisa beberapa langkah. Para pengawal Klan Wei menatap tajam ke arah pemuda berjubah kusam itu, siap menghunuskan senjata jika ia berani menghalangi jalan.

Namun, Chen Lin tetap berjalan lurus dengan langkah yang sangat tenang.

​Tepat saat ia bersimpangan dengan Wei Lan di mana aroma wangi bunga plum dari tandu bersentuhan dengan aroma dingin es dari tubuh Chen Lin pemuda itu membuka suaranya.

Suaranya tidak keras berteriak, namun memiliki resonansi Spiritual yang sanggup menembus hiruk-pikuk kota dan langsung menghantam gendang telinga mereka yang berada di sana.

​"Bakat dan penampilan yang bagus,"

ucap Chen Lin sambil terus melangkah tanpa menoleh, suaranya terdengar seperti denting logam yang dingin.

"Tapi sayangnya... terhalang penyakit yang membuatnya tidak akan mampu mencapai ranah Birth Of Soul seumur hidup. Sayang sekali... Sayang sekaiii..."​

Kata-kata itu jatuh seperti bom di tengah keheningan.

Tandu itu berhenti secara mendadak. Para pengawal Klan Wei seketika menghunuskan pedang mereka, wajah mereka memerah karena amarah.

Menghina Nona Pertama Klan Wei di depan umum adalah tindakan bunuh diri yang paling hina.

​"Berhenti! Beraninya kau menghina Nona Kami!" teriak sang kepala pengawal, seorang pria dengan luka parut di dahi yang sudah mencapai ranah Marrow Purification Tingkat 1.

​Namun, di dalam tandu, Wei Lan merasakan jantungnya berdegup kencang bukan karena amarah, melainkan karena ketakutan yang murni.

Rahasia tentang penyakitnya, tentang hambatan yang membuatnya putus asa setiap kali mencoba menembus ranah yang lebih tinggi, adalah rahasia paling gelap yang hanya diketahui oleh dirinya dan ayahnya, sang Kepala Klan.

Bagaimana bisa seorang pemuda asing berpenampilan kusam mengetahui hal itu hanya dengan sekali pandang?

"Tunggu!" suara Wei Lan terdengar dari balik tirai, gemetar namun penuh otoritas. "Biarkan dia lewat... dan jangan sakiti dia."

Chen Lin tidak berhenti. Ia terus berjalan dengan tangan di dalam saku jubahnya, seolah-olah ia baru saja mengomentari cuaca yang buruk

Ia bisa merasakan tatapan tajam dan penuh tanya dari Wei Lan yang kini terlihat dibalik tirai tandunya, menatap punggung Chen Lin yang perlahan menghilang di balik kerumunan pasar yang mulai ramai kembali.

​"Bagus," Lin XingYu tertawa kecil, suara tawanya mengandung kelicikan yang anggun.

"Kau baru saja menanam benih badai di hatinya. Dia tidak akan bisa tidur malam ini. Seorang alkemis sehebat apapun di Kota ini tidak akan bisa mendiagnosis 'Rantai Langit' seakurat itu. Dia akan mencarimu, Chen Lin. Dan saat dia menemukanmu, Klan Wei akan berada di bawah telapak tanganmu."

Chen Lin menarik napas panjang, menghirup udara malam yang mulai mendingin.

"Kau benar-benar licik, Senior. Sekarang aku tidak hanya harus berurusan dengan klan Feng yang mencariku, tapi juga klan Wei yang akan mengejarku karena rasa penasaran."

​"Dalam jalan keabadian, kau tidak butuh teman, kau butuh pengaruh," balas Lin XingYu.

"Klan Wei memiliki bahan yang kau butuhkan untuk Marrow Purification. Biarkan gadis itu menjadi jembatanmu."

​Chen Lin melintasi persimpangan jalan, kembali menuju Penginapan Teratai Sunyi. Di belakangnya, tandu Klan Wei masih terdiam di tengah jalan.

Wei Lan masih terpaku, menatap ke arah hilangnya pemuda itu.

Kata-kata "Sayang sekali... Sayang sekali..." terus bergema di pikirannya seperti lonceng kematian yang juga membawa harapan samar.

​Malam itu, Kota Qīngchú mungkin tampak sama seperti malam-malam sebelumnya, namun di bawah permukaan, arus kekuasaan mulai bergeser.

Seorang pemuda bernama Chen Lin baru saja mengguncang pilar kekuatan Klan Wei hanya dengan sepatah kalimat, sementara ia sendiri bersiap untuk kembali ke kamarnya, mengunci pintu, dan menanti saat di mana peluang besarnya akan datang mengetuk pintu.

1
Milk Lk
udh nabung 2 minggu lebih gas momentum walau cuman 20 chapter, semangat terus thor up nya
Milk Lk
Wah bagus sih ini, gas next chpter tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!