NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Ketika sore datang dengan terik yang masih terasa, Roni yang keadaannya sangat menyedihkan menghilang lagi. Laura dan Amelia terpaksa bangkit mencarinya, memanggil-manggil namanya, namun hanya ada sahutan angin dan bisikan hutan. Ketika usaha yang merepotkan ini mulai diselimuti kelelahan, mereka mendengar suara dari balik semak-semak lebat, tak jauh dari tempat mereka berada. Bukan suara Roni yang berteriak meminta tolong, melainkan suara tawa cekikikan yang aneh, diikuti bisikan-bisikan pelan yang terdengar... mesra, benar-benar mesra.

Laura dan Amelia saling bertukar pandang. Rasa takut bercampur dengan kebingungan. Dengan langkah hati-hati, mereka mendekati asal suara. Semakin dekat, suara itu semakin jelas. Ada suara gemerisik daun, dan bisikan-bisikan yang tak asing lagi.

Mereka mengintip dari balik rimbunnya belukar. Dan apa yang mereka lihat membuat napas mereka tercekat.

Di balik semak-semak tinggi, di sebuah cekungan kecil yang tertutup rimbunnya pepohonan, Roni sedang duduk. Rambutnya acak-acakan, kemejanya kotor, dan di tangannya ada sebuah kalung dari rangkaian bunga liar yang tampak layu. Di sebelahnya, Ariana duduk bersandar manja di bahu Roni. Pakaiannya lusuh, rambutnya ditata aneh dengan jalinan daun-daun kering. Matanya menatap Roni dengan tatapan yang sangat dalam, namun juga sangat kosong.

"Kamu suka bunga ini, sayang?" bisik Roni, menyematkan kalung bunga itu ke leher Ariana. Senyumnya lebar, tapi matanya... mata itu sama kosongnya dengan mata Ariana.

Ariana terkekeh pelan. "Cantik sekali, kasihku. Seperti kamu. Kamu pernah mengumumkan, kita akan selalu bersama. Iya kan? Di sini. Selamanya." Ia mengusap pipi Roni yang kotor dengan lembut.

"Iya, selamanya," Roni mengangguk, mencium kening Ariana. Keduanya terlihat begitu intim, begitu mesra, seolah tidak ada dunia lain selain mereka berdua di cekungan kecil itu. Tatapan mereka satu sama lain penuh kasih sayang, namun kasih sayang yang terdistorsi, dipenuhi kegilaan.

Laura dan Amelia terdiam, terpaku palu keheranan. Mereka melihat kedua sahabat mereka yang dulu, kini seperti orang asing. Cinta yang aneh, gila yang mengandung racun akal, tumbuh di antara mereka, di bawah pengaruh bisikan-bisikan gaib. Roni dan Ariana tidak lagi berusaha mencari jalan keluar. Mereka telah menemukan jalur "kebahagiaan" mereka sendiri, di tengah misteri pulau itu.

"Ini... ini nggak mungkin," bisik Amelia, air matanya mulai kembali mengalir. "Mereka bukan Roni dan Ariana yang kita kenal."

Laura hanya bisa memeluk Amelia erat-erat, hatinya remuk redam. Mereka menyaksikan kedua sahabat mereka, yang sebelumnya penuh semangat dan impian, kini, hari ini terperangkap dalam ilusi kasih sayang yang terkreasi oleh depresi mental kesepian dan keputusasaan. Mereka telah menjadi bagian dari penantian bayangan kosong yang terputus, bukan sebagai korban yang meronta, melainkan sebagai pasangan yang "bahagia" dalam kegilaan.

Senjakala, Laura dan Amelia duduk berdua di bawah ufuk mega merah, jauh dari semak-semak berduri tempat Roni dan Ariana "bermesraan". Mereka tidak lagi mencoba memanggil atau mendekati kedua sahabat mereka. Rasa takut kini berbalut rasa sedih yang mendalam. Mereka tahu, Roni dan Ariana sudah terlalu jauh. Jiwa kesadaran mereka sudah terenggut, digantikan oleh kepribadian entitas lain, atau mungkin, mereka telah menyerah sepenuhnya pada bisikan abnormal.

Laura menatap ke arah hutan, ke arah suara tawa dan bisikan mesra yang mengiris hati. Ia tahu, pulau ini bukan hanya menjebak tubuh, tapi juga prilaku.

Ia harus kuat. Demi dirinya, demi Amelia. Dan demi menyelamatkan apa pun yang tersisa dari kewarasan mereka, sebelum mereka juga terperangkap dalam kisah prustasi tak berujung. Pertarungan mereka bukan lagi hanya melawan rasa takut, melainkan melawan bisikan-bisikan yang mencoba membius mereka dengan gangguan bipolar akut.

Ketika malam kembali datang dengan kalung bulannya, suasana khidmat disosiatif terasa lebih emosional, lebih memabukkan. Roni dan Ariana, yang sejak sore tadi tak terpisahkan di semak-semak, terus mengulang bualan dan lempar tangkap kemesraan mereka.

Namun, silang bahu semu antara keduanya tidak berlangsung lama. Menjelang tengah malam, ketika rembulan berada tepat di atas ubun-ubun kepala, kondisi berubah menjadi sangat hening. Dari pilu kesunyian yang mendayu-dayu, satu hembusan angin melintas, memberitahukan adanya sesuatu yamg datang, dan entah mengapa terasa seperti kedatangan sesuatu yang menghujam perasaan.

Dari arah semak-semak tempat Roni dan Ariana berada, terdengar suara keributan. Bukan lagi tawa kecil atau gurau mesra, melainkan suara geraman, bentakan, dan jeritan yang tajam.

"Suara apa itu?" Amelia terkesiap, tubuhnya, terutama bagian batang lehernya bergetar.

Laura yang sedang berbaring di sisinya membuka mata. "Mereka... mereka sedang bertengkar," bisiknya dengan nada tajam, merasakan suatu firasat buruk.

Tanpa sekejap ragu, Laura dan Amelia menembus semak-semak yang menjulang tinggi seperti taring raksasa yang siap menggigit. Cabang-cabang kasar menggores wajah dan lengan mereka, meninggalkan bekas merah yang terbakar, tapi mereka tidak peduli; denyut jantung mereka berdebar seperti mesin pemburu, menggelegar di telinga hingga membungkam suara gemerisik dedaunan di sekeliling. Keringat deras mengalir melewati rahang mereka, bercampur dengan air mata yang tak mereka sadari sudah berhamburan.

Ketika mereka tiba di tepi cekungan kecil yang tertutup oleh rerumputan tinggi dan tanaman merambat yang seperti ular gelap, pandangan mereka langsung terkunci pada adegan yang menusuk jiwa, jauh melampaui batas mimpi buruk yang paling gelap yang pernah mereka bayangkan.

Roni dan Ariana tidak lagi berada dalam pelukan penuh kasih seperti yang mereka duga tadi. Mereka tergulung di tanah basah, saling menjerat seperti dua binatang buas yang berkelahi untuk mangsa terakhir. Roni mencengkeram leher Ariana dengan tangan yang besar dan penuh ketegangan, jari-jari nya menusuk ke dalam kulitnya hingga membentuk lingkaran-lingkaran biru keunguan. Matanya merah menyala seperti bara api, pupilnya menyempit menjadi garis tipis, dan air liur merah pekat bercampur darah menetes dari sudut bibirnya. Ariana membalas dengan segala kekuatannya; kuku panjang yang biasanya ia rawat dengan rapi kini seperti cakar harimau, menusuk dan mencakar wajah Roni berkali-kali, meninggalkan goresan dalam yang membuka kulit dan membiarkan darah mengalir deras, menutupi wajahnya yang dulu cantik dengan lapisan merah menyala. Pakaian mereka sobek habis-habisan; baju Roni terbelah hingga menyembulkan dada yang berlumuran kotoran dan darah, sedangkan rok Ariana terlucuti sebagian, tungkai bawahnya tertutup bekas gigitan dan goresan yang mengerikan.

"Kau MILIKKU, hanya milikku!" Roni menggeram dengan suara serak yang seperti raungan beruang yang terluka parah, napasnya seperti hembusan udara panas sahara dari musim panceklik tujuh tahun. Ia menarik kepala Ariana ke arahnya, giginya menggeram seperti predator kelaparan tujuh bulan yang siap menerkam.

"PEMBOHONG! Kamu yang dulu mengkhianati aku, yang mencoba merebut DIA dariku dengan cara yang hina!" Ariana menjerit balik, matanya memancarkan kebencian yang sedalam jurang bawah laut, lidahnya menggeliat seperti ular di musim kawin yang marah. Darah mengalir dari hidungnya, menetes ke dada yang sudah menyambut, tapi ia tidak merasa sakit, hanya dendam yang membakar dirinya dari dalam. Tak seorang pun tahu siapa atau apa yang mereka maksud dengan "dia", tapi api kebencian itu sudah membakar akal sehat mereka seluruhnya.

"HENTIKAN SEKARANG JUGA! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Laura meneriakkan dengan suara yang pecah, tubuhnya bergetar hebat saat ia melesat ke arah mereka, kedua tangannya terbentang bagai sayap elang untuk memisahkan kedua sahabatnya. Tapi suaranya hilang dalam gemerisik alam dan raungan kekerasan ronde terakhir dari kedua orang yang sedang berkelahi; mereka tidak melihat, tidak mendengar apa pun selain keinginan untuk menghancur leburkan satu sama lain.

Keduanya terus bergumul, menggulingkan tubuh mereka di atas tanah yang berlumpur, saling mencengkeram bagian tubuh mana saja yang bisa diraih. Roni menggigit bahu Ariana hingga kulitnya robek dan darah menyembur keluar; Ariana menjambak rambut Roni hingga sebatang demi sebatang terlepas bersama dengan kulit kepalanya. Darah segar mengalir deras, merendam tanah hitam dan menyebarkan bau metal yang menusuk hidung, bercampur dengan bau busuk dari tanah lembap dan kelopak bunga liar yang hancur di bawah tubuh mereka.

Saat Laura mencoba menjadi dinding bata pemisah, sebuah ranting kayu yang runcing seperti jarum tiba-tiba menusuk lengan kirinya hingga mencapai tulang. Ia menjerit kesakitan, darah merah pekat langsung membanjiri lengan dan jatuh ke tanah. Amelia dengan sigap melompat ke depan, menarik punggung Laura dengan kekuatan yang paling maksimal, wajahnya pucat seperti kain lilitan mumi tiga ribu tahun dan mata penuh ketakutan yang menusuk menembus retina.

Di tengah kekacauan yang tak terkendali, Roni meraih sebuah ranting kayu besar yang patah dari pohon tua di dekatnya, ujungnya tajam seperti tombak baja yang sudah diasah. Matanya kini kosong, tanpa rasa atau emosi, hanya penuh dengan kegelapan yang mendalam. Dengan satu lompatan yang cepat dan brutal, ia menusukkan ranting itu secara langsung ke perut Ariana, menusukkan hingga ujungnya muncul dari punggungnya. Kayu yang kasar menusuk organ dalamnya, membuat suara sliiiit yang menjijikkan yang menggema di cekungan kecil itu.

"ARIANA!!!" Amelia meneriakkan dengan suara histeris, suara itu pecah dan terdengar seperti jeritan makhluk dari dunia lain. Tambahan air mata mengalir deras di wajahnya, mencuci kotoran sekaligus debu yang menempel di pipinya.

Ariana menjerit dengan suara yang menusuk telinga, suara kesakitan yang begitu dalam hingga membuat tanah tampaknya bergetar. Matanya membelalak lebar, putih matanya terlihat jelas, dan darah mengalir dari sudut matanya, hidungnya, dan mulutnya seperti sungai merah, di atas daratan daging manusia. Ia menggenggam ranting yang menusuk tubuhnya dengan tangan yang gemetar, tapi sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, ia melihat batu besar yang licin dan kasar di sisi bahunya, berukuran seperti kepala balita. Dengan sisa tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya yang sudah hampir mati, ia menarik batu itu dengan segala kekuatannya, lalu memukulkannya ke kepala Roni satu kali, dua kali, tiga kali lebih banyak. Setiap pukulan menghasilkan suara kruunnnch yang renyah, tulang kepala Roni hancur berantakan, otak dan darah menyembur hampir keluar di segala arah, sebagian cipratan menodai tanah dan kelopak bunga yang masih segar.

"Kamu... tidak akan... pernah... merebutnya dariku..." Ariana berbisik dengan suara yang serak dan terengah-engah, bibirnya bergerak dengan susah payah sebelum senyum jahat muncul di wajahnya yang penuh darah.

Roni terhuyung mundur, tubuhnya bergoyang-goyang sebelum jatuh dengan keras di atas tanah. Tak lama kemudian, Ariana juga ambruk, tubuhnya menimpa tubuh Roni yang sudah tak bernyawa. Kedua raga muda mereka tergeletak bersanding, penuh dengan luka yang mengerikan, kulit yang robek, tulang yang keluar dari tempatnya, dan darah yang terus mengalir hingga membentuk genangan merah pekat di antara mereka. Mata keduanya terbelalak, tetapi sesekali tertutup rapat, dan tiba-tiba kembali terbuka, menatap kosong ke arah langit malam yang gelap gulita, ekspresi kengerian dan dendam membeku di wajah mereka yang dulunya penuh dengan senyum. Serakan ranting berdarah, batu yang menetes darah, dan kelopak bunga yang hancur menjadi saksi bisu dari pergumulan yang mengakhiri dua nyawa muda; pergumulan yang dipicu oleh sesuatu yang tak terlihat, tak terasa, dan tak dapat dipahami oleh akal.

Laura dan Amelia terpaku di tempatnya, kaki mereka seperti terpasang di tanah. Mereka tidak bisa berteriak lagi, tidak bisa menangis, bahkan tidak bisa bernapas dengan benar. Pemandangan itu terlalu mengerikan, terlalu tidak masuk akal, terlalu menyakitkan untuk dapat dipercaya. Kedua sahabat mereka yang paling dekat; yang dulu bersama mereka bermain di taman, berbagi rahasia di bawah selimut, bermimpi tentang masa depan yang cerah, membangun pekerjaan yang cerah, tertawa bersama di bawah langit cerah; telah terbunuh di sisi kontradiksi sinar cerah. Saling membunuh dengan kejamnya. Hanya sunyi yang menusuk yang mengelilingi mereka, diselingi hanya dengan bunyi napas mereka yang terengah-engah dan suara gerimis yang mulai turun pelan-pelan, mencoba mencuci darah dan kegelapan dari tempat yang terkutuk itu.

Laura memeluk Amelia erat-erat, ia mencoba menenangkan hati sahabatnya. "Mereka sudah pergi, selamanya. Tidak ada yang bisa kita perbuat, untuk saat ini. Akan tetapi aku mengharapkan adanya kepercayaan dalam dirimu, untuk saat-saar berikutnya, kita harus menjadi lebih kuat." Bisiknya pelan.

Setelah kejadian itu, pulau semakin sunyi, semakin mencekam. Laura dan Amelia kembali duduk di bawah pondok daun seraya memeluk lutut. Pikiran mereka berkecamuk, hati mereka remuk redam, gerimis sesaat telah mereda. Mereka telah kehilangan dua sahabat mereka. Mereka telah menyaksikan bagaimana dua tangan saling membunuh. Membayangkan dua jenazah yang masih tergeletak di sebelah sana, Laura menyapu keringat di dahinya, ia masih sedikit kesulitan untuk menentukan apa yang harus mereka perbuat dengan dua mayat itu, apakah akan dibiarkan bagitu saja? Atau mungkin ia akan mengurusnya besok pagi? Satu hal yang dia pahami, jiwa yang baru terlepas akan selalu berupaya memberitahukan kabar, itulah perasaan yang saat ini benar-benar membayanginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!