Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Aksi Balas Dendam si Istri Kecil
Dewa tertegun. Raka yang sedang mengunyah sandwich miliknya sampai berhenti sejenak, melirik ke arah ayahnya.
"Ibu, Diego mau disuapin," rengek si bungsu sambil menunjuk sandwich kecil yang sudah dipotong segitiga oleh Gisel.
Gisel langsung tersenyum manis—namun hanya untuk Diego. "Sini sayang, sama Ibu ya. Makan yang banyak biar cepat besar dan nggak jadi laki-laki yang sukanya kasih harapan palsu terus kabur gitu aja."
Jleb. Dewa merasa jantungnya baru saja ditusuk tusuk gigi. Sindiran halus tapi telak itu membuat tenggorokannya mendadak kering saat hendak menelan potongan roti di mulutnya.
Selesai sarapan, Dewa mencoba mendekati Gisel di dapur saat anak-anak sudah berangkat sekolah. "Gisel, soal semalam... aku minta maaf. Aku hanya—"
Gisel meletakkan pisau roti dengan denting yang cukup keras di atas talenan, lalu berbalik sambil melipat tangan di dada. Ia menatap Dewa dengan tatapan smart dan dingin yang belum pernah Dewa lihat sebelumnya.
"Mas, nggak perlu minta maaf. Aku paham kok. Mungkin aku emang nggak seukuran sama 'ekspektasi' kamu. Makanya mulai sekarang, aku bakal fokus urus anak-anak aja. Urusan kamar? Anggap aja kita kos-kosan beda kamar. Oke?"
"Gisel, bukan begitu maksudku—"
"Dah, Mas CEO! Katanya ada rapat jam sembilan? Pergi gih, nanti telat terus baper lagi," ucap Gisel sambil melenggang pergi, meninggalkan Dewa yang mematung sendirian di dapur dengan perasaan campur aduk.
Dewa baru sadar, menghadapi Gisel yang marah dan cuek jauh lebih menakutkan daripada menghadapi Gisel yang mesum dan berisik.
Dewa mengunci diri di ruang kerjanya, mondar-mandir dengan napas yang masih belum teratur. Bayangan wajah Gisel yang kebingungan di atas ranjang tadi terus menghantuinya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia kembali menghubungi Rio.
"Rio! Jangan berani-berani tutup teleponnya!" gertak Dewa begitu sambungan terhubung.
Di seberang sana, Rio tertawa terbahak-bahak. "Kenapa lagi, Bos? Udah dicobain kan 'hadiah' nyasar itu? Gimana? Pas?"
"Gisel memakainya," suara Dewa merendah, terdengar frustrasi. "Dan gue... gue hampir kehilangan kendali. Tapi gue ninggalin dia gitu saja di kamar."
Tawa Rio berhenti seketika. "Hah? Lo gila? Lo ninggalin dia gitu aja dalam posisi kayak gitu? Wah, Dewa, lo bener-benar minta dikirim ke kutub utara ya!"
"gue belum bisa, Rio. Setiap kali gue menatap matanya, ada rasa bersalah yang besar. gue merasa mengkhianati Arumi, tapi di sisi lain, Gisel bikin gue gila," sambil memijat pangkal hidungnya.
Rio menghela napas panjang, kali ini suaranya terdengar serius. "Dengar, Arumi sudah tenang di sana. Gisel itu istri sah lo sekarang. Dia bukan pengganti, dia orang baru. Kalau lo terus-menerus begini, lo bukan cuma nyakitin diri sendiri, tapi lo lagi menghancurkan mentalnya.Tamat riwayat lo."
"Lalu gue harus gimana?" tanya Dewa putus asa.
"Saran gue cuma satu Lawan gengsi lo.Dia butuh dianggap keberadaan nya sama lo."
Dewa terdiam lama. Kata-kata Rio menghunjam tepat di ulu hatinya.
"Oiya satu lagi," tambah Rio sebelum menutup telepon. "Jangan kaget kalau besok dia berubah jadi monster dingin. Cewek kalau udah dicuekin pas lagi 'panas-panasnya', bales dendamnya lebih serem dari audit pajak."
Dewa menutup telepon dengan perasaan yang semakin tidak karuan. Ia menatap ke arah pintu kamarnya, merenungkan saran Rio. besok pagi, dewa mau mencoba memperbaiki semuanya.
LATAR: KAMAR TIDUR - MALAM
Suasana hening. GISEL duduk bersila di ranjang, memakai piyama satin, wajahnya ditekuk sambil memainkan ujung selimut dengan kasar. DEWA masuk kekamar dia berdiri kaku di dekat pintu, kemejanya sudah setengah berantakan, wajahnya datar namun matanya menyiratkan kecemasan yang tertahan.
Gisel melirik tajam, lalu membuang muka dengan dengusan keras.
(Suara berat, kaku) Almarhumah istriku...
(Menoleh cepat, suaranya meninggi tapi bergetar)
Aku tahu kamu masih jaga kesetiaan sama dia, aku hargai itu. Tapi Aku di sini, masih bernapas, kamu peluk aku,cium aku setelah kita mesra-mesraan. Jangan bikin aku merasa merasa nyaman di tempat tidur malah buat aku di gantung.
Dewa menunduk. Tangan besarnya yang biasanya tenang kini tampak sedikit gemetar. Ego "dingin"-nya perlahan runtuh.
Strategi cuek Gisel benar-benar bekerja.