Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
POV: Nara
Malam ini Dev mengajakku makan di luar. Ia membawaku ke sebuah restoran mewah yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Lampu-lampu gantungnya berkilau hangat,
lantainya mengilap, dan suara denting gelas bercampur dengan tawa pelan para tamu. Aku merasa kecil di tempat sebesar ini. Namun berbeda dengan Dev. Ia tampak begitu santai, seolah tempat ini adalah ruang tamunya sendiri. Beberapa pelayan menyapanya lebih dulu.
“Selamat malam, Mas Devandra." Sapa salah seorang pelayan. “Lama tidak ke sini, Mas.”
Dev membalas dengan senyum tipis dan anggukan ringan. Terlalu akrab untuk sekadar pelanggan biasa. Aku memperhatikan itu dalam diam.
“Kamu ingin makan apa?” tanyanya lembut sambil menyodorkan buku menu.
Aku membuka halaman demi halaman, pura-pura fokus agar tidak terlihat canggung. Harga-harga yang tertera membuatku sedikit menelan ludah.
“Aku ingin ini saja,” kataku pelan, menunjuk satu menu yang menurutku paling aman.
Dev mengangguk tanpa banyak komentar, lalu memanggil pelayan.
“Untuk yang ini satu, dan saya tambah steak seperti biasa.”
Seperti biasa? Berarti ia memang sering ke sini.
Setelah pelayan pergi, ia menatapku sejenak.
“Kamu suka tempat ini?”
Aku memaksakan senyum paling manis yang kupunya. “Aku suka.”
Ia mengacak rambutku pelan. “Kalau kamu suka, nanti kita ke sini lagi.”
Entah mengapa kalimat itu membuat dadaku terasa hangat sekaligus berat.
“Dev, aku ke toilet sebentar.”
“Iya. Jangan lama-lama.”
Aku mengangguk lalu berjalan menjauh. Cermin di toilet itu terlalu besar. Pantulanku terlihat utuh dari kepala sampai kaki. Aku berdiri memandangi wajahku sendiri. Wajah yang beberapa waktu terakhir terasa asing. Aku menyentuh pipiku perlahan. Apakah benar aku hanya… pengganti?
Seorang wanita berdiri di sampingku. Ia membasuh tangan dengan tenang. Awalnya aku tidak memperhatikannya—Sampai ia berbicara.
“Lo pikir wajah lo itu bisa menggantikan Viona?”
Deg... jantungku seperti dijatuhkan begitu saja. Aku menoleh perlahan. “Maaf… Anda berbicara pada saya?”
Wanita itu tersenyum tipis, sinis. “Iya. Siapa lagi di sini?”
Aku menatapnya bingung. “Anda siapa?”
Ia tertawa kecil, mengeringkan tangannya dengan tisu, kemudian menatapku tajam.
“Gue orang yang pernah menyelamatkan hidup Devandra."
Aku mengerutkan dahiku, tidak mengerti maksud ucapannya. Ia memperhatikanku dari atas ke bawah.
“Kalau dilihat lebih dekat, ternyata memang mirip sekali.” Ia mendekat sedikit. “Kalau kalian berdiri berdampingan, mungkin orang bisa mengira kalian saudara kembar.”
Aku menarik napas dalam. “Maaf. Saya tidak mengenal Viona. Jadi tolong jangan menghubungkan saya dengannya.”
Aku berusaha tetap tenang meski suaraku mulai bergetar.
“Devandra…” ia menyebut nama itu perlahan, seolah menikmati setiap hurufnya. “Dia cinta mati sama Viona. Sampai-sampai cari pengganti pun harus yang wajahnya serupa.”
Ia tertawa lirih. “Kasihan sekali.”
“Cukup.” Suaraku lebih tegas dari yang kuduga. “Atas dasar apa Anda berbicara seperti ini pada saya?”
Ia melangkah mendekat, “karena gara-gara Lo... Devandra menjauh dari gue."
Aku terdiam sesaat. "Maaf... tapi saya masih tidak mengerti." kataku.
Ia tersenyum sinis, "baik lah, aku akan membuatmu mengerti."
Ia meraih ponselnya, seolah sedang mencari sesuatu. Tak lama, ia menunjukkan layar ponselnya ke wajahku. Dan di sanalah aku melihatnya—sebuah vidio dua orang yang sedang melakukan hubungan seksual, aku menyipitkan mataku, masih ragu dengan sosok pria dalam video itu—Devandra dengan wanita yang ada di hadapanku.
Tiba-tiba ponsel itu ia tarik dari hadapanku, "jangan lama-lama, nanti sakit." Ia tersenyum puas.
Dadaku terasa panas, berdegup lebih kencang.
"Yang kamu lihat tadi adalah Devandra... bersamaku," wanita itu tertawa. "Dan kami sudah terbiasa melakukannya."
Seketika tenggorakanku terasa disayat, air mataku pun jatuh tanpa kuminta. Aku tidak bisa berkata apa-apa.
"Kalau tidak percaya, tanyakan saja padanya."
Aku mengepalkan tanganku.
“Lo cuma belum kenal siapa Devandra sebenarnya.” katanya lagi. “Jangan berharap terlalu banyak. Dia cuma cinta Viona. Dia nggak akan bisa cinta orang lain.”
Dadaku semakin sesak.
"Dan nasib Lo, juga akan berakhir seperti gue." Dia membelai ujung rambutku. "Cuma sekedar pelampiasan sesaat."
Dia tertawa lalu pergi meninggalkanku dengan ribuan pertanyaan dan rasa sakit yang tak mampu kujelaskan. Kata-katanya seperti racun. Namun aku tidak boleh terlihat lemah. Aku tidak boleh gampang percaya begitu saja, walaupun sosok pria yang ada di dalam video itu adalah Dev, pasti dia punya penjelasan.
Aku merapikan rambutku, menghapus jejak air mata, lalu menarik napas panjang sebelum kembali. Dari kejauhan aku melihat Dev gelisah. Tangannya mengetuk meja, pandangannya mencari-cari. Begitu aku mendekat, ia langsung berdiri.
“Hei. Kamu dari toilet mana?” tanyanya dengan nada bercampur cemas dan kesal.
“Toilet sini,” jawabku berusaha ringan.
“Kirain kamu ke toilet rumah.” Ia menghela napas panjang. “Lama sekali.”
Aku tertawa kecil. “Perutku tiba-tiba tidak nyaman.”
Ia menatapku lebih serius. “Kamu tidak apa-apa?”
Tangannya mengelus pundakku lembut. Sentuhan itu hampir membuatku menangis lagi.
“Aku tidak apa-apa,” kataku cepat. “Sudah, kita makan saja.”
Ia masih menatapku seolah mencoba membaca sesuatu di wajahku. “Kamu yakin?”
“Iya.”
Makanan datang, aromanya harum, semua terlihat sempurna. Tapi lidahku terasa pahit.
“Kamu kenapa?” tanya Dev setelah beberapa menit aku hanya mengaduk makanan. “Tidak suka?”
“Aku suka.”
“Kalau begitu habiskan.” Nada suaranya melembut. “Setelah ini kita pulang saja. Aku tahu kamu tidak nyaman di tempat ramai.”
Aku menatapnya. Dev selalu tahu. Ia tahu aku tidak suka keramaian, tahu aku mudah cemas, tahu aku sering memendam sesuatu.
Tapi apakah ia tahu… ada yang lebih menakutkan dari sekedar cemas di keramaian? Apakah dia tahu apa yang aku rasakan saat ini?
Aku memaksakan diri mengunyah. Di antara denting sendok dan garpu, kepalaku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan:
Apakah aku hanyalah sekedar pelampiasan?
Siapa sebenarnya wanita tadi?
Kenapa Dev bisa sedekat itu dengannya?
Sudah berapa banyak yang Dev tiduri?
...***...
Diperjalanan pulang, aku hanya diam, moodku sudah terlanjur kacau sejak di restoran tadi. Dev mengelus punggung tanganku, pandangannya fokus pada jalanan.
"Nara... kamu kenapa? Kamu lebih banyak diam dari tadi?"
Aku hanya menggeleng, rasanya terlalu malas untuk bersuara.
"Jika aku ada salah, katakan."
"Aku hanya ingin cepat sampai rumah," kataku akhirnya.
"Yasudah, tapi sampai rumah kamu harus cerita sama aku. Atau setidaknya kembali ceria."
Aku hanya terdiam. Sesampainya di rumah aku langsung berlari ke kamarku. Namun belum sempat aku membuka kunci pintuku, Dev lebih dulu menarikku. Aku menoleh padanya, ekspresi wajahnya datar, tatapan matanya tajam.
"Dev, aku mau istirahat, tolong." Aku berusaha melepaskan tangannya dari lenganku.
"Sikapmu aneh, aku tidak suka."
"Aku hanya sedikit lelah, aku mau tidur," kataku lirih.
"Tidur di kamarku," ucapnya tegas.
Aku tersentak dan langsung menggeleng, tidak mau.
"Kalau begitu, katakan apa yang terjadi." Tangannya semakin erat mencengkeram lenganku.