NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Putri asli/palsu / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:125.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
​Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
​Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
​"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
​Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: RAHASIA KOTAK MUSIK YANG BELUM TERBUKA

​Pagi di mansion Lynn biasanya diawali dengan aroma kopi yang kuat, namun hari ini, udara terasa pengap oleh ketegangan yang tak kasat mata. Nerina duduk di meja makan panjang yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu-tamu bisnis kelas atas. Di depannya, kotak musik kayu tua itu tergeletak diam. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden raksasa menerpa permukaan kayunya, memperlihatkan goresan-goresan halus yang menceritakan usia benda tersebut.

​Ergino berdiri di belakangnya, seperti biasa. Namun pagi ini, ia tidak memakai sarung tangan putihnya. Tangan besarnya yang penuh dengan urat-urat kokoh terlihat jelas saat ia menuangkan teh melati hangat ke dalam cangkir porselen milik Nerina.

​"Kamu sudah menatap kotak itu selama satu jam, Nona," suara Ergino rendah, memecah kesunyian dengan tempo yang sangat lambat. "Benda itu tidak akan bicara jika Anda hanya menatapnya."

​Nerina menghela napas panjang. Ia meraih cangkir tehnya, namun matanya tetap terpaku pada ukiran mawar di sudut kotak. "Aku merasa benda ini bernapas, Gino. Seolah-olah ibuku menitipkan detak jantungnya di dalam sini. Tapi kenapa kuncinya tidak ada? Kenapa dia memberikan benda ini padaku tanpa cara untuk membukanya?"

​Ergino meletakkan teko keramik itu kembali ke meja dengan denting halus yang bergema. Ia membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Nerina. "Karena dia ingin kamu mencari jawabannya saat kamu sudah siap. Dan sepertinya, jawaban itu baru saja mengetuk pintu kita."

​"Maksudmu?"

​"Sebuah pesan masuk melalui jalur rahasia Leif Capital sepuluh menit yang lalu," Ergino menegakkan tubuhnya, wajahnya berubah kaku. "Tuan Besar Fidelis ingin bertemu denganmu secara pribadi. Di kediaman lamanya. Tanpa pengawal. Tanpa kamera. Dan dia secara spesifik meminta... kotak musik itu dibawa."

​Nerina tertegun. Jantungnya berdegup lebih kencang. "Tuan Fidelis? Ayah Andrew?"

​"Ya. Pria yang selama ini menganggapmu hanya sebagai 'investasi' gagal ayahnya," jawab Ergino dengan nada sinis yang tak bisa disembunyikan. "Namun, ada informasi tambahan. Dia menyebutkan kata 'Kunci Perak' dalam pesannya. Kata sandi yang hanya diketahui oleh orang-orang yang berada di lingkaran Eleanor Cavendish tiga puluh tahun yang lalu."

​Nerina berdiri dengan tiba-tiba. "Kita harus pergi, Gino. Sekarang."

​Namun, sebelum Nerina sempat melangkah, tangan Ergino sudah mencengkeram pergelangan tangannya. Tidak kasar, namun cukup kuat untuk menghentikan gerakan wanita itu.

​"Tunggu," ucap Ergino. Matanya menatap Nerina dengan intensitas yang menekan. "Aku tidak menyukai ini. Tuan Fidelis bukan orang suci. Dia adalah serigala tua yang baru saja kehilangan taringnya karena Andrew jatuh. Pergi ke sana sendirian adalah tindakan bunuh diri."

​"Dia ayah Andrew, Gino! Jika dia tahu tentang ibuku, dia adalah satu-satunya jembatanku untuk memahami siapa aku sebenarnya!" balas Nerina, suaranya sedikit meninggi. "Aku tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik punggungmu dan menunggu keajaiban."

​Ergino menarik tangan Nerina, memaksa wanita itu untuk berbalik sepenuhnya menghadapnya. Ia memperkecil jarak di antara mereka hingga Nerina bisa merasakan panas tubuh pria itu yang membara di balik kemeja hitamnya.

​"Kamu pikir aku mengekangmu karena aku suka melihatmu terkurung?" bisik Ergino, suaranya parau oleh emosi. "Aku melakukan ini karena aku sudah melihat bagaimana kamu hancur di masa lalu, Nerina! Aku sudah melihatmu tidak bernapas karena terlalu percaya pada orang-orang yang salah!"

​"Tapi Tuan Fidelis bukan Andrew!"

​"Dia adalah orang yang membesarkan Andrew!" Ergino memegang kedua bahu Nerina, cengkeramannya posesif. "Jika kamu pergi ke sana, kamu akan menjadi umpan bagi Cavendish yang saat ini pasti mengawasi setiap gerak-gerik keluarga Fidelis. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi target empuk hanya karena rasa penasaranmu."

​Nerina menatap mata Ergino yang dipenuhi oleh ketakutan yang dalam—ketakutan kehilangan yang sangat absolut. Ia meletakkan tangannya di dada Ergino, mencoba menenangkan pria itu.

​"Gino... dengarkan aku. Jika aku tidak pergi sekarang, Julian Cavendish akan menemukan cara lain yang lebih licik. Setidaknya dengan Tuan Fidelis, kita punya kartu truf. Kamu bilang sendiri kan, dia menyebut Kunci Perak?"

​Ergino terdiam lama. Rahangnya mengeras. Ia menundukkan kepalanya, menyatukan keningnya dengan kening Nerina. "Jika terjadi sesuatu padamu di sana... aku tidak akan hanya menghancurkan keluarga Fidelis. Aku akan membakar seluruh kota ini hingga tidak ada satu pun batu yang tersisa."

​"Aku tahu," bisik Nerina. "Karena itulah aku tidak takut. Karena aku tahu bayanganku tidak akan pernah membiarkan api menyentuhku."

​Kediaman Lama Fidelis - Sore Hari

​Rumah tua itu bergaya kolonial, dikelilingi oleh pohon-pohon beringin besar yang membuat suasananya tampak mencekam meskipun hari masih terang. Nerina melangkah masuk ke dalam ruang perpustakaan yang dipenuhi bau kertas tua dan cerutu.

​Tuan Besar Fidelis duduk di kursi goyang di pojok ruangan. Ia tampak jauh lebih tua dari terakhir kali Nerina melihatnya di berita. Wajahnya layu, namun matanya masih memancarkan sisa-sisa otoritas.

​"Nerina Aralynn," suara pria tua itu serak. "Atau haruskah aku memanggilmu... Eleanor kecil?"

​Nerina meletakkan kotak musik di meja di depan Tuan Fidelis. "Jangan memanggilku dengan nama wanita yang Anda biarkan menderita sendirian, Tuan Fidelis. Katakan padaku, apa hubungan Anda dengan kotak ini?"

​Tuan Fidelis mengelus permukaan kayu kotak itu dengan tangan gemetar. "Kotak ini... aku yang memesannya di London. Sebagai hadiah ulang tahun untuk Eleanor. Di dalamnya, ada sesuatu yang sangat diinginkan keluarga Cavendish. Sesuatu yang bisa membuat mereka berlutut."

​Ia kemudian meraba sakunya dan mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk kunci kecil yang sangat rumit.

​"Andrew tidak pernah tahu tentang ini. Tidak ada yang tahu," Tuan Fidelis menatap Nerina dengan mata berkaca-kaca. "Eleanor memintaku menjaganya. Dia bilang, jika suatu hari seorang gadis datang membawa kotak ini, maka gadis itu adalah pewaris sah dari segala yang dia miliki. Dan kunci ini... adalah bukti cintanya yang paling murni."

​Nerina terpaku. "Jadi... Anda benar-benar mengenalnya?"

​"Aku mencintainya, Nerina. Lebih dari hidupku sendiri," Tuan Fidelis terisak kecil. "Tapi kakekmu... Lord Cavendish, dia adalah iblis. Dia mengancam akan menghancurkan keluargaku jika aku tidak menjauh darimu dan ibumu. Aku pengecut. Aku membiarkanmu tumbuh tanpa perlindungan dariku."

​Tepat saat Tuan Fidelis hendak menyerahkan kunci itu pada Nerina, pintu perpustakaan didobrak terbuka.

​Ergino masuk dengan langkah cepat, namun di belakangnya, suara tembakan terdengar dari arah halaman depan.

​"Nona, kita harus pergi sekarang!" teriak Ergino. "Julian Cavendish sudah di sini! Mereka mengepung tempat ini!"

​Nerina menyambar kunci dari tangan Tuan Fidelis, namun pria tua itu menarik lengannya. "Lari, Nerina! Bawa kotak itu! Jangan biarkan mereka mengambilnya!"

​Ergino menyambar pinggang Nerina, mengangkatnya dan membawanya lari menuju pintu rahasia di balik rak buku tepat saat kaca-kaca jendela perpustakaan pecah oleh rentetan peluru.

​"Gino! Tuan Fidelis!" teriak Nerina.

​"Dia sudah membuat pilihannya, Nerina!" sahut Ergino sambil terus berlari melewati lorong gelap. "Sekarang tugasku hanya satu: membawamu keluar dari sini hidup-hidup!"

​Di tengah lorong yang sempit, Ergino tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuh Nerina dan menekannya ke dinding lorong yang lembap. Dalam kegelapan yang nyaris total, ia mencium Nerina dengan sangat dalam—ciuman yang penuh dengan keputusasaan dan janji perlindungan.

​"Dengarkan aku," bisik Ergino di sela napas mereka yang memburu. "Kunci itu sekarang ada padamu. Kamu adalah target utama. Aku akan memancing mereka ke arah hutan belakang. Kamu lari ke jalan raya, mobil cadangan Leif Capital sudah menunggumu di sana dengan kode 'Mawar Hitam'."

​"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!"

​"Ini bukan permintaan, Nerina! Ini perintah!" Ergino menangkup wajah Nerina, matanya berkilat di kegelapan. "Percayalah padaku. Aku tidak akan mati di tangan sampah-sampah London itu. Aku akan menemuimu di mansion dalam satu jam. Jika tidak..."

​Ergino menggantung kalimatnya, lalu mengecup kening Nerina dengan cepat. "Jika tidak, buka kotak itu. Semua jawabannya ada di sana."

​Ergino mendorong Nerina menuju pintu keluar darurat, lalu ia berbalik, mencabut sepucuk senjata dari balik jasnya, dan berlari kembali menuju arah suara tembakan dengan raungan kemarahan yang akan membuat siapa pun gemetar ketakutan.

​Nerina berdiri di ambang pintu, memegang kotak musik dan kunci perak itu erat-erat di dadanya. Air mata mengalir di pipinya, namun ia tahu ia harus berlari. Demi ibunya, demi masa depannya, dan demi pria yang baru saja mempertaruhkan nyawanya sekali lagi demi dirinya.

1
Septi Lahat
andaikan bisa memutar waktu juga 🤔🤔🤔
Ariska Kamisa: semua orang menginginkannya kak 🤭🙏
total 2 replies
awesome moment
sampah bertemu sampah
awesome moment
mrk udh saling tertarik ta
awesome moment
anak angkat yg jd sumber uang. tp disiasiakan
Ariska Kamisa: terimakasih sudah mampir kak🙏
total 1 replies
Astina Putri
sirina ini ooN banget si, gak liat pengorbananya siiyon 😡
oril
knp harus bertahan di rumah yg bukan keluarga kandung mu nerima ,,coba pergi bangun perusahaan sendiri ,,br bls dendam bukan bertahan ,,hedeeh ini nm nya bls dendam tapi bodoh
oril
nerina ini selalu cari identisa aja ,,gk cukup kh dgn yindakn yg sdh terjadi ,,sampai lindungin km itu sdh berapa kali ,,kalo seandainya erigo ini jahat sm km itu gk bakalan hidup sampai sekarang ini ,,bodoh
Evi Marena
cerita nivel ini bagus,,,hanya saja terlalu monoton menurut q,seharusnya setiap 3/5 bab harus ada kejutan peningkatan cerita supaya pembaca penasaran kelanjutannya...tp ini bisa dikatakan asik ada masalah trusss dan penyelesaian nya juga bisa sih...tp kurang wawwww gitu thorrr....dr awal bab sampe bab ini q baca selalu begitu jadi maaf agak bisan thorrr....padahal diawal dah bagus banget menurut q....tp Krn monoton jadi bisan thorrr....moga kedepannya othorrr bisa lebih bagus lagi buat novel ya thorrr....maaf ini hanya masukan...afa baiknya othorrr baca2 novel orang lain juga supaya tau dimana dan apa yg perlu direvisi,timabai dan dikurangi dr cerita novel ini🙏🏻
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak masukannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Sapna Anah
nerina kluar aja dari kluarga angkatmu itu bikin usaha sendiri biarkan saja perusahaan lain bangkrut oleh anak kandungnya🤣🤣🤣🙏
Dinatha: permisi Mbak 🙏
Yuk.. berkenan baca karya saya ya😊🥰
Judul : "Ayah Anakku Teman Kuliahku"

Sinopsis :
Apa Jadinya jika sepasang mahasiswa yang terjebak dalam gaya hidup bebas terpaksa berpisah demi tuntutan realita dan kembali ke kampung halaman masing-masing. Bertahun-tahun kemudian, sebuah perjalanan bisnis mempertemukan sang pria dengan seorang anak perempuan cantik, Gembul dan cadel yang mewarisi mata dan senyum manisnya.
Apakah Fakta akan terungkap dan mereka bisa bersatu karena status ekonomi yang berbeda?

Simak juga keseruan dan kelakuan ajaib sepasang bocah gembul yang masih cadel..
total 2 replies
Yue Li MZy
ga nyangka asal-usul nerina akan sejauh ini,mana rumit dan gak sembarangan pisan
Ariska Kamisa: nerina ini sengaja dibuang, karna dia istimewa 🙏
total 1 replies
Yue Li MZy
sungguh plotwist-plotwist yg membagongkan,kukira penjahat cuma keluarga Lynn-eh ternyata masih ada penjahat yg sebenarnya
Ariska Kamisa: akan lebih plot twist lagi kak nanti🤭
total 1 replies
Yue Li MZy
sebenarnya siapa ergino,dia Sgtlah misterius
Ariska Kamisa: Ergino ini Male leadnya kak.. tenang aja🤭
total 1 replies
Puch🍒❄
jujur kalau di cerita gini sih cocuwit ya nekkk tp kalau di dunia nyata ada modelan cowok kek gini, yaaa sikat lah gilak lu masa mau di lepas tp jujur agak menakutkan sih wak kalau beneran aja di dunia nyata😌😭
Ariska Kamisa: agak-agak gimana gitu posesif nya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Puch🍒❄
nerina yg di gituin gw yg baper sial😭👊
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
Sulati Cus
menarik penuh intrik
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kak sudah mau baca karyaku... 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
ceritanya bagus,
alurnya bagus nih..
penuh teka-teki juga, bikin penasaran apalagi ergino yang ternyata time traveler
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak jempol nya🙏
total 1 replies
aditya rian
waduh... apalagi ini
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
aditya rian
penuh misteri
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!