Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Setelah hati Aira merasa jauh lebih tenang dan bahagia kembali, Elvano pun bangkit dari duduknya pelan-pelan agar tidak mengejutkan istrinya.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya, jangan kemana-mana. Aku mau ambilin sesuatu," kata Elvano sambil berjalan menuju pintu kamar.
"Mau kemana, Mas? Mau kerja lagi?" tanya Aira cemas, takut suaminya akan meninggalkannya sendirian lagi.
"Enggak kok. Sebentar doang," jawab Elvano sambil melambaikan tangan dan keluar dari kamar dengan cepat.
Tak berapa lama, kurang dari lima menit, Elvano kembali masuk ke kamar membawa sebuah nampan kecil berisi gelas besar, berisi air putih hangat, beberapa butir obat, dan juga sedikit camilan manis berupa potongan buah dan cokelat.
"Nah, nih minum dulu." Elvano duduk kembali di samping Aira, lalu menyerahkan gelas itu dengan hati-hati. "Air hangat. Minum yang banyak, habis nangis tenggorokan pasti kering dan sakit kan? Pasti serak juga suaranya kan?"
Aira menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena terharu melihat perhatian suaminya yang begitu detail dan besar.
"Iya, Mas, tenggorokan Aira emang lagi kering banget dan agak sakit nih."
"Ya udah diminum dulu, habisin ya biar enakan. Biar suaranya balik bagus lagi."
Aira pun meneguk air hangat itu perlahan-lahan. Rasanya sangat segar dan hangat mengalir di tenggorokannya yang kering, membuat seluruh tubuhnya terasa lebih rileks dan hangat.
"Terus ini..." Elvano mengambil satu butir vitamin dan obat penenang ringan yang biasa diminum jika sedang stres. "Makan obat ini biar badan kamu nggak gampang sakit, atau masuk angin habis nangis dan stres gini. Sama ada cokelat juga nih, makan biar hatinya manis lagi dan senang lagi. Biar pikirannya positif terus."
Aira menatap wajah suaminya dengan mata yang kembali berkaca-kaca, tapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru dan bahagia yang luar biasa meluap-luap.
"Mas, kok baik banget sih sama Aira." isak Aira pelan, suaranya bergetar menahan haru. "Padahal kan Aira sering bikin masalah atau bikin Mas pusing."
Elvano tersenyum lembut, lalu mengusap kepala Aira dengan penuh kasih sayang.
"Kamu nggak pernah bikin masalah, sayang. Justru kehadiran kamu itu yang bikin rumah ini jadi hidup dan jadi tempat ternyaman buat aku balik. Jadi wajar dong aku jagain kamu dan sayang sama kamu. Itu kewajiban aku sebagai suami."
Mereka pun menghabiskan waktu di kamar itu dengan mengobrol banyak hal. Elvano bercerita banyak hal yang lucu, cerita konyol saat dia masih kuliah, atau hal-hal ringan untuk menghibur Aira, agar istrinya benar-benar bisa melupakan kesedihan tadi pagi dan tidak memikirkannya lagi.
Aira tertawa lepas mendengar cerita-cerita suaminya. Suasana yang tadinya gelap, menyedihkan, dan penuh air mata kini berubah 180 derajat menjadi sangat ceria, hangat, dan penuh dengan tawa serta canda yang menyenangkan.
Menjelang siang hari, Aira sudah merasa jauh lebih baik. Wajahnya sudah segar kembali, matanya tidak terlalu bengkak lagi, dan hatinya sudah terasa sangat kuat, percaya diri, dan bahagia kembali.
Ia sadar betul hari ini, bahwa cinta dan dukungan dari suaminya adalah hal yang paling berharga di dunia ini. Tidak peduli apa kata orang, tidak peduli seberapa jahat omongan mereka, selama Elvano menerima dan mencintainya apa adanya, itu sudah lebih dari cukup dan membuatnya merasa menjadi wanita paling kaya di dunia.
"Mas..." Aira memegang tangan besar Elvano yang berada di atas selimut.
"Ya, kenapa?" Elvano menoleh manis, menatap istrinya dengan penuh cinta.
"Makasih ya hari ini." ucap Aira tulus menatap mata suaminya dalam-dalam, matanya berbinar indah. "Makasih udah jadi pahlawan buat Aira. Makasih udah bela Aira, makasih udah dengerin curhatan Aira, dan makasih udah bikin Aira sadar kalau Aira itu berharga dan punya harga diri yang tinggi."
Elvano tersenyum, lalu menggenggam balik tangan Aira dengan erat, jari-jarinya saling mengunci dengan sempurna, tak ingin dilepaskan.
"Sama-sama, istriku... Itu memang tugas dan kewajibanku sebagai suami. Dan inget ya, Aira..."
Elvano mendekatkan wajahnya, berbisik lembut tepat di depan wajah Aira dengan suara yang sangat dalam dan berwibawa.
"Selama aku ada di sini, selama aku masih bernapas, nggak ada satu orang pun yang berhak nyakitin hati kamu atau ngerendahin kamu. Aku bakal selalu jadi tameng terkuat buat kamu. Kita hadapin semuanya bareng-bareng ya? Susah senang kita lewatin bersama."
"Iya, Mas..." Aira mengangguk bahagia, air mata haru kembali menetes, tapi kali ini ia tersenyum lebar. "Aira janji bakal jadi istri yang baik buat Mas, dan bakal selalu nemenin Mas sampai kapanpun, sampai tua nanti."
"Hmm, iya..." Elvano tersenyum puas melihat keteguhan di mata istrinya.
Hari itu menjadi pelajaran berharga bagi keduanya. Bahwa ujian dan omongan pedas orang lain justru membuat ikatan cinta di antara mereka menjadi jauh lebih kuat, jauh lebih erat, dan jauh lebih tak terpisahkan daripada sebelumnya.
Malam harinya, hujan turun dengan derasnya membasahi bumi, seolah ikut menangisi perasaan Aira yang baru saja terluka. Meskipun Elvano sudah berusaha membela dan menenangkannya sekuat tenaga, serta memastikan istrinya merasa aman dan dicintai, ternyata beban pikiran dan rasa sedih yang mendalam itu membuat daya tahan tubuh Aira menurun drastis.
Ditambah lagi dengan ingatan beberapa hari yang lalu saat mereka pulang bersama dan sempat kehujanan, mungkin itulah pemicu awal penyakit yang mulai bersarang perlahan di tubuh mungilnya.
Saat mereka berbaring di ranjang besar itu, Aira merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Di satu sisi, ia merasa kedinginan luar biasa hingga tulang-tulangnya terasa nyeri, namun di sisi lain, kulitnya terasa panas membara dan kepalanya berat sekali.
"Uhh..." Aira mengerang pelan di dalam tidurnya, tubuhnya bergerak gelisah mencari kehangatan.
Elvano yang sebenarnya belum terlelap sepenuhnya, masih memantau kondisi istrinya, segera menyadari perubahan itu. Tangannya yang besar, secara refleks bergerak ingin memeluk pinggang Aira seperti kebiasaan mereka belakangan ini.
Namun, saat kulit tangan mereka bersentuhan...
Elvano tersentak kaget.
"Ya Allah... panas sekali!" batinnya berteriak cemas.
Dengan cepat dan hati-hati, Elvano mengangkat tangannya lalu meletakkannya di dahi Aira untuk memastikan. Sentuhan itu terasa sangat panas, jauh di atas suhu normal tubuh manusia.
"Aira... Aira sayang..." panggil Elvano pelan namun panik, ia segera menyalakan lampu tidur dengan cahaya yang redup agar tidak menyilaukan. "Bangun dong sayang."
Aira membuka matanya dengan sangat berat dan malas. Pandangannya kabur dan wajahnya terlihat pucat pasi.
"Mas..." panggilnya dengan suara parau dan serak. "A... apa, Mas?"
"Kamu demam! Badanmu panas sekali!" Elvano terdengar sangat khawatir, wajahnya berubah cemas. "Kepalanya sakit tidak? Badannya terasa bagaimana?"
Aira mengangguk lemah, ia mencoba bangun untuk duduk, tapi tubuhnya terasa berat seperti ditimbun beban batu.
"Sa... sakit semua, Mas..." isak Aira pelan, giginya bergemeletuk karena menggigil hebat meski suhu tubuhnya tinggi. "Pusing sekali kepalanya... terus Aira... Aira kedinginan."
Hati Elvano teriris pedih melihat kondisi istrinya yang menyedihkan itu. Ia merasa sangat bersalah, mungkin karena tadi Aira terlalu banyak menangis dan stres sehingga imun tubuhnya drop drastis.
"Ya Tuhan, kenapa sampai separah ini." gumam Elvano lirih, matanya memancarkan rasa bersalah yang mendalam. "Sabar ya sayang, sebentar ya. Mas akan ambilkan obat dan alat ukur suhu. Jangan kemana-mana."
Elvano langsung bangkit dari kasur dengan langkah yang cepat namun tetap berhati-hati. Ia bergegas mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di kamar mandi dan segelas air hangat.
Beberapa menit kemudian, Elvano kembali ke sisi ranjang dengan membawa segala keperluan. Ia membantu Aira duduk, menumpuk bantal di belakang punggung istrinya agar posisinya nyaman dan tidak lelah.
"Sini sayang, kita ukur dulu suhunya berapa," kata Elvano lembut, suaranya berusaha menenangkan meski hatinya gelisah.
Aira hanya bisa menurut pasrah, tubuhnya terlalu lemas untuk menolak atau bertanya.
Elvano menempelkan termometer dengan hati-hati di ketiak Aira. Sepanjang menunggu, tangan besarnya tidak berhenti mengusap-usap lengan dan punggung Aira yang menggigil kedinginan itu, berusaha menyalurkan kehangatan dari tubuhnya sendiri.
"Panas sekali, kasihan sekali kamu." gumam Elvano pelan, tatapannya penuh kasih sayang dan prihatin. "Maafkan Mas ya, mungkin karena tadi kamu terlalu banyak menangis dan memikirkan hal yang tidak-tidak sampai sakit begini. Maafkan Mas yang belum bisa menjagamu dengan sempurna."
"Bukan... bukan salah Mas." jawab Aira terbata-bata di sela-sela giginya yang bergemeletuk. "Cuma... uhh... dingin sekali, Mas."
"Iya sayang, iya... sebentar lagi kita minum obat, nanti panasnya turun, nanti badanmu hangat lagi," bujuk Elvano manis, ia menarik selimut tebal hingga menutupi tubuh Aira sampai ke leher.
Setelah waktu yang ditentukan berlalu, Elvano mengambil termometer itu dan melihat hasilnya. Matanya sedikit membelalak.
"39,8 derajat Celcius." Elvano menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. "Waduh, tinggi sekali suhunya. Ya sudah, ayo minum obat dulu ya sayang, biar cepat turun panasnya."
Elvano mengambil obat penurun panas dan vitamin, lalu menoleh ke arah Aira.
"Buka mulutnya dong..." perintahnya lembut.
Aira membuka mulutnya sedikit, Elvano memasukkan obat itu dengan hati-hati, lalu segera menyodorkan gelas berisi air hangat ke bibir istrinya.
"Nah, minumnya pelan-pelan ya, habiskan ya, biar obatnya bekerja maksimal."
Aira meneguk air itu dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering dan perih saat menelan. Elvano menopang kepala Aira dengan tangannya agar posisinya pas dan istrinya tidak tersedak.
"Sudah? Bagus..." Elvano tersenyum lega. "Sekarang istirahat ya. Tutup matamu."
Namun, baru saja Aira hendak memejamkan mata, tiba-tiba wajahnya berubah pucat dan ia memegang perutnya dengan kedua tangan.
"Uwek... uhh... Mas! Aira mau muntah."
Elvano sigap sekali! Ia langsung mengambil baskom kecil yang sudah ia siapkan sejak tadi di samping kasur, lalu membantunya menunduk dengan cepat.
"Ya sudah, keluarkan saja semua sayang, keluarkan apa yang membuat perutmu tidak enak, biar nanti lega," kata Elvano sabar, tangannya mengusap-usap punggung Aira perlahan membantunya.
Setelah selesai muntah, Aira terlihat sangat lemas dan semakin pucat. Wajahnya seperti tidak ada darahnya sama sekali, hanya tersisa kelelahan yang luar biasa.
"Hhh... lemas sekali, Mas." Aira bersandar lemas kembali ke bantal.
"Ya sudah, jangan banyak gerak dulu. Diam di situ saja," Elvano mengambil tisu basah dan membersihkan bibir serta dagu Aira dengan sangat lembut dan telaten. "Sekarang kamu tidur. Mas akan menjaga kamu di sini sepanjang malam."
Aira akhirnya tertidur kembali karena kehabisan tenaga, namun tidurnya tidak nyenyak. Sesekali ia mengerang kesakitan, berguling gelisah, atau menggigil kedinginan.
Elvano sama sekali tidak memejamkan matanya. Ia memilih duduk bersandar di kepala ranjang, membiarkan kepala Aira bersandar nyaman di bahunya yang bidang dan kokoh. Tangannya melingkar erat memeluk tubuh kecil itu, memberikan kehangatan yang dibutuhkan.
Tangan Elvano tidak pernah lepas dari dahi Aira. Setiap jam sekali, bahkan seringkali lebih cepat dari itu, ia akan meraba untuk memastikan apakah panasnya sudah mulai turun atau masih tinggi.
"Masih panas juga." gumamnya cemas setiap kali merasakan suhu tubuh istrinya.
Di tengah keheningan malam yang hanya diiringi suara hujan di luar jendela, Elvano hanya bisa menatap wajah istrinya yang terlihat sangat rapuh itu dengan tatapan yang penuh cinta.
"Cepat sembuh ya sayang, Mas tidak tega melihatmu sakit begini." bisik Elvano pelan di telinga Aira, lalu ia mencium kening istrinya lama sekali. Ciuman yang penuh doa, harapan, dan rasa sayang yang meluap-luap.
Tiba-tiba, di tengah tidurnya, Aira bergumam tidak jelas, seolah sedang bermimpi buruk.
"Jangan... jangan pergi... Mas... jangan tinggalkan Aira." isak Aira dalam tidur, tangannya mencengkeram baju Elvano dengan kuat, seolah takut suaminya akan hilang lenyap.
Hati Elvano terharu mendengarnya. Ia mengusap rambut panjang Aira dengan lembut.
"Tidak sayang. Mas tidak ke mana-mana. Mas di sini, selalu ada di sini bersamamu." jawab Elvano lembut, seolah-olah Aira bisa mendengarnya. "Mas sayang sekali sama kamu, Aira. Jangan sakit lagi ya."
Malam itu terasa sangat panjang baginya. Berkali-kali ia bangun untuk mengganti kain kompres di dahi Aira dengan air hangat. Berkali-kali ia membetulkan posisi selimut agar istrinya tetap hangat. Ia melayani Aira dengan setulus hati, tanpa rasa jijik, tanpa rasa lelah, dan tanpa mengeluh sedikitpun.
Sosok Elvano yang biasanya dingin, tegas, dan sibuk dengan dunia kerjanya, malam itu berubah total menjadi sosok suami yang paling sabar, paling lembut, dan paling perhatian di dunia. Ia adalah perawat terbaik yang rela melakukan apa saja demi kesembuhan istrinya.