NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:95.9k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beraninya Menyebutku Penipu

Sejenak… keheningan itu bertahan. Lalu....

“Pfft!!!!”

Salah satu pria di meja itu tiba-tiba menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Namun usahanya sia-sia. Bahunya mulai bergetar, dan tak lama kemudian ia bersuara.

“Hahahaha!”

Tawa keras pecah begitu saja.

“Jika kau pemilik Harta Langit…” ujar pria itu di sela tawanya, “…maka aku adalah Kaisar Tang!”

Ucapan itu langsung disambut gelak tawa yang lebih besar. Semua orang di meja itu ikut tertawa, beberapa bahkan sampai menepuk meja.

“Hahaha! Kaisar Tang, ya?!”

“Kalau begitu aku pasti pangeran istana!”

Suasana yang tadinya tegang seketika berubah menjadi penuh ejekan.

Gao Rui tetap duduk di tempatnya. Namun untuk pertama kalinya sejak ia mendekat ke meja ini… ada sedikit perubahan di dalam hatinya. Ia tidak percaya. Bukan karena mereka tidak mempercayainya… tapi karena reaksi mereka.

“…Seperti ini?” batinnya.

Ia sempat membayangkan berbagai kemungkinan. Curiga, waspada, bahkan mungkin ketakutan. Namun… ia tidak pernah benar-benar membayangkan akan ditertawakan seperti ini.

Tatapannya sedikit menunduk.

“…Sepertinya aku kurang meyakinkan.”

Kesadaran itu muncul begitu saja. Ia jelas kurang pengalaman dalam hal seperti ini. Cara berbicara, cara membawa diri, bahkan waktu yang ia gunakan… semuanya terasa belum tepat.

Di hadapan orang-orang yang sudah terbiasa dengan tipu daya dan kebohongan… ia masih terlalu “lurus”.

Tawa di meja itu perlahan mereda. Fang Yi menyandarkan tubuhnya ke kursi, masih dengan sisa senyum di wajahnya. Namun kali ini, tatapannya berubah sedikit tajam.

“Sudah cukup,” katanya santai.

Orang-orang lain pun ikut menahan tawa mereka, meski beberapa masih menyeringai.

Fang Yi menatap Gao Rui lurus.

“Aku tidak tahu dari mana kau belajar omong kosong seperti itu,” ujarnya dingin, “tapi sebaiknya jangan menjadi penipu di tempat seperti ini.”

Nada suaranya tidak lagi bercanda.

“Kalau tidak…” ia berhenti sejenak, matanya menyipit, “…aku sendiri yang akan menghajarmu.”

Ancaman itu jelas. Tidak dilebih-lebihkan. Dan semua orang di meja itu tahu… Fang Yi bukan tipe orang yang sekadar menggertak.

Namun Gao Rui… tetap tidak berubah. Ia mengangkat pandangannya perlahan, menatap Fang Yi dengan tenang.

“Aku tidak berbohong,” ucapnya singkat.

Nada suaranya datar. Tidak tinggi. Tidak rendah. Namun entah kenapa… terasa sangat mantap.

“Aku memang pemilik Harta Langit.”

Sejenak… hening. Lalu...

“Hahaha!”

Tawa kembali pecah.

“Dia masih melanjutkan?!”

“Bocah ini benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti!”

Beberapa orang bahkan mulai menggeleng-gelengkan kepala, seolah merasa geli sekaligus meremehkan.

Fang Yi menghela napas pelan, lalu mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar yang lain diam.

“Baiklah…” katanya.

Nada suaranya kembali santai, namun kini jelas mengandung nada menguji.

“Jika kau memang pemilik Harta Langit…”

Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Tatapannya tajam, langsung menusuk ke arah Gao Rui.

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

Gao Rui tidak menjawab. Ia hanya menatap balik dengan tenang.

“Sebutkan,” lanjut Fang Yi, “nama-nama pelayan Harta Langit di kota ini.”

Kalimat itu jatuh dengan ringan… namun efeknya langsung terasa. Gao Rui… diam.

Matanya tidak berubah. Ekspresinya tetap tenang. Namun di dalam pikirannya...

“…Nama pelayan?”

Ia jelas tidak tahu. Ia benar-benar tidak tahu. Yang ia kenal… hanya Ji Un. Kepala toko Harta Langit di kota ini. Itu pun karena diperkenalkan oleh Lan Suya. Selain itu, ia hanya mengenal orang-orang Harta Langit yang ikut dalam perjalanan mereka sebelumnya.

Untuk cabang kota ini? Tidak satu pun.

Keheningan itu… berbicara lebih keras daripada jawaban apa pun. Beberapa detik berlalu. Dan di meja itu… senyum mulai muncul satu per satu. Fang Yi adalah yang pertama tertawa.

“Hahaha…”

Ia menggeleng pelan, lalu tertawa kecil.

“Aku sudah menduganya.”

Tawanya semakin jelas terdengar.

“Pemilik Harta Langit… bahkan tidak mengenal pelayannya sendiri?”

Ia menatap Gao Rui dengan penuh ejekan.

“Bocah…” katanya pelan, “…kau bahkan tidak siap untuk berbohong.”

Tawa kembali pecah di meja itu. Dan kali ini… lebih keras dari sebelumnya.

“Pembohong!”

“Berani sekali datang ke sini dan mengaku-ngaku!”

“Benar-benar cari masalah!”

Namun di tengah semua itu… Gao Rui tetap duduk diam.

Tidak membela diri. Tidak marah. Tidak juga terlihat panik. Hanya… diam.

Namun jika seseorang cukup jeli melihat matanya, ada sesuatu yang berubah di sana. Bukan ragu. Bukan takut. Melainkan… proses berpikir yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.

“…Begitu caranya, ya…”

Batinnya pelan. Ia akhirnya mulai memahami. Ini bukan soal mengatakan kebenaran. Ini soal… bagaimana membuat orang lain mempercayai kebenaran itu. Dan untuk pertama kalinya, Gao Rui benar-benar mulai belajar akan hal itu.

Fang Yi menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, namun senyum di wajahnya kini berubah menjadi dingin.

“Cukup sudah,” ujarnya singkat.

Lalu ia melambaikan tangan ke arah seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari sana.

“Kemarilah.”

Pelayan itu segera mendekat, membungkuk hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan Yi?”

Fang Yi menunjuk Gao Rui tanpa ragu.

“Kenapa seorang bocah penipu bisa masuk ke penginapan ini?” katanya dengan nada tajam. “Apa kalian sudah menurunkan standar sampai seperti ini?”

Pelayan itu terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke arah Gao Rui. Wajah bocah itu… ia kenal. Bukan secara pribadi, tapi ia ingat dengan jelas. Bocah ini datang bersama seseorang. Seseorang yang bahkan tidak berani ia pandang sembarangan. Lan Suya, pemilik Harta Langit.

“…Penipu?” batinnya.

Ada keraguan yang langsung muncul di benaknya. Setahunya, bocah ini memang datang bersama Lan Suya. Bahkan diperlakukan cukup dekat. Tidak mungkin seseorang seperti Lan Suya tertipu oleh bocah seperti ini, bukan?

Namun di sisi lain… situasi di hadapannya juga tidak sederhana. Orang yang berbicara sekarang adalah Fang Yi. Seorang tamu penting. Bukan orang yang bisa ia bantah sembarangan.

Pelayan itu menelan ludah pelan.

“Maaf, Tuan Yi…” ujarnya hati-hati, “mungkin ada kesalahpahaman....”

“Kesalahpahaman?” Fang Yi memotong dengan dingin. “Dia mengaku sebagai pemilik Harta Langit. Apa itu juga kesalahpahaman menurutmu?”

Pelayan itu terdiam lagi. Pikirannya mulai berputar.

“…Apakah mungkin… Nyonya Lan Suya juga ditipu bocah ini?”

Kemungkinan itu muncul, meski terasa aneh. Namun tetap saja… itu hanya dugaan. Ia tidak punya bukti. Dan tanpa bukti, ia tidak berani mengambil tindakan gegabah.

Di tengah keraguan itu… Gao Rui tiba-tiba tersenyum. Senyum yang tenang. Bahkan… sedikit santai. Ia perlahan berdiri dari kursinya.

“Tidak perlu repot-repot mengusirku,” katanya ringan.

Semua orang di meja itu langsung memperhatikannya.

“Aku akan pergi sendiri.”

Ia berbalik sedikit, seolah benar-benar hendak meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya berhenti sejenak.

Ia menoleh kembali.

“Lagipula…” lanjutnya pelan, “Harta Langit akan mendengar hal yang sesungguhnya.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Namun dampaknya… berbeda bagi setiap orang. Bagi yang lain, itu terdengar seperti ocehan terakhir seorang penipu. Namun bagi Fang Yi… tubuhnya langsung menegang. Senyum di wajahnya menghilang seketika.

“…Apa maksudnya?” batinnya.

Dalam sekejap, ingatannya kembali pada percakapan sebelumnya. Tentang tanah. Tentang warisan. Tentang sesuatu yang seharusnya tidak diketahui orang lain. Tentang tanda tangan palsu. Tentang kepemilikan yang ia ubah secara diam-diam. Tatapannya berubah tajam. Bukan lagi sekadar meremehkan. Kini… ada kekesalan. Dan sedikit… kegelisahan.

“Berhenti.”

Suara Fang Yi terdengar dingin. Ia berdiri dari kursinya. Gerakannya cepat, penuh emosi yang mulai naik ke permukaan. Ia melangkah mendekat.

“Jangan bicara sembarangan,” katanya pelan, namun penuh tekanan. “Apa pun yang kau dengar… atau kau kira kau dengar…”

Ia menatap Gao Rui dengan mata menyipit.

“…lebih baik kau simpan untuk dirimu sendiri.”

Gao Rui akhirnya menoleh. Senyumnya masih ada.

“Kenapa?” tanyanya ringan. “Takut?”

Satu kata itu… cukup untuk menyulut api. Wajah Fang Yi langsung mengeras.

“Dengar baik-baik, bocah,” katanya, kini tanpa menyembunyikan ancamannya. “Jika kau berani mengatakan satu kata pun kepada Harta Langit…”

Ia melangkah lebih dekat, jaraknya kini hanya sejengkal.

“Aku akan mematahkan tangan dan kakimu.”

Suasana di sekitar mereka langsung berubah tegang. Beberapa orang di meja itu berhenti bernapas sejenak. Bahkan pelayan tadi terlihat semakin pucat. Namun Gao Rui… masih tersenyum.

“Jangan mengancamku,” ujarnya santai.

Nada suaranya tetap datar. Seolah ancaman itu… tidak berarti apa-apa. Itu adalah kesalahan. Setidaknya… di mata Fang Yi. Amarah yang sejak tadi ditahan akhirnya meledak.

“Kurang ajar!”

Fang Yi langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Tanpa ragu. Tanpa menahan diri. Ia mengayunkan tangannya, berniat menampar wajah Gao Rui dengan keras.

Angin dari ayunan itu bahkan sudah terasa. Dan dalam sepersekian detik… seluruh ruangan seperti menahan napas.

Tepat sebelum tangan itu mencapai wajah Gao Rui...

“Tuan Yi!!!”

Suara keras tiba-tiba menggema dari kejauhan, memecah ketegangan yang hampir meledak. Ayunan Fang Yi… berhenti. Bukan karena ragu. Tapi karena refleks. Suara itu terlalu dikenal. Terlalu tiba-tiba. Dan entah kenapa… cukup untuk membuatnya menahan diri.

Alisnya berkerut. Perlahan ia menoleh ke arah asal suara. Seluruh ruangan ikut menoleh. Di pintu masuk ruang makan Penginapan Teratai Emas… berdiri sekelompok orang yang langsung menarik perhatian siapa pun yang melihat.

Di barisan depan… seorang pria paruh baya dengan wajah tegas dan pakaian rapi melangkah masuk dengan langkah cepat. Ji Un, kepala toko Harta Langit di kota ini.

Beberapa pelayan yang melihatnya langsung menunduk hormat tanpa diperintah. Jelas… status pria itu tidak biasa. Namun bukan hanya itu yang membuat suasana berubah. Di samping Ji Un… berjalan seorang wanita dewasa yang cantik.

Namun kecantikannya bukan yang mencolok secara berlebihan. Ia anggun. Tenang. Setiap langkahnya ringan, namun memancarkan wibawa yang halus namun menekan. Pakaian yang dikenakannya sederhana, namun jelas berkualitas tinggi. Tatapannya tenang… namun dalam.

Dan di belakang mereka… Dua orang berdiri mengikuti. Aura mereka… berat. Bahkan tanpa bergerak, tanpa mengeluarkan niat sedikit pun… kehadiran mereka sudah cukup membuat orang-orang di ruangan itu tanpa sadar menegang. Itu adalah aura seseorang yang telah terbiasa berada di medan hidup dan mati.

1
adek Darma
kok up ny cmn keseringan 1eps truss thorrr
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹
Armoire
Aduh duh duh duh duh... Author nya paling pinter bikin readers mati penasaran... Lagi seru2 nya malah "To be continued" 😭😭😭😭
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Rui emang numero uno 🔥🌽
Nanik S
Naga Baja... apakah akan mengubah Kerjasama Patriak Shoi dan Harta Langit terus berlanjut
Nanik S
Gao Rui... membuat kejutan gak main main....Bahkan tidak sebanding dg Emas dan Permata ..Baru Naga Baja
Arie Chaniago70
kapan Thor Gao rui ini melanglana buana seperti gurunya,,,masak main dikandang aja nggak paten,,,jadi kurang Greg ceritanya
Eka Haslinda
hadiah pertama.. hadiah kedua.. ketiga.. owalaahhhh buanyak.. gak payu lagi hadiah rumah dagang Naga Emas 🤣🤣🤣
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
tariii
ayo, Rui.. kamu mau kasih hadiah apa? yg pasti harus lebih wowwww dari si cincaooooo itu yaaa...😂😂
will
klo ada pil anti miskin..mau donk gao rui 🤭👍
Heri Victor Purba
maen kali ceritanya bah.. bikin dag dig dug ser.. jalan ceritanya macam jalan kelok 44 .. gas thor
y@y@
⭐👍🏾🌟👍🏾⭐
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...hadiah yg melebihi hadiah orang lain🤣👍👍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍🤭
indrawanto djiwanto
hadiah pertama berarti ada hadiah lanjutan. hadiah kedua pil utk membantu kultivasi, hadiah ketiga pil kecantikan.
Jeffie Firmansyah: Bisa jadi pil kecantikan tuk istrinya
total 1 replies
Maz Shell
lagi update terbaru
sam
Jagoan turun tangan
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂👍👍👍👍💪💪💪💪🍩🍩🍩🍩☕☕☕🌹🌹🌹
y@y@
👍🏿💥👍🏼💥👍🏿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!