NovelToon NovelToon
ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: ThiaSulaiman

Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Damian Tak Bisa Berkata-kata

Tepuk tangan masih menggema di seluruh ballroom Imperial Palace.

Lampu kristal berkilauan di langit-langit tinggi.

Musik orkestra kembali dimainkan pelan.

Namun malam itu…

tak ada seorang pun yang benar-benar memperhatikan panggung selain satu orang.

Damian Moretti.

Pria itu berdiri diam di tengah keramaian elit kota.

Tatapannya terkunci pada satu sosok yang sedang berjalan menuju podium utama.

Elara Vasiliev.

Gaun hitam panjangnya bergerak elegan mengikuti langkahnya.

Tatapannya tenang.

Dingin.

Dan terlalu jauh untuk disentuh.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya…

Damian benar-benar merasa tidak bisa menjangkaunya lagi.

“Elara Vasiliev…”

Nama itu kembali disebut pembawa acara dengan penuh kagum.

“Visionary Leader of The Year.”

Tepuk tangan kembali menggema.

Para investor berdiri.

Beberapa tamu bahkan ikut memberikan standing ovation.

Dan Damian…

merasakan sesuatu di dadanya runtuh perlahan.

Karena dulu…

wanita itu pernah berdiri di sampingnya hanya untuk memastikan ia makan tepat waktu.

Pernah menungguinya pulang sampai larut malam.

Pernah diam-diam memperbaiki dasinya sebelum rapat penting.

Pernah mencintainya terlalu tulus.

Namun ia…

tak pernah benar-benar melihat semua itu.

Elara berhenti di depan podium.

Lampu sorot jatuh tepat pada wajahnya.

Sempurna.

Elegant.

Dan sangat tenang.

Pembawa acara menyerahkan piala penghargaan sambil tersenyum lebar.

“Selamat, Nona Elara.”

“Terima kasih.”

Suaranya lembut.

Namun entah kenapa…

seluruh ruangan langsung diam mendengarkan.

Karena wanita itu memiliki sesuatu yang bahkan lebih kuat daripada kekuasaan.

Kehadiran.

“Apakah Anda ingin mengatakan sesuatu?”

Pembawa acara mempersilakan.

Seluruh ballroom menunggu.

Beberapa wartawan bahkan langsung maju mendekat.

Dan di bawah cahaya lampu besar itu…

Elara perlahan mengangkat mikrofon.

Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

Tenang.

Tak tergesa.

Sampai akhirnya…

mata itu berhenti sepersekian detik pada Damian.

Dan pria itu langsung membeku.

“Dulu…”

suara Elara terdengar pelan namun jelas,

“…aku pernah berpikir bahwa untuk diterima, seseorang harus terus berusaha menjadi cukup.”

Ballroom langsung sunyi.

“Cukup sabar.”

“Cukup baik.”

“Cukup mengalah.”

Tatapan Elara tetap tenang.

“Tapi hidup mengajarkanku sesuatu…”

Ia tersenyum tipis.

“Orang yang salah akan selalu membuat kita merasa kurang.”

Beberapa sosialita langsung saling melirik.

Karena semua orang tahu…

kalimat itu tidak diucapkan tanpa alasan.

Damian mengepalkan tangan perlahan.

Dadanya terasa sesak.

Karena untuk pertama kalinya…

ia sadar semua luka Elara ternyata jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.

“Dan hari ini…”

Elara melanjutkan,

“…aku belajar bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh siapa yang memilih bertahan di sisinya.”

Tatapannya perlahan berubah lebih tajam.

“Tapi oleh seberapa kuat ia tetap berdiri saat semua orang pergi.”

DEG.

Kalimat itu menghantam Damian tanpa ampun.

Karena tiba-tiba…

semua kenangan lama kembali menyerangnya sekaligus.

Elara berdiri sendirian di meja makan.

Elara menunggunya pulang.

Elara dipermalukan Selene.

Elara ditampar Seraphina.

Dan dirinya sendiri…

yang hanya diam.

Cassian memperhatikan Damian dari kejauhan.

Lalu tersenyum kecil samar.

“Sekarang kau mulai mengerti rasa kehilangan.”

Di atas panggung, Elara menunduk kecil sopan.

“Terima kasih untuk semua orang yang mempercayaiku.”

Tepuk tangan kembali menggema.

Namun kali ini lebih besar.

Lebih panjang.

Lebih tulus.

Dan anehnya…

Damian merasa seluruh tepuk tangan itu terdengar seperti penghakiman untuk dirinya sendiri.

Karena malam ini…

seluruh dunia akhirnya melihat betapa berharganya Elara.

Tepat ketika ia kehilangannya.

Setelah pidato selesai, Elara turun dari panggung dengan tenang.

Para investor langsung kembali mengerumuninya.

Wartawan berebut meminta wawancara.

“Bagaimana perasaan Anda malam ini?”

“Apa target berikutnya untuk Vasiliev Group?”

“Apakah Anda akan memperluas bisnis ke Eropa?”

Namun Elara tetap tenang menjawab semuanya.

Elegant.

Cerdas.

Dan sangat berbeda dari wanita yang dulu selalu berusaha menghindari perhatian.

Selene melihat semua itu dengan napas mulai tidak stabil.

Tangannya dingin.

Dan rasa iri di dadanya berubah menjadi kebencian yang hampir meledak.

Karena malam itu…

bahkan dirinya terasa seperti figuran.

Sementara Elara menjadi pusat dunia.

“Aku muak melihat wajahnya.”

Suara Selene bergetar kecil.

Seraphina langsung menatap tajam.

“Kendalikan dirimu.”

“Apa Ibu tidak lihat?!”

Selene mulai kehilangan kontrol.

“Semua orang memujinya seperti dia ratu!”

“Dan kau pikir membuat keributan akan membantu?”

“Aku tidak peduli lagi!”

BRAK!

Selene meletakkan gelas terlalu keras di meja.

Beberapa tamu langsung menoleh.

Namun wanita itu terlalu marah untuk peduli.

Tatapannya terus tertuju pada Elara.

Pada Damian.

Dan pada cara pria itu memandang Elara tanpa bisa menyembunyikannya lagi.

Itu yang paling menghancurkannya.

Sementara itu, Damian akhirnya bergerak.

Ia melangkah perlahan menembus keramaian.

Menuju Elara.

Beberapa orang otomatis memberi jalan.

Karena aura pria itu terlalu kuat untuk diabaikan.

Namun saat Damian berdiri di depan Elara lagi…

untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

ia tidak tahu harus berkata apa.

Elara menatapnya tenang.

“Ada yang ingin kau katakan?”

Damian membuka mulut.

Lalu berhenti.

Karena semua kalimat yang ia siapkan tiba-tiba terasa tidak berguna.

Maaf?

Terlalu terlambat.

Aku menyesal?

Tidak cukup.

Kembali padaku?

Bahkan dirinya sendiri tahu ia tidak pantas mengucapkannya.

Dan untuk pertama kalinya…

Damian Moretti benar-benar tak bisa berkata-kata.

Elara memperhatikannya beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil tipis.

Bukan senyum hangat.

Bukan juga senyum sinis.

Melainkan senyum seseorang yang akhirnya mengerti semuanya.

“Aneh ya,” katanya pelan.

“Dulu aku selalu punya banyak hal ingin kukatakan padamu.”

Damian menatapnya diam.

“Sekarang justru kau yang tidak bisa bicara.”

Kalimat itu menghantam telak.

Namun yang paling menyakitkan—

Elara mengatakannya tanpa kebencian.

Seolah pria itu… sudah tidak cukup penting untuk dibenci lagi.

Damian menghela napas berat.

“Elara…”

Suaranya rendah.

Serak.

Dan jauh lebih lemah dari biasanya.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Sunyi.

Keramaian ballroom tetap berjalan.

Namun di antara mereka berdua…

dunia terasa berhenti.

Elara menatapnya lama.

Lalu berkata pelan,

“Aku percaya.”

Damian sedikit terkejut.

Namun sebelum ia sempat berharap—

Elara melanjutkan,

“Aku percaya kau memang menyesal.”

Tatapannya turun sepersekian detik.

“Tapi penyesalan tidak selalu bisa memperbaiki sesuatu.”

Dan Damian merasa dadanya benar-benar hancur saat itu juga.

Karena akhirnya…

ia sadar satu hal yang paling menyakitkan:

Elara sudah memaafkannya.

Namun wanita itu tidak lagi menginginkannya.

Cassian yang berdiri beberapa meter dari sana memperhatikan tanpa bicara.

Untuk pertama kalinya…

bahkan pria itu terlihat serius.

Karena ia tahu—

ada jenis kehilangan yang jauh lebih buruk daripada ditolak.

Yaitu ketika seseorang berhenti berharap pada kita.

“Elara.”

Seorang investor asing kembali menghampiri.

“Kami ingin mendiskusikan kerja sama baru.”

Elara langsung kembali memasang senyum profesional.

“Tentu.”

Ia menoleh pada Damian sekali lagi.

“Permisi.”

Lalu pergi.

Begitu saja.

Tanpa ragu.

Tanpa menoleh lagi.

Dan Damian tetap berdiri diam di tempatnya.

Sendirian.

Di tengah ballroom paling mewah di kota.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

ia merasa kehilangan segalanya.

“Sekarang rasanya sakit?”

Suara Cassian terdengar santai di sampingnya.

Damian tertawa kecil pahit.

“Kau menikmati ini?”

Cassian mengangkat bahu.

“Sedikit.”

Tatapannya bergerak ke arah Elara.

“Tapi jujur saja…”

ia tersenyum tipis,

“…aku lebih menikmati melihat wanita itu akhirnya sadar betapa berharganya dirinya.”

Damian diam.

Karena lagi-lagi…

ia tidak bisa membantah.

Di sisi lain ballroom, Selene memperhatikan Damian yang terus melihat Elara.

Dan sesuatu dalam dirinya akhirnya pecah.

“Aku tidak akan membiarkan ini.”

Seraphina langsung menoleh tajam.

“Selene—”

“TIDAK!”

Beberapa tamu mulai memperhatikan mereka.

Namun Selene sudah kehilangan kendali.

“Aku muak melihat semua orang memujanya!”

Air matanya mulai jatuh.

“Dia merebut semuanya dariku!”

“Cukup!”

Seraphina menggenggam lengan putrinya keras.

Namun terlambat.

Karena beberapa wartawan sudah mulai merekam.

Bisik-bisik kembali menyebar.

Dan malam yang seharusnya menjadi panggung keluarga Moretti…

perlahan berubah menjadi awal kehancuran mereka.

Sementara itu, Elara berdiri di dekat balkon besar ballroom sambil menikmati udara malam.

Lampu kota terlihat indah dari atas sana.

Namun ekspresinya tetap tenang.

Tidak terlalu bahagia.

Tidak juga sedih.

Karena jauh di dalam dirinya…

ia sadar kemenangan terbesar malam ini bukan penghargaan itu.

Melainkan kenyataan bahwa…

akhirnya ia tidak lagi merasa kecil.

Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang.

Elara tidak menoleh.

“Kalau kau datang untuk meminta maaf lagi, aku bosan mendengarnya.”

Damian berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“Aku tidak datang untuk itu.”

“Lalu?”

Sunyi beberapa detik.

Angin malam bergerak lembut memainkan rambut Elara.

Dan Damian akhirnya berkata pelan—

jujur untuk pertama kalinya.

“Aku datang karena aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti mencarimu.”

DEG.

Kalimat itu membuat Elara perlahan memejamkan mata sesaat.

Bukan karena lemah.

Tapi karena untuk pertama kalinya…

ia benar-benar mendengar ketulusan di suara Damian.

Namun beberapa detik kemudian…

Elara membuka mata lagi.

Dan ketika ia menoleh—

tatapannya sudah kembali tenang.

“Kau terlambat.”

Hanya dua kata.

Namun cukup untuk membuat Damian tak bisa berkata-kata lagi.

Karena malam itu…

akhirnya ia mengerti.

Beberapa orang bisa menunggu bertahun-tahun demi cinta.

Namun setelah terlalu sering dihancurkan…

mereka juga bisa berhenti sepenuhnya.

Dan saat itu terjadi—

bahkan penyesalan terbesar pun tidak akan mampu membawa mereka kembali.

1
Noey Aprilia
Bgitulh khidupn para holang kaya....
d psahkn dr bayi,rbut soal hrta....
tp mga aja kmbaran elara bkln jd plindung buat elara jg,biar para msuh ga brani ngusik mreka lg...
Noey Aprilia
Ngerti sih kl damian emng mnyesal...
tp ga ush mksa jg kaleee....seribu maaf jg ga bs mnyembuhkn luka elara d msa lalu...mndingn mnjauh smntra,biarkn elara tnang...toh kl jdoh jg ga akn kmna kan?????
Noey Aprilia
Bgtulh mnusia....dia mlai sdr saat khilangn sseorng yg brrti,tp syangnya pnyesalan dtng trlambat....
Noey Aprilia
Nkmti aja khncuran klian....
kl sdar y sukur,kl ga ya wasalam.....🙄🙄🙄
Noey Aprilia
Gmna rsanya mmpermlukan dri sndri d hdpn bnyk orng?????
Ayo cari ide lain yg lbih konyol.....😛😛😛
Noey Aprilia
Orng ga wras tu emng ky gt....
enth dpt uang dr mna smp bsa mndtangkn orng hbat,hnya untk mnjtuhkn elara....yg msti d tes tu bkn elara,tp dia sndri....kira2 otaknya udh pndah kmna????
Noey Aprilia
Pdhl kl diem,mngkn cma malu dkit doang....lah ni....mlah sngja bkin hdpnya hncur.... ckkk....🙄🙄🙄
Noey Aprilia
Mngkn abs ni bsa bkin lubang yg dlam,trs msuk deh biar ga msti ktmu sm mreka....atw smbunyi d dlm gua sking malunya....
Noey Aprilia
Damian ga bosen apa mnta maaf trs,tiap ktmu cma bs mnta maaf....pdhl elara udh mti rsa sm dia krna dlu sllu acuh....
Noey Aprilia
Smntra elara mkin brsinar,yg onoh mkin redup.....😛😛😛...
Noey Aprilia
Msih aja iri.... orng kl udh biasa jd psat prhtian,trs tiba2 d acuhkn psti mkin bnci....pdhl kn dia sndri yg slah.....
Noey Aprilia
Mga aja elara udh mnyiapkn blsan buat spa aja yg mngusiknya,kli nu jgn ksih ampun.....bsmi smp k akarnya biar ga tmbuh lg s msa dpn...
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Noey Aprilia
Yg koar2 emng biasanya krna ktakutan,yg diam jstru lbh brbhya...
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
Noey Aprilia
Mngkn krna dia trbiasa brkuasa,saat sprti itu pun blm jg sdar....mskpn kl dia dtng buat mnta maaf sm elara,blm tntu jg d maafkn...tp mnimal dia tau lh apa kslahnnya....ni mlah mkin dndam.....cckk....
Noey Aprilia
Apa lg yg lbih mnyiksa slain pnyesalan yg trlambat....dan damian sdng mrsakannya.....so,slmt mnkmti....
Noey Aprilia
Mkin d rgukan,elara mkin smngt.....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
Nurhartiningsih
seru
Noey Aprilia
Dlu elara bkrja krna pelarian,skrng smua orng brgntung sm dia......tp ykin bgt kl dia bkln jd pmimpin yg tgas dn sukses d msa dpn.....
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!