NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Suara di Antara Dua Angin

Dua hari berlalu seperti embusan napas panjang.

Aditya menghabiskan waktunya di desa Wangsa Angin dengan cara yang tidak biasa: berlatih bersama Ayu. Gadis 16 tahun itu ternyata punya bakat alami dalam membaca angin—secara harfiah. Ia bisa mendeteksi perubahan cuaca, arah serangan, bahkan emosi seseorang hanya dari gerakan udara di sekitarnya.

"Angin membawa informasi," kata Ayu saat mereka duduk di pelataran pura pagi itu. "Kakak bisa merasakannya?"

Aditya memejamkan mata. Jurus Surya-nya terhubung dengan api dan panas—elemen yang berlawanan dengan angin. Tapi ia mencoba. Udara pagi mengalir di kulitnya. Ada dingin, ada lembap, ada bau tanah.

"Aku hanya merasakan udara biasa."

"Itu karena Kakak mendengarnya dengan telinga. Coba dengarkan dengan kulit."

Aditya membuka mata, sedikit frustrasi. "Bagaimana caranya?"

Ayu tertawa kecil—tawa yang mengingatkan Aditya pada dirinya sendiri beberapa minggu lalu, saat ia masih cleaning service yang tidak tahu apa-apa. Sekarang ia level 10, tapi masih terus belajar.

"Kakak sudah bisa dengar energi. Liontin Kakak mengajarkan itu. Sekarang tinggal perluas—jangan cuma dengar energi, tapi dengarkan pesannya." Ayu mengangkat tangannya. Angin tiba-tiba berputar di sekitarnya, membentuk spiral kecil yang mengangkat rambutnya. "Angin memberitahu aku bahwa Putra Senja akan datang malam ini, dari arah barat, membawa 20 orang. Radit ada di barisan depan. Dia marah, tapi juga ragu."

Aditya terkejut. "Kau bisa tahu semua itu dari angin?"

"Bukan hanya angin. Juga dari Kakak."

"Dari aku?"

"Waktu Kakak cerita tentang Radit dan Kakek Seno, angin di sekitar Kakak berubah. Dia menjadi... sedih. Angin tidak bisa berbohong."

---

Siang harinya, dewan tetua Wangsa Angin mengadakan pertemuan terakhir sebelum malam tiba. Aula pertemuan dipenuhi sekitar 30 orang—kultivator muda dan tua, pria dan wanita, semua mengenakan pakaian adat Bali dengan sentuhan warna merah yang melambangkan kesiapan berperang.

Mpu Gde duduk di tengah, Tombak Angin di pangkuannya. Pusaka itu panjangnya sekitar dua meter, gagangnya dari kayu hitam berukir spiral, mata tombaknya terbuat dari logam yang berkilau keperakan. Angin kecil berputar di sekitar bilahnya, menciptakan suara desir pelan.

"Aditya Pratama ingin berbicara," Mpu Gde membuka pertemuan. "Dia punya usulan yang tidak biasa."

Aditya berdiri. Tiga puluh pasang mata menatapnya—sebagian penasaran, sebagian curiga. Ia bukan bagian dari Wangsa Angin. Ia orang luar, pendatang, dan levelnya lebih rendah dari beberapa kultivator di ruangan ini.

"Nama saya Aditya Pratama," ia memulai. "Saya dari Jakarta. Beberapa minggu lalu, saya masih cleaning service. Saya tidak tahu apa-apa soal kultivasi, pusaka, atau dunia yang kalian tinggali."

Beberapa orang bergumam.

"Tapi saya belajar satu hal: pertumpahan darah tidak selalu harus terjadi. Saya sudah bertarung dengan Kartel Lotus. Saya sudah bertarung dengan Putra Senja. Setiap kali, ada yang terluka, ada yang hampir mati. Dan setiap kali, saya bertanya: apa tidak ada cara lain?"

Ia menatap satu per satu wajah yang ada di depannya.

"Malam ini, Radit akan datang. Dia murid Kakek Seno yang memilih jalan gelap. Gurunya masih menunggunya kembali. Saya ingin coba bicara dengannya. Bukan untuk menyerah—tapi untuk memberinya pilihan."

"Dan kalau dia menolak?" tanya seorang tetua.

"Kalau dia menolak, kalian tetap bisa bertahan. Benteng yang sudah dibangun, jebakan yang sudah dipasang—semuanya masih di sana. Tapi setidaknya kita sudah mencoba."

Hening.

Lalu Mpu Gde angkat bicara. "Aku setuju. Wangsa Angin sudah menjaga Tombak Angin selama 600 tahun. Selama itu pula, kita sudah kehilangan terlalu banyak anak muda dalam pertempuran. Kalau ada jalan tanpa darah, kita harus mengambilnya."

---

Malam tiba lebih cepat dari yang diinginkan siapa pun.

Aditya berdiri di gerbang desa, seorang diri. Pedang kayunya terselip di punggung, Tameng Bumi dalam mode pasif menunggu untuk dipanggil. Liontin di dadanya berdenyut pelan—seolah ikut menahan napas.

Di belakangnya, para kultivator Wangsa Angin sudah bersiap di posisi masing-masing. Maya di atas pura dengan senapan, Cincin Api siap di jarinya. Alesha di samping Mpu Gde dengan Belati Surya. Ayu di dekat Tombak Angin, matanya menerawang ke arah barat.

"Satu jam lagi," bisik Ayu melalui udara—pesan yang dibawa angin sampai ke telinga Aditya.

Ia menarik napas panjang. Satu jam.

---

Empat puluh lima menit kemudian, langkah kaki terdengar dari balik hutan bambu. Banyak langkah. Teratur. Militer.

Radit muncul pertama kali. Tubuhnya masih padat, matanya masih abu-abu dingin, tapi ada sesuatu yang berbeda: bekas luka di pelipisnya—sisa pertempuran di rumah Paman Edwin. Di belakangnya, 20 kultivator berjajar. Level mereka bervariasi antara 4 sampai 8.

Mereka berhenti 20 meter dari gerbang.

Radit menatap Aditya. "Kau lagi."

"Aku lagi."

"Mpu Gde mengirimmu untuk bernegosiasi? Atau kau cuma suka berdiri di depanku?"

"Keduanya salah." Aditya melangkah maju. "Aku di sini karena Kakek Seno. Dia bilang muridnya masih bisa kembali."

Wajah Radit mengeras. "Jangan sebut namanya."

"Kenapa? Karena dia peduli padamu? Karena dia bilang kau seperti anaknya sendiri? Karena dia masih menunggu setelah bertahun-tahun?"

"CUKUP!"

Angin di sekitar Radit berputar kencang—energi listrik mulai menyelimuti lengannya. Tapi Aditya tidak mundur.

"Aku tahu rasanya dianggap sampah," Aditya melanjutkan, suaranya lebih pelan. "Aku cleaning service. Aku diinjak-injak keluarga angkatku sendiri. Aku tahu rasanya tidak ada yang percaya padamu. Tapi Kakek Seno beda. Dia tidak menganggapmu sampah, Radit. Dia menganggapmu anak yang tersesat."

"Dia menahanku! Dia bilang aku belum siap!"

"Karena dia tahu kau belum siap. Dan lihat sekarang—kau di sini, menyerang desa yang tidak pernah melukaimu, untuk mengambil pusaka yang bahkan tidak akan memilihmu."

Listrik di lengan Radit meredup.

"Pusaka memilih pemiliknya," Aditya melanjutkan. "Liontin memilihku. Belati memilih Alesha. Cincin memilih Maya. Tameng memilihku. Dan Tombak Angin..." ia menoleh ke arah pura, "...Tombak Angin sudah memilih Ayu, cicit Mpu Gde. Tombak itu tidak akan meresponsmu."

"Omong kosong."

"Tanya dirimu sendiri. Selama ini kau mengejar pusaka untuk Sang Pengumpul. Tapi apa ada satu pun yang memilihmu? Apa ada satu pun yang bersedia kau pakai?"

Radit terdiam.

Di belakangnya, anak buahnya mulai gelisah. Beberapa berbisik. Beberapa menatap Radit dengan keraguan yang sebelumnya tidak ada.

"Kenapa kau peduli padaku?" suara Radit tiba-tiba berubah—lebih rendah, lebih luka. "Kita musuh. Aku hampir membunuhmu."

"Karena aku tidak percaya musuh itu selamanya." Aditya mengulurkan tangannya. Bukan untuk menyerang—tapi terbuka, seperti undangan. "Kakek Seno ada di Gunung Gede. Dia masih di sana. Masih menunggumu. Kau bisa kembali kapan saja."

Satu menit berlalu.

Lalu Radit menurunkan tangannya. Listrik di lengannya padam sepenuhnya.

"Aku tidak bisa kembali," bisiknya. "Terlalu banyak darah di tanganku."

"Semua orang bisa kembali. Itu yang diajarkan Kakek Seno padaku tanpa dia sadari." Aditya menatap mata Radit. "Kau tidak harus menyerahkan diri sekarang. Tapi kau bisa berhenti menyerang desa ini. Pulanglah. Pikirkan sendiri apa yang sebenarnya kau inginkan."

Radit menatap Aditya lama—sangat lama. Lalu ia berbalik pada anak buahnya.

"Kita mundur."

"Tapi Komandan! Perintah Sang Pengumpul—"

"Aku bilang MUNDUR!"

Suara Radit menggelegar. Para kultivator Putra Senja saling pandang, lalu satu per satu mundur ke dalam hutan bambu.

Radit menoleh terakhir kali pada Aditya. "Sampaikan pada guru tua itu... aku akan datang. Sendirian. Tapi tidak sekarang."

"Akan kusampaikan."

Radit menghilang ke dalam kegelapan, diikuti anak buahnya.

---

DING!

Misi Selesai: Hadang Serangan Putra Senja.

Hadiah: 2000 Koin, Skill Book: Wind Whisper (Level 1).

Metode penyelesaian: Tanpa pertumpahan darah. Bonus: +500 Koin.

Total Koin: 6310.

Aditya menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Lututnya terasa lemas.

Dari belakang, Ayu berlari menghampirinya. "Kakak berhasil!"

"Entahlah. Aku cuma bicara."

"Itu lebih dari bicara." Mpu Gde muncul dengan tongkatnya. "Kau menghentikan perang tanpa mengangkat senjata. Itu kemampuan yang lebih langka dari kultivasi level 50."

Aditya tidak menjawab. Ia menatap ke arah hutan bambu yang kini sunyi.

Radit mundur. Tapi Sang Pengumpul masih di luar sana. Dan mereka belum selesai.

---

Jauh di atas bukit, sesosok bayangan memperhatikan semuanya. Jubah hitam berkibar diterpa angin malam. Topeng di wajahnya berkilau oleh cahaya bulan.

"Menarik," bisik Helios. "Sangat menarik."

Ia menghilang sebelum siapa pun menyadari keberadaannya.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!