Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 13
Mobil itu melaju perlahan memasuki kawasan hunian mewah yang menjulang megah di hadapan mata. Dari balik jendela, Alya terpaku menatap pemandangan di luar sana. Rumah itu begitu besar dan elegan, bahkan luasnya terasa tak sebanding dengan rumah sederhana milik ayahnya.
Alya bahkan memperkirakan, halaman menuju bangunan utama saja hampir seluas rumah yang selama ini ia tinggali. Hamparan taman yang tertata rapi, lengkap dengan air mancur di tengahnya, seolah memanjakan siapa pun yang memandang. Cahaya lampu taman berkilauan lembut, membuat suasana malam terasa semakin mewah dan menakjubkan.
Tanpa sadar, Alya menelan ludah. Jantungnya berdegup tidak karuan. Ia berusaha menenangkan diri agar tidak terlihat gugup.
Di sampingnya, Max duduk dengan tenang. Namun, tatapan tajam pria itu tak pernah lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Alya.
“Tidak perlu gugup. Orang tuaku tidak memakan manusia,” celetuk Max tiba-tiba.
Alya langsung menoleh tajam ke arahnya.
Ia hanya berdeham pelan, memilih tidak menanggapi. Bagaimanapun juga, ucapan Max memang benar. Ini pertama kalinya ia berada di situasi seperti ini.
Bertemu calon mertua.
Semakin mobil melambat, semakin kuat pula degup di dadanya. Telapak tangannya mulai basah oleh keringat dingin yang sedari tadi ia tahan.
Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan rumah utama. Di sana telah berdiri sepasang suami istri paruh baya dengan aura elegan yang begitu kuat. Ethan dan Isabella menyambut kedatangan mereka dengan senyum hangat.
Senyum Isabella bahkan terlihat begitu lebar dan tulus. Wanita itu benar-benar menantikan kedatangan calon menantunya.
Baginya, Alya adalah keberuntungan besar. Entah apa yang sempat merasuki pikirannya dulu hingga hampir memilih Eleanor sebagai calon menantu keluarga mereka. Syukurlah, putranya yang keras kepala itu akhirnya membuka mata dan memilih wanita yang tepat.
Dan soal julukan “bujang lapuk” untuk Max… sepertinya mulai hari ini julukan itu sudah tidak pantas lagi disematkan.
“Selamat malam, Tante… Om…” sapa Alya canggung sambil menundukkan kepala sopan.
“Tidak perlu sungkan, Sayang,” ujar Isabella lembut. “Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Jadi jangan panggil om dan tante lagi. Panggil kami Papa dan Mama. Kamu calon menantu keluarga ini.”
Ucapan itu membuat hati Alya terasa hangat.
“Benar, Nak,” sambung Ethan dengan ramah. “Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri.”
Perlahan, rasa gugup Alya mulai mencair.
Seperti yang ia lihat sekarang, orang tua Max benar-benar baik. Semua ketakutan yang sebelumnya tertanam akibat ocehan Ayi perlahan menghilang.
Ayi pernah berkata bahwa kebanyakan mertua itu galak, bermuka dua, dan sulit menyukai menantu.
Namun, di rumah ini, Alya justru merasakan ketulusan yang begitu nyata.
Ingatkan dirinya nanti untuk melarang Ayi terlalu sering menonton drama Indosiar.
“Ayo masuk. Kita makan dulu,” ajak Isabella antusias sambil menggandeng tangan Alya dengan penuh kehangatan.
Ethan dan Max hanya memperhatikan dari belakang. Max mendecakkan lidah pelan sambil memutar bola mata malas.
“Lihatlah… aku ini anak kandungnya, tapi malah anak orang yang disambut lebih hangat.”
PLETAK!
Sebuah pukulan mendarat telak di lengan Max.
“Anak orang dari mana?” balas Ethan ketus. “Dia itu calon menantuku, berarti juga anakku! Mulutmu benar-benar, Max. Sudah setua ini masih juga belum punya istri!”
Setelah berkata demikian, Ethan langsung melenggang masuk meninggalkan putranya.
Max hanya menghela napas pasrah. Ia sama sekali tidak tersinggung karena, mau bagaimana pun, ucapan ayahnya memang ada benarnya.
“Ke sini, Sayang. Duduk di sebelah Mama.” Isabella menarik kursi di sampingnya. “Kamu harus makan yang banyak. Lihat tubuhmu, kurus sekali.”
Wanita itu begitu telaten mengambilkan berbagai lauk yang tersaji di atas meja makan.
“Mama nggak tahu kamu suka makanan apa, jadi Mama masak semuanya. Dimakan ya, Sayang.”
Alya tersenyum kikuk. “Ta-tapi, Mah… ini terlalu banyak. Alya nggak mungkin habis makan sebanyak ini.”
“Tidak apa-apa,” sahut Isabella santai. “Nanti ada Max yang bantu menghabiskan.”
Di seberang meja, Max langsung mendelik tidak percaya.
Padahal ibunya tahu persis kalau dirinya paling anti memakan makanan sisa orang lain.
Sementara Alya justru salah tingkah sendiri.
‘Mana mungkin aku kasih makanan sisaku ke dia? Dari wajahnya aja sudah kelihatan kalau dia tipe orang yang jijik begitu,’ batin Alya pelan.
Makan malam itu berlangsung hangat. Sesekali mereka mengobrol santai hingga Alya mulai merasa nyaman.
Awalnya, Alya mengira keluarga Max memiliki aturan meja makan yang sangat kaku dan penuh etika formal. Namun ternyata tidak sama sekali.
Suasana hangat itu membuat Alya merasa semakin cocok dengan kedua orang tua Max.
“Apa ini?”
“Baca dan pahami semua aturan yang tertulis di dalamnya.”
Alis Alya berkerut bingung saat Max menyodorkan sebuah map kepadanya.
Dengan rasa penasaran, ia membuka map itu perlahan. Namun, detik berikutnya, napas Alya langsung tercekat.
Di taman belakang rumah, Alya duduk seorang diri menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya.
Taman itu begitu indah. Bahkan terasa lebih menenangkan dibanding bagian depan rumah yang megah. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya kekuningan yang hangat, berpadu dengan ornamen antik yang menghiasi setiap sudut.
Sedang asyik larut dalam pikirannya, langkah kaki seseorang mendekat.
Alya mendongak.
“Ah… ternyata kamu,” ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.
Max hanya membalas dengan deheman singkat. Ia tetap berdiri tegak dengan satu tangan masuk ke saku celana. Tanpa banyak bicara, pria itu menyodorkan selembar dokumen tepat di hadapan Alya.
“Baca dan pahami.” Nada suaranya dingin, seolah tak ingin dibantah.
Dengan dahi berkerut, Alya mengambil dokumen tersebut.
Namun, baru membaca judulnya saja, tubuhnya langsung membeku.
Perjanjian Kontrak Nikah.
Tangannya gemetar halus saat membalik halaman demi halaman. Semakin ia membaca, semakin pucat wajahnya.
“I-ini…” suara Alya tercekat di tenggorokan.
Ia bahkan kesulitan melanjutkan kalimatnya sendiri.
Sementara itu, Max sama sekali tidak menunjukkan rasa iba melihat keterkejutan di wajah wanita tersebut.
“Segera tanda tangani kontrak itu,” ujar Max datar. “Semua poin penting sudah tertulis jelas di sana. Selama pernikahan berlangsung, kau tidak boleh melanggar aturan yang kubuat.”
Tatapan pria itu berubah tajam.
“Dan jika kau melanggar… nyawamu menjadi taruhannya.”
Tubuh Alya menegang.
“Max… maksudku, Tuan… apa sebenarnya ini?” tanyanya lirih.
“Bukankah kau ingin melanjutkan pendidikan dan menjadi dokter?” potong Max tanpa emosi. “Aku hanya memberimu pilihan.”
Pria itu melangkah mendekat.
“Setujui kontrak ini, maka aku akan membantu ayahmu dan membiayai pendidikanmu. Tapi kalau menolak…”
Max menatap Alya lurus-lurus.
“Kau tidak akan bisa meraih cita-citamu. Dan ayahmu juga tidak akan terselamatkan.”
Ucapan itu terasa seperti belati yang menghunjam tepat ke dalam dada Alya.
Tak pernah ia sangka Max bisa setega ini.
Benar, ia ingin melanjutkan pendidikan. Ia ingin menjadi dokter. Namun, pernikahan kontrak seperti ini terasa seperti mempermainkan sesuatu yang begitu sakral.
Alya masih mengingat jelas pesan ayahnya tentang arti sebuah pernikahan. Pernikahan bukan permainan. Bukan hubungan yang bisa diatur sesuka hati lalu diakhiri begitu saja.
Lalu kenapa pria ini menganggap semuanya begitu mudah?
Dengan napas berat, Alya kembali membaca isi kontrak itu.
Dari semua poin yang tertulis, satu hal yang paling menonjol adalah… pernikahan mereka hanya berlangsung selama satu tahun.
Selama satu tahun itu, Alya dilarang ikut campur dalam urusan Max, baik urusan pribadi maupun pekerjaannya.
Tugas Alya hanya satu: menjadi istri sempurna di depan publik.
Selain itu, selama pernikahan berlangsung, Alya juga dilarang memiliki hubungan dengan pria lain. Jika melanggar, ia harus membayar denda sebesar seratus juta rupiah.
Namun, jika selama satu tahun Alya mematuhi semua aturan tanpa cela, maka setelah perceraian nanti Max akan memberikan setengah saham miliknya sebagai kompensasi.
Tak hanya itu, selama pernikahan berlangsung, Max juga menjamin seluruh kebutuhan Alya terpenuhi. Ia bahkan akan membantu melunasi utang ayah Alya dan mencari dalang di balik kebangkrutan keluarganya.
Melihat Alya terus diam, Max mendecakkan lidah pelan.
“Diammu kuanggap sebagai penolakan.”
Pria itu berbalik pergi.
Namun, baru selangkah berjalan, suara Alya menghentikannya.
“Di surat ini tertulis kalau selama menikah… kau tidak akan pernah menyentuhku.”
Max menghentikan langkahnya.
“Itu ada di poin ketiga.”
Alya menggenggam erat dokumen di tangannya. Meski suaranya bergetar, ia tetap melanjutkan,
“Selain poin itu… aku tidak keberatan.”
Ia mengangkat wajahnya menatap punggung pria itu.
“Karena itu… perjanjian kontrak pernikahan ini aku setujui, Tuan.”
Entah kenapa, ucapan itu justru membuat sudut bibir Max terangkat samar.
Ternyata tidak sesulit itu membuat seorang wanita menyetujui permainannya.
“Bersiaplah. Aku akan mengantarmu pulang.”
Setelah mengatakan itu, Max benar-benar pergi meninggalkan taman.
Sementara Alya masih terduduk diam di kursinya.
Perlahan, air mata yang sejak tadi ia tahan jatuh membasahi pipinya.
“Tidak apa-apa… hanya satu tahun,” bisiknya lirih pada diri sendiri. “Setelah itu semuanya selesai. Papa juga tidak boleh tahu soal ini. Aku nggak mau menambah beban pikirannya.”
Meski mencoba menguatkan diri, tetap saja ada rasa sakit yang mengganjal di dalam dadanya.
Dan entah kenapa, pikiran aneh kembali terlintas di benaknya.
Jangan-jangan… rumor tentang Max memang benar.
Bukankah pria normal tidak mungkin membuat aturan seperti itu?
Apalagi nanti mereka akan tidur dalam satu kamar… bahkan satu ranjang.
Namun Max justru membuat syarat bahwa ia tidak akan menyentuhnya sama sekali.
Semua itu semakin memperkuat dugaan Alya bahwa rumor yang beredar di luar sana benar adanya.
Max… benar-benar seorang gay.